
Evelyn tidak tahu Jeremy akan membawanya kemana, dia hanya duduk di dalam mobil dengan rasa risih karena pakaiannya terlalu terbuka, hanya ditutupi blazernya yang menggantung dibahunya. Pria disampingnya duduk dengan santai tampak biasa saja.
Tidak ada yang mereka bicarakan karena Evelyn juga malas untuk bicara dengan Jeremy.
Mobil itu memasuki halaman bangunan tinggi yang penuh dengan mobil-mobil mewah terparkir.
Jeremy yang sudah turun duluan mengulurkan tangannya, membuat Evelyn tersadar diapun menatap tangan Jeremy lalu menerima uluran tangan itu, barulah menurunkan kakinya keluar dari mobil dengan enggan.
Kini pandangan Evelyn melihat kesekeliling gedung yang terlihat tidak banyak keluar masuk orang hanya penuh mobil-mobil mewah terparkir, itu artinya didalam gedung juga penuh. Yang agak berbeda adalah satpam gedung yang biasanya beseragam itu berganti pria-pria sangar yang berbadan tinggi besar yang biasa Jeremy bawa.
Evelyn menoleh pada Jeremy saat pria itu melepaskan blazer yang dipakainya.
“Kenapa kau lepas?” tanya Evelyn, akan merebut kembali blazer itu, tapi tangan kiri Jeremy itu menjauhkan blazer dari gapaian tangannya Evelyn. Hanya tangan Jeremy meraih pinggang langsingnya menariknya kedekat tubuhnya, membuat tubuh Evelyn menempel ketubuhnya Jeremy.
Jeremy mendekatkan bibirnya ke telinga Evelyn.
“Percaya dirilah, kau sangat cantik!” bisiknya, membuat Evelyn menatapnya, dua pasang mata itu bersitatap, tapi kemudian wajah Jeremy menjauh.
Tangan Jeremy melempar blazer itu kedalam mobil, lalu menutup pintu mobil itu.
Evelyn merasakan angin yang berhembus dingin menusuk bagian tubuhnya yang terbuka. Kemudan tangannya diraih Jeremy supaya mengikuti langkahnya. Meski ragu, Evelyn melangkahnya kaki jenjangnya mengikuti langkah Jeremy memasuki gedung itu.
Saat melewati pria pria yang berdiri itu dia merasa ngeri saja melihat orang-orang tinggi besar itu dengan sorot matanya yang tajam. Entah apa yang Jeremy katakan karena dia bukan memakai bahasa Inggris lagi tapi bahasa Cina mandarin atau sejenisnya, barulah mereka bisa melewati pintu itu.
Lain diluar lain di dalam. Diluar begitu sepi tapi didalam ternyata sangat ramai. Music tidak terlalu kencang mungkin kerena ini juga bukan discoutic, hanya dia melihat meja-meja bundar itu penuh dengan pria-pria yang sedang berjudi.
“Kau membawaku ke tempat judi?” tanya Evelyn, tidak percaya.
“Hem!” jawab Jeremy tanpa menoleh.
Evelyn benar-benar tidak percaya dia dibawa ketempat seperti ini. Dia melihat pria-pria itu ditemani wanita-wanita dengan pakaian sexinya, minum, bercerutu dan sesekali terdengar tawa di salah satu meja.
Jeremy mengajak Evelyn ke sebuah meja besar yang sudah penuh oleh pria-pria yang bermain judi. Kedatangan mereka menarik perhatian orang-orang, beberapa orangmenyapa Jeremy lalu mengikutinya mungkin orang-orangnya Jeremy karena Evelyn melihat ada Cheng juga disana.
Banyak mata juga yang menyorot tajam kehadairan mereka, bahkan beberapa orang disudut-sudut ruangan tampak langsung bergerak tertahan, seakan mereka akan melakukan sesuatu tapi menunggu komando. Evelyn benar-benar merasa tidak nyaman di tempat ini.
Jeremy menghentikan langkahnya didepan sebuah meja bundar yang besar, salah satu dari mereka bangun dari duduknya, bukan satu kursi tapi dua kursi.
Seorang pria yang duduk disebrang kursi itu tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, bukan menatap Jeremy saja tapi juga wanita yang bersamanya.
Pria itu sedikit menyipitkan matanya melihat Evelyn, istri Jeremy itu langsung mundur sedikit bersembunyi dibahunya Jeremy. Pria itu pun tersenyum.
__ADS_1
Jeremy hanya sedikit melirik pada istrinya itu lalu menatap pria itu.
“Ini istriku!” ucap Jeremy.
Sontak semua yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak. Evelyn semakin merasa ngeri saja berada diruangan ini.
“Istrimu sangat cantik, tidak beda dengan pelacur murahan yang bisa kau bawa itu!” ucap pria itu kini dengan menggunakan bahasa mereka, diikuti tawa lagi yang lainnya.
Orang-orang Jeremy yang mendengarnya akan bergerak tapi Jeremy hanya melirik saja sekelas dan mereka mengerti kalau harus diam. Evelyn tidak mengerti bahasa mereka tapi dia mengerti saat pria itu itu mengatakan pelacur dalam bahasa Inggris. Dari tatapannya dia bisa mengerti kalau mereka sedang menghina dirinya dan ditertawakan orang-orang pria itu.
“Jangan mengganggu istriku!” kata Jeremy dalam bahasa mereka. Evelyn tidak tahu apakah Jeremy sedang membelanya atau malah menyetujui perkataan pria itu?
Pria itu kembali tertawa. Tiba-tiba datang seorang pria yang bertubuh lebih pendek dari Jeremy tapi agak gemuk dan mungkin usianya lebih tua dari Jeremy.
