
Jeremy menatap Evelyn dengan tajam.
“Sebenarnya maumu apa? Buat apa kau pake ikut-ikutan segala ke acara yang dibuat Selena?” tanya Jeremy dengan kesal.
Evelyn menatap pria itu.
“Kita sudah menikah, aku istrimu, tidak seharusnya kau datang keacara-acara yang dibuat wanita lain. Kau harus berubah, manata hidup yang lebih baik, kau harus menghentikan kebiasaanmu,” kata Evelyn dengan tegas.
“Itu lagi itu lagi yang dibahas, aku tidak mau diatur atur!” ujar Jeremy dengan ketus.
“Pokoknya kalau pergi ke pesta itu aku harus ikut, kau tidak boleh berkencan dengan wanita manapun juga!” kata Evelyn.
“Kau ini maunya apa sih? Apa tidak bisa kau diam saja dirumah, mau makan, mau apa , semua sudah tersedia, uang aku kasih. Kau mau shoping mau belanja apapun aku kasih, tapi kau tidak perlu mengatur-atur hidupku, kau sangat merepotkan!” ujar Jeremy.
“Kau harus belajar mencintaiku,” ucap Evelyn membuat Jeremy terkejut dan tertawa.
“Tunggu, mencintai? Hah, sekarang kau mengatakan hal yang aneh-aneh lagi,” kata Jeremy.
“Kita tidak bisa membiarkan pernikahan kita seperti ini, kau harus bisa mencintaiku dan aku akan berusaha mencintaimu,” ujar Evelyn.
Jeremy mengeleng-gelangkan kepalanya tidak bicara lagi, dia meninggalkan Evelyn keluar rumah.
“Kau mau kemana?” tanya Evelyn.
Jeremy tidak menjawab, hanya tidak berapa lama suara mobilnya terdengar meninggalkan halaman rumah.
Evelyn terduduk disofa dengan lesu, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang? Pernikahan ini benar-benar membuatnya tersiksa. Dia ingin pernikahan seperti orang lain pada umumnya, hidup berumah tangga dengan normal. Dia tidak bisa lari dari Jeremy karena pria itu sudah menjadi suaminya.
Jeremy pergi dengan kesal menuju kantornya, tempat usahanya. Selain mempunyai usaha penjualan barang terlarang, dia memiliki banyak usaha dibidang otomotif, sparepart dan bengkel, yang omsetnya juga sangat tinggi. Tapi karena dia menyukai usaha ilegalnya, usahanya itu hanyalah untuk menutupi pendapatan lain dari usahanya yang illegal.
Perkataan-perkataan Evelyn yang terus memintanya berubah terngiang terus ditelinganya. Tidak, dia tidak akan berubah, dia sudah menikmati hidupnya yang sekarang, kenapa dia harus berubah gara-gara wanita itu muncul dalam kehidupannya dan membebaninya dengan pemikiran yang aneh.
Jeremy turun dari mobilnya, dia berjalan memasuki bengkel itu yang tampak ramai, lalu menghampiri seorang pria yang sedang mengotak-atik sebuah mobil balap.
“Jose, apa mobilku sudah siap?” tanyanya pada seorang pria yang sedang memeriksa mesin mobil.
“Sudah Bos, mobilnya sudah siap untuk balapan nanti,” jawab Jose.
Jeremy masuk kadalam mobil balap itu lalu menyalakan mesinnya dan memainkan gasnya berulang-ulang.
“Bagaimana Bos?” tanya Jose.
Jeremy mematikan mesinnya lalu keluar dari mobil itu, mundur beberapa langkah melihat body mobilnya lalu berbicara pada Jose tentang kekurangan mobil balapnya.
__ADS_1
Seharian itu Jeremy berada di bengkelnya, mengurus mobil balapnya, dia benar-benar ingin mobilnya
sempurna untuk persiapan balapan nanti dengan beberapa geng penguasa jalanan.
****
Malam telah tiba, Evelyn sudah berdandan cantik di dalam kamarnya, tapi dia tidak mendengar Jeremy pulang. Dia hanya menatap wajahnya di cermin, berapa kali dia menghapus make upnya. Dia merasa ragu, apakah dia juga harus menjadi istri yang penurut dan diam saja di rumah, menerima apapun yang dilakukan suaminya itu meskipun perilakunya sangat menyakitkan?
Evelyn kembali menatap wajahnya yang pucat karena make upnya dihapus, kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman dan berhenti. Evelyn melihat kearah pintu, apakah Jeremy pulang dan dia akan pergi ke pesta itu tanpa mengajak dirinya?
Hati Evelyn kembali tidak bersemangat, meskipun datang ke pesta itu benar-benar tidak disukainya, apakah dia harus bersikap masa bodoh dan hidup masing masing meskipun satu atap? Tapi pria itu sudah menyentuhnya, bagaimana bisa dia menganggap kalau mereka tidak ada hubungan? Apa harus meneruskan pernikahan dengan keadaan seperti ini? Mau sampai kapan?
Entah berapa lama Evelyn hanya menunduk duduk di depan cermin itu, dia merasa bimbang apakah harus memaksa untuk ikut atau memang harus membiarkan apapun yang Jeremy lakukan? Sungguh sangat membingungkan.
Tiba-tiba terdengar ketukan dipintu. Evelyn dengan malas membuka pintu itu.
“Ada apa, Bi?” tanya Evelyn.
