Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-78 Dua Pilihan


__ADS_3

Evelyn


tersenyum senang, merasa lega akhirnya Ayres di temukan dan akan segera bertemu


putranya. Tapi lama semakin lama dia merasa ada yang aneh, karena jalan yang


mereka lewati bukan jalan yang dia lewati tadi siang.


“Loh, kok


ini jalannya…” Baru juga Evelyn akan bertanya. Satu orang polisi itu


membekapnya dari belakang dan membuatnya tidak sadarkan diri.


Evelyn


tergeletak di pangkuan polisi itu, yang temannya langsung menelpon seseorang.


“Sudah


beres, Bos!”


“Bagus,


cepat bawa dia kemari!”


“Oke, Bos!”


Sementara Jeremy


tampak bingung karena ada dua informasi yang berbeda. Tapi jelas-jelas Ryan


memberikan foto ada Ayres di suatu tempat. Diapun melakukan panggilan kembali


ke nomornya Evelyn tapi ternyata tidak aktif. Hatinya langsung saja berburuk


sangka.


Diapun mendial


nomornya Ryan, tapi tidak diangkat.


Karena


penasaran dengan kecurigaannya, diapun pergi ke kantor polisi taman bermain itu


dan benar saja. Tidak ada penemuan anak laki-laki yang hilang.


Diapun


semakin panik, cemas dengan keselamatan anak istrinya. Karena nomor Ryan tidak


diangkat juga, Jeremy langsung ke lokasi yang ada di ponselnya itu.


Ternyata


tempat itu hanya sebuah gedung tua, membuat Jeremy kesal, ditelpon lagi Ryan


tetap tidak bisa dihubungi.


Pria itu


mengatupkan bibirnya rapat-rapat, giginya gemeretuk, dia merasa dipermainkan. Semua


pasti ulahnya Ryan. Diapun menepuk jidatnya, kenapa dia begitu bodoh? Dia tahu


dimana dia bisa menemui Ryan. Tentu saja di kantornya! Mungkin saja Ryan masih


menggunakan kantornya dulu!


Bergegas


Jeremy meninggalkan tempat itu. Rasanya seperti akan gila memikirkan anak istrinya


ada ditangan Ryan, dia tidak mau menyebutnya mantan istri, Evelyn adalah


istrinya, sampai kapanpun akan menjadi istrinya.


Dua jam


kemudian.


Brak! Jeremy


mendorong pintu itu dengan keras, sampai terbuka lebar.


Dari gerbang


utama, gedung markas bisnis ilegalnya itu seakan berjalan mulus, dengan


mudahnya dia memasuki area itu padahal sudah bertahun-tahun Ryan yang bercokol


disini.


Kursi kerja


warna hitam itu membelakangi meja, sosok itu hanya terlihat rambutnya saja,


langsung memutar kursinya.


Jeremy


berdiri menatap pria yang selama ini menjadi orang kepercayaannya, Ryan.


“Akhirnya


kau datang juga. Apa kabarmu, Pak Jeremy?” tanya Ryan, tersenyum sinis.


“Mana anak


istriku?” tanya Jeremy.


“Anak istri?


Mantan istri!” ralat Ryan.


“Tidak perlu


basa basi, dimana mereka?”


“Kenapa kau

__ADS_1


begitu yakin mereka ada bersamaku?”


“Jangan


bertingkah Ryan, mana mereka? Aku kesini hanya ingin membawa anak istriku


pulang, selebihnya kau tidak mau berurusan denganmu!”


“Haha..ternyata


kau berubah jadi pengecut setelah kau lumpuh. Kau sudah kapok rupanya!” Ryan


malah menyindir-nyindir.


“Kau ada


dendam padaku? Lepaskan anak istriku, kau berurusan denganku saja, bukan


mereka!” bentak Jeremy sudah mulai kesal.


Ryan


terkekeh. “Akhirnya keluar juga taringmu! Tapi buat apa juga kau buru-buru


pulang? Kau tidak ingin bertanya padaku bagaimana caraku bisa memiliki apa yang


kau miliki?”


“Aku tidak


peduli dan aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin anak istriku kembali, kembalikan


mereka! Mana mereka?”


Ryan


terdiam, menatap tajam Jeremy, dia tidak suka kalau Jeremy sudah mulai bersikap


menyuruh-nyuruhnya seperti dulu.


“Jaga sikapmu


atau kau tidak akan bertemu dengan mereka lagi selamanya!”


“Hem, jadi


benar mereka ada bersamamu? Buat apa? Buat Apa kau melakukan itu semua? Apa


untungnya? Kau dendam padaku lampiaskan padaku, jangan mereka!”


Ryan mematikan


cerutunya diatas asbak yang ada di meja.


“Kau yakin


sekali aku menurut padamu? Lain dulu kain sekarang, aku sudah tidak bisa kau


suruh suruh lagi! Tidak bisa! Ryan sekarang bukan lagi Ryan dulu yang hanya


menerima perintahmu dan mencicipi wanita-wanita bekasmu!” Suara Ryan terdengar


mulai marah.


tersenyum sinis. “Kau memang kaki tanganku, kenapa pula kau ingin jadi kepala?


