Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-54 Rencana Evelyn Menggugat Cerai


__ADS_3

Evelyn naik


ke tempat tidur, tidak langsung berbaring, tapi membantu Jeremy untuk


berbaring. Pria itu hanya memperhatikan wajah cantik istrinya. Meskipun dengan


susah payah karena perut besarnya, tapi dengan telaten istrinya membantunya


berbaring. Setiap gerakannya membuatnya Jeremy terus mengikutinya.


Merasa


diperhatikan, Evelyn menoleh pada suaminya. “Kau bisa mendengarkan? Apa kita


bisa berkomunikasi? Misalnya kau berkedip atau bereaksilah apa yang aku tahu


kau bisa aku ajak bicara.”


Mendengar


suara istrinya yang pelan, tidak ada nada tinggi, marah, mengomel, atau yang


menunjukkan kesal, semakin membuat hati Jeremy tersentuh. Dia sudah menyia-nyiakan


berlian yang ada ditangannya.


Ada kata yang


ingin dia ucapkan, jangan pergi, jangan meninggalkannya, beri dia kesempatan memperbaiki


diri untuk menunjukkan rasa cintanya pada istrinya.


Dan satu


lagi yang ingin dia katakan. “Kau sangat cantik.”


“Apa kau


mendengar apa yang aku katakan?” tanya Evelyn.


Jeremy


mengedipkan matanya, membuat Evelyn tersenyum. Melihat pergerakan bibir itu


membuat hati Jeremy terpikat ingin menciumnya tapi tidak bisa.


“Aku senang kita


bisa berkomunikasi. Artinya kau mendengar kan apa yang aku bicarakan dengan


ayahmu?”  Evelyn memegang perutnya membetulkan


letak duduknya.


Jeremy


melihat tangan itu menopang diperutnya, dia ingin menyentuh perut itu dan mengusapnya,


ada bayinya disana.


“Aku akan


tinggal disini sampai aku melahirkan, tapi setelah itu mungkin aku akan mengurus


perceraian kita.”


Jeremy


terdiam, rasa mengaggumi itu mendadak hilang berganti shock Evelyn membahas


perceraian.


“Aku minta


maaf, aku harus pergi darimu. Aku harus pergi.” Suara itu berubah terdengar


memilukan.


Jeremy


mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tidak setuju dengan rencana Evelyn, dia harus


sembuh dan tidak memberikan kesempatan Evelyn untuk mengurys perceraian mereka.


Tapi


ternyata Evelyn tidak bicara lagi membuat hati Jeremy berubah lesu. Dia akan


kehilangan istrinya disaat dia sudah jatuh cinta padanya.


“Jangan


meninggalkanku, Sayang. Jangan. Aku ingin kehidupan yang baru bersamamu. Jangan


jauhkan aku dari bayiku, aku ingin kita tinggal bersama selamanya, bersama


dengan anak-anak kita,” batin Jeremy yang tidak bisa terucap.


Dilihatnya


istrinya kembali merapihkan letak kepalanya, melihat leher jenjang istrinya,


ingin sekali dia mencium leher itu, dia sangat ingin mencumbunya.


Tangan Evelyn


merapihkan bantalnya Jeremy, lalu mengambil selimut dan menyelimutinya.


Evelyn


kembali duduk menatap Jeremy. “Selamat malam.”


Jeremy merasa


kecewa istrinya hanya berkata itu tapi tidak dengan menciumnya.


“Cium aku,


Sayang. Cium aku!” batinnya.


Dilihatnya


Evelyn mencondongkan tubuhnya mendekatinya, hati Jeremy merasa senang pastilah


Evelyn akan menciumnya. Tapi tidak, ternyata evelyn hanya membetulkan letak

__ADS_1


bantalnya yang menurutnya tidak pas. Hati Jeremy kembali kecewa ternyata Evelyn


tidak menciumnya.


Tapi beberapa


detik kemudian, tangan Evelyn memegang dagunya lalu perlahan menunduk dan mencium


bibirnya Jeremy.


Pria itu


sampai memejamkan matanya menikmati ciuman yang hanya sebentar itu. Kalau saja


dia sembuh, dia tidak akan melepaskan bibir istrinya lepas diantara bibirnya.


Tidak akan.


“Tidur yang


tenang, istirahatlah.” Suara itu terdengar begitu merdu didengarnya, sungguh


sangat menyenangkan.


“Sayang,


maukan kau tidur sambil memelukku?” pinta Jeremy dalam hati. Suatu keinginan yang


mustahil terjadi, karena Evelyn hanya berbaring saja tapi menghadap kearahnya


setelah menutup tubuhnya dengan selimut.


Jeremy


melirik wajah istrinya yang terpejam, hatinya berkecamuk ingin memeluknya,


menciumnya, tidak ingin dia melepaskannya lagi, tapi bagaimana caranya? Dia


ingin sembuh, ayolah sembuh Jeremy, harus sembuh sebelum Evelyn melahirkan dan


menggugat cerai. Istrinya tidak boleh pergi.


***


Beberapa bulan


kemudian.


Setelah


mendengar bel berbunyi beberapa kali, barulah pemilik apartemen itu membukakan


pintu.


Telah berdiri


disana seorang pria yang sangat Selena kenal, Ryan, dengan penampilan yang


berbeda, terlihat begitu menyolok, bersama dua orang pria bertubuh besar.


