
Deg...
Pandangan Dyra terkunci pada mata tajam milik pelanggan itu.
Tatapan yang Dyra rindukan, pelukan yang dia harapkan ternyata kini telah hilang. Seakan menampar dirinya saat melihat Leonardo, mantannya bersama dengan wanita sewaan barunya. Dimana hati seorang Leonardo, setelah memutuskan dirinya secara sepihak? Dan kini kembali jalan dengan wanita sewaanya yang berbeda dari saat kemarin Dyra diputuskan.
Apakah ini alasannya Leo memutuskan dirinya?
Dyra segera menggelengkan kepalanya dan berpamit mengundurkan diri dari sana.
Leo yang melihat tatapan tersakiti milik Dyra pun merasa bersalah,tapi dirinya segera menepis rasa bersalah itu. Salah siapa diajak melakukan lebih tidak mau, pikir Leo.
Alleta orang yang menjadi teman kencan malam ini untuk Leonardo pun bertanya, "siapa bee?"
Leo menggelengkan kepalanya." Tidak bukan siapa-siapa,ayo kita makan." Alleta mengangguk dan mereka berdua menikmati makan yang tersaji didepannya dengan lahap seolah tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan Dyra yang berjalan dengan tatapan kosong kearah dapur. Masalah datang bertubi-tubi. Pertama saat diputuskan oleh Leo, saat dirinya mengetahui Leo selingkuh dan dirinya meminta Leo memutuskan selingkuhannya itu namun dengan tidak punya hati Leo lebih memilih selingkuhan itu dan memutuskan Dyra secara sepihak,dan parahnya selingkuhan saat itu berbeda lagi dengan orang yang saat ini Leo ajak kencan. Ternyata Leo suka bermain perempuan. Pikir Dyra.
Masalah datang kembali saat dirinya tidak terima dengan keputusan Leo dan pergi dengan pandangan kosong, menyandang tanpa melihat dan berakibat hampir tertabrak,dan untung ditolong oleh orang baik. Tapi ternyata tebakan orang baik itu sirna saat mengetahui dibalik sikap baiknya ada rencana tersembunyi. Membantu pengobatan adiknya namun dengan syarat yang ditentukan sedemikian rupa.
Dengan tatapan kosong Dyra melanjutkan berjalannya. Setelah sampai dapur, Dyra segera menetralkan wajahnya dan bekerja kembali sebelum suara panggilan dari arah pintu menginterupsinya.
"Apa anda yang bernama Dyra?" Seorang laki-laki tampan namun tetap tampan Damian. Badan tingginya itu terbalut dengan jas hitam dipadukan dengan kemeja outuh, terlihat sangat pas di badan kekar pria itu. Sepatu pantofel pun menjadi penambah kegagahannya.
"Iya,eh... bukanya tuan,temannya tuan pemilik restoran ini??" Tanya Dyra dan diangguki Jhon. " Iya benar. Bisakah anda ikut saya? Ini perintah dari atasan anda."
"Tapi saya sedang bekerja tuan..." Dyra bingung mau ikut namun bagaimana dengan pekerjaannya yang masih banyak.
"Itu biar jadi urusan saya, sekarang anda bergantilah pakaian dan ikut saya." Putus Jhon pergi kearah ruangan manajer dengan Dyra yang pergi kearah dapur mengambil baju dan menggantinya diruang ganti.
***
Dyra menatap gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan Xarles company.
"Mari nyonya." Jhon menggiring Dyra memasuki gedung utama Xarles company.
Banyak tatapan tak suka yang menatap Dirinya, bisikan-bisikan merendahkan milik pegawai pun terdengar berdengung ditelinga Dyra. Ada apakah Dengan penampilan ini, menurut Dirinya ini adalah penampilan sopan, dengan celana kulot jeans dan dipadukan dengan switer creamnya. Walau cuaca sedang panas terik tapi Dyra tidak lepas dengan switer ataupun hoodie,dirinya menyukai pakaian tebal itu hampir semua bajunya berupa sweater dan hodie. Skip.
