Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-75 Ayah Pemaksa


__ADS_3

Entah kenapa


mendengar kematian Selena membuat Evelyn ketakutan. Meskipun Jeremy sudah mencoba


meyakinkan dirinya aman dengan Ayres tetap saja dia merasa tidak tenang.


Dilihatnya


Ayres sedang bermain-main dengan mainannya yang begitu banyak.


Evelyn hanya


diam mematung, merasa bingung dengan apa yang akan terjadi kemudian. Mungkin


sudah nasibnya masuk kedalam kehidupan Jeremy, dia akan terima itu, tapi


bagaimana dengan Ayres? Dia takut terjadi apa-apa dengan putranya.


Evelyn


tersentak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Dari caranya memeluk


dia sudah menebak siapa yang memeluknya. Jeremy mencium pipinya.


“Aku minta


maaf tadi terlalu keras padamu,” ucapnya kembali mencium pipinya Evelyn.


Wanita itu


tidak bicara sepatahpun, karena pasti tidak akan menang kalau berdebat dengan


pria keras kepala itu.


“Om,


bukannya Om mengajakku jalan-jalan? Om lupa, ya?” tanya Ayres.


“Ayah. Kan


sudah bilang panggil Ayah.”


“Tapi Ayahku


sudah meninggal.”


“Tidak,


Sayang. Ayahmu ini. Memang kau tidak senang bertemu Ayah?” Jeremy melepaskan


pelukannya, lalu menghampiri Ayres, berjongkok di depan anak itu.


“Panggil aku


Ayah, maka kita akan jalan-jalan sekarang!” pinta Jeremy.


Evelyn hanya


diam saja memperhatikan, seperti biasa begitulah Jeremy, semaunya saja.


“Baiklah,


Ayah.” Ayres ternyata setuju memanggil Ayah.


Jeremy


tersenyum senang dan langsung memeluk anak itu dan menciumi wajahnya. Ayres malah


tertawa-tawa diajak bercanda pria itu yang dia tidak mengerti apa maksudnya


dengan panggilan Ayah itu, yang penting jalan-jalan saja.


Evelyn juga


tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu Jeremy berhak atas Ayres, walaubagaimanapun


pria itu adalah ayah kandungnya, meskipun terkadang cara Jeremy itu tidak


manusiawi menurutnya, mungkin memang sudah karakternya seperti itu, ada saja


sisi sisi mendominasi setiap tindakannya.


“Bu,


ponselnya berbunyi terus, apa mau diambilkan?” terdengar suara Bibi yang sedang


membawa keranjang pakaian kotor ditangannya.


Evelyn menoleh.


“Boleh, Bi.”


“Siapa yang


menelpon?” tanya Jeremy.


“Aku tidak


tahu.”


“Saya


ambilkan, Bu!” Bibi langsung pergi lagi dan kembali dengan ponselnya yang berbunyi,


langsung diberikan pada Evelyn.


“Siapa? Kita


mau berangkat sekarang.” Jeremy melepaskan Ayres dari pelukannya.


Evelyn


melihat nomor yang muncul ternyata Pak Enzi.


“Siapa?”


Jeremy seakan tidak bisa tenang kalau tidak tahu siapa yang menelpon Evelyn.


“Bosku.”


“Katakan kau


berhenti bekerja!”


“Apa? Kau ini


bagaimana? Kau membuat aturan Kerjasama harus punya domisili di ibukota, sekarang


kau sudah menyuruhku berhenti. Kau bukan suamiku!” Evelyn mengeluh lalu


menerima panggilan itu.


“Evie, aku


datang ke rumahmu dan kata Ayahmu kau masih ada di ibukota. Aku sangat bingung,


bukannya katamu kau pulang duluan mendadak?” tanya Enzi yang sudah ada di


kantornya.


“Iya, Pak


Enzi, aku..”


Evelyn akan


bicara lagi tapi terkejut saat ponselnya direbut Jeremy.

__ADS_1


“Halo!” sapa


Jeremy.


“Jeremy, kau


ini apa-apaan?” Evelyn akan mengambil ponselnya, tapi tangannya malah ditahan


tangannya Jeremy.


“Ini siapa?”


tanya Enzi kebingungan.


“Jeremy.”


“Pak Jeremy?”


Enzi semakin tidak mengerti.


“Ya.”


“Kenapa


ponsel Evelyn ada di Pak Jeremy?”


“Karena aku


suaminya. Evelyn mengundurkan diri dari perusahaanmu. Kalau kau ingin


melanjutkan Kerjasama, kau bisa langsung hubungi orang-orang terkait di perusahaanku.”


“Suami?”


Enzi terkejut bukan main.


“Ya, aku


jelaskan sekali lagi. Evelyn istriku, dan dia mengundurkan diri, surat resmi


pengunduran dirinya akan di urus sekretarisku. Kau faham?”


Enzi masih


merasa tidak percaya, sungguh kaget bukan main ternyata sekretarisnya itu


istrinya Pak Jeremy, padahal saat acara mereka bahkan tidak banyak bicara. Dia


benar-benar merasa bingung.


“Ada yang


lainnya, Pak Enzi?”


“Ti, tidak,


Pak Jeremy.”


Pluk! Jeremy


langsung mematikan ponselnya Evelyn. Saat membalikkan badannya wanita itu


menatapnya tajam.


Jeremy


meraih tangannya Evelyn dan menyimpan ponselnya itu di tangannya.


“Ayo Bersiap-siaplah,


aku tunggu di bawah.”


Evelyn hanya


diam saja mematung.


sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi.”


