
Entah kenapa
mendengar kematian Selena membuat Evelyn ketakutan. Meskipun Jeremy sudah mencoba
meyakinkan dirinya aman dengan Ayres tetap saja dia merasa tidak tenang.
Dilihatnya
Ayres sedang bermain-main dengan mainannya yang begitu banyak.
Evelyn hanya
diam mematung, merasa bingung dengan apa yang akan terjadi kemudian. Mungkin
sudah nasibnya masuk kedalam kehidupan Jeremy, dia akan terima itu, tapi
bagaimana dengan Ayres? Dia takut terjadi apa-apa dengan putranya.
Evelyn
tersentak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Dari caranya memeluk
dia sudah menebak siapa yang memeluknya. Jeremy mencium pipinya.
“Aku minta
maaf tadi terlalu keras padamu,” ucapnya kembali mencium pipinya Evelyn.
Wanita itu
tidak bicara sepatahpun, karena pasti tidak akan menang kalau berdebat dengan
pria keras kepala itu.
“Om,
bukannya Om mengajakku jalan-jalan? Om lupa, ya?” tanya Ayres.
“Ayah. Kan
sudah bilang panggil Ayah.”
“Tapi Ayahku
sudah meninggal.”
“Tidak,
Sayang. Ayahmu ini. Memang kau tidak senang bertemu Ayah?” Jeremy melepaskan
pelukannya, lalu menghampiri Ayres, berjongkok di depan anak itu.
“Panggil aku
Ayah, maka kita akan jalan-jalan sekarang!” pinta Jeremy.
Evelyn hanya
diam saja memperhatikan, seperti biasa begitulah Jeremy, semaunya saja.
“Baiklah,
Ayah.” Ayres ternyata setuju memanggil Ayah.
Jeremy
tersenyum senang dan langsung memeluk anak itu dan menciumi wajahnya. Ayres malah
tertawa-tawa diajak bercanda pria itu yang dia tidak mengerti apa maksudnya
dengan panggilan Ayah itu, yang penting jalan-jalan saja.
Evelyn juga
tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu Jeremy berhak atas Ayres, walaubagaimanapun
pria itu adalah ayah kandungnya, meskipun terkadang cara Jeremy itu tidak
manusiawi menurutnya, mungkin memang sudah karakternya seperti itu, ada saja
sisi sisi mendominasi setiap tindakannya.
“Bu,
ponselnya berbunyi terus, apa mau diambilkan?” terdengar suara Bibi yang sedang
membawa keranjang pakaian kotor ditangannya.
Evelyn menoleh.
“Boleh, Bi.”
“Siapa yang
menelpon?” tanya Jeremy.
“Aku tidak
tahu.”
“Saya
ambilkan, Bu!” Bibi langsung pergi lagi dan kembali dengan ponselnya yang berbunyi,
langsung diberikan pada Evelyn.
“Siapa? Kita
mau berangkat sekarang.” Jeremy melepaskan Ayres dari pelukannya.
Evelyn
melihat nomor yang muncul ternyata Pak Enzi.
“Siapa?”
Jeremy seakan tidak bisa tenang kalau tidak tahu siapa yang menelpon Evelyn.
“Bosku.”
“Katakan kau
berhenti bekerja!”
“Apa? Kau ini
bagaimana? Kau membuat aturan Kerjasama harus punya domisili di ibukota, sekarang
kau sudah menyuruhku berhenti. Kau bukan suamiku!” Evelyn mengeluh lalu
menerima panggilan itu.
“Evie, aku
datang ke rumahmu dan kata Ayahmu kau masih ada di ibukota. Aku sangat bingung,
bukannya katamu kau pulang duluan mendadak?” tanya Enzi yang sudah ada di
kantornya.
“Iya, Pak
Enzi, aku..”
Evelyn akan
bicara lagi tapi terkejut saat ponselnya direbut Jeremy.
__ADS_1
“Halo!” sapa
Jeremy.
“Jeremy, kau
ini apa-apaan?” Evelyn akan mengambil ponselnya, tapi tangannya malah ditahan
tangannya Jeremy.
“Ini siapa?”
tanya Enzi kebingungan.
“Jeremy.”
“Pak Jeremy?”
Enzi semakin tidak mengerti.
“Ya.”
“Kenapa
ponsel Evelyn ada di Pak Jeremy?”
“Karena aku
suaminya. Evelyn mengundurkan diri dari perusahaanmu. Kalau kau ingin
melanjutkan Kerjasama, kau bisa langsung hubungi orang-orang terkait di perusahaanku.”
“Suami?”
Enzi terkejut bukan main.
“Ya, aku
jelaskan sekali lagi. Evelyn istriku, dan dia mengundurkan diri, surat resmi
pengunduran dirinya akan di urus sekretarisku. Kau faham?”
Enzi masih
merasa tidak percaya, sungguh kaget bukan main ternyata sekretarisnya itu
istrinya Pak Jeremy, padahal saat acara mereka bahkan tidak banyak bicara. Dia
benar-benar merasa bingung.
“Ada yang
lainnya, Pak Enzi?”
“Ti, tidak,
Pak Jeremy.”
Pluk! Jeremy
langsung mematikan ponselnya Evelyn. Saat membalikkan badannya wanita itu
menatapnya tajam.
Jeremy
meraih tangannya Evelyn dan menyimpan ponselnya itu di tangannya.
“Ayo Bersiap-siaplah,
aku tunggu di bawah.”
Evelyn hanya
diam saja mematung.
sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi.”