Dyra semakin menundukkan wajahnya ketika mendengar salah satu pekerja berkata,"apakah dia salah satu ****** yang menemani tuan Damian?" Dyra menguatkan dirinya supaya tetap acuh pada bisikan itu.
Ricuhan itu terhenti dalam sekejap saat melihat tatapan tajam milik Jhon dan melihat keluarnya Damian dari arah lift khususnya.
"Saya tidak membayar kalian untuk berbicara!" Damian kembali berjalan kearah Jhon dan mengode dengan matanya,Jhon pun mengangguk."permisi tuan." Jhon pergi dan memanggil orang yang tadi sempat banyak omong,dan membawa kearah ruangan untuk memberi mereka peringatan.
"Ikuti saya!" Ucap Damian berjalan kearah mobilnya yang sudah terparkir rapih diikuti dengan Dyra yang kebingungan.
Didalam mobil terjadi kesunyian sepanjang jalan sampai pada tempat yang Damian tuju. Damian mengambil card identitas dan menempelkan terbukalah ruangan apartemen milik Damian.
Dyra yang sedari tadi diam mengikuti Damian pun ternganga melihat apartemen Damian yang sangat modern. Gaya Eropa sangat mendominasi ruangan itu, terlihat sangat nyaman bila ditempatinya. Dyra mengira apakah Damian sangat menyukai warna hitam? Sampai-sampai gaya apartemennya hampir dipenuhi dengan warna Drak hitam, dan kalau diingat-ingat saat dirinya bertemu dengan Damian,pasti baju hitam dan celana hitam yang akan dikenakan Damian. Mungkin memang benar dugaanku, batin Dyra.
"Sudah puas mengaguminya?" Tanya Damian yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
Dyra tak menjawab." Baiklah,saya memanggil anda kesini bukan untuk melihat anda diam berdiri disitu!" Kata Damian setelah lama saling berdiam namun Dnegan posisi Dyra berdiri bagai patung."duduklah. Saya akan membacakan isi surat perjanjian yang saat itu anda sepakati, apakah anda masih mengingatnya?" Ucap Damian memegang map berisikan dokumen yang telah Damian minta kepada Jhon untuk membuatkannya.
"Masih tuan." jawab Dyra duduk gelisah dikursi depan Damian duduk.
"Bacalah dengan seksama,setuju tak setuju kau harus menandatanganinya." Damian tersenyum miring.
Dengan tangan gemetar Dyra mengambil map dari Damian, ditengah fokus membacanya. Dyra berkata dalam hati. "Untuk apa aku membaca kalau ujung-ujungnya harus menandatanganinya walau aku tak setuju dengan isi ini."
Dyra membaca isi surat perjanjian dengan seksama.
poin pertama disitu tertuliskan perjanjian untuk Dyra menjadi istri Damian.
Poin kedua dalam perjanjian itu, jangan ikut campur urusan masing-masing walau kita sudah memiliki hubungan tertulis dari poin utama.
Poin ketiga, tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan kecuali pihak kedua keluarga atau kata lainnya tidak boleh di publiks.
Poin keempat, jangan ada perasaan dari kedua belah pihak.
Poin kelima, Dyra tidak boleh mengatur urusan hidup Damian,Tapi Damian akan mengatur semua hidup Dyra apapun keadaannya.
Poin ke enam, tidur harus satu kamar dan satu ranjang.
Poin ketujuh, Dyra harus mengasih hak sebagai istri kepada Damian, dan Damian juga harus memberikan nafkahnya.
Poin kedelapan, setelah mempunyai anak kita cerai dan Hak asuh jatuh ke Damian.
Dyra yang membaca poin kedelapan, dadanya sakit perasaannya bercampur aduk. Dirinya diperalat oleh Damian.
"Tuan bisakah poin kedelapan ini diubah? Bisakah suatu saat nanti hak asuh jatuh ke tangan saya tapi anda tetap bisa melihatnya apakah bisa tuan?" Tanya Dyra berharap dengan jawabnya Damian. Ia tak bisa berjauhan dengan anaknya suatu saat nanti, ia ingin mendampingi anaknya saat pertumbuhannya.
