Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-32 Selena Keluar dari Rumah Jeremy


__ADS_3

Mobil berhenti dihalaman teras rumah bercat putih yang megah. Sudah dipastikan rumah megah berada di Hongkong itu pasti harganya sangat Fantastic. Evelyn tidak menyangka kalau Jeremy anak berandalan yang kabur dari rumah itu itu begitu kaya.  Sebenarnya dalam hatinya dia merasa penasaran apa yang terjadi pada Jeremy sampai menjadi mafia di Hongkong.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa kau pergi dari rumah Pak Kades malah jadi tinggal di Hongkong?” tanya Evelyn saat mobil berhenti, menoleh pada pria disampingnya.


“Kau itu terlalu banyak bertanya hal yang tidak penting!” Jeremy menjawab ketus.


“Kau pergi dari remajakan? Mana mungkin anak kecil bisa tinggal di Hongkong? Kalau kau ikut geng motor apa langsung bisa pergi ke Hongkong?”


Evelyn masih saja bertanya saking penasarannya. Jeremy akhirnya menoleh padanya dan menatapnya.


“Aku dipungut seorang mafia dari Hongkong, karena aku tidak sudah  membunuh orang yang akan membunuhnya!” jawab Jeremy.


Mendengarnya sungguh membuat Evelyn terkejut, pria yang dinikahinya seorang pembunuh? Tubuhnya langsung tegang, bibirnya kelu, jantungnya berhenti berdetak, anak remaja sudah membunuh? Dia hanya bisa menatap Jeremy yang keluar dari mobil.


“Kau tidak akan turun?” terdengar suara Jeremy yang pergi menjauh. Evelyn masih diam membisu, tiba-tiba pria itu melongokkan kepalanya kedalam mobil menatapnya.


“Sudah aku katakan, jangan banyak bertanya. Kau jaga saja bayiku,” ucapnya, sambil tangannya menyentuh perutnya Evelyn lalu menjauh lagi.


Bagaimana Evelyn tidak shock, dia menikahi seorang pria yang sudah membunuh orang saat remaja? Apa itu tidak sangat menakutkan? Setelah menenangkan dirinya sebentar barulah Evelyn turun menyusul Jeremy yang menaiki tangga teras rumahnya.


Mendengar suara sepatunya evelyn mengikuti, pria itu membalikkan badannya menoleh kearahnya.


Setelah sampai didepannya, Evelyn masih menatap Jeremy, dia menjadi shock dengan statusnya Jeremy.


Kedua tangannya Jeremy mengulur ke lehernya, Evelyn langsung mundur saja, apa pria itu akan mencekik lehernya?


“Kau ini kenapa?” tanya Jeremy, melangkah maju dan tangan itu meraih selimut yang mengaantung di bahunya Evelyn lalu merapatkannya.


“Disini cuacanya sering berubah ekstrim, jaga tubuhmu supaya tetap hangat!” ucapnya.


Ucapan yang terasa begitu menyejukkan terdengar di telinganya Evelyn, apa itu ucapan seorang pria yang pernah membunuh?


Evelyn melangkahkan kakinya dengan ragu, dia merasa takut saja mengetahui apa yang  dilakukan Jeremy dulu, dia fikiar Jeremy hanya anak berandal yang salah pergaulan, tapi ternyata pria itu pernah membunuh orang? Sungguh sangat menakutkan.


Begitu sampai diruang tamu, perasaannya langsung berkecamuk antara marah dan sedih juga kecewa, ternyata kejadian dulu saat Jeremy membawanya ke rumahnya kini pemandangan itu terulang lagi, dia melihat Selena yang menyambut Jeremy dan langkah wanita itu terhenti saat melihatnya. Dan seperti waktu itu wanita itu langsung memeluk Jeremy.


“Apa kau tidak tahu berpisah beberapa hari saja rasanya aku sudah merindukanmu!” ucap Selena, memberikan ciuman di bibirnya Jeremy, bukan ciuman lagi, wanita itu mencium Jeremy lebih dari sekedar ciuman biasa, ciuman yang bisa membuat pria bergairah.


