
Evelyn dengan perlahan mencukur brewoknya Jeremy. Kain menempel di dada pria itu dan dipangkuannya. Jeremy hanya menatap wajah istrinya yang kadang menjauh lalu mendekat lagi. Saat tubuh itu mendekat, semakin terlihat perut bulat itu.
Hasrat hati ingin memegang perut itu tapi itu hanya keinginan yang terpendam dalam hatinya, untuk mengulurkan tangannya menyentuh perut itu saja tidak bisa. Sekarang baru tersadar dan menyesal disaat dia sehat bisa memeluk istrinya bisa mengusap bayi dalam perut istrinya justru dia melewatkannya dan malah membuat celaka istrinya.
Evelyn mendekatkan wajahnya pada wajah Jeremy bukan mau menciumnya tapi mau melap wajah pria yang sudah dicukurnya itu. Jeremy menatapnya, kalau keadaannya tidak seperti ini, dia yang ingin mencium dan memeluknya tapi kenyataannya dia hanya bisa menatapnya. Entah kapan dia bisa memeluk dan menciumnya lagi, atau selamanya dia akan seperti ini? Sungguh dia sudah menyia-nyiakan masa hidupnya.
“Sudah selesai. Aku ambilkan cermin!” Evelyn melepaskan kain yang ada didadanya Jeremy, kain untuk menahan bulu-bulu yang dicukurnya supaya tidak mengotori pakaiannya Jeremy.
Evelyn bangun menyimpan alat-alat yang digunakan untuk mencukur Jeremy diatas meja lalu kembali duduk disamping Jeremy dengan memegang cermin ditangannya.
Di hadapkannya cermin itu pada Jeremy, sambil mendekatkan kepalanya ke kepalanya Jeremy supaya diapun bisa melihat wajah Jeremy di cermin.
“Kau sudah rapih sekarang.” Evelyn tersenyum menatap wajah itu lebih dekat. Tangan kirinya mengusap pipinya.
Jeremy merasakan sentuhan tangan itu, dia berharap Evelyn akan mencium pipinya tapi itu hanya keinginan saja karena dia tidak bisa mengatakannya dan ternyata Evelyn tidak menciumnya.
“Apa kau suka dengan penampilanmu sekarang? Luka-luka diwajahmu sembuh dengan cepat, semoga kau juga kembali sehat. Aku belum memberi kabar apapun pada Ayahmu, aku tidak mau Pak Kades merasa khawatir. Aku ingin memperlihatkan kehamilanku, orangtua kita pasti senang kan kalau mereka punya cucu.”
Jeremy hanya mendengarkan apa yang dikatakan Evelyn sambil melihat wajahnya di cermin. Tidak ada yang berubah dengan wajahnya, yang berubah adalah kondisi tubuhnya yang dulu begitu gagah sekarang tidak berdaya.
Jeremy juga ingin menatap istrinya tapi sayang Evelyn sedang duduk disampingnya, dia tidak bisa dengan jelas menatapnya. Ingin sekali dia mengatakan maaf sudah membuat banyak penderitaan padanya.
Terdengar lagi Evelyn bicara di telinganya. “Aku berharap kau sembuh total saat aku melahirkan nanti supaya kau bisa memberi bayi kita nama, dan aku akan membawanya pulang ke kampung halaman, aku akan tinggal bersama Ayahku.”
Jeremy terkejut mendengarnya, jadi Evelyn akan pulang kampung kalau sudah melahirkan? Bagaimana dengan dirinya? Apa maksudnya Evelyn akan meninggalkannya?
“Aku harus meninggalkanmu.”
Deg! Jantung Jeremy terasa mendadak berhenti. Meninggalkannya? Jadi Evelyn akan meninggalkannya?
“Aku tidak mau bayiku mengalami hal buruk nanti. Aku ingin hidup tenang dengan bayiku. Aku tidak tahu jalan apa yang akan kau pilih jika sembuh nanti, tapi aku harap kau mengerti keputusanku, aku akan pulang bersama bayiku.”
__ADS_1
Mata Evelyn langsung berkaca-kaca saat mengatakannya. Dia ingin mengakhiri penderitaannya menjadi istri Jeremy.
“Aku rasa Ayahmu akan mengerti dengan keputusanku. Aku ingin melindungi bayiku. Maaf aku tidak bisa membiarkan anakku tahu duniamu. Tidak boleh tahu, aku harap kau mengerti, jangan melibatkan apapun pada bayiku. Aku tidak peduli kalau seandainya nanti kau punya kehidupan lain dengan wanita manapun yang kau suka, aku hanya ingin melindungi bayiku.”
Hati Jeremy merasa sangat kecewa dan sedih mendengarnya, apa Evelyn serius dengan perkataannya? Akan pergi meninggalkannya setelah melahirkan? Kenapa hatinya terasa begitu sakit?? Sangat sakit. Biasanya dia tidak memperdulikan keberadaannya Evelyn, tapi sekarang rasa sakit itu terasa mencabik-cabik hatinya. Bukan marah dan kesal karena Evelyn akan pergi membawa bayi mereka, tapi rasa sakit itu disertai rasa penyesalan. Dia tidak mau istrinya pergi.
