
Jeremy melihat lagi kamar untuk bayinya, dalam benaknya sudah terencana bebagai ide membesarkan anaknya nanti. Dia ingin anaknya menjadi pria yang kuat dan berkuasa.
Evelyn berdiri dipintu kamar itu memperhatikan suaminya dengan segala ide dalam benaknya.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel disakunya, diambilnya ponsel itu lalu dijawabnya.
“Tumben sekali kau menelpon, tidak ada hujan tidak ada angin! Apa kau ingin mengatakan usahamu bangkrut dan ingin bergabung denganku?”Jeremy bicara dalam bahasa Inggris dengan sipenelepon sambil membalikkan badan keluar dari kamar itu melewati Evelyn.
Istrinya itu hanya memperhatikannya yang berjalan di luar kamar itu menuju tangga. Ternyata dia tidak turun ketangga, tapi hanya berhenti di dekat pagar lantai atas itu yang membuatnya leluasa meilihat keruang utama yang ada di bawah.
Evelyn masih bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu.
“Iya aku tidak lupa!”
“Jangan lupa kau bawa wanitamu!” Terdengar suara pria di sebrang.
“Wanitaku? Selena maksudmu? Tentu saja dia akan menemaniku, wanita itu selalu membawaku dalam keberuntungan di meja judi!”
Evelyn yang mendengar percakapan itu langsung menoleh pada Jeremy, hatinya merasa kesal lagi saat Jeremy menyebut nama Selena, apalagi dengan sebutan wanitaku.
“Tidak,tidak, maksudku bukan itu!” Terdengar lagi suara pria disebrang telpon.
“Bukan? Maksudmu apa Ken?”
“Aku dengar kau sudah menikah!”
Jeremy agak terkejut mendengar jawaban Ken itu, bagaimana Ken bisa tahu kalau dia sudah menikah? Mungkin dari Cheng?
Jeremy memutar tubuhnya menoleh kearah Evelyn yang masih bersandar dipintu melihat ke dalam kamar yang sedang di cat itu.
“Iya, aku sudah menikah!” jawabnya.
“Haha..hebat sekali kau menjawabnya dengan jujur!”
“Tidak ada yang perlu ditutupi,” jawab Jeremy.
“Kau benar, seharusnya kau pamerkan istrimu nanti malam, kecuali kalau kau menikahi wanita buruk rupa!” pancing Ken diikuti tawanya.
Hati Jeremy langsung terbakar saja diolok-olok pria saingan bisnisnya itu.
“Apa kau tidak tahu seleraku seperti apa? Tentu saja aku menikahi wanita yang cantik!”
Ken kembali tertawa senang, dia senang karena pancingannya mengena pada Jeremy. Dia sudah mengenal bagaimana sifatnya Jeremy yang temperamen dan memilki ego yang tinggi.
“Tapi aku yakin dia tidak secantik Selena makanya kau akan membawa Selena nanti malam!”
Mendengar lagi hasutannya Ken, Jeremy semakin merasa terpancing. Dalam benaknya tidak masalah sesekali membawa Evelyn bersamanya keluar rumah, sekalian mengenal kota di malam hari.
“Kau tenang saja, istriku tidak kalah cantik dengan Selena!” kata Jeremy.
Entah apa lagi yang mereka bicarakan dan akhirnya telponpun ditutup.
Evelyn yang selanjutnya hanya melihat pekerja-pekerja itu bekerja terkejut saat Jeremy tiba-tiba sudah berdiri disampingnya.
“Bagus kan hasilnya?” tanya Jeremy.
__ADS_1
Evelyn menoleh menatap pria itu yang sedang melihat kedalam kamar dengan wajahnya yang berseri-seri.
“Iya!” Hanya itu yang keluar dari mulutnya karena dia juga tidak mau banyak berdebat dengan Jeremy, yang penting pria itu bermaksud memberikan perhatian pada bayinya meskipun masih lama untuk lahir ke dunia.
Perlahan tangan Evelyn menyentuh perutnya dengan suka hati, dia juga sebenarnya tidak sabar ingin melihat bayinya nanti mirip siapa.
“Nanti malam bersiap-siaplah!” ucapan Jeremy mengagetkannya.
“Bersiap-siap untuk apa?” Evelyn kembali menatap Jeremy.
“Menemaniku saja!” jawab Jeremy, lalu masuk ke dalam kamar itu.
Evelyn akan beranjak pergi tapi langkahnya terhenti saat terdengar Jeremy bicara lagi.
“Dandan yang cantik!”
Evelyn hanya melirik sekilas tidak menanggapi, dia langsung pergi keruangan lain.
***
Sore harinya Evelyn akan bersiap siap mandi saat mendengar ketukan dipintu kamarnya. Saat dibuka ternyata Bibi sudah berdiri sisana.
“Ada tamu di bawah katanya dari butik!” kata Bibi.
“Butik? Apa Jeremy memesan pakaian? Tapi dia belum pulang kan?” Evelyn tampak keheranan, Jeremy tidak mengatakan kalau dia memesan pakaian.
“Pak Jeremy belum pulang. Orang dari butik masih di bawah!” ujar Bibi.
“Baiklah, aku akan menemuinya!” Evelynpun mengangguk, dia segera keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
“Siapa yang memesan ini?” tanya Evelyn, dalam bahasa Inggris.
“Pak Jeremy! Kami hanya mengantarkan pesanannya saja!” jawab wanita itu.
Sebenarnya Evelyn bingung melihat gaun-gaun yang berwarna merah menyala itu, dia tidak suka yang terlalu menyolok, entah apa maksud Jeremy ini. Tapi karena itu sudah dipesan, akhirnya diterimanya pakaian itu.
