
Jeremy
menatap Evelyn yang menoleh kesamping tidak mau melihatnya. Menatap wajah yang
sekian lama dirindukannya. Tubuhnya yang menempel padanya karena dia memegang
tangannya dan memeluk pinggangnya membuat jantungnya berdebar kencang.
Sekian lama
tidak menyentuh wanita itu membuat pikirannya traveling kemana-mana. Tangannya
meremas pinggang wanita itu dengan kuat.
“Lepaskan
aku!” pinta Evelyn.
“Apa kau
tidak merindukanku?”
“Kita sudah
bercerai tidak perlu membicarakan itu.”
“Tapi aku
merindukanmu.”
“Mana
proposalnya? Aku harus kembali ke ruang workshop.”
Jeremy masih
tidak mau melepaskan Evelyn. Mantan istrinya itu terlihat berkeringat, terlihat
sangat gelisah.
Jeremy
merasa bingung dengan sikap Evelyn yang masih menolaknya. “Aku ingin bertemu
Ayres.”
“Sudah aku
katakan, Ayres tidak boleh tahu tentang kau. Dia tahunya Ayahnya sudah meninggal.”
Jeremy menatap
tajam Evelyn. “Kau setega itu mengatakannya.”
“Untuk
keselamatannya, aku melakukan itu.”
“Tapi aku
sudah tidak berurusan lagi dengan duniaku yang dulu. Aku mengurus perusahaanku
ini, aku sudah tidak berbisnis illegal lagi. Kalian aman bersamaku.”
Evelyn
terdiam.
“Aku berkata
jujur, kembalilah padaku. Kita mulai hidup baru. Tidak akan terjadi apa-apa
pada kalian berdua. Percayalah. Aku sudah lepas dari duniaku yang lama.” Jeremy
mencoba untuk meyakinkan Evelyn.
Wanita itu
masih diam.
“Aku tidak
bisa melupakan kalian berdua. Aku menyayangi kalian berdua. Sekarang keadaannya
sudah berubah, kalian aman bersamaku.”
Dengan ragu
Evelyn menatap Jeremy. “Ya, Sayang. Kita bersama lagi?”
“Aku tidak
bisa.” Evelyn menggeleng.
“Tidak bisa?
Kenapa? Kau pacaran dengan bosmu itu?” bentak Jeremy, langsung saja naik darah.
“Bukan,
bukan itu.”
“Tidak perlu
berbohong, jelas terlihat pria itu sangat perhatian padamu. Hubungan kalian bukan
hanya sekedar sekretaris dan atasan, iya kan?”
“Tidak,
tidak seperti itu!” Evelyn menggeleng, dia malah menjadi cemas Jeremy berpikir
begitu karena takut pria itu akan mencelakai Pak Enzi.
“Pria itu harus
tahu kalau aku adalah suamimu, kita sudah punya anak. Aku harus bicara
dengannya.”
Jeremy langsung
melepaskan tangannya Evelyn, akan beranjak tapi mantan istrinya itu memegang
tangannya.
“Jeremy,
jangan! Kau tidak perlu bicara begitu! Kau bukan suamiku, tapi mantan suamiku.”
Sekarang malah Evelyn yang memegang tangannya Jeremy.
__ADS_1
Pria itu
menghentikan langkahnya, menghadap Evelyn.
“Kau bukan suamiku, tapi mantan suamiku, kita tidak
ada hubungan apa-apa, tidak ada yang bisa kau jelaskan pada Pak Enzi. Lagipula
aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.”
“Kalau
begitu kita menikah lagi, kita tinggal bersama lagi. Aku sudah membuatkan kamar
untuk Ayres, juga taman bermain, pulanglah ke rumah kita, kita jemput Ayres.”
Jeremy kembali memegang tangannya Evelyn.
“Tidak
Jeremy, kita tidak bisa bersama lagi. Aku sudah memutuskan tidak akan
berhubungan denganmu lagi. Aku trauma bersamamu! Aku takut putraku akan tersakiti!”
“Sayang, aku
sudah berubah, aku sudah katakan jadi, aku tidak berbisnis illegal lagi.” Kedua
tangan Jeremy memegang pipinya Evelyn.
“Sayang, kita
berpisah sudah cukup lama dan aku tidak bisa melupakanmu, aku masih ingin
bersamamu dan Ayres. Kembalilah padaku.”
“Tidak
Jeremy, aku tidak bisa, aku minta maaf, tidak bisa.” Mata Evelyn kembali memerah
dan tergenang airmata.
Jeremy
terdiam, sepertinya meskipun sudah bertahun tahun berpisah, Evelyn tidak pernah
melupakan apa yang sudah terjadi.
“Kenapa
hubungan kita sesulit ini? Aku tahu kau juga merindukanku kan?”
“Karena ini
adalah yang terbaik buat kita semua, terutama Ayres.”
“Kau tidak
percaya aku akan menjaga kalian?”
“Aku hanya
takut saja…”
Jeremy
menempelkan keningnya ke keningnya Evelyn. “Aku kecewa kau bicara begitu,”
Ditatap lagi
wajah yang semakin memerah itu dan airmata jatuh kepipinya Evelyn.
