
Tidak ada lagi yang bicara di dalam mobil itu, suasana begitu hening, Evelyn iseng menyandarkan kepalanya ke kaca, sekilas dia melihat di spion depan, ada mobil hitam yang terus mengikuti mobil mereka, diapun menoleh ke belakang, itu adalah mobil yang terparkir dihalaman rumahnya Jeremy.
“Jeremy, mereka ikut?” tanya Evelyn, menoleh pada Jeremy.
“Mereka ikut kemanapun aku pergi!” kata Jeremy, mengerti maksudnya Evelyn.
“Kita mau berbelanja, nanti jadi perhatian orang!” ujar Evelyn.
“Kau terlalu banyak bicara, duduk!” bentak Jeremy dengan kesal.
Evelynpun duduk kembali disampng Jeremy, lalu membalikkan tubuhnya lagi ternyata memang mobil hitam itu mengikuti mobilnya Jeremy. Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa, kembali duduk disamping pria itu, yang sekarang sudah sibuk dengan ponselnya.
Setelah melewati jalanan yang padat, sampailah mereka di super mall yang terlihat ramai. Saat memasuki lantai pertama yang begitu penuh oleh pengunjung, Evelyn menoleh pada Jeremy.
“Apa kau tahu dilantai berapa untuk pakaian-pakaian kerja?” tanya Evelyn.
“Mana aku tahu! Tanya sendiri tuh tuh ada petugasnya!” jawab Jeremy dengan ketus, wajahnya sangat masam.
Tidak jauh darinya pria-pria berseragam hitam itu tampak berpencar dengan siaga. Rasanya tidak nyaman berbelanja tapi diikuti orang-orang aneh, membuat banyak orang yang memperhatikan mereka.
Evelyn tidak bicara lagi, dia menghampiri spg counter itu.
Jeremy hanya berdiri memperhatikan orang-orang yang terlihat sibuk mondar mandir memilih barang keperluan mereka. Seumur-umur baru sekarang dia ke mall menemani seorang wanita untuk berbelanja, apalagi istrinya, membayangkannya saja tidak pernah.
Tapi Jeremy terkejut saat melihat Evelyn yang bicara dengan SPG itu lalu membalikkan tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria yang tampan. Pria itu langsung memeluk tubuh Evelyn.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Pria itu, terkejut.
“Iya aku baik-baik saja, maaf aku menabrakmu,” jawab Evelyn.
“Maaf aku tidak sengaja,” kata pria itu.
“Aku juga minta maaf, aku tidak tahu kau ada dibelakangku,” ujar Evelyn sambil tersenyum pada pria itu.
Jeremy yang melihat pemandangan itu langsung saja merasa tidak suka. Apalagi tangan pria itu memeluk Evelyn. Dia langsung melangkahkan kakinya mendekati mereka. Langsung saja tangan yang kini memegang lengan Evelyn itu ditepiskan Jeremy dengan kasar.
Bukan cuma itu saja, sebuah pukulan mendarat di wajah pria itu membuat Evelyn menjerit kaget bukan main begitu juga orang yang melihatnya.
“Jeremy apa yang kau lakukan!” teriak Evelyn.
Tapi Jeremy sama sekali tidak mendengarkan teriakan Evelyn, dia langsung menarik kerah kemeja pria itu akan memukulnya tapi Evelyn segera menghalanginya.
“Jeremy, hentikan! Kau ini apa-apaan?”teriak Evelyn.
Jeremy malah mendorong bahunya Evelyn dari hadapannya.
“Menyingkir!” bentaknya, sampai Evelyn berpindah kesamping.
“Hei kau
__ADS_1
kenapa? Kenapa kau memukulku?” tanya pria itu kebingungan.
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah pria itu sampai terjatuh dan terdengar jeritan orang-orang. Tentu saja Evelyn semakint terkejut melihatnya.
“Jeremy kau ini apa-apaan?” teriak Evelyn dengan bingung, dia langsung menarik tangannya Jeremy yang langsung menepisnya sampai terlepas.
“Hei, hei ada apa ini? Jangan membuat keributan!” teriak dua orang satpam berlarian menghampiri mereka.
Jeremy mengacungkan tangannya kearah pria itu yang masih terdududk di lantai.
“Berani-beraninya kau mencuri-curi kesempatan menyentuh istriku!” makinya, tentu saja membuat semua orang terkejut mendengarnya, satpam itu menoleh pada pria yang masih duduk di lantai itu.
“Aku tidak mencuri-curi kesempatan, aku hanya memeluknya karena mau terjatuh!” jawab pria itu dengan bingung, dia tidak tahu kalau wanita yang menabraknya itu ternyata bersama suaminya.
Mendengar jawaban pria itu, Jeremy semakin marah.
“Apa katamu hanya memeluk! Kau seenaknya memeluk istriku!” umpatnya lalu kakinya menendang tubuh pria itu.
Lagi-lagi terdengar jeritan orang-orang, satpam langsung memegang tangannya Jeremy.