“Pak Jeremy sudah menunggu dibawah,” kata Bibi, membuat Evelyn terkejut.
“Bibi serius?” tanya Evelyn.
“Iya Pak Jeremy sudah menunggu dibawah,” jawab Bibi.
“Baiklah katakan aku bersiap-siap dulu sebentar lagi aku turun,” ucap Evelyn sambil tersenyum senang lalu menutup pintunya.
Evelynpun segera merapihkan riasannya dan gaunnya, dia tidak menyangka kalau Jeremy akan mengajaknya ke pesta.
Jeremy menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi, kemudian menoleh pada Bibi yang sudah dari kamarnya Evelyn.
“Mana dia?” tanya Jeremy saat melihat Bibi turun dari tangga.
“Sebentar lagi Nyonya turun,” jawab Bibi.
Jeremypun tidak bicara lagi. Dia menunggu Evelyn turun tapi sudah sekian lama istrinya itu belum juga turun.
Jeremypun bangun dari duduknya, berdiri menatap kearah tangga.
“Evelyn cepetan!” teriaknya.
“Kau belum selesai juga berdandannya? Lama amat!” gerutu Jeremy.
“Iya sebentar!” jawab Evelyn juga berteriak, sambil keluar dari kamarnya dan menutup pintu itu kembali.
__ADS_1
“Sebentar-sebentar, perasaan dari tadi Bibi memanggilnya. Dia itu ngapain aja?” gerutu Jeremy lagi, sambil melihat jam tangannya. Bukan takut telat, dia masa bodoh kalau Selena menunggu juga hanya dia kesal saja menunggu yang berdandan.
Terdengar langkah kaki sepatunya Evelyn semakin jelas.
“Maaf, aku harus berdandan lagi, aku fikir kau tidak akan mengajakku,” kata Evelyn, muncul diatas tangga.
“Memangnya kau mau berdandan seperti apa sampai lama begitu?” keluh Jeremy, sambil menoleh kearah tangga.
Dan bibirnya langsung terdiam saat melihat istrinya turun dari tangga itu.
Evelyn terlihat sangat cantik dengan gaun panjang yang sebelah bahunya terbuka memperlihatkan kulitnya yang bening, bibirnya di poles lebih menyala terlihat sangat menggoda, kakinya terlihat indah dengan sepatu itu.
Jeremy terpesona melihat Evelyn berdandan cantik malam ini. Ada yang berbeda yang dirasanya. Dia sudah terbiasa ditemani wanita cantik dan berakhir di tempat tidur. Melihat istrinya sekarang terasa lain di hatinya. Ada perasaan dia memiliki wanita itu.
“Maaf kau menunggu lama. Aku fikir kau tidak akan mengajakku,” ucap Evelyn segera menuruni tangga menghampiri Jeremy.
“Mm Tidak…tidak apa-apa,” ucap Jeremy dengan pelan tapi kemudian dia terkejut dengan jawabannya.
“Iya, kau sangat lama berdandannya!” bentaknya, membuat Evelyn memberengut.
Evelyn menatap pria itu yang menggunakan stelan jasnya, suaminya terlihat sangat tampan dan gagah. Tentu saja banyak wanita yang suka dengannya, sosok Jeremy termasuk pria yang sempurna, selain banyak uang juga tampan dan masih muda. Sepertinya tanpa harus menerima bayaran dari Jeremypun, wanita-wanita itu akan tetap menyukainya, terutama seperti Selena terlihat jelas kalau wanita itu menyukai Jeremy.
“Ya sudah ayo!” ajak Jeremy.
Jeremy sengaja mengulurkan sikunya pada Evelyn tapi ternyata Evelyn tidak melihatnya malah berjalan sendiri lebih dulu. Diapun hanya bisa menatap istrinya yang mendahuluinya.
Dia sudah memberikan sikunya supaya istrinya menggandeng tangannya kenapa wanita itu malah pergi mendahuluinya? Jeremy menggerutu dalam hati tapi kakinya terus melangkah mengikuti langkah Evelyn keluar rumah.
“Apa tempatnya jauh?” tanya Evelyn, saat sudah masuk ke dalam mobil.
“Tidak juga,” jawab Jeremy, yang duduk disamping Evelyn.
Mobilpun melaju keluar dari halaman rumahnya Jeremy. Sesekali Jeremy melirik istrinya, dia suka sekali melihat wanita itu malam ini.
Dia sudah banyak berkencan dengan wanita cantik, tapi ternyata disaat menyadari wanita cantik itu adalah istrinya memberikan kebanggaan tersendiri buatnya.
Dia baru menyadari kalau ternyata memiliki istri yang sangat cantik, kenapa dia sampai lupa kalau dia menikahi Evelyn karena menyukainya dari pandangan pertama. Apakah itu cinta?
Cinta? Dia jatuh cinta? Tidak! Dia tidak pernah mencintai wanita manapun! Tidak ada kamus cinta dalam hatinya.
Evelyn tidak banyak bicara, dia tahu yang akan dihadapinya beberapa waktu lagi akan sangat menguras kesabarannya tapi dia harus kuat. Dia tidak boleh kalah, dia istrinya Jeremy, Jeremy suaminya, pria disampingnya adalah miliknya. Dia berharap suatu saat Jeremy akan mencintainya dan memperlakukannya dengan baik sebagai istrinya.
********
__ADS_1