
Mendengar Evelyn terus saja berteriak-teriak, Ken menoleh kearahnya dan menghampirinya.
“Kau merasa kasihan padanya? Dia sudah menjadikanmu taruhan kekalahan judinya!” kata Ken.
Evelyn menatap Ken dengan airmata yang terus menggenang dipipinya.
“Tolong, jangan sakiti dia! Cukup! Jangan pukul lag!” pintanya.
Tangan Ken menyibakkan rambutnya Evelyn yang menutupi wajahnya.
“Kau wanita yang baik, suamimu dasar bodoh!”
Evelyn menjauhkan kepalanya dari tangan Ken, matanya melihat Jeremy yang di jambak rambutnya sampai menjadi berjongkok lalu salah seorang memukulkan kayu ke perutnya membuat pria itu tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Jeremy! Jeremy!” teriak Evelyn sambil menangis, sungguh hatinya tidak tega melihat keadaan Jeremy seperti itu, tidak melawan meskipun di siksa hanya untuk membebaskannya.
Evelyn mencoba menarik tangannya dari tangan kedua orang itu tapi masih seperti tadi dia tidak bisa melepaskannya.
Tak henti-hentinya Evelyn menangis melihat Jeremy kini terkapar tidak sadarkan diri, tidak jatuh dari wajahnya banyak muncratan darah yang keluar dari mulutnya mengotori lantai.
Tidak cukup sampai disitu, orangnya Ken masih juga menginjak kepalanya yang sudah tidak terlihat wajahnya lagi saking banyaknya luka diwajahnya.
“Tolong! Hentikan! Tolong!” pinta Evelyn yang tidak didengar oleh Ken.
Orangnya Ken menjambak rambutnya Jeremy supaya menghadap Ken. Evelyn memejamkan matanya saking tidak kuat melihat Jeremy seperti itu, dia hanya bisa menunduk dengan sedih.
Ken yang segera menghampiri Jeremy.
“Apa dia sudah mati?” Ken melihat seksama wajahnya Jeremy.
“Sebentar lagi dia akan mati! Apa kita habisi aja? Aku tinggal mematahkan lehernya saja! Selesai!”
Ken kembali menoleh pada Evelyn.
“Nyawa Jeremy ada ditanganmu! Kau ingin dia mati atau hidup? Dia juga tidak akan bertahan lebih lama kalau di biarkan hidup, dan mungkin saja di kehidupannya nanti akan menyusahkanmu! Kau pilih yang mana?” tanya Ken dalam bahasa Inggris.
“Lepaskan dia, aku mohon lepaskan Jeremy! Kalau kau punya dendam dan dia pernah berbuat salah tolong maafkan dia!” kata Evelyn pada Ken.
Mendengarnya Ken langsung tertawa. “Kau serius akan membiarkan dia hidup?”
Evelyn mengangguk dengan lemah.
“Bagaimana?” tanya Orangnya Ken itu.
__ADS_1
Ken menoleh menatap Jeremy yang sudah tidak sadarkan diri, sekali lehernya diperlintir dia akan mati seketika, dan segala kemarahan dan dendam sudah terbalaskan.
“Lepaskan dia! Biarkan dia mati sendiri!” kata Ken.
Orangnya Ken langsung melepaskan rambutnya Jeremy sampai tubuhnya terjatuh ke lantai lagi.
Setelah itu Ken mengisyaratkan pada orang-orangnya untuk meninggalkan tempat itu.
“Cabut!” ucapnya pada orang-orangnya, termasuk orang-orang yang memegang Evelyn itu.
Melihat tangannya yang di lepaskan, Evelyn langsung turun dari meja itu, berlari menghampiri tubuhnya Jeremy langsung memeluknya dan menangisinya.
“Jeremy, Jeremy! Bangun, Jeremy!” panggilnya, sambil meraih kepalanya Jeremy berpindah ke pangkuannya.
“Apa kau masih hidup?” Evelyn mengusap wajah Jeremy yang babak belur penuh darah itu. Melihat kondisi separah itu membuatnya semakin bersedih lalu memeluk Jeremy dan ditangisinya, dibiarkannya darah itu mengotori tubuh dan gaunnya.
“Jeremy harus dibawa ke rumah sakit!” terdengar suara pria menghampirinya.
Evelyn pun menoleh kearah suara, masih memeluk kepalanya Jeremy. Ternyata Ryan sedang berdiri menatapnya. Evelyn heran dia tidak tahu kalau Ryan masih ada disana tapi sama sekali tidak menolong Jeremy.
“Kenapa kau baru muncul? Kenapa kau tidak membantu Jeremy?” bentak Evelyn.
“Itu urusan pribadi, Jeremy juga tidak akan mau siapapun ikut campur!” jawab Ryan. Tapi entah kenapa Evelyn merasa tidak suka pada pria itu meskipun dia tahu pria itu teman juga orang kepercayaannya Jeremy.
Ryan berteriak memanggil orang yang tidak Evelyn kenal. Kemudian berdatangan dua orang pria yang langsung menggendong Jeremy keluar dari ruangan itu.
Sepanjang jalan Evelyn menghapus airmatanya yang terus tumpah kepipinya.