Damian bersidekap dada," tidak. Karena saya hanya butuh anak kamu bukan kehadiran kamu!" Dengan tak tahu perasaan Damian berkata dengan lantang mengatakan tidak.
Dyra terkekeh miris mendengar jawaban Damian."Saya akan mengembalikan semua uang yang anda pinjamkan tuan, saya tidak menerima perjanjian ini!" Dyra meletakkan map surat itu dengan kasar diatas meja dan berjalan kearah pintu.
Damian memutar kursi kerah pintu," apakah anda mau main-main heh?" Alis Damian terangkat dengan senyuman misteriusnya.
"Saya tidak terima tuan, anda menjadikan saya seperti ladang yang menghasilkan anak lalu anda akan membuangnya ketika sudah mendapatkan anak." Jawab Dyra yang tak ada kata takut, dirinya tak mau dipandang rendah. Inilah sifat asli dirinya, tak kenal dengan kata kalah ketika dirinya tidak salah.
Damian mengangguk lalu berdiri didepan Dyra. Dyra yang ditatap tajam pun mulai merasakan takut,aslinya dirinya tak seberani itu untuk bermain-main dengan atasnya ini."Baik, kalau mau anda seperti itu. Kembalikan uang yang saya pinjamkan dengan 3 kali lipatnya, dan anda saya pecat dari resto anda kerja." Damian membuka pintu dan masuk kedalam kamar pribadinya.
Mendengar jawaban Damian,Dyra membulatkan matanya shock. Apa-apaan 3 kali lipat? Dasar keparat! Dan apa lagi? Dirinya dipecat! Memang dasar manusia tak punya hati!
Dyra menggedor pintu kamar Damian dengan menempelkan telinganya dipintu,siapa tau Damian menjawabnya." Tuan, bisakah kita bicarakan lagi. Saya akan terima tawaran yang Tuan buat tapi aku mohon jangan jauhkan anak saya suatu saat nanti..." Tangan Dyra masih aktif menggedor pintu kamar.
Didalam Damian tersenyum,dia berjalan membuka pintunya. Alangkah terkejutnya saat badannya ditimpah badan Dyra diatasnya. "Akhh..."
Pandangan Dyra terpaku pada mata biru milik Damian, tatapan tajam yang Damian miliki seakan sirna ketika dilihat begitu dekat. Mata indah dengan bulu mata panjang, hidung bagai prosotan, alis tebal serta bibir seksi milik Damian terlihat sangat tampan. Rahang tegas membuat Damian terlihat berkali-kali lipat tampannya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Damian,mata mungil milik Dyra yang menatap dengan sayu terhiasi dengan bulu mata panjang nan lentik, tatapan Damian menurun kearah hidung,hidung mungil yang tidak terlalu mancung sangat pas diwajah Dyra, pipi yang aslinya chubby kini terlihat kurus, pandangan Damian kini semakin mrnurun, bibir tipis nan mungil kini membuat Damian tanpa sadar membawa wajahnya mendekat, cup.
Benda kenyal kini menempel diatas bibirnya, yang tadinya hanya menempel kini berangsur menjadi lumatan halus dan nyaman. Dyra yang tadinya sempat hampir menolak pun akhirnya mengikuti permainan bibir yang dilakukan Damian.
Decapan terdengar saat permainan Damian sudah mulai panas, lidah saling mereka berdua saling berbelit, rengkuhan Damian pada pinggang ramping Dyra pun semakin mengencang, Damian meremas pinggang Dyra dengan salah satu tangganya dan satu tangannya lagi memegang tengkuk Dyra untuk memperdalam permainannya.
Untuk menyalurkan kenikmatannya Dyra meremas rambut hitam Damian dengan lembut. Tangan Damian kini sudah mulai merambat masuk kedalam switer milik Dyra, Dyra yang kini mulai sadar dan kehabisan nafas pun menepuk-nepuk dan segera menjauh dari tubuh Damian.
Apa yang dia lakukan! Pikirannya menolak semua itu terjadi,tapi tubuhnya merespon baik kejadian tadi.
