Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-63 Jeremy Melihat Foto Ayres


__ADS_3

Jeremy


menatap Evelyn yang menoleh kesamping tidak mau melihatnya. Menatap wajah yang


sekian lama dirindukannya. Tubuhnya yang menempel padanya karena dia memegang


tangannya dan memeluk pinggangnya membuat jantungnya berdebar kencang.


Sekian lama


tidak menyentuh wanita itu membuat pikirannya traveling kemana-mana. Tangannya


meremas pinggang wanita itu dengan kuat.


“Lepaskan


aku!” pinta Evelyn.


“Apa kau


tidak merindukanku?”


“Kita sudah


bercerai tidak perlu membicarakan itu.”


“Tapi aku


merindukanmu.”


“Mana


proposalnya? Aku harus kembali ke ruang workshop.”


Jeremy masih


tidak mau melepaskan Evelyn. Mantan istrinya itu terlihat berkeringat, terlihat


sangat gelisah.


Jeremy


merasa bingung dengan sikap Evelyn yang masih menolaknya. “Aku ingin bertemu


Ayres.”


“Sudah aku


katakan, Ayres tidak boleh tahu tentang kau. Dia tahunya Ayahnya sudah meninggal.”


Jeremy menatap


tajam Evelyn. “Kau setega itu mengatakannya.”


“Untuk


keselamatannya, aku melakukan itu.”


“Tapi aku


sudah tidak berurusan lagi dengan duniaku yang dulu. Aku mengurus perusahaanku


ini, aku sudah tidak berbisnis illegal lagi. Kalian aman bersamaku.”


Evelyn


terdiam.


“Aku berkata


jujur, kembalilah padaku. Kita mulai hidup baru. Tidak akan terjadi apa-apa


pada kalian berdua. Percayalah. Aku sudah lepas dari duniaku yang lama.” Jeremy


mencoba untuk meyakinkan Evelyn.


Wanita itu


masih diam.


“Aku tidak


bisa melupakan kalian berdua. Aku menyayangi kalian berdua. Sekarang keadaannya


sudah berubah, kalian aman bersamaku.”


Dengan ragu


Evelyn menatap Jeremy. “Ya, Sayang. Kita bersama lagi?”


“Aku tidak


bisa.” Evelyn menggeleng.


“Tidak bisa?


Kenapa? Kau pacaran dengan bosmu itu?” bentak Jeremy, langsung saja naik darah.


“Bukan,


bukan itu.”


“Tidak perlu


berbohong, jelas terlihat pria itu sangat perhatian padamu. Hubungan kalian bukan


hanya sekedar sekretaris dan atasan, iya kan?”


“Tidak,


tidak seperti itu!” Evelyn menggeleng, dia malah menjadi cemas Jeremy berpikir


begitu karena takut pria itu akan mencelakai Pak Enzi.


“Pria itu harus


tahu kalau aku adalah suamimu, kita sudah punya anak. Aku harus bicara


dengannya.”


Jeremy langsung


melepaskan tangannya Evelyn, akan beranjak tapi mantan istrinya itu memegang


tangannya.


“Jeremy,


jangan! Kau tidak perlu bicara begitu! Kau bukan suamiku, tapi mantan suamiku.”


Sekarang malah Evelyn yang memegang tangannya Jeremy.

__ADS_1


Pria itu


menghentikan langkahnya, menghadap Evelyn.


“Kau  bukan suamiku, tapi mantan suamiku, kita tidak


ada hubungan apa-apa, tidak ada yang bisa kau jelaskan pada Pak Enzi. Lagipula


aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.”


“Kalau


begitu kita menikah lagi, kita tinggal bersama lagi. Aku sudah membuatkan kamar


untuk Ayres, juga taman bermain, pulanglah ke rumah kita, kita jemput Ayres.”


Jeremy kembali memegang tangannya Evelyn.


“Tidak


Jeremy, kita tidak bisa bersama lagi. Aku sudah memutuskan tidak akan


berhubungan denganmu lagi. Aku trauma bersamamu! Aku takut putraku akan tersakiti!”


“Sayang, aku


sudah berubah, aku sudah katakan jadi, aku tidak berbisnis illegal lagi.” Kedua


tangan Jeremy memegang pipinya Evelyn.


“Sayang, kita


berpisah sudah cukup lama dan aku tidak bisa melupakanmu, aku masih ingin


bersamamu dan Ayres. Kembalilah padaku.”


“Tidak


Jeremy, aku tidak bisa, aku minta maaf, tidak bisa.” Mata Evelyn kembali memerah


dan tergenang airmata.


Jeremy


terdiam, sepertinya meskipun sudah bertahun tahun berpisah, Evelyn tidak pernah


melupakan apa yang sudah terjadi.


“Kenapa


hubungan kita sesulit ini? Aku tahu kau juga merindukanku kan?”


“Karena ini


adalah yang terbaik buat kita semua, terutama Ayres.”


“Kau tidak


percaya aku akan menjaga kalian?”


“Aku hanya


takut saja…”


Jeremy


menempelkan keningnya ke keningnya Evelyn. “Aku kecewa kau bicara begitu,”


Ditatap lagi


wajah yang semakin memerah itu dan airmata jatuh kepipinya Evelyn.


