Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-76 Dimana Ayres


__ADS_3

Menyusuri


jalan setapak  ditaman bermain yang luas


itu dan begitu ramai. Evely mengerutkan dahinya melihat Ayres yang berjalan


sendiri didepan mereka. Anak itu tidak terlihat kaku atau takut dengan


lingkungan yang baru dikunjunginya. Melihat ke kanan ke kiri, menyentuh apa saja


yang dilihatnya.


“Kotor,


Sayang!” sesekali Evelyn mengingatkan.


Jeremy


memperhatikan kaki kaki mungil itu berjalan sesukanya.


“Jangan


jauh-jauh, Sayang!” kembali Evelyn mengingatkan.


Dia


tersentak kaget saat tangannya dipegang Jeremy. Evelyn mencoba melepaskannya,


tapi sudah bisa ditebak hasilnya, tidak bisa lepas.


Kakinya


Ayres berhenti, memperhatikan penjual es krim keliling.


“Mau es


krim!”


“Tidak,


Sayang, beli es krimnya nanti saja.”


“Kau ini


kenapa? Biarkan Ayres membeli eskrimnya.”


“Aku takut


dia kenapa-napa, kita tidak tahu es krimnya beracun atau tidak.”


Jeremy


langsung menghampiri penjual es krim lalu membelinya satu dan dicobanya. “Aman.”


Diberikannya


es krim itu pada Ayres yang digendong Evelyn. Anak itu dengan semangatnya langsung


makan es krim itu.


Evelyn


melihat Jeremy memesan lagi es krimnya. Saat akan membayarnya tidak ada uang kecil


sama sekali.


“Tidak ada


uang kecil, Pak?”


“Tidak ada.”


“Kau ambil


ditasku.”


Jeremy


mengambil uang dari tasnya Evelyn lalu dibayarkan pada penjual es krim itu.


Merekapun melanjutkan perjalanan.


Jeremy


memakan es krimnya yang ternyata sangat lezat, Evelyn cemberut, kenapa dia


tidak dibelikan eskrimnya. Bilangnya cinta melulu, es krim saja lupa membelikan.


Tiba-tiba


satu sendok es krim ada didepannya.


“Hem.” Jeremy


menyodorkan sendok es krim itu ke bibirnya Evelyn.


“Tidak.”


Jeremy memaksa,


menempelkan sendok itu. Terpaksa Evelyn memakannya.


Sesekali


pria itu berselang seling menyuapi mantan istrinya itu.


“Eh seharusnya


kau menggendong Ayres, kenapa jadi aku yang menggendongnya?” Evelyn menghadap


Jeremy sambil memberengut kesal.


Jeremy


menatapnya lalu pada Ayres yang sibuk dengan es krimnya, lalu menoleh lagi pada


Evelyn yang masih cemberut. Apa Jeremy tidak tahu kalau Ayres itu lumayan berat


dan dengan teganya membiarkan perempuan yang menggendongnya sedangkan dia sibuk


dengan es krimnya.


“Kau benar,


seharusnya aku menggendong Ayres.”


Evelyn masih


cemberut saja, pria itu sama sekali tidak perhatian. Melihat Evelyn cemberut,


membuat Jeremy membungkukkan tubuhnya dan langsung mengecup bibirnya Evelyn.


“Kau selalu


mencuri-curi!” keluh Evelyn.


“Kalau bilang


dulu kau tidak akan mengijinkannya.” Pria itu malah tersenyum.


“Pegang!”


Dia memberikan es krim yang belum habis pada Evelyn, kemudian beralih menggendong


Ayres. Merekapun kembali berjalan.


“Tadi waktu kau


menggendong Ayres, aku menyuapimu. Kenapa sekarang kau tidak menyuapiku?”


Evelyn langsung


mendelik, dan pria itu dengan tidak tahu malunya sedikit membuka mulutnya,


Evelynpun terpaksa menyuapinya. Satu suapan masuk ke mulutnya Jeremy, tapi

__ADS_1


setelah itu mencium pipinya Evelyn.


“Kenapa kau


terus menciumku?” protes Evelyn.


“Karena kau


semanis es krim!”


Evelyn cemberut


tapi malah terdengar tawa kecilnya Ayres, membuatnya menatap putranya.


“Anak kecil


kenapa kau tertawa?”


“Ayah yang


anak kecil. Aku tidak disuapi Ibu!” celotehnya, membuat Evelyn tidak bisa


menahan tawanya.


“Kau pintar,


anak Ibu.”


“Anak Ayah


juga!”


“Tidak, anak


Ibu!”


“Anak Ayah


juga!”


Ayres malah


tertawa lagi sambil makan es krimnya. Anak itu terlihat sangat lucu dan Jeremy


tidak bosan melihatnya. Ternyata punya anak sangat menyenangkan. Ternyata


mempunyai keluarga kecil sangat membahagiakan. Diciumnya putranya itu, sambil


mengusap rambutnya.


“Kenapa


anakku sangat lucu?” gumamnya, membuat Evelyn meliriknya sekilas dengan


tersenyum kecut.


“Kenapa? Dia


memang anakku. Mau disangkalpun tidak akan bisa disangkal, dia memang mirip


denganku.” Jeremy kembali mencium putranya.


Evelyn tidak


berdebat lagi, dia kembali menyendok es krimnya, tapi mulutnya Jeremy sudah


mendekat saja, membuatnya cemberut dan kembali menyuapinya.


Terdengar tawanya


Ayres.


“Ayah


seperti anak kecil?” tanya Jeremy.


Ayres mengangguk


lalu tertawa lagi. Jeremy kembali menciumnya. Dalam hatinya merasa menyesal


kehidupan yang beresiko.


