
Selama acara
itu, Evelyn merasa sangat gelisah, hatinya tidak tenang, dia tidak menyangka
akan bertemu Jeremi disini, sungguh semua itu diluar dugaannya.
“Apa kau
baik-baik saja, Bu Eve?” tanya Enzi, menatap wanita yang duduk disebelahnya.
“Kau terlihat
pucat, apa kau sakit?”
Tiba-tiba
diumumkan breaktime 15 menit.
“Saya ambilkan
minum, Pak?”
“Ya, boleh.”
Evelyn
bangun dan segera pergi ke pojok ruangan dimana menu makanan ringan dan minuman
disediakan. Dibuatkannya secangkir kopi dan satu gelas teh manis, dia merasa
kepalanya pusing, bukan karena masuk angin, hanya merasa stress saja.
Sambil membawa
dua minuman itu, Evelyn celingukan mencari bosnya itu. Ternyata Enzi sedang duduk bergabung disebuah
sofa yang melingkar, ada beberapa orang disana, ada Pak Tito juga.
“Bu Evie,
disini, Bu!” panggil Enzi, melambaikan tangannya pada Evelyn. Yang segera menghampirinya.
“Saya bawakan
kopi, Pak!” Evelyn memberikan secangkir kopi pada Enzi yang langsung menerimanya.
“Gabung
disini saja, Bu! Saya sedang nego sewa alat berat dari yang punyanya nih, siapa
tahu bisa dapat potongan harga.”
Evelyn langsung
duduk disatu sofa sebelah kirinya pak Enzi. Setelah duduk dia terkejut karena
ternyata yang sedang ada dihadapannya bosnya itu Jeremy. Wajahnya langsung
memucat, tangannya memeluk cangkir itu.
“Bu Evie
minum apa?” tanya Enzi.
“Oh ini, teh
manis, kepalaku sedikit pusing.”
“Bu Evie sakit?
Mau saya mintakan obat pada panitia?” Enzi menatap sekretarisnya itu dengan
khawatir.
Sebelum Evelyn
bicara lagi, Enzi sudah memanggil panitia.
“Sekretarisku
sakit kepala, apa ada obat sakit kepala?”
“Biasanya
minum obat apa?” tanya panitia.
“Bu Evie
biasa minum oba tapa?”
Evelyn
menyebutkan nama merek obat.
“Ditunggu
ya, Bu. Saya ambilkan.” Panitia itu langsung pergi.
“Setelah
minum obat, sebaiknya Bu Evie istirahat saja, biar saya saja yang mengikuti
acara ini, nanti saya minta kopian saja pada sekretarisnya Pak Tito. Nanti
kalau acara selesai, saya ke kamar Bu Evie, apa sudah membaik atau tidak.”
“Tidak apa, Pak. Hanya sedikit pusing saja, tidak
terlalu parah. Saya masih bisa mengikuti acara ini,” dalih Evelyn.
Melihat Enzi
yang perhatian, membuat Jeremy merasa cemburu. Apalagi Enzi terlihat masih
muda.
“Kalau ada
apa-apa bilang ya, Bu. Jangan dipaksakan.”
“Ya.” Evelyn
hanya mengangguk lalu minum teh manis ditangannya.
Panitia
datang membawakan obat dan airputih, Evelyn menyimpan teh manisnya lalu meminum
obatnya.
“Jadi
bagaimana Pak Jeremy? Ini pertama kalinya saya bekerja sama dengan perusahaan
Bapak,” tanya Enzi, menatap Jeremy.
“Sebenarnya
__ADS_1
kami tidak berhak langsung berkaitan dengan pihak ketiga, karena sudah ada pihak
kedua. Pak Enzi bisa langsung dengan pihak kedua saja,” kata Pak Candra.
Enzi tampak
kecewa. “Tadinya saya pikir bisa langsung supaya harga lebih murah.”
“Bisa.”
Tiba-tiba Jeremy menjawab, membuat Pak Candra menoleh pada pria itu.
“Nanti pihak
kedua akan protes, Pak.”
“Tidak apa,
hanya untuk perusahaan ini saja.”
Enzi
langsung tersenyum lebar. “Wah terimakasih Pak Jeremy, saya senang bekerjasama
dengan anda. Semoga kerja sama kita bisa berlangsung lama.”
Jeremy
menoleh pada Pak Candra. “Jam berapa selesainya? Aku sudah bosan.”
“Biar saya
lanjut saja dengan Bu Lastri,” ucap Pak Candra.
Jeremy
menoleh pada Enzi. “Suruh sekretarismu datang ke kamarku, sekarang.”
Semua yang
duduk terkejut bukan main mendengar perkataannya Jeremy, apalagi Evelyn.
Pria itu
seperti tidak peduli dengan tatapan orang yang duduk di sofa itu, Jeremy
langsung berdiri.
Enzy benar-benar terkejut mendengar, wajahnya memerah,
dia merasa tersinggung dengan sikapnya Jeremy.
“Maaf, Pak
Jeremy, saya tidak mengerti maksud anda. Saya lebih baik membatalkan Kerjasama daripada
menyuruh sekretaris saya datang ke kamar anda.”