“Aku sudah
berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Ternyata aku bukan pria yang suka
beristri banyak. Sangat sulit melupakan istri sendiri daripada melupakan banyak
wanita lain meskipun lebih dari segala-galanya.”
Mendengar
keluhan Jeremy membuat hati Evelyn rasanya seperti tersayat-sayat. Sebenarnya
tidak ada pasangan suami istri yang ingin pernikahannya hancur apalagi sudah memiliki
keturunan, begitupun dirinya. Diapun menunduk menghapus airmatanya. Lima tahun
berlalu sedikitpun tidak pernah membuka hatinya untuk pria lain. Dia hanya
bekerja untuk mencukupi kebutuhan putranya.
“Malam ini
kau masih menginap disini?” tanya Jeremy.
Evelyn
mengangguk. “Aku besok pulang.”
“Aku tiba-tiba
saja ingin melihat putraku, kau punya fotonya kan? Aku ingin melihatnya.”
Evelyn
terdiam.
“Tolonglah.
Sebenarnya aku bisa saja mengambil gambarnya diam-diam, tapi aku tahan. Tapi
sekarang rasanya aku tidak tahan lagi ingin melihatnya. Apa dia mirip denganku?”
Evelyn terdiam,
dia takut Jeremy akan mengambil anaknya.
“Sayang, aku
Ayahnya, bukankah aku juga berhak melihatnya? Saat aku pergi dia belum membuka
matanya, pasti dia sangat tampan kan?”
Tangan
Jeremy menggoyang-goyangkan bahunya Evelyn yang masih diam mematung. Wanita itu
mengangkat wajahnya menatapnya.
“Aku
__ADS_1
Ayahnya. Biarkan aku melihatnya. Tidak, aku tidak akan mengambilnya darimu, tidak,
aku janji.”
Evelyn berjalan
ke tempat tidur lalu duduk disana, mengeluarkan ponsel dari tasnya. Jeremy segera
duduk disampingnya.
Dengan ragu,
Evelyn membuka ponselnya, membuka gallery, mengulurkan ponselnya pada Jeremy
yang langsung menerimanya.
Dilihatnya
bocah lima tahun itu. Senyum tersungging di bibirnya. Tangannya menyentuh wajah
anak itu.
“Dia sangat
tampan dan lucu.” Jarinya menyusuri wajah Ayres.
“Ya, dia
mirip denganmu, sangat keras kepala.”
Jeremy melihat
lagi foto-foto yang lainnya, lama semakin lama perasaannya semakin tidak
terkendali, dia sangat ingin melihatnya, memilikinya. Hidup sendiri ternyata
tidak menyenangkan. Dia ingin selalu melihat Ayres. Dia sudah membuatkan taman
untuk putranya bermain.
“Aku terlalu
lama pergi, aku harus kembali.” Tangan Evelyn mengulur mengambil ponsel yang
ada ditangan Jeremy.
Pria itu
hanya bisa menatap ponsel itu kembali masuk tasnya Evelyn.
“Mana
proposal itu? Aku harus kembali.”
Jeremy segera
bangun, lalu mengambil berkas diatas nakas dekat tempat tidur, lalu diberikan
pada Evelyn.
“Ini hanya
berlaku untuk yang berdomisili di ibukota.”
“Tunggu,
tunggu, maksudmu apa harus berdomisili di ibukota? Kantor tempatku bekerja, tidak
berada disini.”
“Kalau
begitu bukalah kantor cabang disini.”
Evelyn
menggeleng, lalu kembali menatap Jeremy. “Kau sengaja melakukan ini supaya aku
pindah ke ibukota?”
“Aku tidak berkata
begitu. Tapi itu persyaratannya, jika tidak, batal.”
Evelyn
melongo mendengarnya. “Kau membuat aturan seenaknya sendiri. Aku tidak bisa bekerja
di Ibukota, bagaimana dengan anakku?”
“Kau bisa
membawanya, kau bisa mengontrak rumah yang dekat dengan kantormu.”
Evelyn
terdiam, kembali mematung masih dengan berkas ditangannya. “Kau, keterlaluan. Bilang
saja kau tidak mau bekerja sama.”
“Itu
persyaratannya, harus ada Kerjasama eksklusif. Ada banyak tawaran Kerjasama dari
perusahaanku, aku rasa bosmu akan tertarik.”
“Itu sama saja
membuatku harus terus berhubungan denganmu.”
Jeremy
langsung tersenyum. “Memang itu yang aku mau.”
Evelyn
memberengut, lalu akan pergi tapi tangannya kembali ditarik Jeremy, membuat tubuh
Evelyn menghadapnya. Satu tangan pria itu langsung memeluk pinggangnya, dalam
beberapa detik, Evelyn merasakan bibirnya berada diantara bibir pria itu.
Jeremy menciumnya.
***
AN : Bagi yang masih ada waktu baca-baca, Mampir juga ke karya temanku ya.
judulnya GARA GARA KTP karya Anindya07
terimakasih.
__ADS_1