
Ken menatap pria yang berjalan menghampirinya, diapun tersenyum sinis dan membetulkan lagi ikat pinggangnya. Evelyn menoleh kearah yang datang, ternyata pria itu, suaminya itu datang lagi masuk keruangan entah untuk apa.
Tidak ada kata yang bisa Evelyn ucapkan, dia sudah putus asa, pria itu tidak mungkin bisa melepaskannya, dia hanya tinggal pasrah harga dirinya akan hancur ditangannya Ken. Diapun kembali menangis, meratapi nasibnya yang buruk bersuamikan Jeremy.
Jeremy menghentikan langkahnya berhadapan dengan Ken. Dia sama sekali tidak menoleh pada Evelyn yang masih terduduk di meja judi itu dengan kedua tangan yang dipegang kanan kiri oleh orang-orangnya Ken.
Haya sekilas Jeremy bisa melihat wajah Evelyn yang pucat, gaunnya semarawut memperlihatkan hampir seluruh tubuhnya, rambutnya tergerai acak-acakan, wanita itu terus saja menangis. Terlintas dibenaknya saat pertama kali dia menyentuhnya di mobil itu, ini yang kedua kalinya wanita itu mengalaminya.
Wanita itu terlihat begitu tersiksa padahal hanya untuk melayani Ken, dan dia yakin Ken juga akan mencukupi kebutuhannya, tapi ternyata Evelyn terus berontak menolak Ken. Wanita itu mati-matian mempertahankan kehormatannya meskipun dia tahu resikonya bisa saja Ken membunhnya atau lebih brutal dari ini.
Semua itu membuat Jeremy merasa semakin tidak tega Ken akan menyentuh istrinya. Dia yang biasanya dengan begitu mudah memberikan wanita-wanitanya untuk Ryan, tidak sekarang. Kegigihan wanita itu mempertahakan kehormatannya sungguh menohok hatinya, ada perasaan bersalah dalam hatinya.
Semua membuat matanya terbuka istrinya adalah istrinya, bukan wanita penghibur yang bisa dengan mudah melayani laki-laki lain seperti wanita-wanita yang suka melayaninya selama ini. Ada rasa haru didalam dirinya melihat pertahanan istrinya itu, kenapa dia malah menyakitinya?
Mata sayu yang penuh dengan airmata itu menggugah hatinya. Tatapan yang sama saat dia memaksa menyentuhnya pertama kali. Tangisan itu, tangisannya begitu membuat hatinya pilu.
Jeremy menatap Ken dengan tajam, dia sangat muak dengan rival bisnisnya itu.
“Aku ingin membawa istriku pulang!” kata Jeremy.
“Tidak bisa! Dia sudah jadi milikku sekarang!”
“Sebenarnya kau sudah merencanakan ini semua kan? Tidak ada kaitannya dengan istriku. Mari kita selesaikan antara aku denganmu saja tidak perlu melibatkan yang lain!” Jeremy masih menatap tajam Ken.
Evelyn tidak mengerti apa yang diucapkan Jeremy hanya dia mendengar my wifenya disebut berarti sedang membicarakannya. Ken melangkahkan kakinya satu langkah, memasukkan tangannya kesakunya.
“Kau punya tawaran apa yang sangat menarik yang mungkin aku akan mengembalikan istrimu?” tanya Ken.
“Apa yang kau inginkan? Lokasi pasarku? Aku rasa tidak, kau saja berani menaruhkan satu lokasi pasarmu artinya kau menginginkan lebih dari itu!” jawab Jeremy.
Ken langsung tertawa terbahak-bahak. Ditatapnya pria itu.
“Kau tahu sejak kedatanganmu ke Hongkong, aku sudah tidak menyukaimu! Gong terlalu mengistimewakanmu!” kata Ken.
Evelyn terdiam mendengarkan, dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi mendengar sebuah nama disebut dia menyadari kalau ada keterlibatan orang lain dalam permusuhan mereka.
