
Jeremy merasakan kepalanya pusing, dia terus berusaha keras untuk mengingat jelas apa yang sedang dialaminya sekarang. Bayangan kejadian terakhir di Hongkong seketika muncul.
Buk! Buk! Buk! Dia meringis menyipitkan matanya, seakan pukulan itu kembali dirasanya, kemudian dia menutup matanya menahan nyeri ditubuhnya. Kenapa pukulan itu seakan dialaminya lagi sekarang?
Setelah merasa sakitnya mulai mereda, Jeremy kembali membuka matanya dan mencoba menggerakkan tubuhnya tapi ternyata tidak ada tenaga sedikitpun. Dicobanya menggerakkan kakinyapun tidak bisa, dilihatnya tubuhnya hanya terlumbuk begitu saja di tempat tidur.
Dia kembali mengingat ingat penyebab tubuhnya jadi begini, kejadian terakhir di Hongkong kembali memenuhi kepalanya. Pukulan demi pukulan dia terima demi membebaskan istrinya. Muncul dalam matanya Evelyn yang menatapnya dengan putus ada, tubuhnya berkeringat dengan rambut yang acak-acakan dan gaun yang hanya sebagian kecil menutupi tubuhnya.
Dia sering melihat tubuh wanita yang bahkan dengan sukarela memamerkannya hanya demi mendapatkan uang yang berlimpah dalam waktu cepat. Tapi tidak dengan istrinya, melayani Ken yang kayapun istrinya menolak padahal wanita lain akan berlomba-lomba menjadi kekasih kesayangannya Ken. Perjuangam istrinya mempertahankan kehormatannya, harga dirinya membuatnya mengerti arti sebuah kesucian yang selama ini dianggapnya hal sepele.
Jeremy terus berusaha mengumpulkan memorynya untuk mengembalikan ingatannya supaya benar-benar pulih. Dilhatnya seluruh ruangan itu yang memang bukan kamarnya. Banyak alat medis di ruangan itu.
Terdengar langkah kaki memasuki ruangan, itu dia melirik kearah pintu, seorang perawat laki-laki muncul disana dan menghampirinya. Jeremy melihat nama yang menempel di pakaian serba putih itu bertuliskan Indra. Nama perawat laki-laki itu, Indra.
“Pak Jeremy, televisinya dinyalakan saja ya, biar tidak merasa jenuh!” Indra segera menyalakan televisi yang menempel di tembok itu. Mata Jeremy melihat kearah televisi.
Perawat itu kembali mendekati Jeremy berdiri didekat tempat tidur dan tersenyum.
“Bu Evelyn sedang membawa alat cukur untuk membersihkan wajah Pak Jeremy,” tangan pria itu menunjuk ke rahangnya.
Tidak ada yang keluar dari bibirnya Jeremy, dia merasa sangat kesulitan untuk menggerakkan lidahnya. Tubuhnya benar-benar seperti mayat hidup. Orang-orang Ken benar-benar sudah membuat patah seluruh tulang ditubuhnya.
“Pak Jeremy sangat beruntung, Bu Evelyn sangat baik, dia selalu menyempatkan mengurusmu meskipun sangat sibuk bekerja.”
__ADS_1
Jeremy mengerjapkan matanya, istrinya sibuk bekerja? Bekerja apa? Apa dia sudah tidak punya uang? Ada banyak uang di brangkas terkunci itu, ah tentu saja Evelyn tidak tahu kodenya, hanya dia yang tahu kodenya.
“Saya tinggal ya Pak Jeremy, saya akan mengambil obat di apotik. Hari ini Bu Evelyn tidak berangkat bekerja, karena ingin mengurus Pak Jeremy katanya,” ucap perawat itu lalu meninggalkan ruangan itu.
Jeremy tertegun mendengarnya, dia heran kenapa istrinya bekerja? Bekerja apa? Hatinya terus bertanya-tanya. Lalu dilihatnya lagi sekeliling kamarnya, entah berapa lama dia berada di ruangan ini, yang pasti ini bukanlah Hongkong.
Pintu kamar yang tadi menutup itu kini terbuka. Mata Jeremy melihat kearah pintu. Sosok wanita yang tadi dilihatnya samar-samar, kini semakin jelas terlihat. Wanita itu selalu cantik seperti biasa tanpa riasan yang mencolok, menggunakan dress santainya dengan membawa sebuah wadah cukup besar yang isinya entah apa.
Dilhatnya tubuh yang sedang mendekatinya itu yang menggunakan dress longgarnya, perut bulatnya sudah mulai terlihat meskipun belum besar. Jeremy kembali menebak-nebak berapa lama dia tidak sadarkan diri sampai perut istrinya terlihat membesar, mengandung bayinya.
