
Setelah Ryan pergi, Jeremy menoleh pada Evelyn yang masih mematung dengan memegang kantung obat itu.
“Bersiap-siaplah, kau akan ikut ke Hongkong!”
“Aku tidak mau ikut, aku…”
“Jangan berisik, tugasmu hanya menjaga bayi itu saja, sudah!” Jeremy sama sekali tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Evelyn. Evelyn kembali melihat kantung itu, mau tidak mau, mau nanti anaknya dibawa Jeremy atau tidak tapi dia harus menjaganya.
“Apa wanita itu ada bersamamu?” tanya Evelyn menatap Jeremy yang berjalan menuju pintu.
“Mau dia ada atau tidak, apa masalahnya?”
“Tentu saja bermasalah, aku tidak mau melihat wanita itu bersamamu,”
Jeremy membalikkan badannya menatap Evelyn lalu menghampirinya.
“Aku dan Selena tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya sekedar membutuhkannya! Sudah aku katakan hentikan membahas masalah seperti itu.”
“Tapi itu artinya kau menyakitiku,”
“Sudahlah jangan cerewet!” Jeremy akhirnya segera pergi dari kamarnya.
Evelynpun diam, kenapa pria itu sama sekali tidak mengerti perasaannya? Tentu saja hatinya sakit melihat suaminya bersama wanita lain.
Dilihatnya lagi obat yang ditangannya lalu duduk di pinggir tempat tidur. Saat Jeremy masuk lagi istrinya itu masih saja begitu.
“Kenapa tidak kau minum obatnya?”
“Aku tidak mau ikut denganmu!”
Lagi-lagi jawaban Evelyn membuat Jeremy kesal saja, ditatapnya wajah pucat itu.
“Aku sudah katakan berkali-kali, jangan cari masalah, apa susahnya?”
“Aku tidak mau ikut dengamu kalau kau terus bersama wanita itu!” teriak Evelyn tiba-tiba lalu menangis, membuat Jeremy terkejut.
“Aku tidak mengerti apa sih maunya perempuan? Apa tidak cukup dikasih uang banyak? Kenapa harus rewel menuntut ini dan itu?” keluhnya.
Evelyn tidak menjawab, dia hanya terisak saja dia merasa sakit hati saat mengetahui ternyata Jeremy membawa Selena ke Hongkong, kenapa pria itu begitu tidak punya perasaan.
Jeremy berjalan mendekati Evelyn yang masih terisak, tapi tiba-tiba Evelyn merasakan mual dalam tubuhnya, dia menghentikan tangisannya dan menutup mulutnya, sesuatu mendorong isi perutnya untuk keluar dari mulutnya dan saking tidak tertahankan isi perutnya itu begitu saja keluar dari mulutnya, yang lebih parah muntahannnya itu keluar mengenai kemejanya Jeremy.
Wajah Jeremy langsung memerah kesal dan langsung berteriak mundur.
“Apa yang kau lakukan?” teriaknya, menatap bajunya yang terkena muntahan isi perut Evelyn.
Tidak ada jawaban dari wanita itu selain wanita itu pergi berlari ke kamar mandi.
Jeremy mencubit ujung bajunya dan menepis nepis muntahan dari mulut Evelyn itu, dia merasa jijik dan bau, wanita itu benar-benar membuatnya marah, amat marah.
Diambilnya tisu di meja lalu membersihkan kotoran dibajunya itu sambil terus menggerutu.
“Apa yang kau lakukan? Kau mengotori bajuku!” teriaknya sambil menoleh kearah kamar mandi. Tidak ada jawaban dia hanya mendengar wanita itu terus muntah saja, suaranya terdengar berisik meski kamar mandi itu sudah ditutupnya.
“Apa kau tidak bisa tidak berteriak begitu? Kau sangat menjijikkan!” teriaknya dengan kesal, kembali mengambil tisu yang banyak lalu bergegas ke kamar mandi.
Evelyn keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang pucat, menatap Jeremy dengan sayu.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” bentak Jeremy, masih kesal karena bajunya jadi kotor dan bau.
