
“Maaf Bu,
bayinya akan diberi nama siapa?” tanya perawat.
Evelyn
kembali menatap putranya, mengusap kepalanya perlahan. Melihat wajah bayi
mungil yang terpejam itu, wajahnya sangat tampan, bayi itu mirip Jeremy, tapi
dia tidak akan membiarkan darah Jeremy mendominasi hidup putranya, putranya
harus jauh dari Jeremy, meskipun Jeremy adalah ayah kandungnya.
“Namanya Ayres,
artinya keberuntungan, dia beruntung masih bisa dilahirkan dengan selamat,”
ucap Evelyn.
“Baik, Bu.
Namanya Ayres, nama Ibu Evelyn, nama ayah..” perawat itu menoleh pada Jeremy.
“Tidak ada
ayah, ayahnya sudah meninggal.”
Perawat itu
tampak terkejut, tapi tidak bisa berkata apa-apa.
“Baiklah,
saya permisi.” Perawat itu meninggalkan ruanggan itu.
Jeremy
menatap istrinya dengan luka di hatinya, dia sangat kecewa, sungguh kecewa,
tidak akankah Evelyn memberikan kesempatan kedua buatnya?
“Evelyn, kau
tidak boleh melakukan ini padaku. Kau boleh memberinya nama tapi kau tidak
boleh memisahkan dia dariku.”
Evelyn
langsung menoleh pada Jeremy, dalam hatinya sebenarnya sangat hancur, dia juga
ingin putranya berada dalam keluarga yang bahagia dan lengkap, tapi dia memilih
menjauh dari Jeremy demi masa depan putranya.
“Kau, kau
tidak akan bisa melindungiku dan Ayres. Tidak akan. Kau juga tidak menginginkan
kami, semua maafmu sangat terlambat. Menjauh dariku, dari Ayres. Pergi jauh.
Kami tidak membutuhkanmu. Aku minta bercerai.”
Hening. Saat
mata cantik itu memerah dan perlahan airmatanya jatuh ke pipinya.
“Kau sudah
menghancurkanku dan bayimu, aku tidak mau kau menghancurkan kehidupan anakku,
tidak mau.” Evelyn menggeleng membuat airmata itu semakin menganak sungai ke
pipinya.
Pak Arman
dan pak Kades menunduk menahan sedihnya, mereka bisa membayangkan betapa pedihnya
penderitaan yang Evelyn alami sampai memutuskan mengurus bayinya sendiri.
Jeremy mengulurkan
tangannya memegang tangan Evelyn tapi tidak terjangkau, dia hanya bisa mengusap
kaki istrinya.
“Kehidupanku
terjadi saat kita belum bertemu,bukan aku memilih jalan saat bertemu denganmu.
Aku ..memang duniaku berat. Tapi percayalah aku akan menjagamu dan bayi kita,
dengan segenap jiwa ragaku, bahkan dengan nyawaku. Berikan aku kesempatan hidup
yang kedua bersamamu dan bayi kita.”
“Kalau kau
menyayangiku dan Ayres, tinggalkan kami. Itu jalan yang terbaik untuk masa
depannya. Jangan pernah muncul didepan putramu. Pergilah jauh dari kami.”
Airmata itu menetes ke pipinya Evelyn. Bukan tidak sakit dia mengatakan itu
semua, tapi keselamatan putranya adalah yang utama, dia tahu Jeremy tidak akan
pernah dari dunianya, tidak akan.
Evelyn terisak
sambil memeluk bayinya. Pak Arman dan Pak Kades sudah tidak bisa membendung
rasa sedihnya, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang menjalani
semuanya adalah Evelyn dan Jeremy. Evelyn pasti sudah memikirkannya matang-matang.
Jeremy
menatap istrinya yang terus menangis, hatinya merasa sangat bersalah sudah menorehkan
luka yang sangat dalam sampai Evelyn tetap tidak mau bersamanya meskipun mereka
__ADS_1
sudah memiliki keturunan.
“Baiklah
kalau itu maumu..kalau meninggalkamu dan Ayres tanda aku menyayangi kalian, aku
akan pergi. Aku kabulkan permintaanmu, aku akan pergi dari kehidupan kalian.
Aku tahu ini resiko yang harus aku bayar mahal atas apa yang telah aku
kelakukan. Aku akan selalu menyakiti orang-orang disekitarku, aku akan pergi.”
Ucapan itu
terasa seperti luka yang disiram air garam, sangat perih, begitu perih, perih
menusuk sampai ke tulang. Evelyn terus memangis, bukan bahagia yang dia rasa Jeremy
mengabulkan permintaannya, semua ini bukan keinginannya tapi dia harus
mengambil keputusan yang terbaik buat putranya. Dia takut, dia takut putranya
mengikuti jejaknya Jeremy dan dia tidak mau itu terjadi, dia tidak mau hidup
putranya hancur.
“Tapi
sebelum aku pergi, bolehkan aku menggendong Ayres, sekali ini saja?”
Evelyn tidak
menjawab, masih memeluk bayinya dengan erat.
“Sayang,
beri Jeremy kesempatan menggendong bayinya,” pinta Pak Kades.
Evelyn
menatap mertuanya lalu pada ayahnya, kemudian pada Jeremy yang masih menunggu
persetujuannya. Setelah itu pada Pak Arman lagi, yang menganggukkan kepalanya.
Evelyn
mengulurkan bayinya pada Jeremy. Wajah pria itu langsung sumringah, tangannya
menerima bayinya. Pak Kades buru-buru membantunya memindahkan bayi itu pada
Jeremy.