Damian berdiri dan mengusap area bibirnya, ada gelenyar aneh saat mencium bibir Dyra. Rasa manis mendominasi bibir Dyra, rasanya Damian ingin lagi dan lagi untuk menciumnya.
"Tanda tangan!" Dengan lemas dan tidak percaya akan hal tadi Dyra menerima surat dan Bulpoin itu dan menandatangani diatas materai 10.000.
"Tadi sangat enak!" Celetuk Damian yang membuat pipi Dyra memerah.
Dyra menunduk,"sialan." Gumam Dyra yang masih didengar oleh telinga Damian dan hanya senyum tipis yang Damian perlihatkan.
****
Beralih kepada Jesicca, yang saat ini sedang duduk disebuah club malam.
Jesicca duduk di salah satu meja dengan seorang pria yang berparas belasteran, Jesicca dengan senyum miringnya sedang merencanakan sesuatu yang licik untuk Damian supaya perjodohannya dengan damian tidak lah batal. Ya,setelah menerima ancaman kemarin malam Jesicca sedikit takut perjodohan nya akan batal secara cuma-cuma.
Jesicca benar-benar terobsesi menjadi nyonya Xarles. maka dari itu Jesicca akan menghalalkan segala cara supaya perjodohannya dengan damian akan tetap berlanjut dan terlaksana seperti recanah dirinya.
Tak lama Jesicca duduk, ada seorang pria yang memakai baju sebagai bartender datang dengan membawa 2 gelas dan 1 botol wine.
"Apakah kau yakin akan melakukannya Jes?" Tanya pria Tersebuat duduk di hadapan Jesicca dan menuangkan wine untuk Jesicca dan dirinya minum.
"Ehmm aku yakin malah sangat amat yakin," jawab Jessica sambil memeganggi segelas wine yang dituangkan pria itu.
"Ha kau tidak takut? keluarga Xarles bukan keluarga sembarangan,apa lagi Damian sudah jadi rahasia umum keluarga Xarles adalah keluarga turun menurun sebagai ketua mafia di baclak devils" ucap pria itu memperingti Jesicca dengan sebuah tindakan yang akan dilakukannya.
"makanya dari itu perjodohan ini jangan sampai batal." Jawab kekeh Jessica.
"kau benar-benar terobsesi sebagai nyonya Xarles rupanya," kekeh pria itu sambil meminum wine.
"sudahah diam,aku memang pantas jadi NYONYA DAMIAN XARLES hahahaahaha..." Tawa Jessica yang sudah mulai dalam pengaruh alkohol.
"kau benar-benar keras kepala," gumam pria tersebut sambil meliha Jesicca yang kini sudah bangkit dari bangku yang tadi duduki itu dan mendekati kerumunan orang yang sedang menari diiringi musik DJ dengan disinari cahaya kerlap-kerlip lampu disco.
sesampainya di kerumunan itu Jesicca langsung ikut berjoget dengan keadaan yang hampir mabuk, melihat jesicca yang meliuk-liukkan tubuhnya pria asing yang tertatik dengan tubuh Jessica pun menghampirinya dan ikut berjoget disamping Jessica.
Yang awalnya hanya ikut berjoget kini berubah menjadi ciuman panas pria itu dengan Jessica. Tanggan nakal pria itu kini meraba-raba tubuh jesicca dan memperdalam permainannya.
Dari arah lain Alister yang sedari tadi mendengar suara tak asing pun melihat belakang dirinya, Jessica!
Dengan seksama Alister mendengar semua yang di bicara kan jesicca dan pria asing tersebut.
Sambil duduk santai alister mengeluarkan hpnya dia bersiap menghubungi damian
"halo..."
"Damian,kau dimana?" Alister bertanya dan masih memantau Jessica yang saat ini pergi kebawah lampu disko dan berjoget.
"Dimarkas, ada apa?"
"Aku punya informasi untukmu." Dilihatnya Jessica yang tengah berciuman mesra, Alister mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tentang apa?"
"Jessica."
"Kutunggu!"
