Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-29 Ultimatum Jeremy


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter dan Perawat itu, Jeremy diam berdiri menatap Evelyn, wanita itu masih tidak mau menatapnya. Diambilnya kursi yang tadi dia duduki itu, diposisikan di depannya Evelyn, yang semakin keheranan bertanya-tanya mau diapakan kursi itu.


Ternyata pria itu duduk dikursi itu dengan santai, mengangkat satu kakinya dan menatapnya.


“Kau masih tidak mau melihatku?” tanya Jeremy.


Evelyn tidak menjawab.


Melihat sikap Evelyn, Jeremy menghela nafas sebentar lalu bicara lagi.


“Katakan padaku kenapa kau meninggalkan rumah?” tanyanya.


Evelyn masih tidak menjawab lagi.


“Jangan membuatku marah dan jangan bertingkah!”


Evelyn masih tidak menggubris perkataan Jeremy.


“Katakan padaku kenapa pergi  dari rumah? Karena kau hamil jadi kau ingin menghindar dariku?”


Evelyn masih tidak bicara dia hanya menunduk saja.


“Mulai sekarang kau tidak boleh bekerja lagi!”


Ucapan Jeremy sangat mengagetkan Evelyn membuat mengangkat kepalanya menatap Jeremy. Kenapa pria itu selalu seenaknya begitu?


“Kau dengarkan apa kataku? Kau tidak boleh bekerja lagi.”


“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh bekerja lagi?”


“Karena kau hamil! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku sampai aku tahu kalau anak itu anak  laki-laki!”


“Lagipula siapa yang mau bekerja lagi disana, kau sudah mempermalukanku! Aku malu punya suami sepertimu!”


Mendengar ucapannya Evelyn membuat Jeremy tertawa, sambil menurunkan kakinya dan menjuahkan tubuhnya dari sandarannya ditatapnya wajah istrinya itu.


“Kau fikir aku senang melakukannya?” tanyanya dengan tatapan yang tajam.


“Kau fikir aku senang meninggalkan pekerjaanku hanya untuk mencarimu?” bentak Jeremy dengan kesal.


Mendapat bentakan dari Jeremy membuat Evelyn merasa kesal dan marah, pria itu pergi ke Hongkong bersama Selana, pulang malah membuat keributan di kantornya, mempermalukannya, menamparnya di depan orang-orang, sekarang masih juga membentaknya.


Evelyn membalas tatapan Jeremy dengan tajam.


“Aku tidak memintamu untuk mencariku! Silahkan kau pergi sejauh mungkin dari kehidupanku! Kau bebas bersenang-senang dengan Selena atau wanita manapun, tapi jangan ganggu hidupku dan anakku lagi!” Evelyn setengah berteriak mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi dipendamnya.

__ADS_1


Jeremy masih menatap tajam Evelyn, lalu tersenyum sinis.


“Kau sengaja ingin mengikatku dengan anakku? Kau ingin mengatur-ngatur hidupku? Kau fikir aku akan mengikuti keinginanmu? Kau salah! Aku tidak peduli padamu! Aku hanya mau anak itu!”


“Tapi akutidak akan pernah memberikannya! Kau punya anak saja sendiri dengan Selena! Jangan ganggu aku dan anakku lagi” teriak Evelyn dengan airmata yang menetes dipipinya.


Jeremy tertegun mendengarnya, dia tidak pernah berfikir punya anak dari Selena maupun wanita lain.


“Kenapa? Kau tidak mau punya anak dari Selena? Kau takut tubuhnya tidak cantik lagi?” tanya Evelyn masih dengan nada tinggi.


“Apa hubungannya dengan Selena? Tidak ada! Sekarang yang harus kau  lakukan adalah diam dirumah,  tidak boleh bekerja lagi! Makan yang banyak, aku akan membelikan susu ibu hamil yang terbaik! Jangan membuatku marah atau berbuat kasar padamu!”


“Aku tidak mau, aku ingin kita bercerai dan jangan pernah mencariku dan anakku lagi, selamanya!” Airmata Evelyn terus menetes di pipinya. Masih terbayang apa yang terjadi kemarin, dia ingin memberitahukan kehamilannya malah mendapati Jeremy sedang ditemani Selena di Hongkong.


“Disini yang punya aturan adalah aku, bukan kau! Aku akan menceraikanmu setelah tahu jenis kelamin anak itu laki-laki atau perempuan! Jika perempuan, kau boleh pergi, terserah kau mau kemana, kau pulang pada Ayahmu dan Ayahku tidak akan menerorku dengan telponnya. Tapi jika anak laki-laki kau juga boleh pergi tapi berikan anak itu padaku!”


Mendengar perkataan Jeremy sungguh mengejutkan Evelyn, mau anaknya laki-laki atau perempuanpun dia tidak mau anaknya ikut dengan Jeremy.


“Mau anak laki-laki atau perempuan aku tidak akan memberikannya padamu! Aku tidak mau anakku mengikuti jejakmu, aku sudah tidak mau hidup denganmu lagi! Aku ingin bercerai!” Evelyn bangun dari duduknya, baru juga akan melangkah, tangannya sudah dipegang oleh Jeremy.


“Jangan macam-macam denganku!Kau tidak bisa pergi dariku sebelum aku tahu anak itu laki-laki atau perempuan!” teriak Jeremy.