Rasa sakit dihati Evelyn sekarang terasa berlipat-lipat dari dulu, karena dia sedang mengandung bayinya Jeremy sekarang dan kondisi suaminya sama sekali tidak ada perubahan.


“Hanya beberapa hari,” ucap Jeremy, yang tidak pernah menolak diperlakukan semesra itu oleh Selena.


Selena melap bibirnya Jeremy yang terkena lipstiknya, matanya melirik pada Evelyn yang memandang mereka, mematung menahan rasa sakit hatinya. Ini alasan kenapa dia tidak mau ikut Jeremy ke Hongkong!


“Ternyata kau tidak sendiri?” Selena menoleh pada Evelyn, lalu menoleh pada koper-koper yang dibawa oleh Bibi yang bekerja di rumahnya Jeremy.


“Mau kau simpan dimana koper itu?” tanya Selena pada Bibi.

__ADS_1


Bibi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jeremy. Selena juga langsung menoleh pada pria itu.


“Jeremy kau tidak menyuruh wanita ini tidur dikamar kita kan?”


Pertanyaan Selena sungguh membuat Evelyn semakin sakit hati, dia menatap Jeremy, dia ingin tahu apa jawaban Jeremy. Ternyata pria itu menoleh padanya.


“Kau boleh memilih kamar yang kau suka, ada Selena di kamarku!” ucap Jeremy dengan enteng, membuat Selena tersenyum senang mendengarnya.


Jeremy akan beranjak pergi tapi terhenti saat Evelyn bicara.


“Aku bersusah payah mengandung anakmu dan kau tega menyakitiku? Aku lebih baik pergi dan tidak bertemu denganmu lagi daripada aku harus serumah dengan wanita ini yang tidur di kamar suamiku!” kata Evelyn, menahan rasa sesak di dadanya.


Jeremy terkejut mendengar perkataannya Evelyn. Wanita itu menoleh pada Bibi.


“Kopernya bawa lagi keluar, kita cari tempat tidur diluar, aku akan telpon taxi!” Evelyn membalikkan badannya akan pergi begitu juga dengan Jeremy langsung membalikkan badannya menatap punggung Evelyn.


“Kau mau kemana?” tanyanya.


Evelyn tidak menjawab, sesak rasanya dadanya melihat situasi yang seperti ini terus, dia ingin menjalani kehidupannya dengan damai. Dia juga sudah memutuskan untuk pergi kenapa Jeremy malah mencarinya.


“Kau tidak boleh pergi!” cegah Jeremy.


“Apa kau mau melihatku menjadi mayat dirumah ini?” tanya Evelyn tanpa menoleh.


Tentu saja Jeremy kaget mendengar perkataannya Evelyn itu, dia juga mengkhawatirkan bayinya.


“Jadi apa yang kau inginkan?” tanya Jeremy.


Baru juga beberapa langkah terdengar suara Jeremy bicara,“Kau tidak perlu pergi, biar Selena yang keluar!” Perkataan itu membuat Evelyn menghentikan langkahnya.


Tentu saja Selena terkejut mendengarnya, diapun menatap Jeremy dengan tajam, merasa tidak percaya Jeremy akan bicara seperti itu.


“Kau yang keluar!” kata Jeremy.


“Tapi…”


“Istriku sedang hamil, aku tidak mau terjadi apa-apa padanya!”


Selena menatap Jeremy dengan berjuta sakit dihatinya, ternyata Jeremy bisa  seenaknya mengusirnya.


“Kau, kau tega mengusirku?” Selena masih tidak percaya dengan pendengarannya.


“Kau tidak perlu khawatir aku tetap membayarmu full,” jawab Jeremy.


Tidak ada yang bisa Selena katakan  lagi, dia ingin marah tapi dia tahu seperti apa Jeremy, pria itu hanya membayarnya seharusnya dia melayaninya jangan pakai hati, tapi bagaimana dia tidak jatuh cinta pada pria itu? Pria itu lebih baik dari pria-pria yang memakai jasanya.


