Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-62 Jeremy Tetap Pemaksa


__ADS_3

Selama acara


itu, Evelyn merasa sangat gelisah, hatinya tidak tenang, dia tidak menyangka


akan bertemu Jeremi disini, sungguh semua itu diluar dugaannya.


“Apa kau


baik-baik saja, Bu Eve?” tanya Enzi, menatap wanita yang duduk disebelahnya.


“Kau terlihat


pucat, apa kau sakit?”


Tiba-tiba


diumumkan breaktime 15 menit.


“Saya ambilkan


minum, Pak?”


“Ya, boleh.”


Evelyn


bangun dan segera pergi ke pojok ruangan dimana menu makanan ringan dan minuman


disediakan. Dibuatkannya secangkir kopi dan satu gelas teh manis, dia merasa


kepalanya pusing, bukan karena masuk angin, hanya merasa stress saja.


Sambil membawa


dua minuman itu, Evelyn celingukan mencari bosnya itu.  Ternyata Enzi sedang duduk bergabung disebuah


sofa yang melingkar, ada beberapa orang disana, ada Pak Tito juga.


“Bu Evie,


disini, Bu!” panggil Enzi, melambaikan tangannya pada Evelyn. Yang segera menghampirinya.


“Saya bawakan


kopi, Pak!” Evelyn memberikan secangkir kopi pada Enzi yang langsung menerimanya.


“Gabung


disini saja, Bu! Saya sedang nego sewa alat berat dari yang punyanya nih, siapa


tahu bisa dapat potongan harga.”


Evelyn langsung


duduk disatu sofa sebelah kirinya pak Enzi. Setelah duduk dia terkejut karena


ternyata yang sedang ada dihadapannya bosnya itu Jeremy. Wajahnya langsung


memucat, tangannya memeluk cangkir itu.


“Bu Evie


minum apa?” tanya Enzi.


“Oh ini, teh


manis, kepalaku sedikit pusing.”


“Bu Evie sakit?


Mau saya mintakan obat pada panitia?” Enzi menatap sekretarisnya itu dengan


khawatir.


Sebelum Evelyn


bicara lagi, Enzi sudah memanggil panitia.


“Sekretarisku


sakit kepala, apa ada obat sakit kepala?”


“Biasanya


minum obat apa?” tanya panitia.


“Bu Evie


biasa minum oba tapa?”


Evelyn


menyebutkan nama merek obat.


“Ditunggu


ya, Bu. Saya ambilkan.” Panitia itu langsung pergi.


“Setelah


minum obat, sebaiknya Bu Evie istirahat saja, biar saya saja yang mengikuti


acara ini, nanti saya minta kopian saja pada sekretarisnya Pak Tito. Nanti


kalau acara selesai, saya ke kamar Bu Evie, apa sudah membaik atau tidak.”


 “Tidak apa, Pak. Hanya sedikit pusing saja, tidak


terlalu parah. Saya masih bisa mengikuti acara ini,” dalih Evelyn.


Melihat Enzi


yang perhatian, membuat Jeremy merasa cemburu. Apalagi Enzi terlihat masih


muda.


“Kalau ada


apa-apa bilang ya, Bu. Jangan dipaksakan.”


“Ya.” Evelyn


hanya mengangguk lalu minum teh manis ditangannya.


Panitia


datang membawakan obat dan airputih, Evelyn menyimpan teh manisnya lalu meminum


obatnya.


“Jadi


bagaimana Pak Jeremy? Ini pertama kalinya saya bekerja sama dengan perusahaan


Bapak,” tanya Enzi, menatap Jeremy.


“Sebenarnya

__ADS_1


kami tidak berhak langsung berkaitan dengan pihak ketiga, karena sudah ada pihak


kedua. Pak Enzi bisa langsung dengan pihak kedua saja,” kata Pak Candra.


Enzi tampak


kecewa. “Tadinya saya pikir bisa langsung supaya harga lebih murah.”


“Bisa.”


Tiba-tiba Jeremy menjawab, membuat Pak Candra menoleh pada pria itu.


“Nanti pihak


kedua akan protes, Pak.”


“Tidak apa,


hanya untuk perusahaan ini saja.”


Enzi


langsung tersenyum lebar. “Wah terimakasih Pak Jeremy, saya senang bekerjasama


dengan anda. Semoga kerja sama kita bisa berlangsung lama.”


Jeremy


menoleh pada Pak Candra. “Jam berapa selesainya? Aku sudah bosan.”


“Biar saya


lanjut saja dengan Bu Lastri,” ucap Pak Candra.


Jeremy


menoleh pada Enzi. “Suruh sekretarismu datang ke kamarku, sekarang.”


Semua yang


duduk terkejut bukan main mendengar perkataannya Jeremy, apalagi Evelyn.


Pria itu


seperti tidak peduli dengan tatapan orang yang duduk di sofa itu, Jeremy


langsung berdiri.


Enzy benar-benar  terkejut mendengar, wajahnya memerah,


dia merasa tersinggung dengan sikapnya Jeremy.


“Maaf, Pak


Jeremy, saya tidak mengerti maksud anda. Saya lebih baik membatalkan Kerjasama daripada


menyuruh sekretaris saya datang ke kamar anda.”