“Rupanya kau sudah datang! Ken sudah siap mengalahkanmu hari ini!” seru pria itu berdiri dekat salah satu kursi yang terisi, lalu tangannya menepuk bahu orang yang duduk dikursi itu yang langsung menyingkir dari sana.
Pria itu menatap Evelyn, mendelikkan matanya lalu tersenyum seperti pri hidung belang yang berfikir mesum, mengerucutkan bibirnya menatap belahan dada yang rendah itu.
“Wanitamu sangat segar apa dia mainan barumu?” tanyanya.
“Ini istriku!” jawab Jeremy.
“Apa?” pria itu langsung tertawa terbahak-bahak, Evelyn tidak mengerti bahasa mereka tapi melihat reaksi beberapa orang Jeremy yang bergerak, dia bisa menilai kalau pria itu sedang melecehkannya.
“Kau memperistri pelacur?” tanyanya lagi, terdengar lagi tawa dari yang lainnya.
“Tentu saja pelacur! Jeremy tidak mengenal wanita baik-baik, semua wanita hanya mainannya makanya aku heran dia berani memamerkan istrinya!” kata Ken, tersenyum mengejek.
“Istrimu sangat cantik, kalau kau sudah bosan berikan padaku!”kata pria yang bertubuh gemuk itu.
Mendengarnya membuat wajah Jeremy langsung memerah. Entah kenapa dia begitu tidak suka pria-pria itu memperolok istrinya. Padahal apa yang dikatakan mereka itu biasa dijadikan candaan di tempat ini.
“Jaga mulutmu Liu! Kau sudah menyinggungku!” bentak Jeremy.
Orang yang bernama Liu itu tertawa lagi.
“Sorry! Sorry! Aku hanya bercanda!” Liu mengangkat tangannya sambil duduk di kursi yang kosong itu. seorang wanita cantik dan sexy menghampiri Liu, memeluk leher Liu dari belakang lalu berciuman dengan pria itu.
“Duduklah! Bukankah kau behutang satu permainan denganku?” ujar Ken.
“Tentu saja, aku yakin aku yang akan memenangkan permainannya!”
__ADS_1
Jeremy akan duduk dikursi yang kosong itu, dia merasakan tangan Evelyn yang memeluknya dengan kuat, diapun meliriknya.
“Duduklah!” ucap Jeremy.
Evelyn menatap Jeremy, lalu pada Ken, pada Liu juga orang-orang yang duduk disana bersama wanita-waniatnya, barulah dia duduk.
Ken tampak menatapnya dengan pandangan yang tersirat, dia merasa tidak percaya kalau Jeremy benar-benar memperkenalkan istrinya. Memang banyak wanita cantik disini tapi memang istri Jeremy kali ini terlihat berbeda, dia terlihat sangat polos bisa dilihat dari cara dia memeluk tangan Jeremy, tidak ada nuansa wanita penghibur meskipun pakaiannya tidak beda jauh dengan wanita yang ada disini.
Senyum mengembang di bibirnya, sepertinya permainan judinya malam ini dengan Jeremy akan semakin menarik.
Evelyn menggeser kursinya lebih dakat dengan Jeremy. Dia merasa risih merasa semua orang menatap dadanya yang terlalu turun belahan gaunnya, tangannya spontan membetulkan letak gaunnya supaya dadanya agak tertutup. Sungguh tersiksa dengan pakaian seperti ini.
Liu menoleh pada Ken lalu pada Jeremy,” ayo kita mulai! Kita lanjutkan permainan kemarin. Berapa taruhan kali ini? Kalian akan bertaruh berapa?”
“Aku mau 2x lipat dari kemarin!” jawab Jeremy.
Terdengar tepuk tangan riuh dari orang-orang sekitar meja itu. Ken tampak tersenyum saja, Liu langsung menoleh pada Ken.
“Bagaimana Ken, kau berani 2x lipat?” tanya Liu.
Ken menegakkan tubuhnya menatap Jeremy.
“Tidak, itu tidak menantang!” ucapnya.
“Maksudmu apa? Kau ingin berapa kali lipat? Aku tidak masalah!” Jeremy tidak mau kalah, terdengar lagi tepukan riuh disana.
“Tidak, tidak, itu terlalu biasa!” Ken menggelengkan kepalanya.
“Maksudmu kau mau bertaruh apa?”
“Aku tahu kau mengincar satu lokasi pasarku, aku mempertaruhkan itu!”
Tentu saja ucapannya Ken itu membuat orang yang mendengarnya terkejut dan menatap meja mereka, bahkan orang-orang mulai meninggalkan mejanya dan ikut berkumpul mengelilingi mejanya Jeremy dan Ken karena Ken bertaruh sangat besar.
“Kau ingin mempertaruhkan satu lokasi pasarmu? Tapi aku tidak berminat melepaskan salah satu lokasi pasarku!” kata Jeremy.
Ken menggelengkan kepalanya menatap Jeremy.
“Tidak, bukan itu yang aku inginkan, kau tidak mungkin melepaskan kota itu aku tahu, kau hanya cukup mempertaruhkan istrimu padaku! Kau kalah, berikan istrimu untuk jadi mainanku!” ucap Ken membuat Jeremy terkejut.
Evelyn tidak mengerti pembicaraan mereka tapi dia mengerti kata your wife yang diucapkan Ken, wajahnya langsung pucat dirinya dibawa-bawa dalam percakapan itu. Apakah Jeremy menjualnya?
__ADS_1
Seketika suasana menjadi hening menunggu persetujuannya Jeremy. Wajah Jeremy langsung memerah, dia tidak menyangka kalau ken malah ingin mempertaruhkan istrinya dengan satu lokasi pasar yang Ken kuasai dan lokasi itu sangat menguntungkan untuk bisnisnya.
*******