Sekarang
bayi itu ada ditangannya Jeremy yang menggendongnya dengan kaku. Ditatapnya wajah
yang tertidur, senyum langsung mengembang di bibirnya, lalu menoleh pada
ayahnya yang tersenyum senang.
“Dia mirip
denganmu waktu bayi.”
akan berkata begitu juga masih ada?” tanya Jeremy sambil melihat bayinya lagi,
dia teringat ibunya, ibunya yang sudah melahirkannya dan meninggal karena memikirkan
kenakalannya. Apakah itu yang dipikirkan Evelyn? Bukan Evelyn tidak ingin
bersamanya tapi dia ingin putra mereka tidak sepertinya.
“Aku ingin
melihat matanya.”
“Bayi lahir
biasanya tidur terus. Matanya masih silau melihat sinar matahari,” ucap Pak
Kades.
Jeremy mengusap
pipi merah putranya, dia tidak pernah berpikir ternyata sangat bahagia memilik
keturanan, punya anak darahdagingnya sendiri, mahluk hidup mungil yang tidak
ada yang tahu rupanya akan seperti apa, dan semua ini ternyata sangat luar
biasa.
Perlahan
Jeremy mencium kening Ayres, pipinya, bibirnya, matanya, menciumi wajah mungil
itu, sebelum dia pergi dan ternyata rasanya begitu sakit. Ternyata berpisah
dengan orang-orang yang dicintainya sangat menyakitkan. Mungkin ini yang dirasakan
ibunya sampai meninggal, merindukannya yang tidak pernah pulang sejak kabur ke
Hongkong.
Ditatap lagi
bayi itu. “Sayang, jaga dirimu baik-baik, dan jaga juga Ibumu. Ayah tahu kau
akan jadi anak yang hebat.”
Evelyn terus
berurai airmata mendengar ucapannya Jeremy, keputusan yang berat dan sangat
pahit tapi itulah yang terbaik untuk semuanya.
Mata Jeremy memerah,
dia sangat sedih harus menerima keputusan yang diberikan Evelyn, berpisah
dengannya.
Dengan berat
__ADS_1
perlahan dia mengulurkan Ayres pada Evelyn yang segera menerimanyam tanpa mau
melihat wajahnya Jeremy.
Pria itu
menatapnya sedih. “Sayang, aku tidak akan menyalahkan semua keputusanmu, aku
tahu kau memutuskannya karena aku sudah terlalu banyak memberimu luka. Aku akan
melepaskanmu, membebaskanmu dari penderitaanmu saat bersamaku. Aku yakin kau
bisa menjaga Ayres dengan baik, kau ibu yang hebat.”
Evelyn masih
tidak bisa berkata-kata, dia hanya menahan isak tangisnya saja sambil memeluk
bayinya.
“Aku pergi
bukan karena aku tidak menyayangi kalian, aku pergi karena sebagai bukti kalau
aku mencintaimu dan bayi kita. Semoga kau bahagia dan Ayres.”
Sungguh Evelyn
tidak kuasa untuk bicara, dia terus saja menunduk dan terisak, sedikitpun dia
tidak mau melihat Jeremy.
“Sayang, aku
pergi.”
Evelyn semakin
terisak saja mendengarnya,hatinya begitu sakit tapi dia harus kuat berpisah
dengan Jeremy.
Pria itu
memutar roda kursi rodanya, menoleh pada Pak Kades.
“Ayah, jaga
istri dan anakku. Aku pergi,” ucap Jeremy.
Pak Kades
tidak bisa berkata-kata, menoleh pada Evelyn yang sama sekali tidak mau melihat
Jeremy.
Kursi roda Jeremy
mendekat pada Pak Arman. “Aku minta maaf sudah menyia-nyiakan putrimu, aku
sangat menyesal.”
Pak Arman
tidak berkata apa-apa, dia tidak tahu harus mengambil sikap apa. Evelyn
mengambil keputusan itu pasti karena memang kejahatan Jeremy tidak bisa dimaafkan.
Jeremy memutar
kursi rodanya keluar dari ruangan itu dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Evelyn menangis semakin kencang, tidak kuasa menahan kesedihannya. Seharusnya
dia bahagia dengan kelahiran bayi pertamanya, melewati hati hari dengan
keluarga kecilnya, dengan bayinya dan suaminya, tapi dia tidak akan merasakan
itu semua. Dia memilih merasakan pahitnya hidup membesarkan putranya seorang
diri daripada harus bersama Jeremy.
Pak Maskur
tampak bingung melihat Jeremy yang keluar dari ruangan itu.
“Antar aku
ke kota.”
“Ke kota?”
“Ya, aku mau
pulang.”
Pak Maskur
kebingungan, menoleh pada pintu ruang bersalin itu yang terdengar suara tangis
bayi juga tangis seorang wanita yangs udah dipastikan itu Evelyn.
Jeremy
kembali memutar roda kursinya, dia mendengar suara tangis itu, dia mendengar
suara tangis bayiny juga Evelyn. Tapi rasa sayangnya pada keduanya begitu
besar, jika tanpanya mereka akan lebih bahagia, mungkin memang itulah yang
harus dia pilih, mengabulkan permintaan Evelyn untuk berpisah dengannya dan memutuskan
hubungan putranya dengannya.
“Selamat
tinggal Sayang, istriku, anakku. Semoga kalian bahagia,” batinnya, menatap ke
depan dengan pasti. Dia akan kembali dengan kehidupannya seperti dulu tanpa
anak dan istrinya.
***
__ADS_1