Jeremy yang


masih berdiri melirik pada pria itu. “Contoh proposalnya ada di kamarku.” Lalu


pria itu langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.


Enzy terbengong


mendengarnya, diapun menoleh pada Pak Candra.


“Aduh Pak.


Saya merasa bersalah, saya minta maaf. Saya sudah berpikir buruk pada Pak Jeremy.”


“Tidak apa,


saja. Jeremy sengaja memanfaatkan situasi ini untuk bicara dengannya.


“Apa Bu Evelyn


akan menemui Pak Jeremy? Ada di kamar 402.”


“Tentu saja


Pak Candra, nanti Bu Evelyn kesana untuk mengambil contoh proposalnya!” ucap


Enzi.


“Iya, nanti


saya ambil.” Evelyn mengangguk.


Sebenarnya


dia tidak ingin bicara dengan Jeremy, tidak ingin. Tapi tentu saja bosnya akan


bertanya kenapa, tidak mungkin juga dia mengatakan kalau dia mantan istrinya


Jeremy.


Dengan


langkah yang malas, Evelyn pergi ke kamar 402, dengan berat hati. Tapi memang tidak


ada pilihan lain.


Sesampainya


disana dia mengetuk pintu itu beberapa kali.


“Masuk!”


terdengar suaranya Jeremy dari dalam kamar itu.


Evelyn


membuka pintu itu perlahan, dilihatnya Jeremy berdiri menghadap jendela membelakanginya.


“Saya sudah


disini, Pak. Mau ambil proposal.” Evelyn sengaja bersikap formil.


Jeremy


membalikkan badannya menatap Evely yang menunduk tidak mau menatapnya.


“Duduk!”


perintah Jeremy.


“Saya disini


saja.”


“Duduk, atau


aku tidak memberikan proposalnya!” kata-kata itu penuh penekanan.


Evelyn terpaksa

__ADS_1


masuk ke kamar itu, lalu duduk di sofa. Jeremy duduk disebrangnya Evelyn,


memperhatikan mantan istrinya itu dari atas sampai bawah, istrinya terlihat


semakin bertambah usia semakin cantik.


“Kau terlihat


semakin cantik.”


“Saya sudah


duduk Pak Jeremy, setelah mendapatkan proposal dari anda saya akan segera keluar.”


Evelyn masih sengaja bersikap formil, menunjukkan dia tidak mau pembahasan yang


lainnya.


“Aku ingin


tahu kabar Ayres.”


“Jika tidak


ada proposalnya, saya akan pergi.”


Jeremy


segera bangun, Evelyn menghela nafas lega, sepertinya Jeremy akan mengambil


proposalnya, dia begitu ingin pergi dari tempat ini.


Tapi apa


yang dibayangkan Evelyn jauh dari kenyataan, dia malah mendengar suara pintu


yang dikunci, membuatnya menoleh kearah pintu.


“Apa yang


kau lakukan? Kau mengunci pintunya?” tanya Evelyn terkejut.


Jeremy


kembali menghampiri Evelyn.


“Jeremy, aku


mau keluar!” Evelyn langsung bangkit akan pergi menuju pintu tapi tangannya


ditahan oleh tangan Jeremy.


“Jeremy,


lepaskan aku! Kalau orang-orang tahu, mereka akan bergosip.”


“Aku tidak


peduli.”


“Jeremy aku


bukan istrimu, kita sudah bercerai.”


Evelyn


menjerit saat tangan Jeremy menarik tangannya membuatnya malah terjatuh kepelukannya.


Mana bisa dia melawan tangan kokohnya Jeremy, dia tahu seperti apa pria itu.


Evelyn


memalingkan mukanya tidak mau melihat pria itu. “Jangan macam-macam padaku, aku


bukan istrimu, aku bisa teriak dan membuat ribut.”


Merasakan


tubuh itu menempel ke tubuhnya, membuat perasaan Jeremy bergejolak. Dia sangat


merindukannya. Diapun menunduk akan menciumnya, tapi Evelyn memalingkan mukanya


kearah lain, menghindari ciumannya.


“Sudah aku


katakan aku bukan istrimu lagi. Kita sudah bercerai. Kau berani macam-macam,


aku teriak.”


“Kau mau


teriak? Teriak saja! Tidak masalah bagiku. Mana peduli aku dengan nama baik?


Itu tidak berlaku buatku.”


“Tapi itu


berlaku untukku.”


“Kalau


begitu diamlah, jangan berulah!”


Evelyn


menatap wajah tampan itu dengan tajam. “Jangan berulah? Kau yang berulah!”


Melihat


wanita itu mengangkat dagu menatapnya, membuat Jeremy leluasa menatap wajahnya.


Dia sangat merindukannya, begitu merindukannya.


“Aku


merindukanmu,” ucapnya.


Evelyn


memalingkan mukanya, dia menarik tangannya tapi tidak bisa terlepas karena


tangannya dipegang Jeremy.


“Kau masih


saja suka memaksa, kau tidak berubah.”


“Untuk


memang ada kalanya pemaksaan perlu dilakukan.”


Evelyn tidak


menjawab, hanya diam saja memberengut, melihat kearah lain, tidak mau melihat


Jeremy.

__ADS_1


***


__ADS_2