“Jadi kau ingin membunuhku? Kau mau menukar istriku dengan nyawaku?” tanya Jeremy.
Ken kembali tertawa, lalu dia menoleh pada Evelyn.
“Sayang, menurutmu, apa suamimu akan bersedia menyerahkan nyawanya demi membebaskanmu?” tanya Ken dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
Evelyn terkejut mendengarnya, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Ken itu, nyawa Jeremy ditukar dengannya? Matanya memandang Jeremy yang sama sekali tidak melihat kearahnya, sepertinya pria itu tidak mau bersitatap dengannya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!” kata Evelyn.
“Suamimu sedang ingin membawamu pulang, tapi aku ingin tahu dia mau menukarnya dengan apa?’” jawab Ken, barulah Evelyn mengerti sekarang, ternyata Jeremy ingin membebaskannya, ada senang dihatinya mendengarnya tapi dia juga tahu Jeremy tidak akan bisa dengan mudah membebaskannya.
Ken membalikkan badannya lagi menatap Jeremy.
“Katakan kau punya tawaran apa yang menarik buatku?” tanya Ken.
“Sudah aku katakan tadi, terserah kau mau apa? Asal kau bebaskan istriku!” Jeremy balas menatap Ken dengan tajam, aura permusuhan keduanya begitu terlihat.
Ken tampak berfikir lalu menatap Jeremy lagi memicingkan sedikit matanya.
“Aku ingin tahu seberapa bisa kau mempertahankan nyawamu!” kata Ken.
“Apa maksudmu?”
“Kau mau menukar nyawamu dengan kebebasan istrimu kan? Kau fikir aku akan dengan begitu mudahnya menembakmu? Tidak, itu sangat tidak menyenangkan!” Ken menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jadi kau mau apa?” tanya Jeremy.
“Aku mau membunuhmu perlahan tanpa perlawanan. Aku ingin kau mati mengenaskan,” jawab Ken.
“Bagaimana?” tanya Ken, tersenyum sinis.
Jeremypun diam, dia tahu masalahnya adalah harga diri dan kepuasan. Itu yang diinginkan Ken. Ken ingin melihat harga dirinya jatuh, bukan karena ingin tubuh istrinya saja, karena Ken memang ingin menghancurkan harga dirinya.
“Baiklah, aku terima tantanganmu! Asal kau bebaskan istriku!” Jeremy akhirnya menyetujui.
Ken lansung tertawa senang mendengarnya, hatinya sangat senang, pria yang sangat sok itu sekarang menurut saja apa yang dikatakannya.
“Sungguh senang rasanya kali ini kau mau jadi anjingku!” ucap Ken.
Jeremy sebenarnya kesal pada Ken, dia ingin menghajar pria itu, tapi saat matanya melihat Evelyn yang masih menangis dengan pakaiannya yang berantakan.
Gaun didadanya Evelyn hampir terlepas dan memperlihatkan hampir seluruh dadanya yang tidak bisa di rapihkan karena tangannya dipegang orang-orangnya Ken. Kaki indahnya yang sama sekali tidak tertutup gaun karena tadi menggunakan gaun yang sangat terbuka, betapa terlihat tersiksanya istrinya itu padahal wanita itu sedang mengandung anaknya.
“Kau ingin memukulku sampai mati?” tanya Jeremy.
“Hemm aku rasa begitu, akan sangat menyenangkan melihatnya!” jawab Ken.
__ADS_1
Jeremy kembali diam, dia harus merelakan tubuhnya disiksa Ken sampai mati. Sekarang dia menatap istrinya yang menatapnya dengan genangan airmatanya, menatap wajahnya yang terlihat sangat lusuh padahal tadi dia membawanya ke ruangan ini dengan begitu cantik, sekarang istrinya itu terlihat sangat memprihatinkan.