“Kau ini


kenapa bertindak seenaknya begitu?”


“Kau tidak


perlu bekerja lagi. Apa yang aku miliki sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanmu


juga Ayres. Kau hanya tinggal mengurus Ayres saja, biar aku yang bekerja. Tidak


usah repot-repot mencari uang.”


“Tapi


seharusnya kau bicara dulu padaku, jangan bertindak sendiri begitu! Aku ini


bukan istrimu, aku mantan istrimu.”


Jeremy


terdiam mendengarnya, berdiri menatap Evelyn yang masih marah padanya.


“Baiklah,


setelah jalan-jalan, kita temui Ayahmu, aku akan melamarmu. Kita akan menikah


lagi, beres kan?”


Kepala


Evelyn rasanya berdenyut-denyut menghadapi sikapnya Jeremy. Lebih terkejut lagi


saat pria itu tiba-tiba menarik lehernya lalu mencium bibirnya dengan kuat.


“Bersiap-siaplah,


aku tunggu di bawah,” ucap pria itu setelah melepaskan ciumannya dan malah


tersenyum melihat wanita itu mematung saja.


“Sayang, Ayah


tunggu dibawah!” seru Jeremy pada Ayres yang sedang merapihkan mainannya.


“Ya Ayah!”


anak itu menjawab, membuat Jeremy tersenyum.


Evelyn


menoleh pada putranya itu yang mau saja memanggil Jeremy Ayah seperti tahu saja


maksud Ayah oleh Jeremy.


“Sayang kita


siap-siap.”


“Ya, Bu! Aku


boleh beli es krim kan, Bu?”


“Boleh tapi


jangan banyak-banyak.” Evelyn menghampiri Ayres, mengajaknya Bersiap-siap.


***


Mobil mewah

__ADS_1


itu meluncur di jalanan yang ramai. Ayres tidak bisa diam, setiap tombol yang


ada di mobil itu dicobanya.


“Mobil ini,


bagus kan, Bu?” tanyanya.


“Ya.” Evelyn


menjawab pendek.


“Aku juga


mau punya mobil begini, Bu.”


“Ibu tidak


cukup uang untuk membelinya. Mobil kita juga lumayan bagus.”


“Sayang, kau


tidak perlu membeli mobil lagi. Kau boleh memakai mobil ini kemanapun kau suka.”


Ayres


menoleh lagi pada Evelyn. “Boleh, Bu?”


Evelyn akan


menolak tapi Jeremy memotong. “Tentu saja boleh, mobil ini milikmu!”


Ayres


tersenyum senang tapi menoleh lagi pada ibunya. “Boleh, Bu?”


“Iya, Sayang,”


jawab Evelyn dengan terpaksa, karena dia tidak mau bertengkar dengan Jeremy yang


akan membuat Ayres bingung. Jeremy tersenyum senang mendengarnya, dia tahu


sulitnya merayu mantan istrinya itu.


“Tempatnya


masih jauh?” tanya Ayres.


“Mm..” Jeremy


tampak bingung, lalu menoleh pada Evelyn.


“Sayang, kau


cari lokasi taman bermain yang bagus.”


Mata cantiknya


Evelyn langsung melebar menatap pria itu. “Kau mengajak jalan-jalan tapi tidak


tahu kita akan kemana?”


“Mana aku


tahu tempat bermain, aku tidak punya anak selain Ayres, baru sekarang mau ke


tempat bermain.” Jeremy menjawab dengan enteng.


“Kalau


begitu kenapa kau..ah, kau ini.”


Jeremy malah


cuek saja, dan mengajak Ayres bicara tentang ibukota.


Evelyn


terpaksa mensearching lokasi taman bermain untuk anak-anak.


“Kau cari


yang Ayres suka,” ucap Jeremy sambil menggendong Ayres didudukkan


kepangkuannya.


Evelyn tidak


menjawab, dia sudah mendapatkan lokasi yang bagus yang akan mereka kunjungi


lalu bicara pada supir.


Sementara


itu sebuah mobil masih terus mengikuti mobilnya Jeremy sedari keluar gerbang


rumahnya.


“Bos,


sepertinya mereka akan pergi ke tempat wisata.”


“Tempat wisata?”


“Pak Jeremy


tidak sendiri, Bos, ada seorang wanita dan anak kecil bersamanya.”


Kursi itu


berputar dan sosok yang duduk disana tersenyum lebar. “Mereka sedang bernostalgia


rupanya. Keluarga kecil yang bahagia..”


“Kau ikuti


terus, beritahu aku lokasinya.”


“Baik, Bos.”


***


Evelyn menoleh


kesampingnya, Jeremy masih memangku putra mereka, dan berbicara banyak hal, dan


ternyata Ayres memahami apa yang dikatakan pria yang baru saja dipanggilnya Ayah


itu.


Melihat


Ayres yang terlihat nyaman saja bersama Jeremy membuatnya tersenyum kecut, sebenarnya


ada rasa bersalah dihatinya karena Ayres tumbuh tanpa sosok Ayah bersamanya.


Apalagi melihat putranya begitu akrab dengan ayah kandungnya, apakah dia harus


menjauhkannya lagi? Entahlah bukan karena dia tidak ingin berkumpul dalam satu


keluarga, hanya saja.. hanya saja.. dia merasa banyak ketakutan saat berada


dalam dunianya Jeremy.


***


Readers, aku kan up jam 11 malam, jadi tulisan up di covernya sudah hilang setiap jam 12, jadi bukan tidak up.

__ADS_1


__ADS_2