
Evelyn naik
ke tempat tidur, tidak langsung berbaring, tapi membantu Jeremy untuk
berbaring. Pria itu hanya memperhatikan wajah cantik istrinya. Meskipun dengan
susah payah karena perut besarnya, tapi dengan telaten istrinya membantunya
berbaring. Setiap gerakannya membuatnya Jeremy terus mengikutinya.
Merasa
diperhatikan, Evelyn menoleh pada suaminya. “Kau bisa mendengarkan? Apa kita
bisa berkomunikasi? Misalnya kau berkedip atau bereaksilah apa yang aku tahu
kau bisa aku ajak bicara.”
Mendengar
suara istrinya yang pelan, tidak ada nada tinggi, marah, mengomel, atau yang
menunjukkan kesal, semakin membuat hati Jeremy tersentuh. Dia sudah menyia-nyiakan
berlian yang ada ditangannya.
Ada kata yang
ingin dia ucapkan, jangan pergi, jangan meninggalkannya, beri dia kesempatan memperbaiki
diri untuk menunjukkan rasa cintanya pada istrinya.
Dan satu
lagi yang ingin dia katakan. “Kau sangat cantik.”
“Apa kau
mendengar apa yang aku katakan?” tanya Evelyn.
Jeremy
mengedipkan matanya, membuat Evelyn tersenyum. Melihat pergerakan bibir itu
membuat hati Jeremy terpikat ingin menciumnya tapi tidak bisa.
“Aku senang kita
bisa berkomunikasi. Artinya kau mendengar kan apa yang aku bicarakan dengan
ayahmu?” Evelyn memegang perutnya membetulkan
letak duduknya.
Jeremy
melihat tangan itu menopang diperutnya, dia ingin menyentuh perut itu dan mengusapnya,
ada bayinya disana.
“Aku akan
tinggal disini sampai aku melahirkan, tapi setelah itu mungkin aku akan mengurus
perceraian kita.”
Jeremy
terdiam, rasa mengaggumi itu mendadak hilang berganti shock Evelyn membahas
perceraian.
“Aku minta
maaf, aku harus pergi darimu. Aku harus pergi.” Suara itu berubah terdengar
memilukan.
Jeremy
mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tidak setuju dengan rencana Evelyn, dia harus
sembuh dan tidak memberikan kesempatan Evelyn untuk mengurys perceraian mereka.
Tapi
ternyata Evelyn tidak bicara lagi membuat hati Jeremy berubah lesu. Dia akan
kehilangan istrinya disaat dia sudah jatuh cinta padanya.
“Jangan
meninggalkanku, Sayang. Jangan. Aku ingin kehidupan yang baru bersamamu. Jangan
jauhkan aku dari bayiku, aku ingin kita tinggal bersama selamanya, bersama
dengan anak-anak kita,” batin Jeremy yang tidak bisa terucap.
Dilihatnya
istrinya kembali merapihkan letak kepalanya, melihat leher jenjang istrinya,
ingin sekali dia mencium leher itu, dia sangat ingin mencumbunya.
Tangan Evelyn
merapihkan bantalnya Jeremy, lalu mengambil selimut dan menyelimutinya.
Evelyn
kembali duduk menatap Jeremy. “Selamat malam.”
Jeremy merasa
kecewa istrinya hanya berkata itu tapi tidak dengan menciumnya.
“Cium aku,
Sayang. Cium aku!” batinnya.
Dilihatnya
Evelyn mencondongkan tubuhnya mendekatinya, hati Jeremy merasa senang pastilah
Evelyn akan menciumnya. Tapi tidak, ternyata evelyn hanya membetulkan letak
__ADS_1
bantalnya yang menurutnya tidak pas. Hati Jeremy kembali kecewa ternyata Evelyn
tidak menciumnya.
Tapi beberapa
detik kemudian, tangan Evelyn memegang dagunya lalu perlahan menunduk dan mencium
bibirnya Jeremy.
Pria itu
sampai memejamkan matanya menikmati ciuman yang hanya sebentar itu. Kalau saja
dia sembuh, dia tidak akan melepaskan bibir istrinya lepas diantara bibirnya.
Tidak akan.
“Tidur yang
tenang, istirahatlah.” Suara itu terdengar begitu merdu didengarnya, sungguh
sangat menyenangkan.
“Sayang,
maukan kau tidur sambil memelukku?” pinta Jeremy dalam hati. Suatu keinginan yang
mustahil terjadi, karena Evelyn hanya berbaring saja tapi menghadap kearahnya
setelah menutup tubuhnya dengan selimut.
Jeremy
melirik wajah istrinya yang terpejam, hatinya berkecamuk ingin memeluknya,
menciumnya, tidak ingin dia melepaskannya lagi, tapi bagaimana caranya? Dia
ingin sembuh, ayolah sembuh Jeremy, harus sembuh sebelum Evelyn melahirkan dan
menggugat cerai. Istrinya tidak boleh pergi.
***
Beberapa bulan
kemudian.
Setelah
mendengar bel berbunyi beberapa kali, barulah pemilik apartemen itu membukakan
pintu.
Telah berdiri
disana seorang pria yang sangat Selena kenal, Ryan, dengan penampilan yang
berbeda, terlihat begitu menyolok, bersama dua orang pria bertubuh besar.
