
Pertama kali Dyra masuk kedalam ruang rawat adiknya, adiknya yang masih asik tertidur dengan nyaman, setelah siuman beberapa jam yang lalu.
Dyra berjalan mendekat kearah Daren, Dyra mendudukkan dirinya dibangku yang tersedia didekat Daren tertidur.
"Cepat sembuh dek,kakak kangen Banget bercanda dan ketawa sama kamu..." Dyra mengelus tangan Daren dengan lembut dan penuh hati-hati seakan takut menyakitinya.
Dyra memandangi wajah tirus adiknya, seketika sekelebat bayangan masa lalu saat dirinya bermain dengan Daren pun bermunculan di kepalanya. Dyra kangen saat-saat Daren yang terlihat sehat walau saat itu adiknya itu sakit,tapi hebatnya Daren tidak menunjukan rasa sakitnya itu.
*FLASHBACK ON*
"Daren ayolah kita main hujan-hujanan, kakak sudah lama sekali tidak main hujan,"dyra yang saat itu berumur 15 tahun mengajak Daren yang berumur 10 tahun dengan wajah yang berbinar minat air deras yang terus menunggu turun dari langit.
"Engga kak, Daren ga mau kakak sakit lagi." Tolak Daren yang memang dari kecil sudah menjaga kakaknya pun mentah-mentah menolak ajakan dyra untuk bermain hujan.
Sedikit informasi Daren dan dyra memiliki jarak umur 5 tahun. Tapi walau Daren lebih kecil umurnya, tidak menutupi Daren untuk tetap menjaga kakaknya yang menurutnya masih kecil. Kakaknya itu sering dimanja oleh keluarganya,dan menjadikan Dyra seperti anak-anak yang berumur 5 tahun.
"Enggak akan Daren,kita hanya akan bermain sebentar." Ucap Dyra yang berusaha menarik tangan Daren kearah kanan rumahnya.
Tapi usahanya sia-sia, badan Dyra yang lebih kecil dan lebih pendek dari Daren pun sangat sulit menarik adiknya itu. Ketinggian Daren diatas rata-rata anak seumurannya, tinggi Daren 150cm itu sudah diluar batas tinggi anak saat umur 10 tahun.
Sedangkan Dyra yang umurnya 15 tahun, hanya memiliki tinggi 135cm. Padahal dirinya lebih tua dari Daren tapi kenapa lebih pendek?!
"Daren tetep ga mau kak! Daren ga mau kalau nantinya kakak sakit,dan mama sama papa pasti akan sedih kalau princess mereka sakit." Bantah Daren yang berusaha selembut mungkin, baik dia ataupun keluarganya pasti akan sangat berhati-hati jika bicara dengan dyra Karena mereka semua tidak mau Dyra sedih dan bikin dyra menangis, sesayang itu keluarganya terhadap Dyra yang memang anak perempuan satu satunya yang ada di keluarganya
Dyra yang mendengar bantahan dari Daren pun mulai kesal, dirinya berlari kedalam rumah menuju kearah mamanya yang sedang duduk santai dengan papahnya diruang keluarga.
"Mah,pah, Liat Daren, masa kakak mau minta temenin main hujan ga mau!" Adiknya dengan wajah cemberut,yang sangat terkesan imut. Walau sudah umur 15 tahun masih tetap terlihat seperti anak kecil yang mengadu minta dibelikan permen.
Daren yang baru saja sampai pun menyela, "bukan Daren gak mau mah, tapi hujan kali ini disertai angin. Daren ga mau kalau kakak sakit kayak waktu itu..." Jelas Daren membenarkan.
Dengan kesal dyra memandang kearah Daren dengan sinis,"tapi kakak tuh penyuka hujan Daren kalau kamu tau!"
"Iya penyuka hujan,tapi sekalinya kena hujan langsung demam,huh!" Goda Daren.
Memang dyratidak tahan kena air hujan terlalu lama. Setiap dyraa main hujan pasti ujung-ujungnya akan sakit di pagi harinya. Sebab itu Daren kali ini tidak mengizinkan kakaknya main hujan, apa lagi hujan kali ini beserta angin pasti akan mudah kakaknya terkena sakit.
Deran memang sudah sangatlah Posessive terhadap kakaknya,karena sudah dari dulu dirinya diajarkan oleh ayahnya agar kelak nanti bisa menjadi pelindung kakaknya,saat ayahnya sedang pergi keluar kota.