Evelyn melihat kemejanya Jeremy itu dan terdiam.
“Aku minta maaf!”
“Kau sangat jorok!” gerutu Jeremy lalu masuk ke kamar mandi, membersihkan kemejanya. Tapi tiba-tiba Evelyn juga menyerobot masuk ke kamar mandi dan langsung muntah-muntah lagi.
Bukan main kesalnya Jeremy harus melihat dan mendengar suara orang yang muntah, diapun menoleh pada Evelyn yang terus muntah yang sepertinya amat sangat terisksa, lalu dilihatnya wanita itu mencuci mukanya dari air kran sambil menatap cemrin.
“Kau sangat jorok!” gumam Jeremy lagi merasa jijik sambil membuka bajunya yang kotor.
“Aku sangat mual,” ucap Evelyn, lalu beranjak keluar.
“Makanya kau minum obat itu!” teriak Jeremy.
“Dari kemarin juga aku sudah minum obat, tapi tetap saja mual,” jawab Evelyn lalu keluar dari kamar mandi itu.
Jeremypun terus memandangnya, tidak bicara apa-apa lagi. Akhirnya dia keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada dan sebuah handuk kecil yang digosok- gosokkan kebadannya, wajahnya sangat masam.
Dilihatnya Evelyn malah berbaring , dilihatnya lagi obatnya belum diminum.
“Kenapa tidak kau minum juga obatnya?”
“Aku merasa pusing! Nanti saja minumnya!”
Jeremy mengambil ponselnya lalu menelpon Dokter.
“Apa kau sudah memeriksa istriku dengan benar? Kenapa dia malah muntah -muntah?” tanyanya.
“Apa benar begitu? Tapi dia malah mengotori bajuku! Aku tidak mau dia muntah lagi di bajuku! Apa kau tidak memberinya obat yang tidak membuat muntah?” suara Jeremy terdengar berteriak-teriak.
Evelyn hanya berbaring saja dengan lesu, dia merasa berisik dengan suara pria itu.
“Apa? 3 bulan? Lama amat? Beda-beda? Terus apa yang harus aku lakukan?”
“Apa? Memberinya minyak angin? Tidak bisa hilang?Hemm! Ada-ada saja!”
Ponselpun ditutupnya lalu menoleh pada Evelyn yang sudah berbaring, kata Dokter memberinya minyak angin untuk mengurangi rasa mualnya.
Jeremypun mendekati telpon yang menempel di dinding kamarnya, menekan tombol angka-angkanya.
“Apa ada minyak angin dan sejenisnya? Bawa kesini!”
Klek! Suara telpon ditutup. Kemudian menoleh pada Evelyn yang masih berbaring, dia tidak menyangka mengurus wanita hamil begitu merepotkannya.
Digosok-gosokkannya handuk ke tubuhnya yang bertato itu. Tidak berapa lama pintupun terbuka. Bibi membawa sebuah botol minyak angin, sambil menoleh kearah Evelyn yang berbaring.
“Ini digosokkan kepunggung dan dadanya biar hangat!” ucap Bibi.
Jeremy mengambil botol tu, Bibipun langsung keluar dari ruangan tu. Diliriknya Evelyn yang masih berbaring itu lau dia naik ke tempat tidur, duduk disamping Evelyn.
Tangannya Jeremy langsung menyusup ke dalam bajunya Evelyn.
“Hei, kau mau apa?” Evelyn terkejut langsung membukakan matanya membalikkan tubuhnya menghadap Jeremy.
“Aku mau memberi punggungmu minyak angin!”
__ADS_1
“Tidak perlu, aku bisa sendiri!” kata Evelyn, kembali membalikkan tubuhnya kembali berbaring, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena pria itu membangunkan tubuhnya dan disuruhnya duduk.
“Kau mau apa?”
“Sudah aku katakan aku akan memberimu minyak angin!” jawab Jeremy, lalu tangannya mengusap lagi punggungnya Evelyn yang membuatnya kesusahan.
“Buka bajumu!”
“Apa?”