Tangan
Selena akan menutup pintu itu tapi Ryan segera menahannya dan bergegas masuk, membuat
Tidak cukup
disitu saja, Ryan langsung menarik pinggangnya Selena dengan kuat dan mencium
bibirnya dengan panas.
Plak! Sebuah
tamparan mendarat di pipinya Ryan.
“Kau, kau
berani membentakku?” bentak Ryan.
“Jangan
kurang ajar!”Selena berbalik marah.
Tapi kali
ini Ryan tidak langsung diam, dia malah memeluk pinggangnya Selena dan kembali
menciumnya paksa.
Plak! Selena
menampar lagi pipinya Ryan.
“Sudah aku bilang
jangan kurang ajar!” maki Selena, tangannya menepiskan tangannya Ryan.
Pria itu
mengusap pipinya yang ditampar dua kali oleh Selena.
“Jangan
pernah menyentuhku!” maki Selena.
Ryan tersenyum
sinis. “Kita lihat saja apa kali ini kau berhasil menolakku?”
“Apa
maksudmu? Kau ingin memaksaku?” bentak Selena.
Ryan menyeringai,
melihat tubuh Selena seperti serigala yang lapar.
“Kau
terlihat lebih kurus, sayang. Tapi kau tetap menjadi wanita yang membuatku penasaran
sebelum aku menyentuhmu.”
“Pergi dari
apartemenku, pergi!” usir Selena.
__ADS_1
Ryan
mengangkat tangannya memberi kode pada kedua bodyguard itu untuk menutup pintu.
“Kau mau
apa?” Selena terkejut melihat pintu itu tertutup. Biasanya dia bisa
mengendalikan suasana tapi entah kenapa sekarang, sepertinya Ryan berbeda.
“Aku sudah
bosan menunggu dan aku ingin merasakan tubuhmu!”
“Brengsek,
kau! Pergi darisini!” usir Selena.
Ryan
tersenyum menyebalkan, dia malah membuka jas yang dipakainya.
“Ryan,
jangan macam-macam, atau..”
“Atau apa?
Kau akan mengadu pada siapa? Dulu aku takut pada Jeremy, tapi sekarang, kau lihat
aku! Berbulan bulan aku menguasai bisnisnya Jeremy dan aku berhasil. Jeremy
sudah seperti mayat hidup, tinggal di kampung halamannya, duduk di kursi roda, menunggu
kematiannya. Haha. Aku senang, aku bebas
melakukan apa saja. Melihat pria itu mengenaskan sungguh sangat membuatku
bahagia, hahha…”
Ryan terus
berjalan mendekat sambil membuka kancing kemeja.
“Kau, jangan
kurang ajar padaku! Cepat pergi!” usir Selena.
“Sudahlah
tidak perlu jual mahal terus menerus, lama-lama kau tidak akan laku! Hanya karena
Jeremy mengistimewakanmu makanya kau hidup senang. Tapi sekarang, hargamu
semakin turun. Aku saja bahkan tidak rela memberimu uang banyak.”
“Aku tidak
peduli dengan ocehanmu! Pergi dariku!” bentak Selena.
Berbulan-bulan
ini Selena tidak banyak menerima pelanggan karena memang dia lebih spesialis
simpanan Jeremy. Terbiasa dimanjakan Jeremy tentu saja membuatnya pilih pilih
pria yang membutuhkan jasanya, dan tidak ada yang sesempurna Jeremy, selain royal
tapi pria itu sangat tampan, tidak dengan kebanyakan pria hidung belang yang
meskipun royal tapi berusia lanjut, meskipun ada yang muda tapi tidak akan mampu
membayarnya mahal seperti Ryan dulu yang berlindung diketiak Jeremy, kebagian
memungut sampah barang bekas lemparan dari Jeremy.
Tidak terasa
Selena tersudut masuk ke kamarnya.
Brugh! Ryan
menutup pintu kamar itu.
“Ryan keluar
kau!” usir Selena, diapun mendekati pintu tapi tangannya ditahan Ryan yang sudah
tidak memakai kemejanya.
Tiba-tiba
Ryan mendorong Selena dengan keras, bukan ke tempat tidur melainkan ke lantai.
Wanita cantik itu tersentak kaget, didorong seperti itu oleh Ryan.
“Ryan,
jangan kasar padaku! Keluar kau!”
Ryan betolak
pinggang menatap Selena. “Kau pikir aku akan bersikap manis padamu? Tidak! Selama
ini kau selalu menghinaku, memandangku sebelah mata, aku diam karena Jeremy. Tapi
sekarang, aku berhak melakukan apasaja!”
Selena tersenyum
sinis lalu meludah. “Cih! Kau pikir sekarang kau lebih baik? Kau sama saja busuk
seperti dulu, bahkan lebih busuk! Yang kau dapat bukan karena jerih payahmu tapi
kau menipu semua orang dengan mengatakan kaulah pewarisnya Jeremy. Huh! Kau
pikir aku tidak tahu! Kau tetap saja tidak ada apa-apanya dibanding Jeremy! Aku
yakin Jeremy akan sembuh dan kembali menendangmu ke jalanan!”
Perkataan Selena menyulut emosi Ryan apalagi
dia kembali dibandingkan dengan Jeremy. Tangannya dengan cepat melepaskan ikat pinggangnya.
***
__ADS_1