Pria itu langsung bangun dan menarik tangan Evelyn supaya menghadapnya. Ditatapnya wajah pucat yang kini memerah matanya itu.


“Kau dengarkan apa ucapanku? Sudah aku katakan yang punya aturan adalah aku!”


“Jer! Aku sudah menebus obatnya!” teriak suara diluar.


“Masuk!” jawab Jeremy.


Ryan membuka pintu kamar itu lalu masuk dengan membawa sebuah kantong kecil ditangannya.


“Aku menebusnya di apotik disebrang rumah!” ucap Ryan, memberikan kantung obat itu pada Jeremy, sedangkan matanya menoleh pada Evelyn yang sedang menghapus airmatanya. Dia merasa heran apa yang sebenarnya terjadi,kenapa Evelyn harus  menangis? Kalau Selena yang hamil pasti senang, sudah dipastikan hidup bersama Jeremy penuh dengan materi dan kesenangan.


Jeremy membuka kantung itu lalu dilihatnya obat itu dan kembali dimasukkan kedalam kantong, kemudian disodorkan pada Evelyn.


“Ini obatmu! Cepat minum! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku!”


Evelyn menerima kantung obat itu dengan malas.


“Kenapa lagi? Cepat diminum! Membeli susu hamilnya kalau kita tiba di Hongong saja!”


Evelyn langsung menatap Jeremy saat pria  itu menyebut kata Hongkong, begitu juga dengan Ryan.


“Hongkong? Kau mau membawaku ke Hongknong?” tanya Evelyn.

__ADS_1


Jeremy menatap Evelyn sambil memasukkan kedua tangannya kesakunya, melangkah lebih dekat.


“Setelah akufikir-fikir, supaya kau tidak kabur lagi dan aku bisa langsung mengawasi gerak-gerikmu jadi aku akan membawamu ke Hongkong!”


“Tidak mau!” sanggah Evelyn, kalau tinggal di Hongkong, peluang untuk kabur tidak ada lagi, dia tidak tahu seluk beluk Negara itu.


Jeremy tidak menaggapi perkataannya Evelyn, hanya matanya melirik pada Ryan.


“Siapkan keberangkatanku ke Hongkong segera! Aku akan membawa Evelyn!” perintah Jeremy.


Meskipun kaget dan bingung, Ryan hanya menanggapinya dengan anggukan, lalu keluar dari kamar itu. Setelah pintu itu ditutup, ponselnya berbunyi, dilihatnya di layar itu tulisan nama Selena.


“Ada apa?” tanya Ryan, sambil menjalankan kakinya.


“Aku menelpon Jeremy tidak diangkat juga! Kenapa dia? Kapan dia pulang ke Hongkong?”


“Dia akan segera ke Hongkong!” Ryan menjawab dengan ketus, dia tidak suka dan sangat bosan karena Selena terus-terusan mencari Jeremy.


“Baguslah!” jawab Selena.


“Tapi kau jangan senang dulu,Jeremy ke Hongkong tidak sendiri! Dia membawa istrinya!”


Tentu saja Selena sangat terkejut mendengar perkataannya Ryan, dia langsung menghentikan langkahnya yang akan keluar rumahnya Jeremy di Hongkong.


“Apa maksudmu dia membawa Evelyn?” tanya Selena.


“Evelyn sedang hamil jadi Jeremy akan membawanya ke Hongkong!”


“Apa? Karena Evelyn hamil jadi dibawa ke Hongkong? Buat apa? Aku sedang menemaninya di Hongkong, buat apa membawa wanita itu?”


“Sudahlah Selena, ini adalah fakta kau harus menerima kalau kau tidak ada berarti apa-apa buat Jeremy selain hanya untuk bersenang-senang! Tetap saja yang akan menang adalah Evleyn karena dia punya anak dari Jeremy! Kau harus bangun dari mimpi! Jeremy tidak mencintaimu, tidak akan pernah mencintaimu!” Ryan terus berusaha meyakinkan Selena.


“Diam kau! Seenaknya bicara begitu!” Selena langsung menutup ponselnya dengan marah. Hatinya bergejolak cemburu mendengar Evelyn hamil dan akan dibawa ke Hongong! Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, bisa-bisa Jeremy akan terikat dengan wanita itu karena kehamilannya.


Selena menghela nafas pendek, dia merasa gelisah dengan semua itu. Dia sudah senang bisa merayu lagi Jeremy setelah dia mengatakan rasa cintanya itu. Dia sadar Jeremy tidak mau terikat dan kejujurannya akan membuat Jeremy menjauh, demi kelangsungan hidupnya yang bergantung pada uangnya Jeremy, dia harus kembali merayu Jeremy dan melupakan  soal rasa cinta itu asalkan dia tetap disampingnya Jeremy.


*******


Readers, maaf beribu maaf nulisku bolong-bolong, banyak yang terjadi di RL.


Anak-anakku sakit, aku juga sakit sudah lebih baik sekarang meskipun masih pusing-pusing sebenernya. dan ternyata laptopku juga benar-benar sudah rusak jadi aku harus mencari laptop lagi meskipun dapatnya hanya seken, yang penting bisa nulis.


Yuk dilanjut yuk! Yang sudah kesal menunggu, maaf ya..


Jangan lupa like dan giftnya ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2