Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-23 Hamil


__ADS_3

Dua bulan kemudian…


Setelah kepergian Jeremy waktu itu, tidak terasa dua bulan telah berlalu. Rumah ini terasa begitu tenang tidak ada huru hara apalagi kedatangan tamu-tamu wanitanya Jeremy, juga tamu laki-laki yang selalu menganggapnya wanita penghiburnya Jeremy.


Evelyn bekerja tiap hari di kantornya. Dan fix tidak ada komunikasi apapun dari Jeremy. Pria itu seakan hilang lenyap ditelan bumi. Karena Jeremy tidak pernah menghubunginya, tentu saja ayah mertuanyapun tidak ada menghubunginya karena Pak Kades hanya tahu nomornya Jeremy.


Siang itu Evelyn dan Desi menuju rumah makan yang terlihat sangat ramai.


“Aku dengar disini menunya enak-enak, lihat kan, penuh setiap jam makan siang!” kata Desi.


Merekapun masuk ke rumah makan itu dan mencari meja yang kosong. Saat mencium aroma masakan daging itu tercium begitu menusuk hidung Evelyn yang langung menutup hidungnya dengan tangannya.


“Kenapa bau sekali?” tanya Evelyn sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya, tapi kakinya melangkah mengikuti langkahnya Desi.


“Kau ini bagaimana, ini harum sekali baunya, sampai aku tidak kuat menahan lapar,” kata Desi.


Evelyn tidak bicara lagi, dia terus masuk mengikuti Desi, tapi lama semakin lama yang ada dia merasa semakin mual dan kepalanya terasa pusing.


“Des, kita pindah yuk, disini semakin bau!”kata Evelyn yang merasakan dalam perutnya terasa ada yang mau keluar.


“Kau ini sangat aneh,” ucap Desi, tapi bukan jawaban yang di dapatnya, malah temannya itu mau muntah.


“Ooek!” Evelyn langsung menutup mulutnya, membuat orang disekitar melihat kearahnya.


“Kau kenapa?” tanya Desi sambil memegang tangannya Evelyn.


“Aku..oeek!” lagi lagi Evelyn ingin muntah apalagi saat seorang pelayan lewat dengan membawa menu makan di nampannya


Dorongan mau muntah semakin kuat dan masakan itu tercium sangat bau. Mata Evelyn langsung mencari lokasi toilet, tanpa banyak bicara pada Desi dia langsung pergi, tentu saja Desi sangat keheranan dan mengejarnya.


“Kau mau kemana?” tanya Desi.


“Toilet! Ooek..” jawab Evelyn, diikuti mual yang amat sangat, kakinya berlari semakin cepat menuju arah toilet.


Desi hanya bisa menunggu diluar saat Evelyn masuk ke toilet dan muntah-muntah. Cukup lama Evelyn didalam toilet itu. Ketika keluar terlihat wajahnya sangat pucat.


“Kau baik-baik saja?” tanya Desi.


“Entalah, aku merasa pusing dan mual,” jawab Evelyn, baru juga bicara, dia kembali berlari masuk ke toilet dan Desi hanya mendengar suara muntahnya saja.


Diapun merenung, apa masuk angin seperti itu? Seperti anak kecil saja masuk angin muntah-muntah, batinnya.


Evelyn cukup lama di toilet itu belum keluar juga. Desi hanya mendengar kalau temannya kembali muntah dan sepertinya muntahnya itu begitu sangat ingin muntah.


Dia kembali berfikir, tidak mungkin Evelyn hamil karena Evelyn masih single.


Terdengar lagi suara pintu toilet itu dibuka, Evelyn muncul dengan wajahnya yang semakin pucat. Kakinya terasa lemas saat menghampiri Desi.

__ADS_1


“Kau kenapa? Kau sangat aneh, kau masuk angin?” tanya Desi dengan bingung.


“Iya sepertinya masuk angin, mungkin aku telat makan juga,” jawab Evelyn, melap wajahnya dengan tisu.


“Kau, tidak sedang hamil kan?” tanya Desi dengan ragu-ragu.


Ditanya begitu membuat Evelyn kaget dan menatap Desi.


“Oh maaf, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya merasa heran saja kau muntah seprrti itu, biasanya anak-anak yang masuk angin muntah-muntah,” kata Desi, jadi tidak enak hati.


Mendapat pertanyaan dari Desi, membuat Evelyn terkejut, apa benar dia hamil? Jantungnya langsung saja berdebar kencang dan hatinya menjadi gelisah.


“Maaf aku keceplosan, aku lupa kau kan bilang masih sendiri, lagi pula disini yang diterima hanya yang belum menikah,” kata Desi.


Evelyn masih tidak berkata-kata, dia sungguh merasa bingung.


“Apa kau akan ke Dokter? Aku akan mengantarmu,” kata Desi.


“Tidak, tidak usah, aku hanya masuk angin,” ucap Evelyn.


“Baiklah ayo kita makan,” kata Desi, sambil melangkah meminggalkan toilet diikuti Evelyn.