Walaupun Daren sudah memiliki penyakit dari kecil, tapi dirinya tetap bertekat akan menjaga kakaknya dengan seluruh jiwanya,kalaupun nyawa yang harus menjadi taruhannya, Daren tidak apa asalkan makanya bahagia dan tetap bisa tersenyum.
"Benar sayang, apa yang dikatakan adikmu itu. Kamu tidak boleh main hujan terlebih dahulu nanti bisa sakit lagi, okey." Tutur Veneta lembut serta mengelus-elus rambut panjang Dyra.
Kemarin Dyra baru saja sembuh dari sakitnya, Dyra sampai dilarikan kerumah sakit akibat panas yang sudah melampaui batas. Panas Dyra sudah mencapai 40°C. Disitu para keluarga panik dan segera membawa Dyra kerumah sakit,walau tanpa persetujuan Dyra. Disana Dyra dirawat 5 hari full penjagaan dokter.
Dyra memang sangat tidak suka ketika di bawa ke rumah sakit, katanya disana sangatlah tidak nyaman dengan bau obat-obatan dan juga Dyra sangat phobia sama jarum suntik jadi dia mau sesakit apapun sebelum parah dirinya tidak mau dibawah kerumah sakit.
Dengan kesal Dyra menjawab,"tapikan mah Dyra pengen main hujan,sebentarrr aja ya...." Bisa disebut Dyra seperti kekanak-kanakan,tapi itulah Dyra yang dulunya selalu dimanja oleh semua keluarganya.
"Ayolah grils,emang Dyra mau sakit kaya kemarin Hem..." Bujuk Alberto
"Terus juga mau tangannya disuntik lagi?"
"Dan apa yang dikatakan oleh adikmu juga benar adanya, nanti kamu bisa sakit." Alberto menasehati serta menakut-nakuti Dyra agar tidak main hujan-hujanan terlebih dahulu. Dirinya tidak mau kalau princessjya akan nangis merengek meminta dilepaskan selang infus nya. itu sangat menyakitkan menurutnya, dari pada tersayat pisau.
"Semuanya bela aja Daren, mama sama papa udah ga sayang sama Dyra lagi! Padahal Dyra cuma minta temenin main hujan,tapi kalian jahat malah marahin Dyra!" Jerit Dyra dan berlari kearah kamarnya lalu menutup pintunya dengan keras.
Alberto berdiri bersama dengan Veneta,"Bukan begitu sayang, hey..." Ucap Alberto hendak mengejar Dyra, namun sudah terlebih dahulu dicegah oleh Daren.
"Sudah pah,mending mama sama papa istirahat aja pasti capek abis pulang dari kantor. Biar Daren aja yang bujuk kakak." Ucap Daren.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk,"bujuk kakakmu dengan halus, Dek..." Tutur Veneta yang melihat Daren sudah kekamar Dyra.
Daren yang sudah masuk kamar pun melihat kakaknya yang sedang menangis dengan posisi tengkurap membenamkan wajahnya dibantal.
"Kak?" Panggil Daren berjalan kearah kasur Dyra dan duduk di pinggiran kasur.
"Udah ya jangan nangis. Nanti kalau udah ga ada anginnya Daren turuti kemauan kakak deh." Bujuk Daren.
"Gak! Kakak gak mau!"
"Terus kakak maunya apa Hem, mau coklat apa mau belanja jajan buat stok kamar?" Dengan sabar Daren mengelus rambut kakaknya yang sedang menangis itu.
"Papa sama Mama jahat belain Daren terus hiks....mereka udah ga sayang kakak lagi hiks..." Ucapnya terpatah-patah karena sesenggukan.
"Mereka bukan gak sayang kakak,tapi mereka justru sangat sayang kakak banget. Mereka gak bolehin kakak main hujan tuh karena gak mau kakak sakit"
"Tetep aja!"
"Ya udah, Daren minta maaf karena udah bikin kakak dimarahin mama sama papa. Sebagai imbalannya Daren mau deh temenin kakak main boneka gimana?" Ucap Daren mengalah dari pada akan semakin panjang urusannya,mending dirinya mengalah.
Dyra yang mendengar ucapan Daren pun langsung bangun dan berbinar walau masih banyak bekas air mata dipipinya."beneran?!"
"Iya ayo..." Daren mengusap wajah Dyra dengan lembut dan mengandeng tangan Dyra untuk turun dari tempat tidur.
"Ayo!!" Ucap Dyra dengan semangat.