Kepalaku disini!”


“Cih!” Ryan


mulai tersulut emosi.


“Seharusnya


kau bangga, Aku bisa berbagi denganmu! Kau ikut merasakan kesenangan yang aku rasakan!


Seharusnya kau senang!”


“Kau benar, apa


yang tidak kau bagi denganku!”


“Ya! Bukankah


aku seorang teman yang baik?”


“Iya, tidak


ada yang tidak kau bagi denganku, termasuk urusan perempuan. Tapi kali ini kau


sangat pelit karena kau tidak berbagi istrimu denganku!”


Perkataan


Ryan membuat Jeremy naik pitam. Ryan terkekeh melihat perubahan sikapnya Jeremy,


dia tahu Jeremy mulai terpancing emosinya.


“Jadi kau


menculik istriku karena kau menginginkannya, begitu?”


Ryan


langsung tertawa senang. “Kau benar-benar mengerti aku, Pak Jeremy. Sangat


mengerti aku. Maaf kalau aku memakai car aini, aku hanya inginsedikit main-main


saja. Mengambil bekasmu sebelum kau melemparnya padaku!”


“Itu


terkecuali. Aku tidak akan berbagi istriku denganmu!”


“Tidak? Artinya


kau bukan temanku lagi?”


“Aku lebih


baik menjadi musuhmu daripada menyerahkan istriku padamu! Tidak cukup kau

__ADS_1


merasakan nikmatnya bisnisku? Kau menjadi pria kaya raya dari bisnisku? Kau


sangat ngelunjak kalau menginginkan istriku! Kau sangat tidak tahu diri!” maki


Jeremy, sikapnya masih tenang tapi nada bicaranya begitu tandas.


Kini Ryan


yang tersulur emosi. “Kau merasa bangga seakan kau yang memberikan bisnismu


padaku? Hei, kau salah! Aku yang merebutnya darimu karena kau tunadaksa! Bukan


aku mendapat Cuma-Cuma darimu! Enak saja!”


“Tidak perlu


malu untuk mengakuinya! Tidak perlu! Aku tidak merebutnya lagi karena sudah


saatnya kau menerima bekasku!”


Ceklek!


Ceklek!


Dua senjata


sudah saling todong.


Ryan menahan


marahnya mendengar hinaan Jeremy yang merendahkannya. Senjata ditangannya lurus


kearah Jeremy. Begitu juga dengan Jeremy, dia tahu kapan musuhnya akan


mengeluarkan senjatanya.


“Mana anak


istriku! Kau ada dendam padaku! Lampiaskan padaku, jangan melibatkan anak


istriku!”


“Tapi


Sayang, aku tidak mau melepaskannya!”


“Kau akan


berurusan denganku! Aku tidak akan membiarkan kau memiliki anak istriku!”


“Baik kalau


begitu, kau bisa memilih. Kau akan membawa anakmu pulang atau kau bawa istrimu!


Pilih salah satu!”


Jeremy Marah


bukan main, dia tidak mungkin memilih salah satu.


Tangannya


akan menarik pelatuk senjata tapi senjata-senjata yang lain tiba-tiba sudah menodongnya


dari berbagai arah. Dia bukan takut mati, hanya kalau dia mati siapa yang akan


melindungi anak istrinya. Diapun tidak jadi menembak Ryan.


Melihat


sikap Jeremy yang tidak jadi menembaknya membuat Ryan tertawa senang. Diapun


bangun dan berjalan kedepannya Jeremy.


“Ternyata


menyenangkan melihat kau tidak bisa apa-apa. Dan akan lebih menyenangkan kalau


kau menuruti apa yang aku mau!”


“Jangan


menjadi pengecut, Ryan! Mana anak istriku?” teriak Jeremy.


Dia akan


bergerak terdengar lagi gerakan menarik pelatuk senjata. Dia tidak boleh mati!


Ryan tertawa


terbahak. “Kenapa harus buru-buru? Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu,


sedikit bernostalgia apa masalahnya?”


“Aku tidak tertarik!”


“Kau akan


tertarik kalau aku mulai cerita. Bertahun-tahun aku dia, kau perlakukan


seenaknya demi mendapatkan uang dan perlindungan darimu! Tapi sekarang aku tidak


membutuhkan itu lagi! Kau sekarang yang harus mengemis-ngemis padaku!” Ryan kembali


terkekeh, membuat Jeremy muak melihatnya.


Dilihatnya


Ryan memberi perintah dengan kode. Dalam sekejap, bebberapa orang memeriksa


tubuhnya Jeremy, mengambil semu senjata yang sudah Jeremy siapkan.


“Wuih wih,


banyak sekali senjatamu!”


Pria yang


mengambil senjata Jeremy itu menyimpan senjata itu diatas meja. Ryan mengambilnya


salah satu, menimangnya lalu membolak-balikkan senjata itu.

__ADS_1


***


__ADS_2