
Jeremy masih
menatap Evelyn, berharap wanita itu akan setuju untuk rujuk dengannya.
“Tidak, aku
tidak mau.”
“Tapi Sayang,
aku harus membuktikan dengan apalagi?”
“Masalahnya
kau bukan Ayah yang baik.”
“Aku sudah
berubah, aku tidak lagi menjual barang illegal. Aku mengurus perusahaan
otomotifku, tidak yang aneh-aneh lagi, meskipun sebenarnya sangat melelahkan.”
Evelyn tidak
menjawab, hanya diam saja. Tidak mudah membiarkan pria itu kembali masuk
kedalam kehidupannya. Apalagi dia bertemu dengan Ryan, yang menyebalkan itu, kenapa
juga harus bertemu dengan orang-orang yang ingin dihindarinya.
“Tidak, masih
belum cukup. Kau belum benar-benar Ayah yang baik.”
Jeremy segera
bangun dan mendekati Evelyn. “Sayang, bisakah kita tidak perlu berdebat soal
Ayah yang baik? Aku memang buruk tapi aku Ayahnya Ayres, jangan menghakimi aku
seperti itu. Aku mau belajar jadi ayah yang baik.”
Evelyn menunduk
masih diam.
“Jangan
menyiksaku begitu. Lima tahun ini aku berusaha menjadi pria yang baik dan itu
tidak mudah, Sayang. Semua aku lakukan berharap kau akan kembali padaku membawa
anak kita. Meskipun sebenarnya aku takut kau sudah menikah lagi.”
“Evelyn, Sayang.
Jangan seperti itu padaku. Kehilanganmu dan Ayres sudah sangat menyakitiku.”
Barulah
Evelyn mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis. “Kalau mendengar kata-katamu
seakan kau benar-benar berjuang buatku dan Ayres. Tapi apa b uktinya? Kau
menyimpan Selena di rumah ini? Kau anggap apa aku? Kau bersama wanita lain
bersamaan dengan kau ada bersamaku dan Ayres. Apa itu namanya? Kau tidak
berubah. Kau juga menculikku seenaknya.”
“Aku
menculikmu karena mungkin Ryan yang akan melakukannya.”
“Apa?”
Evelyn terkejut bukan main.
“Ya, aku
tahu dia mengikutimu.”
Evelyn melongo
mendengarnya. “Ryan?Kau tahu Ryan? Bukannya kau sudah tidak berbisnis illegal lagi?
Kenapa kau masih berhubungan dengan Ryan?”
“Aku tidak
berhubungan dengan Ryan, tapi aku melihat dia membuntutimu sampai ke hotel. Mungkin
orang-orangnya masih mengira kau ada di hotel itu.”
“Aku menjadi
targetnya Ryan? Tapi untuk apa? Aku sudah bercerai denganmu, kan?”
“Karena kau
wanita yang tidak pernah aku berikan padanya.”
Evelyn langsung
mencibir dan menjauh dari Jeremy, berjalan menuju tempat tidurnya Ayres.
“Ini nih
yang tidak aku suka. Berhubungan denganmu membuat hidupku terancam. Aku harus
segera membawa Ayres pulang.” Evelyn duduk disamping Ayres.
“Tidak bisa,
kau dan Ayres akan tetap disini. Rumahku adalah tempat yang paling aman.”
“Aman tapi
memberi pengaruh buruk buat Ayres. Dia akan bertanya siapa Selena?”
“Aku memang sengaja
belum membebaskannya.”
“Membebaskan
apa?”
Jeremy
langsung mengulurkan tangannya.
“Mau apa?” Evelyn
menatap tangan itu lalu wajahnya Jeremy.
Marena
Evelyn yang lama tidak merespon, Jeremy langsung meraih tangannya dan
menariknya.
“Kau mau
membawaku kemana?”
“Bertemu
Selena.”
“Aku tidak
mau! Kau mau pamer kemesraanmu dengan wanita itu, begitu?”
Jeremy tidak
menjawab, hanya terus menarik tangannya Evelyn menuju kamar dimana Selena
berada.
“Buka
pintunya!”
Bodyguard
itu membuka pintu kamar itu.
Jeremy
menarik tangannya Evelyn masuk ke ruangan itu. Evelyn terkejut melihat Selena ada
di kamar itu.
“Jeremy!”
panggil Selena dan terkejut melihat dengan siapa Jeremy datang.
Wanita cantik
itu langsung menghentikan langkahnya.
“Jeremy,
apa-apaan ini?” Selena tidak suka melihat ada Evelyn di rumah itu.