*FLASHBACK OFF*
***
Kenangan yang sangat berharga itu membuat Dyra meneteskan air matanya. Dyra menjadi rindu akan kehangatan keluarganya, ia rindu kehadiran sosok ayah serta ibu ditengah-tengah dirinya serta Daren.
Dyra hanya bisa tersenyum mengingat kejadian-kejadian dulu,saat masih lengkap keluarganya. Ditengah tersenyum membayangkan kenangan dulu, Dyra sampai tidak tau kalau sang adik tengah memandang sendu kearahnya. Dia sedih melihat kakaknya yang menangis, Daren sudah bangun sejak tadi. Tapi Daren tidak mau menganggu makanya itu, Daren membiarkan kakaknya menangis mungkin Dyra lelah dengan kondisi saat ini.
Daren jadi merasa bersalah telah membuat hidup kakaknya menderita dengan pengobatan dirinya.
Daren mengelus tangan kakaknya dengan lembut, "maaf kak...udah bikin kakak nangis." Ucapnya dengan sendu.
Dyra yang kaget tangannya dielus pun melihat kearah adiknya, ternyata adiknya sudah bangun. "Eh, kata siapa kakak nangis gara-gara kamu Hem?" Elaknya
"Apa ada yang sakit?" Tanya Dyra mengalihkan pembicaraan.
"Tidak,aku merasa lebih baik." Jawab Daren
"Bentar kakak panggilkan dokter dulu biar keadaan kamu dicek terlebih dahulu," ucap Dyra memencet tombol diatas bangkar yang ditiduri Daren.
Tidak lama kemudian dokter datang dan mengecek semua kondisi Daren." Pasien sudah sangat baik. Kalau besok mau pulang pun sudah diperbolehkan, tapi jangan lupa untuk cek up setiap seminggu sekali demi menghindari infeksi terhadap jaitan paska operasi. Dan jangan lupa diminum obatnya sesuai anjuran." Jelas dokter dengan ramah.
"Oh oke Terimakasih dok..." Jawab Dyra tersenyum tak kalah ramah.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi..." Ucap dokter kan pergi dari ruangan.
Setelah dokter pergi,Dyra berjalan mendekat kearah adiknya. "Alhamdulillah kamu udah sembuh dek kakak seneng dengernya,"
Bukanya menjawab pertanyaan makanya malah Daren melayangkan kembali pertanyaan," tapi Daren Masi bingung, kakak dapat uang sebanyak itu dari mana?" Tanya Daren dengan bingung.
"Kalau soal itu kamu tidak usah kamu pikirkan, yang perlu kamu pikirkan itu adalah Gimana kamu harus semangat untuk sembuh!" Jawab Dyra menutupi semuanya,mana mungkin dirinya akan bilang kalau dapat uang itu dari orang asing yang tiba-tiba manawarkan uang dengan adanya janji yang tertulis.
Dengan ragu Daren mengangguk dan melanjutkan obrolan dengan kakaknya, untuk melepas masa kangennya.
__ADS_1
****
Beralih pada Damian yang baru saja masuk keruang eksekusi pada pengusik hidupnya.
Pertama kali memasuki ruang yang luas namun terkesan menyeramkan,disana terdapat 1 lampu yang hampir redup,tercium bau amis darah serta banyak senjata-senjata mengerika yang di sedia kan untuk menyiksa para tawanan.
Damian berjalan dengan angkuh kearah tempat tawanannya diikat.
"Malam tuan"ucap jhon sambil menunduk hormat ke pada tuan nya damian yang kini berjalan ke arahnya. Damian mengangguk dan berjalan kearah kursi kebesarannya.
Diruangan penyiksaan memang terdapat kursi kebesarannya Damian yang terletak dipojok kanan tayangan itu, biasanya kursi itu digunakan Damian untuk menyaksikan pertunjukan yang sangat indah dengan darah sebagai sentuhan pertamanya. Damian akan duduk di kursi itu setelah puas menyiksa lawannya dan selanjutnya akan menonton aksi para temannya melanjutkan siksaannya.
"Jelaskan Al," ucap damian pada Alister yang duduk dikursi, berhadapan Damian dengan sekat meja.
"Baron salah pegawai di perusahaanmu sebagai menejer keuangan dan dia juga sebagai anggota kelompok kita,dia telah mengelapkan dana perusahaan sebesar 500jt dan dia telah membocorkan tentang ruangan persenjataan kita kepada musuh"ucap Alister yang masih setia matanya melihat komputer dan dengan pintarnya sambil memainkan balati kecil kesayangannya itu.
