
Evelyn
tersenyum senang, merasa lega akhirnya Ayres di temukan dan akan segera bertemu
putranya. Tapi lama semakin lama dia merasa ada yang aneh, karena jalan yang
mereka lewati bukan jalan yang dia lewati tadi siang.
“Loh, kok
ini jalannya…” Baru juga Evelyn akan bertanya. Satu orang polisi itu
membekapnya dari belakang dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Evelyn
tergeletak di pangkuan polisi itu, yang temannya langsung menelpon seseorang.
“Sudah
beres, Bos!”
“Bagus,
cepat bawa dia kemari!”
“Oke, Bos!”
Sementara Jeremy
tampak bingung karena ada dua informasi yang berbeda. Tapi jelas-jelas Ryan
memberikan foto ada Ayres di suatu tempat. Diapun melakukan panggilan kembali
ke nomornya Evelyn tapi ternyata tidak aktif. Hatinya langsung saja berburuk
sangka.
Diapun mendial
nomornya Ryan, tapi tidak diangkat.
Karena
penasaran dengan kecurigaannya, diapun pergi ke kantor polisi taman bermain itu
dan benar saja. Tidak ada penemuan anak laki-laki yang hilang.
Diapun
semakin panik, cemas dengan keselamatan anak istrinya. Karena nomor Ryan tidak
diangkat juga, Jeremy langsung ke lokasi yang ada di ponselnya itu.
Ternyata
tempat itu hanya sebuah gedung tua, membuat Jeremy kesal, ditelpon lagi Ryan
tetap tidak bisa dihubungi.
Pria itu
mengatupkan bibirnya rapat-rapat, giginya gemeretuk, dia merasa dipermainkan. Semua
pasti ulahnya Ryan. Diapun menepuk jidatnya, kenapa dia begitu bodoh? Dia tahu
dimana dia bisa menemui Ryan. Tentu saja di kantornya! Mungkin saja Ryan masih
menggunakan kantornya dulu!
Bergegas
Jeremy meninggalkan tempat itu. Rasanya seperti akan gila memikirkan anak istrinya
ada ditangan Ryan, dia tidak mau menyebutnya mantan istri, Evelyn adalah
istrinya, sampai kapanpun akan menjadi istrinya.
Dua jam
kemudian.
Brak! Jeremy
mendorong pintu itu dengan keras, sampai terbuka lebar.
Dari gerbang
utama, gedung markas bisnis ilegalnya itu seakan berjalan mulus, dengan
mudahnya dia memasuki area itu padahal sudah bertahun-tahun Ryan yang bercokol
disini.
Kursi kerja
warna hitam itu membelakangi meja, sosok itu hanya terlihat rambutnya saja,
langsung memutar kursinya.
Jeremy
berdiri menatap pria yang selama ini menjadi orang kepercayaannya, Ryan.
“Akhirnya
kau datang juga. Apa kabarmu, Pak Jeremy?” tanya Ryan, tersenyum sinis.
“Mana anak
istriku?” tanya Jeremy.
“Anak istri?
Mantan istri!” ralat Ryan.
“Tidak perlu
basa basi, dimana mereka?”
“Kenapa kau
__ADS_1
begitu yakin mereka ada bersamaku?”
“Jangan
bertingkah Ryan, mana mereka? Aku kesini hanya ingin membawa anak istriku
pulang, selebihnya kau tidak mau berurusan denganmu!”
“Haha..ternyata
kau berubah jadi pengecut setelah kau lumpuh. Kau sudah kapok rupanya!” Ryan
malah menyindir-nyindir.
“Kau ada
dendam padaku? Lepaskan anak istriku, kau berurusan denganku saja, bukan
mereka!” bentak Jeremy sudah mulai kesal.
Ryan
terkekeh. “Akhirnya keluar juga taringmu! Tapi buat apa juga kau buru-buru
pulang? Kau tidak ingin bertanya padaku bagaimana caraku bisa memiliki apa yang
kau miliki?”
“Aku tidak
peduli dan aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin anak istriku kembali, kembalikan
mereka! Mana mereka?”
Ryan
terdiam, menatap tajam Jeremy, dia tidak suka kalau Jeremy sudah mulai bersikap
menyuruh-nyuruhnya seperti dulu.
“Jaga sikapmu
atau kau tidak akan bertemu dengan mereka lagi selamanya!”
“Hem, jadi
benar mereka ada bersamamu? Buat apa? Buat Apa kau melakukan itu semua? Apa
untungnya? Kau dendam padaku lampiaskan padaku, jangan mereka!”
Ryan mematikan
cerutunya diatas asbak yang ada di meja.
“Kau yakin
sekali aku menurut padamu? Lain dulu kain sekarang, aku sudah tidak bisa kau
suruh suruh lagi! Tidak bisa! Ryan sekarang bukan lagi Ryan dulu yang hanya
menerima perintahmu dan mencicipi wanita-wanita bekasmu!” Suara Ryan terdengar
mulai marah.
tersenyum sinis. “Kau memang kaki tanganku, kenapa pula kau ingin jadi kepala?
