
Menyusuri
jalan setapak ditaman bermain yang luas
itu dan begitu ramai. Evely mengerutkan dahinya melihat Ayres yang berjalan
sendiri didepan mereka. Anak itu tidak terlihat kaku atau takut dengan
lingkungan yang baru dikunjunginya. Melihat ke kanan ke kiri, menyentuh apa saja
yang dilihatnya.
“Kotor,
Sayang!” sesekali Evelyn mengingatkan.
Jeremy
memperhatikan kaki kaki mungil itu berjalan sesukanya.
“Jangan
jauh-jauh, Sayang!” kembali Evelyn mengingatkan.
Dia
tersentak kaget saat tangannya dipegang Jeremy. Evelyn mencoba melepaskannya,
tapi sudah bisa ditebak hasilnya, tidak bisa lepas.
Kakinya
Ayres berhenti, memperhatikan penjual es krim keliling.
“Mau es
krim!”
“Tidak,
Sayang, beli es krimnya nanti saja.”
“Kau ini
kenapa? Biarkan Ayres membeli eskrimnya.”
“Aku takut
dia kenapa-napa, kita tidak tahu es krimnya beracun atau tidak.”
Jeremy
langsung menghampiri penjual es krim lalu membelinya satu dan dicobanya. “Aman.”
Diberikannya
es krim itu pada Ayres yang digendong Evelyn. Anak itu dengan semangatnya langsung
makan es krim itu.
Evelyn
melihat Jeremy memesan lagi es krimnya. Saat akan membayarnya tidak ada uang kecil
sama sekali.
“Tidak ada
uang kecil, Pak?”
“Tidak ada.”
“Kau ambil
ditasku.”
Jeremy
mengambil uang dari tasnya Evelyn lalu dibayarkan pada penjual es krim itu.
Merekapun melanjutkan perjalanan.
Jeremy
memakan es krimnya yang ternyata sangat lezat, Evelyn cemberut, kenapa dia
tidak dibelikan eskrimnya. Bilangnya cinta melulu, es krim saja lupa membelikan.
Tiba-tiba
satu sendok es krim ada didepannya.
“Hem.” Jeremy
menyodorkan sendok es krim itu ke bibirnya Evelyn.
“Tidak.”
Jeremy memaksa,
menempelkan sendok itu. Terpaksa Evelyn memakannya.
Sesekali
pria itu berselang seling menyuapi mantan istrinya itu.
“Eh seharusnya
kau menggendong Ayres, kenapa jadi aku yang menggendongnya?” Evelyn menghadap
Jeremy sambil memberengut kesal.
Jeremy
menatapnya lalu pada Ayres yang sibuk dengan es krimnya, lalu menoleh lagi pada
Evelyn yang masih cemberut. Apa Jeremy tidak tahu kalau Ayres itu lumayan berat
dan dengan teganya membiarkan perempuan yang menggendongnya sedangkan dia sibuk
dengan es krimnya.
“Kau benar,
seharusnya aku menggendong Ayres.”
Evelyn masih
cemberut saja, pria itu sama sekali tidak perhatian. Melihat Evelyn cemberut,
membuat Jeremy membungkukkan tubuhnya dan langsung mengecup bibirnya Evelyn.
“Kau selalu
mencuri-curi!” keluh Evelyn.
“Kalau bilang
dulu kau tidak akan mengijinkannya.” Pria itu malah tersenyum.
“Pegang!”
Dia memberikan es krim yang belum habis pada Evelyn, kemudian beralih menggendong
Ayres. Merekapun kembali berjalan.
“Tadi waktu kau
menggendong Ayres, aku menyuapimu. Kenapa sekarang kau tidak menyuapiku?”
Evelyn langsung
mendelik, dan pria itu dengan tidak tahu malunya sedikit membuka mulutnya,
Evelynpun terpaksa menyuapinya. Satu suapan masuk ke mulutnya Jeremy, tapi
__ADS_1
setelah itu mencium pipinya Evelyn.
“Kenapa kau
terus menciumku?” protes Evelyn.
“Karena kau
semanis es krim!”
Evelyn cemberut
tapi malah terdengar tawa kecilnya Ayres, membuatnya menatap putranya.
“Anak kecil
kenapa kau tertawa?”
“Ayah yang
anak kecil. Aku tidak disuapi Ibu!” celotehnya, membuat Evelyn tidak bisa
menahan tawanya.
“Kau pintar,
anak Ibu.”
“Anak Ayah
juga!”
“Tidak, anak
Ibu!”
“Anak Ayah
juga!”
Ayres malah
tertawa lagi sambil makan es krimnya. Anak itu terlihat sangat lucu dan Jeremy
tidak bosan melihatnya. Ternyata punya anak sangat menyenangkan. Ternyata
mempunyai keluarga kecil sangat membahagiakan. Diciumnya putranya itu, sambil
mengusap rambutnya.
“Kenapa
anakku sangat lucu?” gumamnya, membuat Evelyn meliriknya sekilas dengan
tersenyum kecut.
“Kenapa? Dia
memang anakku. Mau disangkalpun tidak akan bisa disangkal, dia memang mirip
denganku.” Jeremy kembali mencium putranya.
Evelyn tidak
berdebat lagi, dia kembali menyendok es krimnya, tapi mulutnya Jeremy sudah
mendekat saja, membuatnya cemberut dan kembali menyuapinya.
Terdengar tawanya
Ayres.
“Ayah
seperti anak kecil?” tanya Jeremy.
Ayres mengangguk
lalu tertawa lagi. Jeremy kembali menciumnya. Dalam hatinya merasa menyesal
kehidupan yang beresiko.