Disini memang mereka semua memiliki mtugas masing-masing untuk masalah kali ini. Jhon yang disuruh mencari orang yang telah membuat murka Damian, dan Alister yang disuruh menyelidiki masalah apa dan apa motifnya.
Setelah Alister tau siapa orangnya, Alister segera memberi tau Jhon untuk mencarinya.
"Bawa dia mendekat kehadapan ku," Ucap Damian yang baru mendengarkan panjelasan Alister itu langsung menyuruh pengawal membawa tawanan itu.
"Baik tuan." Ucap pengawal itu sambil menunduk hormat pada Damian.
Tidak lama pengawal datang dengan menyeret seorang pria yang kondisi tubuh babak belur dan tubuh yang terikat kuat menggunakan tali. Sesampainya di hadapan 3 malaikat maut,pria itu langsung di dudukkan di hadapan mereka bertiga.
"Lepaskan aku,aku tidak bersalah," Ucap Baron sang penghianat itu.
"Tuan saya hanya di fitnah bukan saya pelakunnya,saya tidak mungkin berhianat pada anda Tuan." ucap Baron lagi,sambil menahan perih pada ujung bibirnya.
"Oh kau di fitnah ehmm...." ucap damian mengangguk-angguk seperti orang berfikir namun dengan senyuman menakutkannya
"Bagaiman dengan ini?" Ucap Alister sambil memperlihatkan video Baron menemui seseorang sambil mengendepa ngendap dan telihat jelas orang yang Baron temui adalah musuh Damian.
Wajah Baron langsung pucat pasi setelah melihat Vidio yang diperlihatkan oleh Alister."Bagaimana apa kau di fitnah," ejek Damian dengan wajah yang menakutkan sambil berjalan ke arah meja kecil yang terdapat di sisi kiri kursi yang didudukki oleh David.
"Bagaimana hemm...." Tanya Damian lagi, sambil berjalan mengambil salah satu pisau yang lumayan tumpul itu.
Baron yang melihat damian memegangi pisau itu langsung keringat dingin,tubuh gemetar tanpa disuruh. Baron sangat ketakutan, seperti ini ternyata berurusan dengan Damian."Maaf kan saya Tuan, saya mohon ampuni saya Tuan..."mohon baron sambil bergerak ke takutkan berusaha melepaskan diri.
Tanpa memperdulikan ucapan Baron, Damian berjalan kearah Baron dengan tangan yang memutar-mutqrkan kecil pisau yang berada ditangannya.
Baron yang melihat Damian berjalan kearahnya pun semakin dibuat takut,aura Damian sangat kental dengan kekejaman.
Setelah sampai didepan Baron, Damian mengangkat dagu Baron menggunakan pisau dan sedikit menekankan ujung pisaunya pada dagu Baron."Apa? Ampun, hhahaa...baiklah aku akan mengampunimu, tapi setelah aku puas dengan darah yang keluar dari tubuhmu!" Ucap dengan Damian yang diiringin tawa mengerikan,sangking mengerikan orang-orang yang ada di dalam ruang itu bergidik ngeri membayangkan kata-kata Damian.
"Anjir serem banget si Damian" bisik David kearah Alister.
"Bener banget, udah tau seserem itu tapi tetep aja ada yang ngusik" jawab Alister.
David mengangguk"tapi gapapa lah, kita jadi bisa merasakan bau darah segar itu." Ucap David dengan seringainya.
"Udah sekarang diam, kalau Lo juga ga mau dijadikan pelampiasan Damian." Kata Alister dan diangguki David.
"Buatlah puas aku melihatmu dengan darah yang mengalir dari berbagai tempat lalu aku akan mengampunimu..." Damian berkata sambil terus dengan seringain seramnya.
"Ayo cepat selesaikan aku sudah agak lelah ni..."ucap David sambil merengek pada Damian. David sudah tidak tahan rasanya untuk merobek mulut bau tahan milik Baron.
David berjalan kearah Baron yang sudah diletakkan terlebih dahulu dikursi dengan sengatan listrik. Rasanya sudah tidak sabar untuk mencabut jantungnya, dan mencongkel matanya untuk dirinya koleksi.
__ADS_1
"Hanya aku saja yang waras" batin Jhon yang melihat David yang sudah mulai menjalankan aksinya yang haus darah itu.