Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-58 Jeremy dan Evelyn Berpisah


__ADS_3

“Maaf Bu,


bayinya akan diberi nama siapa?” tanya perawat.


Evelyn


kembali menatap putranya, mengusap kepalanya perlahan. Melihat wajah bayi


mungil yang terpejam itu, wajahnya sangat tampan, bayi itu mirip Jeremy, tapi


dia tidak akan membiarkan darah Jeremy mendominasi hidup putranya, putranya


harus jauh dari Jeremy, meskipun Jeremy adalah ayah kandungnya.


“Namanya Ayres,


artinya keberuntungan, dia beruntung masih bisa dilahirkan dengan selamat,”


ucap Evelyn.


“Baik, Bu.


Namanya Ayres, nama Ibu Evelyn, nama ayah..” perawat itu menoleh pada Jeremy.


“Tidak ada


ayah, ayahnya sudah meninggal.”


Perawat itu


tampak terkejut, tapi tidak bisa berkata apa-apa.


“Baiklah,


saya permisi.” Perawat itu meninggalkan ruanggan itu.


Jeremy


menatap istrinya dengan luka di hatinya, dia sangat kecewa, sungguh kecewa,


tidak akankah Evelyn memberikan kesempatan kedua buatnya?


“Evelyn, kau


tidak boleh melakukan ini padaku. Kau boleh memberinya nama tapi kau tidak


boleh memisahkan dia dariku.”


Evelyn


langsung menoleh pada Jeremy, dalam hatinya sebenarnya sangat hancur, dia juga


ingin putranya berada dalam keluarga yang bahagia dan lengkap, tapi dia memilih


menjauh dari Jeremy demi masa depan putranya.


“Kau, kau


tidak akan bisa melindungiku dan Ayres. Tidak akan. Kau juga tidak menginginkan


kami, semua maafmu sangat terlambat. Menjauh dariku, dari Ayres. Pergi jauh.


Kami tidak membutuhkanmu. Aku minta bercerai.”


Hening. Saat


mata cantik itu memerah dan perlahan airmatanya jatuh ke pipinya.


“Kau sudah


menghancurkanku dan bayimu, aku tidak mau kau menghancurkan kehidupan anakku,


tidak mau.” Evelyn menggeleng membuat airmata itu semakin menganak sungai ke


pipinya.


Pak Arman


dan pak Kades menunduk menahan sedihnya, mereka bisa membayangkan betapa pedihnya


penderitaan yang Evelyn alami sampai memutuskan mengurus bayinya sendiri.


Jeremy mengulurkan


tangannya memegang tangan Evelyn tapi tidak terjangkau, dia hanya bisa mengusap


kaki istrinya.


“Kehidupanku


terjadi saat kita belum bertemu,bukan aku memilih jalan saat bertemu denganmu.


Aku ..memang duniaku berat. Tapi percayalah aku akan menjagamu dan bayi kita,


dengan segenap jiwa ragaku, bahkan dengan nyawaku. Berikan aku kesempatan hidup


yang kedua bersamamu dan bayi kita.”


“Kalau kau


menyayangiku dan Ayres, tinggalkan kami. Itu jalan yang terbaik untuk masa


depannya. Jangan pernah muncul didepan putramu. Pergilah jauh dari kami.”


Airmata itu menetes ke pipinya Evelyn. Bukan tidak sakit dia mengatakan itu


semua, tapi keselamatan putranya adalah yang utama, dia tahu Jeremy tidak akan


pernah dari dunianya, tidak akan.


Evelyn terisak


sambil memeluk bayinya. Pak Arman dan Pak Kades sudah tidak bisa membendung


rasa sedihnya, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang menjalani


semuanya adalah Evelyn dan Jeremy. Evelyn pasti sudah memikirkannya matang-matang.


Jeremy


menatap istrinya yang terus menangis, hatinya merasa sangat bersalah sudah menorehkan


luka yang sangat dalam sampai Evelyn tetap tidak mau bersamanya meskipun mereka

__ADS_1


sudah memiliki keturunan.


“Baiklah


kalau itu maumu..kalau meninggalkamu dan Ayres tanda aku menyayangi kalian, aku


akan pergi. Aku kabulkan permintaanmu, aku akan pergi dari kehidupan kalian.


Aku tahu ini resiko yang harus aku bayar mahal atas apa yang telah aku


kelakukan. Aku akan selalu menyakiti orang-orang disekitarku, aku akan pergi.”


Ucapan itu


terasa seperti luka yang disiram air garam, sangat perih, begitu perih, perih


menusuk sampai ke tulang. Evelyn terus memangis, bukan bahagia yang dia rasa Jeremy


mengabulkan permintaannya, semua ini bukan keinginannya tapi dia harus


mengambil keputusan yang terbaik buat putranya. Dia takut, dia takut putranya


mengikuti jejaknya Jeremy dan dia tidak mau itu terjadi, dia tidak mau hidup


putranya hancur.


“Tapi


sebelum aku pergi, bolehkan aku menggendong Ayres, sekali ini saja?”


Evelyn tidak


menjawab, masih memeluk bayinya dengan erat.


“Sayang,


beri Jeremy kesempatan menggendong bayinya,” pinta Pak Kades.


Evelyn


menatap mertuanya lalu pada ayahnya, kemudian pada Jeremy yang masih menunggu


persetujuannya. Setelah itu pada Pak Arman lagi, yang menganggukkan kepalanya.


Evelyn


mengulurkan bayinya pada Jeremy. Wajah pria itu langsung sumringah, tangannya


menerima bayinya. Pak Kades buru-buru membantunya memindahkan bayi itu pada


Jeremy.