Entah apa yang akan terjadi jika hari itu dia tidak mengorbankan dirinya untuk melepaskan Evelyn dari Ken, mungkin dia tidak akan melihat perut besar istrinya lagi. Mungkin Ken sudah menggugurkan kandungan Evelyn atau membiarkannya tumbuh tapi untuk niat yang buruk.
“Aku akan membersihkanmu!” kata Evelyn berjalan lebih dekat kearah Jeremy.
“Aku tidak tahu cara mencukur jenggot, jadi aku lihat cara-caranya di internet.”
Terdengar suara istrinya disebelahnya tapi Jeremy hanya bisa mendengar saja, itupun dia harus berjuang keras menajamkan alat indra pendengarnya yang terkadang seperti menghilang begitu saja, berganti dengan suara-suara samar yang tidak jelas masanya antara sekarang dan masa lalu terutama saat kejadian terakhir di Hongkong.
Evelyn mengambil cermin yang ada dalam wadah besar di pangkuannya itu lalu mendekatkan kepalanya menempel ke bahunya Jeremy, sambil menghadapkan cermin ke wajah Jeremy.
“Kau lihat, wajahmu brewokan. Kau koma lebih dari satu bulan, bulu-bulunya tumbuh sangat cepat.” Evelyn menegakkan tubuhnya supaya diapun bisa bercermin bersama. Muncul dicermin itu wajahnya dan wajah Jeremy.
“Bagaimana menurutmu? Kau pasti kaget kan banyak sekali bulu diwajahmu? Sudah lama kau tidak bercermin, apa kau mengenali wajahmu sekarang?” tanya Evelyn sambil tertawa, melihat wajahnya Jeremy di cermin.
__ADS_1
Pria itu menatap cermin itu dan benar, wajahnya dipenuhi brewok padahal seumur hidupnya tidak pernah memiliki brewok! Entah darimana datangnya brewok itu?
“Tidak apa kan aku bersihkan brewoknya? Supaya kau terlihat lebih segar!” Evelyn kembali tersenyum.
Mata Jeremy tidak lagi melihat wajah brewoknya tapi melihat wajah istrinya yang terus saja bicara tentang brewoknya sambil tersenyum dan tertawa kecil. Sungguh hatinya merasa tersayat, begitu bodohnya dirinya, menyia-nyiakan istrinya sendiri. Wanita yang sedang mengandung itu sama sekali tidak mendendam atas perlakuannya padanya dan malah merawatnya.
“Baiklah sekarang aku akan membersihkan wajahmu!” Evelyn menyimpan cermin diatas meja disamping tempat tidur itu membuat Jeremy tidak bisa melihat wajah istrinya lagi.
Evelyn bangun dan merubah posisi duduknya jadi menghadap Jeremy. Sekarang Jeremy bisa melihat wajahnya tanpa cermin.
Evelyn menatap mata itu yang sedang menatapnya, entah kenapa dia melihat tatapan Jeremy itu memang sedang menatapnya. Dilambai-lambaikannya tangannya di depan Jeremy.
“Apa kau bisa mengenaliku?” tanyanya. Tidak ada reaksi dari Jeremy, pria itu hanya menatapnya saja. Ada raut kecewa di wajahnya Evelyn yang menurunkan tangannya berhenti melambai-lambai, karena ternyata Jeremy tidak bereaksi apa-apa.
“Apa kau bisa mendengarku?” tanya Evelyn lagi. Tidak ada reaksi apa-apa dari Jeremy.
“Sepertinya kau tidak mendengarku. Sangat menggelikan aku membicarakan brewokmu.” Evelyn tersipu membuat wajahnya memerah, lalu menunduk menyiapkan cream untuk mencukur.
Jeremy menatap istrinya yang tersipu itu, meskipun terkadang suara yang ditangkap telinganya menghilang-hilang, tapi dia tahu kalau istrinya sedang membicarakan brewok yang tiba-tiba ada diwajahnya padahal baru satu bulan lebih dia koma, wajahnya sudah berubah aneh.
“Aku akan mencukurmu perlahan, takut ada bekas-bekas luka, tapi sepertinya hanya tersisa sedikit bekas robek saja,” ucap Evelyn, kembali memperhatikan wajahnya Jeremy.
Sesuatu rasa yang entah apa itu tiba-tiba saja memenuhi hatinya Jeremy. Melihat wajah cantik istrinya yang duduk didepannya seakan melihat wanita paling cantik di dunia yang pernah dia temui seumur hidupnya. Wajah itu begitu teduh membuat hatinya merasa sangat nyaman dan ingin selalu menatapnya.
__ADS_1
****