"ye ni manusia kulkas ucap salam ke apa ke ini maen di matiin hu dasar manusia kulkas 5 pintu." gerutu alister saat Damian memutus panggilan secara sepihak.
Dengan senyum miring alister melihat dua manusia yang tidak tau malunya bercumbu di tempat terbuka, Alister melihat jam dan memfoto adegan tak senonoh itu dan langsung bergegas meluncur ke markas, Alister sudah tidak sabar membaritahukan tentang Jesicca kepada Damian.
*SKIPP*
Sesampainya Alister dimarkas dengan langkah cepat Alister menuju ruangan Damian,sangkin tidak sabarnya Alister tidak menjawab sapaan amggota black devils
Brak...
"Damiannnnnnn!"
"berisikk!" Jujur Damian tegejolak kaget saat Alister membuka pintu dengan keras, untung saja tidak membuat dirinya mati!
"kau kenapa Al," tanya David dari arah kamar mandi rauangan itu.
Ya diruangan Damian ada David yang sedang membahas pengiriman untuk nanti malam.
"minum...minum aku butuh minum!" Alister menggambil minuman Damian dan meneguknya tak sabaran.
Ternyata sangking buru-burunya membuat Alister bodoh, Alister tidak menaiki lift dan memilih menggunakan tangga untuk menuju keruangan Damian yang ada dilantai 3,sangat bodoh sekali!
Selesai puas untuk minum Alister langsung menjatuhkan badannya di kursi kosong tepat di pinggir David
"cepatlah bicara, aku tidak punya banyak waktu," ucap Damian formal. Saat keadaan genting akan berucap formal namun ketika sedang santai akan berucap non-formal seperti saat mengeksekusi tawanannya.
"bentar woy engap plus capek!" Alister masih mengatur pernafasannya yang mulai teratur. Entahlah jiwa cool milik Alister seketika sirna dengan kegilaan saat ini.
David menggeplak keras punggung Alister dan mendapatkan pelototan tak terima dari empunya,"jangan mati dulu lah,banyak tugas nih nanti malem. Cepet cerita!" Kesal David.
Alister melotot tak terima dengan ucapan David dan akhirnya Alister menyeritakan semua kejadian yang dirinya lihat diclub tadi. Dari Alister yang melihat Jessica duduk dengan bartender, Jessica akan merencanakan segala sesuatu untuk mendapatkan Damian sampai Jessica mabuk dan bercumbu mesra bersama pria asing.
David yang mendengar cerita dari Alister bergidik ngeri namun beda dengan Damian,ia menyeringai sinis dan mengambil telponnya. "Jhon...kemarkas sekarang." Damian mematikan teleponnya sebelum Jhon menjawab apapun.
__ADS_1
Jhon yang mendapatkan telepon baru saja diangkat dan tiba2 dimatikan pun menggerutu kesal,"dasar Damian!." Kesal Jhon menyebut Damian tanpa embel-embel tuan, biarlah tak ada orangnya pun.
Alister dan David hanya melongo melihat Damian dengan seenak jidat memanggil namun langsung mematikannya. Mereka berdua geleng-geleng.
"Apa yang akan kau lakukan Dam?" David bertanya dengan nada serius. Tak ada lagi bahasa non formal, ketika mereka sudah menggunakan bahasa formal artinya mereka sudah serius dengan pembahasan.
Damian menyesap champagne-nya," lihat saya permainan ku kali ini..." Ucap Damian lirih namun dengan tekanan setiap katanya.
Alister menghelah nafas dan David mengangguk." Kita hanya bisa menggikuti rencanamu." Jawabnya Alister tak kalah sinis.
***
Tamara menghelah nafas jengah dengan mengaduk-aduk minuman yang dirinya pesan. Terhitung sudah 15menit dirinya dengan Dyra menunggu kedatangan orang yang mengajaknya untuk bertemu,namun sampai saat ini sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
Merasa sebal Tamara mendorong minuman ketengah dengan sebal."si kampret kemana sih! Janjian jam berapa sampe jam segini belum sampai. Memang kurang asem tuh anak!" Ucap Tamara berapi-api dengan wajah yang sudah jauh dari kata tenang.
