Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-72 Hanya Kau Ratuku Satu-satunya


__ADS_3

Jeremy masih


menatap Evelyn, berharap wanita itu akan setuju untuk rujuk dengannya.


“Tidak, aku


tidak mau.”


“Tapi Sayang,


aku harus membuktikan dengan apalagi?”


“Masalahnya


kau bukan Ayah yang baik.”


“Aku sudah


berubah, aku tidak lagi menjual barang illegal. Aku mengurus perusahaan


otomotifku, tidak yang aneh-aneh lagi, meskipun sebenarnya sangat melelahkan.”


Evelyn tidak


menjawab, hanya diam saja. Tidak mudah membiarkan pria itu kembali masuk


kedalam kehidupannya. Apalagi dia bertemu dengan Ryan, yang menyebalkan itu, kenapa


juga harus bertemu dengan orang-orang yang ingin dihindarinya.


“Tidak, masih


belum cukup. Kau belum benar-benar Ayah yang baik.”


Jeremy segera


bangun dan mendekati Evelyn. “Sayang, bisakah kita tidak perlu berdebat soal


Ayah yang baik? Aku memang buruk tapi aku Ayahnya Ayres, jangan menghakimi aku


seperti itu. Aku mau belajar jadi ayah yang baik.”


Evelyn menunduk


masih diam.


“Jangan


menyiksaku begitu. Lima tahun ini aku berusaha menjadi pria yang baik dan itu


tidak mudah, Sayang. Semua aku lakukan berharap kau akan kembali padaku membawa


anak kita. Meskipun sebenarnya aku takut kau sudah menikah lagi.”


“Evelyn, Sayang.


Jangan seperti itu padaku. Kehilanganmu dan Ayres sudah sangat menyakitiku.”


Barulah


Evelyn mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis. “Kalau mendengar kata-katamu


seakan kau benar-benar berjuang buatku dan Ayres. Tapi apa b uktinya? Kau


menyimpan Selena di rumah ini? Kau anggap apa aku? Kau bersama wanita lain


bersamaan dengan kau ada bersamaku dan Ayres. Apa itu namanya? Kau tidak


berubah. Kau juga menculikku seenaknya.”


“Aku


menculikmu karena mungkin Ryan yang akan melakukannya.”


“Apa?”


Evelyn terkejut bukan main.


“Ya, aku


tahu dia mengikutimu.”


Evelyn melongo


mendengarnya. “Ryan?Kau tahu Ryan? Bukannya kau sudah tidak berbisnis illegal lagi?


Kenapa kau masih berhubungan dengan Ryan?”


“Aku tidak


berhubungan dengan Ryan, tapi aku melihat dia membuntutimu sampai ke hotel. Mungkin


orang-orangnya masih mengira kau ada di hotel itu.”


“Aku menjadi


targetnya Ryan? Tapi untuk apa? Aku sudah bercerai denganmu, kan?”


“Karena kau


wanita yang tidak pernah aku berikan padanya.”


Evelyn langsung


mencibir dan menjauh dari Jeremy, berjalan menuju tempat tidurnya Ayres.


“Ini nih


yang tidak aku suka. Berhubungan denganmu membuat hidupku terancam. Aku harus


segera membawa Ayres pulang.” Evelyn duduk disamping Ayres.


“Tidak bisa,


kau dan Ayres akan tetap disini. Rumahku adalah tempat yang paling aman.”


“Aman tapi


memberi pengaruh buruk buat Ayres. Dia akan bertanya siapa Selena?”


“Aku memang sengaja


belum membebaskannya.”


“Membebaskan


apa?”


Jeremy


langsung mengulurkan tangannya.


“Mau apa?” Evelyn


menatap tangan itu lalu wajahnya Jeremy.


Marena


Evelyn yang lama tidak merespon, Jeremy langsung meraih tangannya dan


menariknya.


“Kau mau


membawaku kemana?”


“Bertemu


Selena.”


“Aku tidak


mau! Kau mau pamer kemesraanmu dengan wanita itu, begitu?”


Jeremy tidak


menjawab, hanya terus menarik tangannya Evelyn menuju kamar dimana Selena


berada.


“Buka


pintunya!”


Bodyguard


itu membuka pintu kamar itu.


Jeremy


menarik tangannya Evelyn masuk ke ruangan itu. Evelyn terkejut melihat Selena ada


di kamar itu.


“Jeremy!”


panggil Selena dan terkejut melihat dengan siapa Jeremy datang.


Wanita cantik


itu langsung menghentikan langkahnya.


“Jeremy,


apa-apaan ini?” Selena tidak suka melihat ada Evelyn di rumah itu.