“Tenang Pak, tenang mungkin hanya salah faham saja,” kata satpam, tapi satpam itu langsung diam saat tangannya dipegang pria berbadan tinggi besar lebih dari tubuhnya dengan berpakaian hitam hitam. Begitu juga dengan satpam yang lainnya.
Tentu saja Evelyn semakin kaget melihatnya apalagi saat satu orang berpakaian hitam itu mendekati pria tadi dan langsung menarik kemejanya sampai pria itu berdiri ketakutan.
“Jeremy, dia tidak sengaja, jangan sakiti mereka! Ayo lebih baik kita pergi!” ajak Evelyn, sambil menarik tangannya Jeremy.
Jeremy menatap pria itu dengan tajam.
“Jeremy, jangan pukuli dia! Ini salah faham, dia sama sekali tidak bermaksud menyentuhku!” ujar Evelyn, mencoba menjelaskan, berdiri di depan Jeremy.
Dia sangat khawatir kalau orang-orangnya Jeremy akan memukuli pria itu dan Pak satpam.
“Bagaimana Bos?” tanya pria yang memegang bahu kemeja pria itu.
“Jeremy suruh lepaskan orang-orang itu!” pinta Evelyn, sambil memegang tangan Jeremy.
Evelyn lalu menoleh pada pria berbaju hitam itu.
“Lepaskan! Dia tidak bersalah!” kata Evelyn, lalu menoleh pada Jeremy.
“Jangan membuat onar, jangan sampai polisi datang!” ujar Evelyn.
Mendengar polisi disebut membuat Jeremy teringat sesuatu, dia tidak ingin menarik perhatian polisi.
Evelyn menoleh pada pria yang ditabraknya tadi dan dua orang satpam itu.
“Maaf ya Pak, maaf!” ucap Evelyn, menoleh pada Pak satpam dan pria yang tadi ditabraknya.
Evelyn langsung menarik tangan Jeremy keluar dari mall itu.
__ADS_1
Pria itu masih kokoh berdiri, kakinya tidak mau beranjak, sepertinya Jeremy masih ingin memukulinya.
“Jeremy ayo, kita cari tempat lain saja!” ajak Evelyn, memaksa Jeremy meninggalkan tempat itu.
“Ayo pergi!” ucap Jeremy pada anak buahnya akhirnya.
Pria berbaju hitam itu memang melepaskan pria tadi juga satpam, tapi setelah itu mereka langsung memukulinya.
“Jeremy, apa yang mereka lakukan?” teriak Evelyn, saat mendengar suara orang mengaduh dan jeritan orang yang melihat pemukulan itu.
Evelyn berbalik akan pergi masuk lagi tapi tangan Jeremy menariknya dan menyeretnya keluar dari mall itu.
Evelyn merasa sedih dia hanya mendengar suara jeritan orang yang melihat mereka dipukuli lalu dilihatnya pria-pria berbaju hitam itu mengikuti langkahnya Jeremy keluar dari mall.
“Cari butik saja!” kata Jeremy pada Pak Supir, saat mereka sudah didalam mobil.
Evelyn menoleh pada Jeremy yang menatapnya.
“Ada apa?” tanya Jeremy.
“Tidak seharusnya kau memukulinya,”kata Evelyn.
“Sudahlah jangan cerewet, ini urusan laki-laki!” kata Jeremy.
“Urusan laki-laki apa? Kau memukuli orang hanya karena dia membantuku supaya aku tidak terjatuh!” kata Evelyn.
“Kenapa? Kau senang di peluk pria itu?” bentak Jeremy.
“Bukan bukan itu, dia tidak sengaja!” kata Evelyn.
“Diam dan duduk!” bentak Jeremy.
“Kau suamiku mengantarku belanja, bukan untuk memukuli orang,!“kata Evelyn.
Jeremy menatapnya.
“Aku bilang diam dan duduk!” bentak Jeremy lagi.
Akhirnya Evelynpun diam, dia merasa menyesal mengajak Jeremy kalau akhirnya pria itu akan menyakiti orang lain.
Evelyn menunduk dan sesekali menoleh pada Jeremy. Wajah pria itu memberengut, dia tidak mengerti apa yang ada difikirannya Jeremy.
Pria itu tampak menoleh kearah jendela, dia juga merasa aneh dengan kejadian tadi, kenapa dia tidak suka melihat istrinya disentuh oleh orang lain? Padahal dia suka sekali bergonta-ganti pasangan bahkan wanita-wanita itu diberikannya pada Ryan begitu saa.
Dia bukannya tidak tahu kalau Evelyn tadi menabrak pria itu dan pria itu langsung memeluknya, hanya saja kenapa dia tidak suka ada yang menyentuh istrinya.
Jeremy menoleh pada Evelyn yang ternyata sedang menatapnya. Wanita itu segera memalingkan mukanya melihat keluar jendela.
Jeremy tidak bicara apa-apa, dia hanya diam saja, didalam mpbil itupun kembali hening.
__ADS_1
*******