“Baiklah, aku terima tantanganmu!” kata Jeremy. Dia melihat mata yang putus asa itu sedang menatapnya.
Ken tersenyum senang dia benar-benar senang hari ini. Lalu senyumnyapun hilang, matanya melirik pada orang-orangnya yang seketika mendekati Jeremy.
Evelyn tidak mengerti kenapa orang-orang menghampiri Jeremy. Yang membuatnya kaget saat beberapa orang datang dengan membawa kayu kayu besar, hatinya langsung saja gelisah, buat apa kayu-kayu itu?
“Hei, apa yang akan kalian lakukan?” teriak Evelyn.
Tiba-tiba salah seorang itu memukul bagian belakang kakinya Jeremy sampai terjatuh dan dilantai dengan posisi berlutut didepan Ken.
Ken melipat kedua tangannya, mendekati Jeremy dan...
Puih! Ken meludahinya.
Jeremy menahan diri untuk tidak marah apapun yang akan dilakukan Ken padanya, dia hanya ingin Ken membebaskan istrinya. Dia melihat kegigihan istrinya yang berjuang untuk mempertahankankan kehormatannya, dan dia ingin ikut menjaganya.
“Jeremy! Kenapa kau diam saja?” teriak Evelyn, dia akan turun tapi orang-orangnya Ken tidak melepaskannya.
“Lepaskan!” Evelyn kembali berteriak dan berontak, tapi pemberontakan Evelyn sama sekali tidak berpengaruh karena pegangan orang-orang itu sangat kuat.
Kini Evelyn hanya bisa melihat Pukulan demi pukulan kayu itu dihantamkan ke tubuhnya Jeremy.
Pak! Pak! Kayu-kayu itu terus dipukulkan seluruh ketubuh Jeremy. Pria itu hanya bisa diam menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya.
Brugh!
Tubuh Jeremy tersungkur jatuh dikakinya Ken yang langsung menekan lehernya ke lantai dengan keras, membuat Jeremy kehabisan napas. Dia ingin menarik kakinya Ken supaya pria itu melepaskan tekanan dikakinya, tapi dia teringat kalau dia tidak boleh melawan kalau Evelyn ingin dibebaskan.
Ken menggesek-gesek leher Jermy dengan sepatunya, membuat Jeremy semakin tercekik. Evelyn merasa tidak tega melihatnya, apalagi dlihatnya mata Jeremy sampai melotot saking sesak yang dideritanya. Tapi pria itu sama sekali tidak melawan, sungguh membuat hati Evelyn begitu sedih.
“Jeremy! Bangun Jeremy! Jangan diam saja!” teriak Evelyn, dia merasa tidak sanggup melihat Ken memperlakukan Jeremy seperti itu dan Jeremy tidak melawan.
Melihat Jeremy hampir mati diinjaknya, Ken melepaskan kakinya dan menendang tubuh itu sampai terguling guling menjauh. Orang-orang Ken tidak hanya berhenti sampai disitu, mereksa terus memukulinya sampai babak belur dengan kayu-kayu besar itu. Darah sudah mengucur diseluruh tubuhnya. Wajah Jeremy sudah penuh dengan luka luka. Tapi pria itu tetap menerima pukulan demi pukulan sama sekali tidak melawan.
Evelyn menangis terus melihatnya, dia tidak kuat melihatnya, melihat suaminya dipukuli habis-habisan oleh orang-orang itu tanpa belas kasihan. Dia heran kenapa Jeremy memilih bergabung dengan orang-orang seperti ini? Dia dari remaja sudah ikut geng motor, artinya selama hidupnya dia mengalami kekerasan seperti ini.
Meskipun takut, Evelyn mencoba membuka matanya untuk melihat keadadan Jeremy. Pria itu sudah terkapar dilantai bersimbah darah.
“Hentikan! Hentikan! Dia bisa mati!” teriak Evelyn disela isaknya.
__ADS_1
*******