Sementara


itu Ryan berada di sebuah ruangan dengan beberapa orang bersamanya. Seorang


pria menyodorkan ponsel padanya dan dilihatnya.


“Apa ini?”


Wajahnya


memerah melihat bagaimana bahagianya Jeremy dengan anak istrinya.


Padahal dia


sudah mendapatkan apa yang dia mau tanpa Jeremy mengganggunya, tapi rasanya dibiarkan


seperti ini malah tidak menyenangkan. Menang tanpa perlawanan serasa bukan


sebuah perjuangan.


Ternyata


Jeremy memang sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan selain bersama keluarga


kecilnya, bahkan dia tidak mengusut apapun tentang kematiannya Selena. Kenapa hidup


ini terasa hambar tanpa tantangan yang berarti? Tidak ada yang memicu


adrenalinnya.


“Jalankan


sesuai rencana!”


“Baik, Bos!”


Ryan


mengembalikan ponsel itu, sambil tersenyum sinis.


“Bu, apa aku


boleh difoto dengan badut itu?” Ayres menunjuk badut jalanan itu yang berjejer.


“Boleh,


Sayang. Ayo kita kesana!” Evelyn menuntun Ayres mendekati badut itu.


“Mau di


foto!” ucap Ayres pada badut itu yang bermimik lucu, dan langsung bergerak


mengajak Ayres berpose.


Evelyn


menyiapkan ponselnya, berjalan menjauh dan mulai memfoto.


Terdengar


dering ponselnya Jeremy. Pria itu langsung menerima telponnya.


“Halo!” sapanya,


tapi suara disebrang itu tidak terdengar.


“Halo! Cheng!”


sapanya lagi tapi masih tidak terdengar. Jeremy melihat mantan istrinya itu


sedang memfoto Ayres yang berganti dari satu badut ke badut lainnya.


“Halo! Suaranya

__ADS_1


kurang jelas, Cheng! Sebentar!” Jeremy mencari lokasi yang tidak terlalu


berisik, diapun pergi kebawah sebuah pohon agak jauh dari jalanan yang dilewati


carnaval, diapun melanjutkan bicaranya.


“Sayang, sudah


cukup ya difotonya.”


Badut menurunkan


Ayres yang tadi naik ke sebuah ember besar yang dicat merah.


Evelyn


memasukkan ponselnya kedalam tasnya. “Sayang, ayo!” panggilnya, sambil mengulurkan


tangannya kearah Ayres yang tadi diturunkan badut dari atas ember.


Tapi tidak


ada yang menyambut uluran tangannya. Evelyn menoleh kearah badut yang sudah


berfoto dengan anak-anak lainnya.


“Ayres!


Ayres!” teriaknya.


“Ayres!”


panggilnya lagi. Tapi anak itu tidak terlihat.


“Ayres!


Sudah di fotonya, Nak!” panggilnya lagi, sambil melihat ke sekeliling.


Evelyn


mendekati badut yang ternyata sedang berfoto dengan anak yang lain.


“Ayres!” Evelyn


mulai panik.


“Kau lihat


anakku yang tadi?” tanyanya pada badut yang menggelengkan kepalanya lalu


menyambut anak anak yang mau difoto.


“Ayres!” Evelyn


kembali melihat sekeliling.


“Ayres!”


teriaknya, mulai mencari kesana kemari dengan panik.


Ada anak


yang memakai baju seperti Ayres dilihatnya dan ternyata bukan Ayres.


“Ayres!”


teriaknya semakin panik.


Jeremy yang


baru selesai menerima telponnya, mendengar ada yang memanggil nama putranya,


diapun menoleh kearah badut itu. Tidak ada Ayres juga Evelyn.


“Ayres! Kau


dimana!”


Deg! Jeremy terkejut


mendengar suara itu, diapun mencari sumber suara, ternyata Evelyn sedang celingukan


kesana kemari sambil memanggil putra mereka.


“Ayres! Kau


dimana?” teriaknya.


“Sayang, ada


apa? Mana Ayres?” Jeremy segera menghampiri.


“Ayres tidak


ada Jeremy, tadi dia baru selesai berfoto dengan badut bdaut itu!”


Wajah Evelyn


sudah pucat pasi saking paniknya.


Jeremy melihat


kesekitar. “Ayres!” panggilnya.


“Kau cari


kesana, aku cari kesana!” Evelyn langsung pergi berbeda arah.


“Ayres!”


keduanya memanggil-manggil mencari Ayres yang menghilang tanpa jejak.


Evelyn menghapus


airmatanya yang langsung tumpah, hatinya benar-benar sangat cemas, dia khawatir


dengan keselamatan putranya.


“Ayres, kau


dimana, Nak?” tanyanya, sudah tidak bisa menahan tangisnya.


Jeremy


memanggil manggil disekitar tempat itupun tidak ada.


Apa ini ulah


Ryan? Batinnya, tapi dia mencoba untuk tidak berpikir kesana, mungkin saja


memang Ayres masih ada di tempat bermain ini yang semakin ramai.


“Ayres!”


panggilnya tidak henti, diapun mulai bertanya-tanya pada pengunjung lalu kembali


lagi ke tempay badut tadi tapi tetap anak itu tidak ada.


Evelyn juga


kembali ke tempat itu sambil menangis. “Ayres tidak ada!”


Jeremy


langsung memeluknya dan istrinya menangis kepelukannya.


“Tenanglah,


Sayang. Kita lapor pada petugas keamanan disini!”


Evelyn tidak


menjawab, dia masih terisak, sambil melihat lagi sekitar mencari putranya.


***

__ADS_1


__ADS_2