Tangan


Selena akan menutup pintu itu tapi Ryan segera menahannya dan bergegas masuk, membuat


Tidak cukup


disitu saja, Ryan langsung menarik pinggangnya Selena dengan kuat dan mencium


bibirnya dengan panas.


Plak! Sebuah


tamparan mendarat di pipinya Ryan.


“Kau, kau


berani membentakku?” bentak Ryan.


“Jangan


kurang ajar!”Selena berbalik marah.


Tapi kali


ini Ryan tidak langsung diam, dia malah memeluk pinggangnya Selena dan kembali


menciumnya paksa.


Plak! Selena


menampar lagi pipinya Ryan.


“Sudah aku bilang


jangan kurang ajar!” maki Selena, tangannya menepiskan tangannya Ryan.


Pria itu


mengusap pipinya yang ditampar dua kali oleh Selena.


“Jangan


pernah menyentuhku!” maki Selena.


Ryan tersenyum


sinis. “Kita lihat saja apa kali ini kau berhasil menolakku?”


“Apa


maksudmu? Kau ingin memaksaku?” bentak Selena.


Ryan menyeringai,


melihat tubuh Selena seperti serigala yang lapar.


“Kau


terlihat lebih kurus, sayang. Tapi kau tetap menjadi wanita yang membuatku penasaran


sebelum aku menyentuhmu.”


“Pergi dari


apartemenku, pergi!” usir Selena.

__ADS_1


Ryan


mengangkat tangannya memberi kode pada kedua bodyguard itu untuk menutup pintu.


“Kau mau


apa?” Selena terkejut melihat pintu itu tertutup. Biasanya dia bisa


mengendalikan suasana tapi entah kenapa sekarang, sepertinya Ryan berbeda.


“Aku sudah


bosan menunggu dan aku ingin merasakan tubuhmu!”


“Brengsek,


kau! Pergi darisini!” usir Selena.


Ryan


tersenyum menyebalkan, dia malah membuka jas yang dipakainya.


“Ryan,


jangan macam-macam, atau..”


“Atau apa?


Kau akan mengadu pada siapa? Dulu aku takut pada Jeremy, tapi sekarang, kau lihat


aku! Berbulan bulan aku menguasai bisnisnya Jeremy dan aku berhasil. Jeremy


sudah seperti mayat hidup, tinggal di kampung halamannya, duduk di kursi roda, menunggu


kematiannya. Haha.  Aku senang, aku bebas


melakukan apa saja. Melihat pria itu mengenaskan sungguh sangat membuatku


bahagia, hahha…”


Ryan terus


berjalan mendekat sambil membuka kancing kemeja.


“Kau, jangan


kurang ajar padaku! Cepat pergi!” usir Selena.


“Sudahlah


tidak perlu jual mahal terus menerus, lama-lama kau tidak akan laku! Hanya karena


Jeremy mengistimewakanmu makanya kau hidup senang. Tapi sekarang, hargamu


semakin turun. Aku saja bahkan tidak rela memberimu uang banyak.”


“Aku tidak


peduli dengan ocehanmu! Pergi dariku!” bentak Selena.


Berbulan-bulan


ini Selena tidak banyak menerima pelanggan karena memang dia lebih spesialis


simpanan Jeremy. Terbiasa dimanjakan Jeremy tentu saja membuatnya pilih pilih


pria yang membutuhkan jasanya, dan tidak ada yang sesempurna Jeremy, selain royal


tapi pria itu sangat tampan, tidak dengan kebanyakan pria hidung belang yang


meskipun royal tapi berusia lanjut, meskipun ada yang muda tapi tidak akan mampu


membayarnya mahal seperti Ryan dulu yang berlindung diketiak Jeremy, kebagian


memungut sampah barang bekas lemparan dari Jeremy.


Tidak terasa


Selena tersudut masuk ke kamarnya.


Brugh! Ryan


menutup pintu kamar itu.


“Ryan keluar


kau!” usir Selena, diapun mendekati pintu tapi tangannya ditahan Ryan yang sudah


tidak memakai kemejanya.


Tiba-tiba


Ryan mendorong Selena dengan keras, bukan ke tempat tidur melainkan ke lantai.


Wanita cantik itu tersentak kaget, didorong seperti itu oleh Ryan.


“Ryan,


jangan kasar padaku! Keluar kau!”


Ryan betolak


pinggang menatap Selena. “Kau pikir aku akan bersikap manis padamu? Tidak! Selama


ini kau selalu menghinaku, memandangku sebelah mata, aku diam karena Jeremy. Tapi


sekarang, aku berhak melakukan apasaja!”


Selena tersenyum


sinis lalu meludah. “Cih! Kau pikir sekarang kau lebih baik? Kau sama saja busuk


seperti dulu, bahkan lebih busuk! Yang kau dapat bukan karena jerih payahmu tapi


kau menipu semua orang dengan mengatakan kaulah pewarisnya Jeremy. Huh! Kau


pikir aku tidak tahu! Kau tetap saja tidak ada apa-apanya dibanding Jeremy! Aku


yakin Jeremy akan sembuh dan kembali menendangmu ke jalanan!”


 Perkataan Selena menyulut emosi Ryan apalagi


dia kembali dibandingkan dengan Jeremy. Tangannya dengan cepat melepaskan ikat pinggangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2