Kepalaku disini!”
“Cih!” Ryan
mulai tersulut emosi.
“Seharusnya
kau bangga, Aku bisa berbagi denganmu! Kau ikut merasakan kesenangan yang aku rasakan!
Seharusnya kau senang!”
“Kau benar, apa
yang tidak kau bagi denganku!”
“Ya! Bukankah
aku seorang teman yang baik?”
“Iya, tidak
ada yang tidak kau bagi denganku, termasuk urusan perempuan. Tapi kali ini kau
sangat pelit karena kau tidak berbagi istrimu denganku!”
Perkataan
Ryan membuat Jeremy naik pitam. Ryan terkekeh melihat perubahan sikapnya Jeremy,
dia tahu Jeremy mulai terpancing emosinya.
“Jadi kau
menculik istriku karena kau menginginkannya, begitu?”
Ryan
langsung tertawa senang. “Kau benar-benar mengerti aku, Pak Jeremy. Sangat
mengerti aku. Maaf kalau aku memakai car aini, aku hanya inginsedikit main-main
saja. Mengambil bekasmu sebelum kau melemparnya padaku!”
“Itu
terkecuali. Aku tidak akan berbagi istriku denganmu!”
“Tidak? Artinya
kau bukan temanku lagi?”
“Aku lebih
baik menjadi musuhmu daripada menyerahkan istriku padamu! Tidak cukup kau
__ADS_1
merasakan nikmatnya bisnisku? Kau menjadi pria kaya raya dari bisnisku? Kau
sangat ngelunjak kalau menginginkan istriku! Kau sangat tidak tahu diri!” maki
Jeremy, sikapnya masih tenang tapi nada bicaranya begitu tandas.
Kini Ryan
yang tersulur emosi. “Kau merasa bangga seakan kau yang memberikan bisnismu
padaku? Hei, kau salah! Aku yang merebutnya darimu karena kau tunadaksa! Bukan
aku mendapat Cuma-Cuma darimu! Enak saja!”
“Tidak perlu
malu untuk mengakuinya! Tidak perlu! Aku tidak merebutnya lagi karena sudah
saatnya kau menerima bekasku!”
Ceklek!
Ceklek!
Dua senjata
sudah saling todong.
Ryan menahan
marahnya mendengar hinaan Jeremy yang merendahkannya. Senjata ditangannya lurus
kearah Jeremy. Begitu juga dengan Jeremy, dia tahu kapan musuhnya akan
mengeluarkan senjatanya.
“Mana anak
istriku! Kau ada dendam padaku! Lampiaskan padaku, jangan melibatkan anak
istriku!”
“Tapi
Sayang, aku tidak mau melepaskannya!”
“Kau akan
berurusan denganku! Aku tidak akan membiarkan kau memiliki anak istriku!”
“Baik kalau
begitu, kau bisa memilih. Kau akan membawa anakmu pulang atau kau bawa istrimu!
Pilih salah satu!”
Jeremy Marah
bukan main, dia tidak mungkin memilih salah satu.
Tangannya
akan menarik pelatuk senjata tapi senjata-senjata yang lain tiba-tiba sudah menodongnya
dari berbagai arah. Dia bukan takut mati, hanya kalau dia mati siapa yang akan
melindungi anak istrinya. Diapun tidak jadi menembak Ryan.
Melihat
sikap Jeremy yang tidak jadi menembaknya membuat Ryan tertawa senang. Diapun
bangun dan berjalan kedepannya Jeremy.
“Ternyata
menyenangkan melihat kau tidak bisa apa-apa. Dan akan lebih menyenangkan kalau
kau menuruti apa yang aku mau!”
“Jangan
menjadi pengecut, Ryan! Mana anak istriku?” teriak Jeremy.
Dia akan
bergerak terdengar lagi gerakan menarik pelatuk senjata. Dia tidak boleh mati!
Ryan tertawa
terbahak. “Kenapa harus buru-buru? Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu,
sedikit bernostalgia apa masalahnya?”
“Aku tidak tertarik!”
“Kau akan
tertarik kalau aku mulai cerita. Bertahun-tahun aku dia, kau perlakukan
seenaknya demi mendapatkan uang dan perlindungan darimu! Tapi sekarang aku tidak
membutuhkan itu lagi! Kau sekarang yang harus mengemis-ngemis padaku!” Ryan kembali
terkekeh, membuat Jeremy muak melihatnya.
Dilihatnya
Ryan memberi perintah dengan kode. Dalam sekejap, bebberapa orang memeriksa
tubuhnya Jeremy, mengambil semu senjata yang sudah Jeremy siapkan.
“Wuih wih,
banyak sekali senjatamu!”
Pria yang
mengambil senjata Jeremy itu menyimpan senjata itu diatas meja. Ryan mengambilnya
salah satu, menimangnya lalu membolak-balikkan senjata itu.
__ADS_1
***