“Aku sudah


berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Ternyata aku bukan pria yang suka


beristri banyak. Sangat sulit melupakan istri sendiri daripada melupakan banyak


wanita lain meskipun lebih dari segala-galanya.”


Mendengar


keluhan Jeremy membuat hati Evelyn rasanya seperti tersayat-sayat. Sebenarnya


tidak ada pasangan suami istri yang ingin pernikahannya hancur apalagi sudah memiliki


keturunan, begitupun dirinya. Diapun menunduk menghapus airmatanya. Lima tahun


berlalu sedikitpun tidak pernah membuka hatinya untuk pria lain. Dia hanya


bekerja untuk mencukupi kebutuhan putranya.


“Malam ini


kau masih menginap disini?” tanya Jeremy.


Evelyn


mengangguk. “Aku besok pulang.”


“Aku tiba-tiba


saja ingin melihat putraku, kau punya fotonya kan? Aku ingin melihatnya.”


Evelyn


terdiam.


“Tolonglah.


Sebenarnya aku bisa saja mengambil gambarnya diam-diam, tapi aku tahan. Tapi


sekarang rasanya aku tidak tahan lagi ingin melihatnya. Apa dia mirip denganku?”


Evelyn terdiam,


dia takut Jeremy akan mengambil anaknya.


“Sayang, aku


Ayahnya, bukankah aku juga berhak melihatnya? Saat aku pergi dia belum membuka


matanya, pasti dia sangat tampan kan?”


Tangan


Jeremy menggoyang-goyangkan bahunya Evelyn yang masih diam mematung. Wanita itu


mengangkat wajahnya menatapnya.


“Aku

__ADS_1


Ayahnya. Biarkan aku melihatnya. Tidak, aku tidak akan mengambilnya darimu, tidak,


aku janji.”


Evelyn berjalan


ke tempat tidur lalu duduk disana, mengeluarkan ponsel dari tasnya. Jeremy segera


duduk disampingnya.


Dengan ragu,


Evelyn membuka ponselnya, membuka gallery, mengulurkan ponselnya pada Jeremy


yang langsung menerimanya.


Dilihatnya


bocah lima tahun itu. Senyum tersungging di bibirnya. Tangannya menyentuh wajah


anak itu.


“Dia sangat


tampan dan lucu.” Jarinya menyusuri wajah Ayres.


“Ya, dia


mirip denganmu, sangat keras kepala.”


Jeremy melihat


lagi foto-foto yang lainnya, lama semakin lama perasaannya semakin tidak


terkendali, dia sangat ingin melihatnya, memilikinya. Hidup sendiri ternyata


tidak menyenangkan. Dia ingin selalu melihat Ayres. Dia sudah membuatkan taman


untuk putranya bermain.


“Aku terlalu


lama pergi, aku harus kembali.” Tangan Evelyn mengulur mengambil ponsel yang


ada ditangan Jeremy.


Pria itu


hanya bisa menatap ponsel itu kembali masuk tasnya Evelyn.


“Mana


proposal itu? Aku harus kembali.”


Jeremy segera


bangun, lalu mengambil berkas diatas nakas dekat tempat tidur, lalu diberikan


pada Evelyn.


“Ini hanya


berlaku untuk yang berdomisili di ibukota.”


“Tunggu,


tunggu, maksudmu apa harus berdomisili di ibukota? Kantor tempatku bekerja, tidak


berada disini.”


“Kalau


begitu bukalah kantor cabang disini.”


Evelyn


menggeleng, lalu kembali menatap Jeremy. “Kau sengaja melakukan ini supaya aku


pindah ke ibukota?”


“Aku tidak berkata


begitu. Tapi itu persyaratannya, jika tidak, batal.”


Evelyn


melongo mendengarnya. “Kau membuat aturan seenaknya sendiri. Aku tidak bisa bekerja


di Ibukota, bagaimana dengan anakku?”


“Kau bisa


membawanya, kau bisa mengontrak rumah yang dekat dengan kantormu.”


Evelyn


terdiam, kembali mematung masih dengan berkas ditangannya. “Kau, keterlaluan. Bilang


saja kau tidak mau bekerja sama.”


“Itu


persyaratannya, harus ada Kerjasama eksklusif. Ada banyak tawaran Kerjasama dari


perusahaanku, aku rasa bosmu akan tertarik.”


“Itu sama saja


membuatku harus terus berhubungan denganmu.”


Jeremy


langsung tersenyum. “Memang itu yang aku mau.”


Evelyn


memberengut, lalu akan pergi tapi tangannya kembali ditarik Jeremy, membuat tubuh


Evelyn menghadapnya. Satu tangan pria itu langsung memeluk pinggangnya, dalam


beberapa detik, Evelyn merasakan bibirnya berada diantara bibir pria itu.


Jeremy menciumnya.


***


AN : Bagi yang masih ada waktu baca-baca, Mampir juga ke karya temanku ya.


        judulnya GARA GARA KTP karya Anindya07


terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2