__ADS_1


“Aku seharusnya


bertanya, kau sedang apa disini?” tanya Evelyn.


Selena langsung


tertawa. “Tidak salah? Bukannya kau sudah bercerai? Artinya Jeremy duda, dia


bebas dengan wanita manapun, kau tidak perlu sewot. Lagipula dari awal kau yang


datang merusak hubungan kami.”


Evelyn


merasa kesal dan sepertinya memang tidak ada gunanya juga dia bertengkar dengan


Selena. Dia akan pergi tapi tangannya dipegang Jeremy.


“Lepaskan!”


“Aku tidak


akan melepaskanmu!”


“Aku bukan


siapa-siapamu lagi.”


“Aku tidak


peduli, yang pasti aku tidak akan melepaskanmu!” teriak Jeremy dengan keras,


membuat Evelyn diam.


Selena


merasa sebal mendengar kata-katanya Jeremy.


“Aku tidak


masalah main bertiga,” ucap Selena.


“Apa?” Evelyn


terbelalak kaget.


“Gila! Dasar


wanita gila!” makinya, malah membuat Selena tertawa.


“Kau tidak


perlu marah, kita bisa mencobanya, benar, kan Sayang?” Selena mendekati Jeremy.


“Jangan


macam-macam denganku. Aku menahanmu untuk memintamu bicara pada Evelyn kalau kita


tidak pernah berhubungan lagi sejak kejadian itu.”


“Hah? Kau


menahanku hanya untuk mengatakan itu?” Selena geleng-geleng kepala.


“Aku hanya


ingin Evelyn tahu kalau dia satu-satunya ratu dalam hidupku. Tidak kau juga


wanita yang lain. Hanya dia.”


Evellyn yang


masih berdiri dibelakang Jeremy, tertegun mendengarnya.


“Kau pikir


aku bodoh? Buat apa aku mengatakan itu?”


Krek! Suara


itu membuat Evelyn juga Selena terkejut dan menatap kearaj Jeremy.


Selena langsung


memucat begitu juga Evelyn. Sebuah senjata sudah ditodongkan kearah Selena.


“Jeremy, kau


ini apa-apaan? Kau akan membunuhku?” tanya Selena.


“Katakan


atau aku menembakmu!”


Satu tangan


“Jeremy, kau


ini apa-apaan?”


“Aku hanya


ingin kau tahu aku tidak berbohong.”


“Tapi tidak


dengan seperti itu! Kau tidak boleh menembak sembarangan! Bukannya kau sudah berubah?”


“Tidak,


kalau berurusan dengan rubah betina.”


“Kau, kau


menyebutku rubah betina? Kau sangat keterlaluan!”


“Katakan


atau nyawamu melayang di tanganku.”


Krek! Terdengar


suara kekangan senjata api. Sepertinya Jeremy tidak main-main.


“Jeremy!”


Evelyn memegang tangan Jeremy, dia takut kejadian selanjutnya.


Wajah Selena


memucat. “Je..”


“Tiga!” Jeremy


tiba-tiba menghitung. Membuat Selena semakin tegang dan ketakutan.


“Jeremy


kau..”


“Dua!”


Selena


semakin mati kutu.


“Sa..”


“Oke aku bilang!”


teriak Selena, lalu menoleh pada Evelyn.


“Aku memang


baru datang lagi kesini, kemarin. Beberapa tahun ini aku tidak berhubungan lagi


dengan Jeremy. Dia benar, aku baru datang kesini.”


Evelyn


terdiam mendengarnya.


Selena


menoleh pada Jeremy. “Aku sudah mengatakannya, apa lagi?”


“Pergi dan


jangan pernah menggangguku lagi!” usir Jeremy.


“Jeremy, jangan


begitu! Aku sudah tidak punya uang, uangku habis untuk operasi plastic selama 5


tahun ini, aku ingin tubuhku kembali seperti semula.”


“Aku akan memberimu


uang yang terakhir kalinya, dan pergilah menjauh dariku untuk selamanya atau peluru


ini akan menembus tubuhmu.” Jeremy benar-benar tidak mau menurunkan senjatanya.


“Jeremy, kau


..”

__ADS_1


“Kau dengar


tidak?” bentak Jeremy dengan marah.


Dor! Sebuah


tembakan terdengar, membuat semua orang terkejut.


Selena


terkejut dan langsung pucat pasi saat melihat pas bunga disampingnya pecah


ditembak Jeremy.


Pria itu


mengalihkan senjatanya pada Selena.


“Jeremy, kau


sangat keterlaluan!”