Tapi sampai pintu masuk menuju rumah makan itu, saat mencium bau amis daging membuat Evelyn kembali merasa mual dan ingin muntah, diapun segera pergi berlari ke toilet.


Desi berdiri dengan penasarannya. Apa yang masuk angin seperti itu? Diapun kembali menyusul ke toilet.


“Apa kau sedang hamil?” tanya Desi, tidak bisa menutupi kecurigaannya.


“Aku…entahlah,” Evelynpun menghitung-hitung kapan dia terakhir datang bulan, dan wajahnya semakin lesu saja saat teringat kalau dia sudah telat bulan.


Diapun menatap Desi yang juga menatapnya.


“Sepertinya aku hamil,” ucapnya pada Desi, membuat Desi terkejut.


“Hamil? Kau hamil sama pacarmu?” tanya Desi.


Evelyn menggelengkan kepalanya.


“Bukan, aku sudah menikah!” jawab Evelyn, membuat Desi terkejut.


“Apa? Sudah menikah? Kau memalsukan identitasmu?” tanya Desi.


“Sebenarnya tidak, karena aku baru menikah jadi masih menggunakan data yang lama,” jawab Evelyn.


Desi menghela nafas panjang, lalu melihat jam tangannya.


“Lebih baik kita cari makan yang aman buatmu, “ kata Desi. Evelynpun mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya mereka keluar lewat pintu samping, lalu mencari tempat makan yang aroma masakannya tidak membuat Evelyn muntah. Mereka makan disebuah café outdoor dengan menu menu yang ringan dan beraneka macam jajanan pasar.


“Kau lebih baik sekarang?” tanya Desi, matanya melihat ke jalanan, banyak kendaraan yang lewat berlalu-lalang sangat apdat.


“Iya,” jawab Evelyn.


“Kenapa kau harus berbohong? Kau sangat butuh pekerjaan? Tapi kalau kau ketahuan hamil begini pasti kau akan dipecat!” kata Desi.


“Aku tidak sengaja berbohong!” jawab Evelyn.


“Bukannya kau tinggal di kawasan elit? Suamimu berarti orang kaya kan? Kenapa aku harus bekerja?” tanya Desi, yang sedang makan buah-buahan ditangannya.


Evelynpun terdiam, dia jadi ingat pada Jeremy, apakah dia harus memberitahu soal ini? Dia juga harus ke Dokter untuk memastikan kalau dia hamil atau tidak.


“Aku hanya ingin bekerja saja,” kata Evelyn, tidak mau banyak bercerita.


Desi menoleh padanya dan menatapnya.


“Kalau kau mau cerita, aku bisa ko jadi teman yang baik,” kata Desi, membuat Evelyn tersenyum mendengarnya. Dia senang sudah mendapatkan teman baru di kota besar ini.


“Terimakasih, kau sudah jadi teman yang baik,” ucapnya.


Desipun tersenyum.


“Ayo kita ke kantor!” ajak Desi sambil bangun dari duduknya diikuti Evelyn.


Sepulang bekerja, Evelyn pergi ke Dokter dan ternyata Dokter memberitahu kalau dia sedang hamil sekitar 6 minggu. Tidak seperti kebanyakan ibu hamil pertama yang begitu bahagia menyambut kehadiran bayinya, tapi tidak dengan Evelyn, dia bahagia dengan kehamilannya tapi dia takut dengan masa depan bayinya. Dia takut bayinya akan berperilaku buruk seperti Jeremy nantinya.


Setelah dari Dokter, Evelyn merasa gelisah antara memberitahu Jeremy tentang kehamilannya atau jangan, tapi dia tidak tahu bagaimana cara memberitahunya? Pria itu di Hongkong tidak ada memberi kabar sama sekali.


Sementara itu di Hongkong, Jeremy sedang sibuk dengan ponselnya. Sengaja dia menggunakan nomor ponsel yang di Hongkong karena banyak urusan disana yang menggunakan nomor itu.


Dicarinya kontak nama-nama yang ingin dia hubungi dan tiba-tiba matanya tertuju pada tulisan nama Evelyn di ponselnya. Kesibukannya benar-benar menyita perhatiannya sampai lupa kalau dia meninggalkan istrinya di tanah air.


Diapun membaca tulisan itu, akhirnya di tekannya nomor itu, dia hanya iseng sajan menelpon karena dia tidak merasa punya kewajiban untuk mengetahui keadaannya karena dia juga sudah memberikan uang yang banyak buat Evelyn.


*******


Readers aku kasih note untuk GA ya.


Meskipun pendukung novelku tidak ada Fans Diamond, juara 1 2 3 itu tetap berlaku ya. Bukan berarti juara 1 23 itu harus Fans Diamond.


Aku menulis ada Fans Diamond,  karena barangkali nanti ada dan lebih dari 3, meskipun sebenarnya aku tidak yakin akan dapat Fans diamond.


Jadi gitu ya Resders, maaf ya seperti biasa aku bisa upnya sore hari.


Jangan lupa dukungannya, like, gift, vote dan komen positif biar semangat. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2