Sekarang


bayi itu ada ditangannya Jeremy yang menggendongnya dengan kaku. Ditatapnya wajah


yang tertidur, senyum langsung mengembang di bibirnya, lalu menoleh pada


ayahnya yang tersenyum senang.


“Dia mirip


denganmu waktu bayi.”


akan berkata begitu juga masih ada?” tanya Jeremy sambil melihat bayinya lagi,


dia teringat ibunya, ibunya yang sudah melahirkannya dan meninggal karena memikirkan


kenakalannya. Apakah itu yang dipikirkan Evelyn? Bukan Evelyn tidak ingin


bersamanya tapi dia ingin putra mereka tidak sepertinya.


“Aku ingin


melihat matanya.”


“Bayi lahir


biasanya tidur terus. Matanya masih silau melihat sinar matahari,” ucap Pak


Kades.


Jeremy mengusap


pipi merah putranya, dia tidak pernah berpikir ternyata sangat bahagia memilik


keturanan, punya anak darahdagingnya sendiri, mahluk hidup mungil yang tidak


ada yang tahu rupanya akan seperti apa, dan semua ini ternyata sangat luar


biasa.


Perlahan


Jeremy mencium kening Ayres, pipinya, bibirnya, matanya, menciumi wajah mungil


itu, sebelum dia pergi dan ternyata rasanya begitu sakit. Ternyata berpisah


dengan orang-orang yang dicintainya sangat menyakitkan. Mungkin ini yang dirasakan


ibunya sampai meninggal, merindukannya yang tidak pernah pulang sejak kabur ke


Hongkong.


Ditatap lagi


bayi itu. “Sayang, jaga dirimu baik-baik, dan jaga juga Ibumu. Ayah tahu kau


akan jadi anak yang hebat.”


Evelyn terus


berurai airmata mendengar ucapannya Jeremy, keputusan yang berat dan sangat


pahit tapi itulah yang terbaik untuk semuanya.


Mata Jeremy memerah,


dia sangat sedih harus menerima keputusan yang diberikan Evelyn, berpisah


dengannya.


Dengan berat

__ADS_1


perlahan dia mengulurkan Ayres pada Evelyn yang segera menerimanyam tanpa mau


melihat wajahnya Jeremy.


Pria itu


menatapnya sedih. “Sayang, aku tidak akan menyalahkan semua keputusanmu, aku


tahu kau memutuskannya karena aku sudah terlalu banyak memberimu luka. Aku akan


melepaskanmu, membebaskanmu dari penderitaanmu saat bersamaku. Aku yakin kau


bisa menjaga Ayres dengan baik, kau ibu yang hebat.”


Evelyn masih


tidak bisa berkata-kata, dia hanya menahan isak tangisnya saja sambil memeluk


bayinya.


“Aku pergi


bukan karena aku tidak menyayangi kalian, aku pergi karena sebagai bukti kalau


aku mencintaimu dan bayi kita. Semoga kau bahagia dan Ayres.”


Sungguh Evelyn


tidak kuasa untuk bicara, dia terus saja menunduk dan terisak, sedikitpun dia


tidak mau melihat Jeremy.


“Sayang, aku


pergi.”


Evelyn semakin


terisak saja mendengarnya,hatinya begitu sakit tapi dia harus kuat berpisah


dengan Jeremy.


Pria itu


memutar roda kursi rodanya, menoleh pada Pak Kades.


“Ayah, jaga


istri dan anakku. Aku pergi,” ucap Jeremy.


Pak Kades


tidak bisa berkata-kata, menoleh pada Evelyn yang sama sekali tidak mau melihat


Jeremy.


Kursi roda Jeremy


mendekat pada Pak Arman. “Aku minta maaf sudah menyia-nyiakan putrimu, aku


sangat menyesal.”


Pak Arman


tidak berkata apa-apa, dia tidak tahu harus mengambil sikap apa. Evelyn


mengambil keputusan itu pasti karena memang kejahatan Jeremy tidak bisa dimaafkan.


Jeremy memutar


kursi rodanya keluar dari ruangan itu dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Evelyn menangis semakin kencang, tidak kuasa menahan kesedihannya. Seharusnya


dia bahagia dengan kelahiran bayi pertamanya, melewati hati hari dengan


keluarga kecilnya, dengan bayinya dan suaminya, tapi dia tidak akan merasakan


itu semua. Dia memilih merasakan pahitnya hidup membesarkan putranya seorang


diri daripada harus bersama Jeremy.


Pak Maskur


tampak bingung melihat Jeremy yang keluar dari ruangan itu.


“Antar aku


ke kota.”


“Ke kota?”


“Ya, aku mau


pulang.”


Pak Maskur


kebingungan, menoleh pada pintu ruang bersalin itu yang terdengar suara tangis


bayi juga tangis seorang wanita yangs udah dipastikan itu Evelyn.


Jeremy


kembali memutar roda kursinya, dia mendengar suara tangis itu, dia mendengar


suara tangis bayiny juga Evelyn. Tapi rasa sayangnya pada keduanya begitu


besar, jika tanpanya mereka akan lebih bahagia, mungkin memang itulah yang


harus dia pilih, mengabulkan permintaan Evelyn untuk berpisah dengannya dan memutuskan


hubungan putranya dengannya.


“Selamat


tinggal Sayang, istriku, anakku. Semoga kalian bahagia,” batinnya, menatap ke


depan dengan pasti. Dia akan kembali dengan kehidupannya seperti dulu tanpa


anak dan istrinya.


***

__ADS_1


__ADS_2