“Kau ini
kenapa bertindak seenaknya begitu?”
“Kau tidak
perlu bekerja lagi. Apa yang aku miliki sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanmu
juga Ayres. Kau hanya tinggal mengurus Ayres saja, biar aku yang bekerja. Tidak
usah repot-repot mencari uang.”
“Tapi
seharusnya kau bicara dulu padaku, jangan bertindak sendiri begitu! Aku ini
bukan istrimu, aku mantan istrimu.”
Jeremy
terdiam mendengarnya, berdiri menatap Evelyn yang masih marah padanya.
“Baiklah,
setelah jalan-jalan, kita temui Ayahmu, aku akan melamarmu. Kita akan menikah
lagi, beres kan?”
Kepala
Evelyn rasanya berdenyut-denyut menghadapi sikapnya Jeremy. Lebih terkejut lagi
saat pria itu tiba-tiba menarik lehernya lalu mencium bibirnya dengan kuat.
“Bersiap-siaplah,
aku tunggu di bawah,” ucap pria itu setelah melepaskan ciumannya dan malah
tersenyum melihat wanita itu mematung saja.
“Sayang, Ayah
tunggu dibawah!” seru Jeremy pada Ayres yang sedang merapihkan mainannya.
“Ya Ayah!”
anak itu menjawab, membuat Jeremy tersenyum.
Evelyn
menoleh pada putranya itu yang mau saja memanggil Jeremy Ayah seperti tahu saja
maksud Ayah oleh Jeremy.
“Sayang kita
siap-siap.”
“Ya, Bu! Aku
boleh beli es krim kan, Bu?”
“Boleh tapi
jangan banyak-banyak.” Evelyn menghampiri Ayres, mengajaknya Bersiap-siap.
***
Mobil mewah
__ADS_1
itu meluncur di jalanan yang ramai. Ayres tidak bisa diam, setiap tombol yang
ada di mobil itu dicobanya.
“Mobil ini,
bagus kan, Bu?” tanyanya.
“Ya.” Evelyn
menjawab pendek.
“Aku juga
mau punya mobil begini, Bu.”
“Ibu tidak
cukup uang untuk membelinya. Mobil kita juga lumayan bagus.”
“Sayang, kau
tidak perlu membeli mobil lagi. Kau boleh memakai mobil ini kemanapun kau suka.”
Ayres
menoleh lagi pada Evelyn. “Boleh, Bu?”
Evelyn akan
menolak tapi Jeremy memotong. “Tentu saja boleh, mobil ini milikmu!”
Ayres
tersenyum senang tapi menoleh lagi pada ibunya. “Boleh, Bu?”
“Iya, Sayang,”
jawab Evelyn dengan terpaksa, karena dia tidak mau bertengkar dengan Jeremy yang
akan membuat Ayres bingung. Jeremy tersenyum senang mendengarnya, dia tahu
sulitnya merayu mantan istrinya itu.
“Tempatnya
masih jauh?” tanya Ayres.
“Mm..” Jeremy
tampak bingung, lalu menoleh pada Evelyn.
“Sayang, kau
cari lokasi taman bermain yang bagus.”
Mata cantiknya
Evelyn langsung melebar menatap pria itu. “Kau mengajak jalan-jalan tapi tidak
tahu kita akan kemana?”
“Mana aku
tahu tempat bermain, aku tidak punya anak selain Ayres, baru sekarang mau ke
tempat bermain.” Jeremy menjawab dengan enteng.
“Kalau
begitu kenapa kau..ah, kau ini.”
Jeremy malah
cuek saja, dan mengajak Ayres bicara tentang ibukota.
Evelyn
terpaksa mensearching lokasi taman bermain untuk anak-anak.
“Kau cari
yang Ayres suka,” ucap Jeremy sambil menggendong Ayres didudukkan
kepangkuannya.
Evelyn tidak
menjawab, dia sudah mendapatkan lokasi yang bagus yang akan mereka kunjungi
lalu bicara pada supir.
Sementara
itu sebuah mobil masih terus mengikuti mobilnya Jeremy sedari keluar gerbang
rumahnya.
“Bos,
sepertinya mereka akan pergi ke tempat wisata.”
“Tempat wisata?”
“Pak Jeremy
tidak sendiri, Bos, ada seorang wanita dan anak kecil bersamanya.”
Kursi itu
berputar dan sosok yang duduk disana tersenyum lebar. “Mereka sedang bernostalgia
rupanya. Keluarga kecil yang bahagia..”
“Kau ikuti
terus, beritahu aku lokasinya.”
“Baik, Bos.”
***
Evelyn menoleh
kesampingnya, Jeremy masih memangku putra mereka, dan berbicara banyak hal, dan
ternyata Ayres memahami apa yang dikatakan pria yang baru saja dipanggilnya Ayah
itu.
Melihat
Ayres yang terlihat nyaman saja bersama Jeremy membuatnya tersenyum kecut, sebenarnya
ada rasa bersalah dihatinya karena Ayres tumbuh tanpa sosok Ayah bersamanya.
Apalagi melihat putranya begitu akrab dengan ayah kandungnya, apakah dia harus
menjauhkannya lagi? Entahlah bukan karena dia tidak ingin berkumpul dalam satu
keluarga, hanya saja.. hanya saja.. dia merasa banyak ketakutan saat berada
dalam dunianya Jeremy.
***
Readers, aku kan up jam 11 malam, jadi tulisan up di covernya sudah hilang setiap jam 12, jadi bukan tidak up.
__ADS_1