“Aku tidak akan peduli lagi jika kau kembali bersama Selena atau kau menemukan wanita baru. Aku tidak akan peduli. Aku hanya ingin bayiku hidup normal dan bahagia,” ucap Evelyn dengan suaranya yang tersekat. Sebenarya dia merasa sedih mengatakannya tapi dia harus mengatakannya, demi masa depan bayi dalam perutnya. Dia rela kehilangan Jeremy demia kebahagiaan bayinya. Meskipun dia tidak tahu apakah sekarang Jeremy bisa mendengar perkataannya itu atau tidak.
Hancur sudah perasaan Jeremy, ucapan Evelyn itu semakin menjauhkannya dari orang-orang yang mencintainya. Ibunya, Ayahnya, dan sekarang istri juga anaknya.
Evelyn bangun dari duduknya, menahan airmata yang sebenarnya ingin tumpah begitu saja. Diapun buru-buru pergi dari kamar itu meninggalkan Jeremy yang sama sekali tidak bisa mencegah kepergiannya.
Jeremy tahu istrinya menangis, ingin sekali dia memeluknya dan menghapus airmatanya dan mengatakan bersandarlah di bahuku.
Evelyn pergi ke kamar tidurnya Jeremy, terduduk dipinggir tempat tidur itu, menunduk dan menangis. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan kata-kata itu tapi dia harus, harus mengatakannya. Supaya jika Jeremy sembuh nanti pria itu mengerti dan menerima keputusannya untuk pergi dari kehidupannya. Tidak ada jaminan pria itu tidak akan kembali ke dunianya, tidak ada. Mungkin banyak lagi musuh di sekelilingnya Jeremy yang akan membahayakan keselamanya bayinya.
Tangan Evelyn menghapus airmata dipipinya, menahan diri untuk tidak menangis tapi malah semakin membuatnya terisak dalam kesendirian.
Selena membuka pintu apartemennya yang sudah lama ditinggalkannya ke Hongkong. Di tariknya koper yang dibawanya dan kembali menutup pintunya.
Saat memasuki ruang tamu dia terkejut saat melihat ada sosok pria yang sudah duduk di sofa.
“Kau! Bagaimana kau bisa masuk ke apartemanku?” bentaknya dengan marah.
Sosok pria itu yang tiada lain Ryan, tersenyum melihat wanita cantik itu terkejut. Dia duduk santai di sofa itu dengan cerutu menyala ditangannya.
“Apa aku sudah terlihat seperti pemimpin mafia?” tanyanya.
Selena melepaskan kopernya, berdiri menatap tajam pria itu, lalu tersenyum jengah.
“Apa maksudmu bicara begitu? Apa kau sudah merasa seperti Jeremy?”
__ADS_1
“Aku sudah mengambil alih bisnisnya Jeremy, aku sudah kaya sekarang!”
Selena berjalan mendekati Ryan. “Begitu rupanya? Kau begitu yakin Jeremy tidak akan sembuh dan mengambil kembali semuanya?”
Ryan mematikan cerutunya lalu bangun menghampiri Selena. Wanita itu selalu terlihat menarik dimatanya, tapi sayang belum sekalipun Selana mau menemaninya di tempat tidur.
“Jeremy sudah sadar dari komanya!”
“Apa? Sadar?” Selena sangat terkejut mendengarnya.
“Tapi kau jangan senang dulu. Keadaannya sangat parah dan kalau diharuskan memilih sepertinya Jeremy akan memilih mati saja!”
Selena mengerutkan dahinya keheranan. “Maksudmu apa?”
“Dia sadar tapi dia mengalami kelumpuhan! Tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara.” Ryan berjalan mengelilingi tubuh tingginya Selena, lalu berhenti dan mendekatkan bibirnya ke telinga Selena.
“Apa lagi yang diinginkan orang dalam kondisi seperti itu selain, mati!”
Selena terkejut mendengar semua itu, jadi kondisi Jeremy sangat parah setelah mengalami koma yang lama?
Dari telinganya Selena, Ryan mendekatkan wajahnya ke leher Selena lalu ke dadanya, menghirup wangi parfum tubuhnya Selena. Hasratnya selalu bergelora setiap melihat keseksiannya Selena.
“Menjauh dariku!” usir Selena.
Ryanpun tertawa dan menatapnya. “Apa kau masih menolakku?”
Pria itu pergi menjauh dan mengambil sesuatu yang ada diatas kursi yang tidak Selena perhatkan saat masuk apartemennya. Sebuah kantong plastic hitam berukuran besar. Ryan mengangkatnya keatas lalu di keluarkan isinya.
Selena terkejut melihat banyak uang keluar dari plastik itu dan bertebaran jatuh ke lantai apartemennya.
“Aku kaya sekarang!” ucap Ryan.
__ADS_1
***