Dyra menggembukan pipinya serta menarik nafasnya,"udah lah kita tunggu 5menit lagi kalau sampai tak datang, kita cabut aja."jawab Dyra melihat kearah pintu dengan gusar. Apakah ada apa-apa Clarissa dijalan?
"Awas aja Lo Ris, sampe sini gw pites-pites tuh jari!" Dyra terbahak-bahak melihat Tamara meremat-remat jari jemarinya sendiri.
Dyra dan Tamara menidurkan kepalanya di meja dengan beralaskan tangan, Tamara menyenderkan handphonenya di pot yang tertera nomor meja dengan wajah yang menghadap kearah jendela samping. Memang mereka bertiga menyukai tempat paling pojok dicafe langganan nya itu.
Dyra yang menghadap kearah pintu dan melihat kedatangan Clarissa pun berjingkat semangat dengan menggeplak-geplak pundak Tamara."Clarissa,tuh Clarissa bangun!" heboh Dyra.
"Awss,sabar anjir sakit banget bego!" Tamara mengelus lembut pundaknya dengan menatap tajam kearah Dyra. Dyra hanya menyengir dan meminta ampun.
"Hay..." Sapa Clarissa memeluk Tamara dan berpindah memeluk Dyra dengan lama.
Dyra dengan senang hati menerimanya dan mengelus lembut punggung Clarissa, Dyra tau pasti ada masalah dengan Clarissa.
Tamara yang tau raut wajah Clarissa tengah lelah pun duduk tanpa acara ngambek melihat Clarissa dengan erat memeluk Dyra. Dan memang faktanya Tamara sangat malas ketika ada acara peluk-pelukan seperti ini. Sangat risih walau itu dengan sahabatnya.
"Udah duduk yuk." Dyra mengajak Clarisa duduk di kursi sampingnya.
"Gue pesenin minum dulu." Ucap Tamara memanggil waiters dan memesankan minuman untuk mereka bertiga, pasalnya minuman yang sempat dirinya dengan Dyra pesan tadi sudah habis ludes diminumnya.
"Maaf udah nunggu lama tadi sempat macet." Ucap Clarissa cemberut dan diangguki merrka berdua.
"Kenapa Lo tumben ngajak nongkrong duluan?" Ucap Tamara yang masih ada nada-nada sebalnya.
Tamara menyengir, tapi ini kelihatan sangat berbeda."ya, gapapa lah gue pengen nongki aja...udah lama kita ga kumpul-kumpul gini semenjak pada kerja."
"Tapi aneh loh Clar, ga biasa-biasanya lu ngajak gini. Oh ya katanya mau ngomong tentang apa?" Sahut Dyra.
Clarissa menghela nafas berat, apa dirinya harus menceritakannya? Apa ini jalan terbaik? Tapi dirinya tak mau membuat para temannya kesusahan karena dirinya. Apa dirinya harus memberitahunya hanya tentang dirinya pergi dari rumah? Apa semuanya serta kerjadian yang dirinya alami. Ditengah gusarnya memikirkan itu semua, sang waiters datang membawakan pesanannya.
Clarissa mengambil lalu meminumnya,dia memejamkan matanya dan ya! Dirinya memutuskan untuk memberi tau hanya tentang kalau dirinya sudah keluar dari rumah ayahnya dan meminta tolong mencarikan apartemen untuk dirinya tempati.
"Udah sekarang ceritakan." Kata Tamara dan diangguki Dyra.
Clarissa akhirnya menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupannya, tentang ayahnya yang sudah berlaku kasar terhadap dirinya dari sepeninggal ibunya. Carissa pun menyeritakan tentang dirinya yang pergi dari rumah,dia ingin memulai hidupnya sendiri. Clarissa menyeritakan semuanya,namun Tanpa menyeritakan kejadian yang Dirinya alami kemarin malam.
"Lo kenapa ga ngomong sama gue si hah?" Tamara menatap sebal kearah Clarissa. Benar-benar cantik permainan Clarissa, dia menyembunyikan semuanya dengan apik dan rapih dari dirinya serta Dyra.