Jeremy yang
masih berdiri melirik pada pria itu. “Contoh proposalnya ada di kamarku.” Lalu
pria itu langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.
Enzy terbengong
mendengarnya, diapun menoleh pada Pak Candra.
“Aduh Pak.
Saya merasa bersalah, saya minta maaf. Saya sudah berpikir buruk pada Pak Jeremy.”
“Tidak apa,
saja. Jeremy sengaja memanfaatkan situasi ini untuk bicara dengannya.
“Apa Bu Evelyn
akan menemui Pak Jeremy? Ada di kamar 402.”
“Tentu saja
Pak Candra, nanti Bu Evelyn kesana untuk mengambil contoh proposalnya!” ucap
Enzi.
“Iya, nanti
saya ambil.” Evelyn mengangguk.
Sebenarnya
dia tidak ingin bicara dengan Jeremy, tidak ingin. Tapi tentu saja bosnya akan
bertanya kenapa, tidak mungkin juga dia mengatakan kalau dia mantan istrinya
Jeremy.
Dengan
langkah yang malas, Evelyn pergi ke kamar 402, dengan berat hati. Tapi memang tidak
ada pilihan lain.
Sesampainya
disana dia mengetuk pintu itu beberapa kali.
“Masuk!”
terdengar suaranya Jeremy dari dalam kamar itu.
Evelyn
membuka pintu itu perlahan, dilihatnya Jeremy berdiri menghadap jendela membelakanginya.
“Saya sudah
disini, Pak. Mau ambil proposal.” Evelyn sengaja bersikap formil.
Jeremy
membalikkan badannya menatap Evely yang menunduk tidak mau menatapnya.
“Duduk!”
perintah Jeremy.
“Saya disini
saja.”
“Duduk, atau
aku tidak memberikan proposalnya!” kata-kata itu penuh penekanan.
Evelyn terpaksa
__ADS_1
masuk ke kamar itu, lalu duduk di sofa. Jeremy duduk disebrangnya Evelyn,
memperhatikan mantan istrinya itu dari atas sampai bawah, istrinya terlihat
semakin bertambah usia semakin cantik.
“Kau terlihat
semakin cantik.”
“Saya sudah
duduk Pak Jeremy, setelah mendapatkan proposal dari anda saya akan segera keluar.”
Evelyn masih sengaja bersikap formil, menunjukkan dia tidak mau pembahasan yang
lainnya.
“Aku ingin
tahu kabar Ayres.”
“Jika tidak
ada proposalnya, saya akan pergi.”
Jeremy
segera bangun, Evelyn menghela nafas lega, sepertinya Jeremy akan mengambil
proposalnya, dia begitu ingin pergi dari tempat ini.
Tapi apa
yang dibayangkan Evelyn jauh dari kenyataan, dia malah mendengar suara pintu
yang dikunci, membuatnya menoleh kearah pintu.
“Apa yang
kau lakukan? Kau mengunci pintunya?” tanya Evelyn terkejut.
Jeremy
kembali menghampiri Evelyn.
“Jeremy, aku
mau keluar!” Evelyn langsung bangkit akan pergi menuju pintu tapi tangannya
ditahan oleh tangan Jeremy.
“Jeremy,
lepaskan aku! Kalau orang-orang tahu, mereka akan bergosip.”
“Aku tidak
peduli.”
“Jeremy aku
bukan istrimu, kita sudah bercerai.”
Evelyn
menjerit saat tangan Jeremy menarik tangannya membuatnya malah terjatuh kepelukannya.
Mana bisa dia melawan tangan kokohnya Jeremy, dia tahu seperti apa pria itu.
Evelyn
memalingkan mukanya tidak mau melihat pria itu. “Jangan macam-macam padaku, aku
bukan istrimu, aku bisa teriak dan membuat ribut.”
Merasakan
tubuh itu menempel ke tubuhnya, membuat perasaan Jeremy bergejolak. Dia sangat
merindukannya. Diapun menunduk akan menciumnya, tapi Evelyn memalingkan mukanya
kearah lain, menghindari ciumannya.
“Sudah aku
katakan aku bukan istrimu lagi. Kita sudah bercerai. Kau berani macam-macam,
aku teriak.”
“Kau mau
teriak? Teriak saja! Tidak masalah bagiku. Mana peduli aku dengan nama baik?
Itu tidak berlaku buatku.”
“Tapi itu
berlaku untukku.”
“Kalau
begitu diamlah, jangan berulah!”
Evelyn
menatap wajah tampan itu dengan tajam. “Jangan berulah? Kau yang berulah!”
Melihat
wanita itu mengangkat dagu menatapnya, membuat Jeremy leluasa menatap wajahnya.
Dia sangat merindukannya, begitu merindukannya.
“Aku
merindukanmu,” ucapnya.
Evelyn
memalingkan mukanya, dia menarik tangannya tapi tidak bisa terlepas karena
tangannya dipegang Jeremy.
“Kau masih
saja suka memaksa, kau tidak berubah.”
“Untuk
memang ada kalanya pemaksaan perlu dilakukan.”
Evelyn tidak
menjawab, hanya diam saja memberengut, melihat kearah lain, tidak mau melihat
Jeremy.
__ADS_1
***