“Kau yang


keterlaluan! Kau sekongkol dengan Ken akan menghancurkanku dan istriku. Aku hampir


mati dan istriku hampir ternoda. Seharusnya aku membunuhmu!” balas Jeremy.


“Semua itu..”


“Keluar!”


usir Jeremy, masih dengan senjata di tangannya.


“Jer..”


“Keluar!”


Krek! Jeremy


kembali mengekang senjata apinya. Selena terdiam dengan mata yang merah.


“Aku


melakukannya karena aku cemburu! Aku pernah bilang padamu. Aku cemburu karena


kau tidak menikahiku.”


“Aku tidak


peduli dengan cemburumu itu! Pergi atau aku benar-benar melepaskan peluru ke


kepalamu!”


Selena


melihat keseriusan di matanya Jeremy. Diapun mengambil tasnya lalu pergi dengan


hati yang kecewa.


Evelyn


terdiam ketakutan. Sudah bertahun-tahun dia sudah tidak melihat lagi tembak


menembak yang ternyata malah terjadi didepanku.


“Jeremy tidak


seharusnya kau melakukan aksimu.”


Jeremy


membalikkan badannya Menghadap Evelyn. “Aku, aku merasa putus asa. Aku sudah diam


menunggumu kembali. Aku benar-benar menunggumu.  Aku minta maaf, aku hampir gila! Aku ingin kau


kembali padaku! Kita rujuk, menikah. Kau mau?”


Evelyn tidak


menjawab, Jeremy hanya mendekat lalu memeluk wanita itu dengan erat.


“Maaf yang


aku lakukan tadi, aku hanya ingin membuktikan aku tidak bohong!”


“Apa yang


kau lakukan sangat menakutkan.”


Jeremy mencium


rambutnya Evelyn. Dia semakin tidak mau kehilangannya.


“Ayres pasti


terbangun, gara-gara senjata api di tanganmu.”


Evelyn


menjauh membuat Jeremy melepaskan pelukannya. Lalu mengikuti Evelyn keluar dari


sana dan memberikan senjata itu pada bodyguard.


Benar saja,


Ayres sedang duduk ditempat tidurnya sambil menangis.


“Sayang, kau


kaget?” tanya Evelyn sambil duduk ditempat tidur itu lalu mendudukkan Ayres


kepangkuannya dan dipeluknya.


“Kau tidur


lagi, Sayang. Ibu temani.”


Ayres


mengangguk, lalu Evelyn berbaring di tempat tidur anak itu bersama Ayres sambil


memeluknya dan mengusap-usap punggungnya.


Selena


keluar dari rumahnya Jeremy dengan kesal, sangat kesal dan marah. Jeremy


benar-benar berubah, selain pria itu tidak mau menyentuhnya bahkan Jeremy hampir


menembaknya, membuatnya merasa sangat kecewa.


Selena mengendarai


mobilnya keluar dari rumahnya Jeremy. Sebuah mobil yang berhenti tidak jauh


dari gerbang rumahnya Jeremy itu, tampak melepaskan kacamatanya yang seharusnya


tidak dipakai malam hari.


“Selena? Wanita


itu..” Dikeluarkan ponselnya bicara dengan seseorang.


“Habisi dia!


Muak melihat wanita itu berlalu lalang didepan mataku!”


“Baik, Bos!”


Selena


mengendarai mobilnya dengan santai sambil menahan kesal pada Jeremy, dia


bingung bagaimana lagi dia bertahan hidup kalau tidak menjadi wanitanya Jeremy?


Dia malas kalau harus melayani pria tua.


Sebuah mobil


mencurigakan terlihat di spion. Terus mengikutinya, membuatnya keheranan, tidak


mungkin Jeremy menyuruh orang untuk mengikutinya, tidak mungkin! Selena melirik


kaca spion lagi, tiba-tiba mobil itu sudah lenyap, membuatnya celingukan


mencari mobil itu lalu melihat kedepan dia terkejut sebuah mobil melaju kencang


kearahnya seakan sengaja ditabrakkan kearahnya.


Diapun banting


stir kekiri tidak terkendali membuat mobilnya naik trotoar lalu menabrak pohon


dan langsung terperosok ke jurang. Dalam hitungan detik terdengar ledakan yang


keras.


Pengemudi


didalam mobil itu menelpon seseorang. “Sudah beres, Bos! Sudah dipastikan


target meninggal. Mobilnya meledak di jurang!”


Pria berkaca

__ADS_1


mata itu tertawa senang, pandangannya kembali kearah rumah megahnya Jeremy.


***


__ADS_2