__ADS_1
“Aku seharusnya
bertanya, kau sedang apa disini?” tanya Evelyn.
Selena langsung
tertawa. “Tidak salah? Bukannya kau sudah bercerai? Artinya Jeremy duda, dia
bebas dengan wanita manapun, kau tidak perlu sewot. Lagipula dari awal kau yang
datang merusak hubungan kami.”
Evelyn
merasa kesal dan sepertinya memang tidak ada gunanya juga dia bertengkar dengan
Selena. Dia akan pergi tapi tangannya dipegang Jeremy.
“Lepaskan!”
“Aku tidak
akan melepaskanmu!”
“Aku bukan
siapa-siapamu lagi.”
“Aku tidak
peduli, yang pasti aku tidak akan melepaskanmu!” teriak Jeremy dengan keras,
membuat Evelyn diam.
Selena
merasa sebal mendengar kata-katanya Jeremy.
“Aku tidak
masalah main bertiga,” ucap Selena.
“Apa?” Evelyn
terbelalak kaget.
“Gila! Dasar
wanita gila!” makinya, malah membuat Selena tertawa.
“Kau tidak
perlu marah, kita bisa mencobanya, benar, kan Sayang?” Selena mendekati Jeremy.
“Jangan
macam-macam denganku. Aku menahanmu untuk memintamu bicara pada Evelyn kalau kita
tidak pernah berhubungan lagi sejak kejadian itu.”
“Hah? Kau
menahanku hanya untuk mengatakan itu?” Selena geleng-geleng kepala.
“Aku hanya
ingin Evelyn tahu kalau dia satu-satunya ratu dalam hidupku. Tidak kau juga
wanita yang lain. Hanya dia.”
Evellyn yang
masih berdiri dibelakang Jeremy, tertegun mendengarnya.
“Kau pikir
aku bodoh? Buat apa aku mengatakan itu?”
Krek! Suara
itu membuat Evelyn juga Selena terkejut dan menatap kearaj Jeremy.
Selena langsung
memucat begitu juga Evelyn. Sebuah senjata sudah ditodongkan kearah Selena.
“Jeremy, kau
ini apa-apaan? Kau akan membunuhku?” tanya Selena.
“Katakan
atau aku menembakmu!”
Satu tangan
“Jeremy, kau
ini apa-apaan?”
“Aku hanya
ingin kau tahu aku tidak berbohong.”
“Tapi tidak
dengan seperti itu! Kau tidak boleh menembak sembarangan! Bukannya kau sudah berubah?”
“Tidak,
kalau berurusan dengan rubah betina.”
“Kau, kau
menyebutku rubah betina? Kau sangat keterlaluan!”
“Katakan
atau nyawamu melayang di tanganku.”
Krek! Terdengar
suara kekangan senjata api. Sepertinya Jeremy tidak main-main.
“Jeremy!”
Evelyn memegang tangan Jeremy, dia takut kejadian selanjutnya.
Wajah Selena
memucat. “Je..”
“Tiga!” Jeremy
tiba-tiba menghitung. Membuat Selena semakin tegang dan ketakutan.
“Jeremy
kau..”
“Dua!”
Selena
semakin mati kutu.
“Sa..”
“Oke aku bilang!”
teriak Selena, lalu menoleh pada Evelyn.
“Aku memang
baru datang lagi kesini, kemarin. Beberapa tahun ini aku tidak berhubungan lagi
dengan Jeremy. Dia benar, aku baru datang kesini.”
Evelyn
terdiam mendengarnya.
Selena
menoleh pada Jeremy. “Aku sudah mengatakannya, apa lagi?”
“Pergi dan
jangan pernah menggangguku lagi!” usir Jeremy.
“Jeremy, jangan
begitu! Aku sudah tidak punya uang, uangku habis untuk operasi plastic selama 5
tahun ini, aku ingin tubuhku kembali seperti semula.”
“Aku akan memberimu
uang yang terakhir kalinya, dan pergilah menjauh dariku untuk selamanya atau peluru
ini akan menembus tubuhmu.” Jeremy benar-benar tidak mau menurunkan senjatanya.
“Jeremy, kau
..”
__ADS_1
“Kau dengar
tidak?” bentak Jeremy dengan marah.
Dor! Sebuah
tembakan terdengar, membuat semua orang terkejut.
Selena
terkejut dan langsung pucat pasi saat melihat pas bunga disampingnya pecah
ditembak Jeremy.
Pria itu
mengalihkan senjatanya pada Selena.
“Jeremy, kau
sangat keterlaluan!”