"Iya kenapa ga bilang sih kalau Lo diperlakukan gtu sama bokap Lo Clar...kita tuh dianggap apa si sama Lo sampai masalah sebesar ini lo ga ngasih tau kita?" Clarisa menatap sendu kerah Tamara serta Dyra, harus berterimakasih seperti apa lagi dirinya yang sudah memiliki teman sebaik mereka berdua.
"Maaf..."
Hanya kata maaf yang Clarissa bisa ucapkan,dia terisak kecil dengan sepontan Dyra memeluk erat tubuh Clarissa dan menenangkannya.
"Gapapa,tapi ingat kata kita jangan sungkan kalau ada apa-apa. Kabari kita kalau Lo butuh bantuan jangan kayak gini,kita itu keluarga!" Peringat Dyra yang masih mengelus-elus punggung Clarissa.
Clarissa melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya," Lo ga mau peluk gue Tam?" Ucap cemberut Clarissa.
"Ogah!" Tolak Tamara membuang muka namun dengan cepat segera memeluk Clarissa, kali ini dirinya harus merendahkan gengsinya tentang pelukan.
Clarissa yang mendapatkan pelukan dari Tamara pun segera memeluknya dengan erat, langka loh Tamara memeluk seperti ini.
"Wah soswetttt!!" Pekik Dyra menepuk tangan. Tamara segera melepaskan pelukannya. "Dih najis!" Rajuk Tamara dan dihadiahi tawa dari Dyra serta Clarissa.
"Hahaha...ulu-ulu anak ayah ngambek nih..." goda Clarissa yang sudah kembali ceria.
Tamara tersenyum melihat Clarissa sudah bercahaya kembali." Nyenyenye..."
"Oh ya, Lo tinggal di tempat gue aja clar gimana?" Tawar Dyra dan mendapatkan gelengan dari Clarissa.
"Gue ga mau ngerepotin kalian berdua, kalian cukup bantu temenin gue aja."
"Mending Lo ikut kerumah gue aja Ris, gimana?" Ucap Tamara. Tamara serta Dyra memang berbeda panggilan ketika memanggil Clarissa. Dyra memanggilnya dengan Clar dan dirinya memanggil dengan Ris.
"Ihh dibilang ga mau...maunya bantu cariin apartemen aja buat gue hidup." Clarissa menolak dengan nada rajuknya.
"Huft baiklah." Jawab Dyra.
"Nanti kita bantu nyari apartemennya."lanjutnya tanpa mencurigai ucapan Clarissa.
Mereka menikmati pertemuan kali ini dengan canda tawa dan pertengkaran yang menurutnya sangat lucu. Si tomboy yang tak mau mengalah dan si lemot yang lama menjawabnya sangat serasi bila di satukan.
"Eh oh...apa kata Lo Dyr?kalau ada apa-apa kabarin kita keluarga?" Tamara mengingat ucapan Dyra yang tadi sempat diucapkan kepada Clarissa.
"He em"
"Apa Lo ga salah ngucap tuh? Lo sendiri aja ga terbuka anjir sama kita-kita!" Tamara tersenyum miring.
"Eh eh ada apa nih! Emang Dyra ga ngomong soal apa?" Ucap Clarissa yang menurutnya dirinya sudah ketinggalan berita.
Dyra meringis mendengar ucapan dari Tamara dan mengerutkan bibirnya." Tidak Clar, hanya saja kemarin si Daren masuk rumah sakit dan sekarang udah sembuh karena sudah melakukan tindakan operasi waktu itu." Jelas Dyra
"Heh berita seperti itu apa kata Lo? Masalah kecil heh! Terus sekarang gimana udah baikan? Dan sembuh?!" Gertak Clarissa, Tamara hanya meminum minumannya mendengarkan percakapan temannya itu.
__ADS_1
"Udah kok Alhamdulillah udah sembuh sekarang tinggal pemulihan dan juga dan pulang,makanya nanti main ya kerumah!" Clarissa mengangguk dan melanjutkan bercandanya Sampai Selesai.