Sementara
itu Ryan berada di sebuah ruangan dengan beberapa orang bersamanya. Seorang
pria menyodorkan ponsel padanya dan dilihatnya.
“Apa ini?”
Wajahnya
memerah melihat bagaimana bahagianya Jeremy dengan anak istrinya.
Padahal dia
sudah mendapatkan apa yang dia mau tanpa Jeremy mengganggunya, tapi rasanya dibiarkan
seperti ini malah tidak menyenangkan. Menang tanpa perlawanan serasa bukan
sebuah perjuangan.
Ternyata
Jeremy memang sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan selain bersama keluarga
kecilnya, bahkan dia tidak mengusut apapun tentang kematiannya Selena. Kenapa hidup
ini terasa hambar tanpa tantangan yang berarti? Tidak ada yang memicu
adrenalinnya.
“Jalankan
sesuai rencana!”
“Baik, Bos!”
Ryan
mengembalikan ponsel itu, sambil tersenyum sinis.
“Bu, apa aku
boleh difoto dengan badut itu?” Ayres menunjuk badut jalanan itu yang berjejer.
“Boleh,
Sayang. Ayo kita kesana!” Evelyn menuntun Ayres mendekati badut itu.
“Mau di
foto!” ucap Ayres pada badut itu yang bermimik lucu, dan langsung bergerak
mengajak Ayres berpose.
Evelyn
menyiapkan ponselnya, berjalan menjauh dan mulai memfoto.
Terdengar
dering ponselnya Jeremy. Pria itu langsung menerima telponnya.
“Halo!” sapanya,
tapi suara disebrang itu tidak terdengar.
“Halo! Cheng!”
sapanya lagi tapi masih tidak terdengar. Jeremy melihat mantan istrinya itu
sedang memfoto Ayres yang berganti dari satu badut ke badut lainnya.
“Halo! Suaranya
__ADS_1
kurang jelas, Cheng! Sebentar!” Jeremy mencari lokasi yang tidak terlalu
berisik, diapun pergi kebawah sebuah pohon agak jauh dari jalanan yang dilewati
carnaval, diapun melanjutkan bicaranya.
“Sayang, sudah
cukup ya difotonya.”
Badut menurunkan
Ayres yang tadi naik ke sebuah ember besar yang dicat merah.
Evelyn
memasukkan ponselnya kedalam tasnya. “Sayang, ayo!” panggilnya, sambil mengulurkan
tangannya kearah Ayres yang tadi diturunkan badut dari atas ember.
Tapi tidak
ada yang menyambut uluran tangannya. Evelyn menoleh kearah badut yang sudah
berfoto dengan anak-anak lainnya.
“Ayres!
Ayres!” teriaknya.
“Ayres!”
panggilnya lagi. Tapi anak itu tidak terlihat.
“Ayres!
Sudah di fotonya, Nak!” panggilnya lagi, sambil melihat ke sekeliling.
Evelyn
mendekati badut yang ternyata sedang berfoto dengan anak yang lain.
“Ayres!” Evelyn
mulai panik.
“Kau lihat
anakku yang tadi?” tanyanya pada badut yang menggelengkan kepalanya lalu
menyambut anak anak yang mau difoto.
“Ayres!” Evelyn
kembali melihat sekeliling.
“Ayres!”
teriaknya, mulai mencari kesana kemari dengan panik.
Ada anak
yang memakai baju seperti Ayres dilihatnya dan ternyata bukan Ayres.
“Ayres!”
teriaknya semakin panik.
Jeremy yang
baru selesai menerima telponnya, mendengar ada yang memanggil nama putranya,
diapun menoleh kearah badut itu. Tidak ada Ayres juga Evelyn.
“Ayres! Kau
dimana!”
Deg! Jeremy terkejut
mendengar suara itu, diapun mencari sumber suara, ternyata Evelyn sedang celingukan
kesana kemari sambil memanggil putra mereka.
“Ayres! Kau
dimana?” teriaknya.
“Sayang, ada
apa? Mana Ayres?” Jeremy segera menghampiri.
“Ayres tidak
ada Jeremy, tadi dia baru selesai berfoto dengan badut bdaut itu!”
Wajah Evelyn
sudah pucat pasi saking paniknya.
Jeremy melihat
kesekitar. “Ayres!” panggilnya.
“Kau cari
kesana, aku cari kesana!” Evelyn langsung pergi berbeda arah.
“Ayres!”
keduanya memanggil-manggil mencari Ayres yang menghilang tanpa jejak.
Evelyn menghapus
airmatanya yang langsung tumpah, hatinya benar-benar sangat cemas, dia khawatir
dengan keselamatan putranya.
“Ayres, kau
dimana, Nak?” tanyanya, sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Jeremy
memanggil manggil disekitar tempat itupun tidak ada.
Apa ini ulah
Ryan? Batinnya, tapi dia mencoba untuk tidak berpikir kesana, mungkin saja
memang Ayres masih ada di tempat bermain ini yang semakin ramai.
“Ayres!”
panggilnya tidak henti, diapun mulai bertanya-tanya pada pengunjung lalu kembali
lagi ke tempay badut tadi tapi tetap anak itu tidak ada.
Evelyn juga
kembali ke tempat itu sambil menangis. “Ayres tidak ada!”
Jeremy
langsung memeluknya dan istrinya menangis kepelukannya.
“Tenanglah,
Sayang. Kita lapor pada petugas keamanan disini!”
Evelyn tidak
menjawab, dia masih terisak, sambil melihat lagi sekitar mencari putranya.
***
__ADS_1