“Buka bajumu!” bentaknya dengan kesal.
“Aku akan mengusap punggungmu!”
Jeremy langsung saja membalikkan tubuh istrinya itu menghadapnya.
“Susah amat membuka kancing saja?” gerutunya sambil membuka kancing itu satu persatu lalu melepaskannya dari tubuhnya Evelyn, hingga tersisa pakain dalam saja yang menutupi dadanya Evelyn. Tentu saja wajah Evelyn langsung memerah, meskipun dia sudah berkali-kali tidur dengan Jeremy, tetap saja hal itu membuatnya malu.
Beda lagi dengan Jeremy, dia melihat dada istrinya yang terekspos sebagian itu hanya biasa saja karena dia sudah sering melihatnya. Tangannya memutar tubuh Evelyn supaya membelakanginya. Beberapa menit kemudian Evelyn merasa hangat dipunggungnya, aroma minyak angin itu terasa begitu segar dihidungnya, lumayan mengurangi mual di perutnya.
Dirasanya lagi tangan pria itu menyusuri punggungnya dan mengusapnya perlahan berulang-ulang.
Jeremy memutar tubuhnya Evelyn supaya menghadapnya dan kembali mengisikan minyak angin itu ke tangannya, tanpa ragu tangannya itu langsung mengusap dadanya yang menyembul, tentu saja Evelyn terkejut wajahnya langsung memerah.
“Kenapa kau mengusap dadaku?” bentaknya, sambil menjauhkan tubuhnya dari tangan Jeremy.
“Aku hanya mengusapkan minyak angin!” jawab Jeremy dengan kesal.
“Tapi kau terlalu bawah mengusapnya!” Evelyn memberengut.
Jeremypun diam, dia fikir dadanya bagian yang menyembul itu yang diberinya minyak angin, memang dada ada berapa bagian? Batinnya.
Evelyn langsung saja cemberut, dasar pria hidung belang, memberi minyak angin tepat didadanya, bukan dada atas dekat leher.
Tangan Jeremy pindah mengusap dada bagian atas menuju lehernya Evelyn perlahan.Minyak angin itu terasa begitu menghangatkan tubuhnya. Ditatapnya saja pria yang sedang memberinya minyak angin itu, Evelyn berhayal seadainya Jeremy bisa bersikap manis seperti ini terus menerus mungkin dia akan jatuh cinta pada pria itu.
“Sudah, kau lebih baik sekarang?” Jeremy tiba-tiba mengangkat wajahnya menatap Evelyn yang langsung gelagapan dan wajahnya yang memucat berubah menjadi merah.
“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Jeremy.
“Apa?” Evelyn mengusap kedua pipinya.
“Pakai lagi bajumu!” ujar Jeremy sambil meraih kemeja itu lalu dilepaskannya kearah Evelyn yang menutup wajahnya Evelyn.
Evelyn mengambil kemeja itu dan hanya menatap pria itu yang turun dari tempat tidur lalu mencuci tangannya yang terkena minyak itu.
“Sepertinya aku harus membawa bibi!” Jeremy kembali ke kamarnya setelah mencuci tangan di kamar mandi, sambil menatap Evelyn yang memakai pakaian itu lagi.
Jeremy tiba-tiba tersadar buat apa dia repot repot memberikan minyak angin? Kenapa tidak menyuruh bibi saja memberinya minyak angin? Ah benar-benar pekerjaan yang tidak ada gunanya, gerutu Jeremy dalam hati.
“Kau tetap harus ikut denganku! Aku tidak akan membiarkammu tinggal disini!” ucapnya lagi, lalu pergi keluar dari kamarnya itu.
Evelyn hanya menatap pria itu, ada sedikt senang di hatinya, pria itu memperhatikannya meskipun masih bersikap ketus dan menjengkelkan. Harum minyak angin itu sangat menyegarkan dan membuat tubuhnya hangat, diapun kembali berbaring dan mencoba tidur sebelum Jeremy mengajaknya berangkat ke Hongkong.
*****
Readers, jangan lupa dukungannya, like dan gift. ya…
__ADS_1