Setelah tamu dari butik itu pergi, Evelyn membawa gaun-gaun itu ke kamarnya. Digantungnya gaun-guan itu dengan bingung, meksipun gaun itu ukurannya sama dengan tubuhnya hanya modelnya terlalu terbuka dan warna yang menyolok.
Terdengar suara pintu kamar dibuka, Evelyn menoleh pada orang yang baru datang itu ternyata Jeremy.
“Aku bingung kenapa kau memesan gaun sesexi ini, buat siapa?” tanya Evelyn.
“Tentu saja buatmu, aku ingin kau terlihat cantik nanti malam!” jawab Jeremy mengambil satu gaun berwarna merah menyala itu, di julurkan ketubuhnya Evelyn, lalu ditatapnya istrinya dan gaun itu.
“Sepertinya cocok yang ini, kau harus terlihat cantik nanti malam!”
“Terlihat cantik? Maksudnya apa?”
“Kau akan menemaniku, aku ada acara, aku ingin kau terlihat cantik biar semua orang tahu istriku sangat cantik!”jawab Jeremy, menatap gaun yang masih ditangannya.
“Tapi gaunnya terlalu terbuka, aku malu memakainya! Aku bukan Selena!” tolak Evelyn.
Jeremy terdiam, dia terbiasa ditemani wnaita-wanita cantik dan sexy, diapun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Tapi kalau Evelyn tidak menggunakan gaun ke seperti itu nanti dia akan di olok-olok tidak pandai mencari istri. Pokoknya Evelyn harus terlihat sempurna malam ini.
“Tidak apa-apa sekali-kali memakai pakaian seperti ini! Supaya kau terlihat cantik!” Jeremy menyimpan gaun itu ditempat tidur.
__ADS_1
“Cepatlah mandi, jangan lupa kau pakai, aku ingin kau tampil cantik malam ini!” ucapnya lalu pergi dari kamar itu.
Evelyn menatap pakaian itu dengan bingung, bukan tidak cantik, pakaian itu sangat cantik hanya saja melihatnya seperti melihat Selena yang selalu berpakaian **** dan terbuka, itu membuatnya sangat risih.
Setelah mandi dan berdandan, Evelyn mengunakan gaun itu, dia merasa tidak nyaman karena belahan dadanya terlalu rendah, hampie sebagian dadanya terlihat, punggungnyapun terbuka lebar, bagian bawahnya saja belahannya hampir mendekati ****** ********, gerak tubuhnya pasti akan sangat kaku karena itu sama saja dengan memamerkan tubuhnya.
Terdengar lagi bunyi pintu dibuka, Jeremy masuk kedalam bersamaan dengan Evelyn yang sedang duduk didepan kaca rias itu menoleh kearahnya.
Jeremy tersenyum melihat wajah cantik itu dengan gaunnya yang merah itu duduk menyamping menatapnya. Diapun menghampiri Evelyn.
“Kau sangat cantik!” ucapnya, menghentikan langkahnya didepan Evelyn.
“Tapi aku tidak nyaman, ini terlalu terbuka!” keluh Evelyn.
Tangan Jeremy memegang kedua bahunya Evelyn menyuruhnya berdiri dan memutar badannya menjadi menghadapnya.
Jeremy menatap Evelyn dari atas sampai bawah,“Kau sangat cantik!”
“Tapi aku tidak nyaman, ini terlalu terbuka! Sebenarnya kita kan pergi kemana? Kenapa harus berpakaian seperti ini?” keluhnya.
Jeremy tidak langsung menjawab, dia hanya menatap istrinya itu dari atas sampai bawah, ternyata istrinya tidak kalah cantik dengan Selena.
“Aku ingin orang-orang melihat kalau isriku sangat cantik!” kata Jeremy.
Evelyn terbengong mendengarnya.
“Kau menyuruhku memakai baju seperti ini untuk pamer pada teman-temanmu?”
“Begitulah! Biasanya aku membawa Selena atau wanita lain menemaniku. Sekarang aku membawa istriku masa harus kalah dengan yang lain!”
Evelyn langsung membalikkan tubuhnya mencoba membuka pakaiannya.
“Aku tidak bisa ikut!” ucapnya sambil membuka pakaiannya.
“Kenapa?” tanya Jeremy, keheranan.
“Aku tidak mau kau pamer pamerkan! Aku bukan Selena atau wanita lain yang menemanimu! Aku istrimu! Aku bukan wanita penghibur!”
Jeremy menarik lagi gaun yang akan dibuka Evelyn itu.
“Kau ini rewel sekali, sudah pakai saja! Banyak yang memakai pekaian begini jangan norak!” ucap Jeremy dengan kesal.
“Tapi ini terlau terbuka, membuat semua laki-laki menatapku!”
“Memang itu maksudku! Aku ingin semua mata memandangmu! Dengan begitu aku tidak menyesal sudah menikahimu!”
Mendengar perkataan Jeremy membuat Evelyn merasa kecewa.
“Kau suka istrimu dipandang laki-laki hidung-belang yang behalusinasi becinta dengan istrimu? Kau mau begitu?” Evelyn benar-benar kesal pada Jeremy.
Pria itu menatap Evelyn sebentar dan kembali memakaikan gaun itu.
“Sudah pakai saja! Hanya sekali ini saja!”
Ahirnya mau tidak mau Evelyn terpaksa memakainya meskipun dia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian itu. Hany saja dia berfikir untuk membawa mantel panjangnya, bisa dipakainya nanti kalau merasa kedinginan.
__ADS_1
**********