Memeluk pria yang entah akan hidup lebih lama atau akan mati, hanya melihat luka-lukanya yang parah ada kemungkinan Jeremy tidak akan bertahan lama. Hatinya sungguh sedih kalau Jeremy tidak tertolong, bayinya lahir tidak punya ayah, sungguh sangat kasihan.
Sesampainya di rumah sakit Jeremy langsung ditangani oleh Dokter. Evelyn merasa sangat gelisah menunggu Dokter selesai memeriksa dan mengobati Jeremy.
Dilihatnya Ryan pergi menjauh sedang menelpon sesorang.
“Jeremy sekarat! Dia sedang ada di rumah sakit!”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Sudah aku katakan dia sekarat! Mana mungkin baik-baik saja? Sebentar lagi juga akan mati.” Sekilas terdengar Ryan menggerutu, entah sedang bicara dengan siapa.
“Apa dia akan benar-benar mati?” tanya yang berbicara dengan Ryan itu, Seelena.
“Kalau bertahan juga tidak akan lama, sebaiknya kau belajar melupakannya!”
__ADS_1
Selena tidak menjawab, ada perasaan bersalah dihatinya, tapi dia memang kesal pada Jeremy. Dia hanya minta kerjasamanya Ken itu buat mengerjai Evelyn bukan malah menghajar Jeremy sampai sekarat begini! Kalau Jeremy meninggal, itu artinya penghasilannya berkurang. Mencari pria yang sebaik Jeremy susah.
Selena menggerakkan badannya lalu meringis dan kembali berbaring dengan lesu.Lihat cara Ken memperlakukannya, tubuhnya penuh luka sungguh sangat menyakitkan, melayani Ken yang mempunyai kebiasaan menyimpang, memukulinya sebelum berhubungan sungguh menyakitkan, semua dia lakukan karena kesal dan marah pada Jeremy, niat awal hanya ingin membuat Evelyn jatuh harga dirinya tapi malah Jeremy yang jadi korban.
Selena kembali meringis, dia tidak tahu harus berapa lama luka-luka itu hilang ditubuhnya.
Evelyn menemui Dokter yang sudah selesai memeriksa dan perawat sedang mengobati luka-lukanya Jeremy.
“Bagaimana Dok?” tanya Evelyn dalam bahasa Inggris.
“Pasien terluka parah dan mengalami koma,”
Jawaban Dokter itu membuat Evelyn terkejut, dia langusng saja merasa cemas.
“Kira-kira berapa lama suamiku akan sadar?”
“Tidak tentu, bisa beberapa hari bisa seminggu atau lebih.”
Evelyn tidak bertanya apa-apa lagi, dia diam membisu bahkan Dokter berpamitanpun dia tidak menjawab, dia sangat sedih mendengar jawaban DOkter itu. DIa takut Jeremy tidak bisa bertahan dan dia benar-benar akan melahirkan bayinya dalam keadaan yatim.
Bukankah itu bagus? Tentu tidak walaubagaimanapun pria itu adalah suaminya, ayah dari anaknya, tentu saja dia ingin yang terbaik untuknya, meskipun dia tahu bagaimana buruknya sifat Jeremy.
“Aku akan mengurus ruangan rawat inapnya Jeremy,” ucap Ryan. Menatap sebentar pada Evelyn yang hanya mematung memperhatikan Jeremy yang sedang dibalut luka-lukanya oleh perawat.
Wajah dan tubuh itu begitu banyak luka, seluruh tubuh Jeremy dibalut, akankah Jeremy hidup lagi? Koma, siapa yang bisa menjamin kalau dia akan kembali hidup?
Evelyn menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok dengan lesu, tangannya menyentuh perutnya dengan perlahan. Airmata kembali menitik dimatanya.
“Sayang, semoga Ayahmu bertahan, Ibu tidak mau melahirkanmu dalam keadaan tidak punya ayah!” gumamnya, lalu menoleh pada Jeremy lagi, apakah sebaiknya dia membawa Jeremy kembali pulang saja meninggalkan Hongkong? Tapi bagaimana kalau Jeremy tidak mau?
Cepat-cepat dihapusnya airmatanya saat menyadari perawat itu berkata sesuatu dalam bahasa yang tidak Evelyn mengerti.
“Sebentar lagi selesai, pasien akan segera dipindahkan!” Sebenarnya itu yang dikatakan perawat itu.
“Apakah aku bisa membawanya keluar negeri?” Itu yang terucap dari bibirnya Evelyn dalam bahasa Inggris. Sepertinya dia ingin membawa Jeremy pulang saja dan merawatnya dirumah. Disini untuk berkomunikasipun dia merasa bingung karena tidak mengerti bahasanya.
“Nanti bisa dibicarakan dengan Dokter!” jawab Perawat dalam bahasa Inggris.
Evelyn mengangguk, ya , dia akan membawa Jeremy pulang dan merawatnya di rumah, di negaranya sendiri, bukan di Negara orang. Tapi dia tidak bisa memberitahukan hal ini dulu pada ayah Jeremy karena Pak Kades pasti akan sangat khawatir. Mungkin kalau Jeremy sudah membaik dia akan bicara dengan mertuanya.
******
Jangan lupa like, gift ya.
__ADS_1