“Kau yang
keterlaluan! Kau sekongkol dengan Ken akan menghancurkanku dan istriku. Aku hampir
mati dan istriku hampir ternoda. Seharusnya aku membunuhmu!” balas Jeremy.
“Semua itu..”
“Keluar!”
usir Jeremy, masih dengan senjata di tangannya.
“Jer..”
“Keluar!”
Krek! Jeremy
kembali mengekang senjata apinya. Selena terdiam dengan mata yang merah.
“Aku
melakukannya karena aku cemburu! Aku pernah bilang padamu. Aku cemburu karena
kau tidak menikahiku.”
“Aku tidak
peduli dengan cemburumu itu! Pergi atau aku benar-benar melepaskan peluru ke
kepalamu!”
Selena
melihat keseriusan di matanya Jeremy. Diapun mengambil tasnya lalu pergi dengan
hati yang kecewa.
Evelyn
terdiam ketakutan. Sudah bertahun-tahun dia sudah tidak melihat lagi tembak
menembak yang ternyata malah terjadi didepanku.
“Jeremy tidak
seharusnya kau melakukan aksimu.”
Jeremy
membalikkan badannya Menghadap Evelyn. “Aku, aku merasa putus asa. Aku sudah diam
menunggumu kembali. Aku benar-benar menunggumu. Aku minta maaf, aku hampir gila! Aku ingin kau
kembali padaku! Kita rujuk, menikah. Kau mau?”
Evelyn tidak
menjawab, Jeremy hanya mendekat lalu memeluk wanita itu dengan erat.
“Maaf yang
aku lakukan tadi, aku hanya ingin membuktikan aku tidak bohong!”
“Apa yang
kau lakukan sangat menakutkan.”
Jeremy mencium
rambutnya Evelyn. Dia semakin tidak mau kehilangannya.
“Ayres pasti
terbangun, gara-gara senjata api di tanganmu.”
Evelyn
menjauh membuat Jeremy melepaskan pelukannya. Lalu mengikuti Evelyn keluar dari
sana dan memberikan senjata itu pada bodyguard.
Benar saja,
Ayres sedang duduk ditempat tidurnya sambil menangis.
“Sayang, kau
kaget?” tanya Evelyn sambil duduk ditempat tidur itu lalu mendudukkan Ayres
kepangkuannya dan dipeluknya.
“Kau tidur
lagi, Sayang. Ibu temani.”
Ayres
mengangguk, lalu Evelyn berbaring di tempat tidur anak itu bersama Ayres sambil
memeluknya dan mengusap-usap punggungnya.
Selena
keluar dari rumahnya Jeremy dengan kesal, sangat kesal dan marah. Jeremy
benar-benar berubah, selain pria itu tidak mau menyentuhnya bahkan Jeremy hampir
menembaknya, membuatnya merasa sangat kecewa.
Selena mengendarai
mobilnya keluar dari rumahnya Jeremy. Sebuah mobil yang berhenti tidak jauh
dari gerbang rumahnya Jeremy itu, tampak melepaskan kacamatanya yang seharusnya
tidak dipakai malam hari.
“Selena? Wanita
itu..” Dikeluarkan ponselnya bicara dengan seseorang.
“Habisi dia!
Muak melihat wanita itu berlalu lalang didepan mataku!”
“Baik, Bos!”
Selena
mengendarai mobilnya dengan santai sambil menahan kesal pada Jeremy, dia
bingung bagaimana lagi dia bertahan hidup kalau tidak menjadi wanitanya Jeremy?
Dia malas kalau harus melayani pria tua.
Sebuah mobil
mencurigakan terlihat di spion. Terus mengikutinya, membuatnya keheranan, tidak
mungkin Jeremy menyuruh orang untuk mengikutinya, tidak mungkin! Selena melirik
kaca spion lagi, tiba-tiba mobil itu sudah lenyap, membuatnya celingukan
mencari mobil itu lalu melihat kedepan dia terkejut sebuah mobil melaju kencang
kearahnya seakan sengaja ditabrakkan kearahnya.
Diapun banting
stir kekiri tidak terkendali membuat mobilnya naik trotoar lalu menabrak pohon
dan langsung terperosok ke jurang. Dalam hitungan detik terdengar ledakan yang
keras.
Pengemudi
didalam mobil itu menelpon seseorang. “Sudah beres, Bos! Sudah dipastikan
target meninggal. Mobilnya meledak di jurang!”
Pria berkaca
__ADS_1
mata itu tertawa senang, pandangannya kembali kearah rumah megahnya Jeremy.
***