Sekarang  hatinya begitu sakit diperlakukan Jeremy seperti ini, dia memang dibayar oleh pri itu tapi dia juga mencintainya, pengusiran ini begitu memebekaskan luka yang dalam dihatinya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Selena beranjak masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


Jeremy menoleh pada  Evelyn.


“Ayo masuklah!” ajaknya.


“Aku tidak mau tidur ditempat kau tidur dengan wanita itu!” ucap Evelyn tanpa membalikkan badannya, dia merasa jijik tidur di tempat tidur yang digunakan suaminya dengan wanita lain.


Jeremy menghela nafas lagi.


“Baiklah kalau itu maumu!” ucapnya lalu berteriak memanggil seseorang, dan seseorang itu segera datang, seorang pria yang usianya mungkin tidak jauh dari Jeremy tapi berkulit pucat.


“Ganti tempat tidur dikamarku dengan yang baru! Sprei juga selimutnya!” perintahnya.


“Sekarang Pak?” tanyanya dalam bahasa Inggris.


“Sekarang! Istriku harus beristirahat!” ucap Jeremy.


“Baik!”  Pria itu segera masuk ke dalam rumah.


Terdengar suara langkah-langkah kaki yang masuk keruang tamu itu, ternyata Selena dengan membawa kopernya.


“Aku akan transfer segera!” kata Jeremy.


Selena tidak menjawab, bukan itu saja yang diinginkannya, dia ingin tinggal bersama Jeremy, ingin menjadi yang spesial bagi Jeremy selamanya bukan hanya untuk sesekali menemaninya di tempat tidur saja.


Selena menarik kopernya berhenti dekat Evelyn.


“Kau tahu, kau akan menerima balasan atas apa yang kau lakukan  padaku!” ancamnya lalu segera keluar membawa kopernya.


Di teras dia bertemu dengan Ryan yang sedari tadi hanya menonton kejadian itu.


“Aku akan mencarikanmu hotel!” kata Ryan.


“Tidak usah!” jawab Selena terus berjalan bahkan melirikpun tidak pada Ryan. Tangannya merogoh ponsel yang ada di tasnya lalu menelpon taxi.


Ryan hanya menatap kepergiannya,  sudah diperlakukan seperti ini oleh Jeremy, tapi Selena masih saja wanita itu jual mahal padanya, membuat hatinya semakin terobsesi untuk mendapatkannya, hatinya sangat penasaran ingin diperlakukan sama seperti Jeremy oleh  Selena.


Wanita itu terus menolaknya karena dia tidak berkuasa seperti Jeremy, padahal dia juga bisa membayar mahal kalau Selena mau menjadi kekasihnya.


Tiba-tiba terdengar suara Jeremy memanggilnya, Ryan pun masuk kedalam.


Jeremy menoleh pada Evelyn.


“Tempat tidurnya akan diganti, kalau kau mau istirahat kau bisa pakai kamar yang kosong dulu, biar Bibi yang membantumu!” Tanpa menunggu jawaban dari Evelyn, Jeremy melangkahkan kakinya masuk ke ruamh diidkitu oleh Ryan.


Sejuta iri menumpuk dihatinya Ryan pada Jeremy, entah apa kelebihan Jeremy dimata Selena sampai Selena sedikitpun tidak mau jauh pada Jeremy, padahal dia tahu banyak pria kaya yang bisa membayar Selena.


Evelyn  merasa lega setelah Selena pergi, diapun duduk dikursi itu dengan lesu. Ini yang tidak dia inginkan jika ikut dengan Jeremy, dia merasa tidak bisa merubah sikapnya Jeremy.

__ADS_1


Mungkin kalau Jeremy mencintainya dia akan lebih peka dan menghargai perasaannya tapi semua itu hanyalah mimpi, pria itu seperti tidak punya rasa cinta sedikitpun padanya.


******


__ADS_2