Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-77 Antara Ayres Dan Evelyn


__ADS_3

Evelyn terus


memeluk Jeremy, saat pria itu melaporkan kehilangan Ayres pada petugas keamanan


taman bermain itu.


“Nyonya,


yang sabar. Tenangkan diri, kita cari Ayres sampai ketemu. Ini kan belum malam,


jadi kemungkinan masih disekitar tempat bermain.”


Satu tangan


Jeremy memeluk Evelyn dengan kuat, wanita itu terus saja terisak. Sesekali


tangannya mengusap-usap punggung istrinya. Diapun mengeluarkan ponselnya.


“Cheng,


kirim orang cari putraku di taman bermain.”


“Cari putramu?”


“Putraku


hilang di taman bermain.”


“Hilang?”


Cheng tampak berpikir.


“Apa kau sama


dengan pemikiranku?” tanya Cheng.


“Hem, tapi


perlu kau selidiki kebenarannya. Aku sudah tidak pernah mengungkit masalah


bisnisku yang diambilnya. Aku hanya ingin tenang dengan anak istriku! Ada


urusan apa lagi dia denganku?”


 “Entahlah. Mungkin memang anakmu melihat


mainan yang menarik dan lupa kembali bersama ibunya.”


“Aku minta


orang untuk mencari putraku.”


“Oke!”


Jeremy


mematikan ponselnya. Lalu menoleh pada Evelyn yang ternyata sedang menatapnya.


“Kau tidak


berpikir Ryan kan yang melakukannya? Ini yang aku takutkan kalau aku kembali


bersamamu. Aku mati aku tidak masalah, tapi jangan Ayres yang menderita.”


“Kau pikir


aku akan membiarkanmu mati begitu saja? Jangan berpikir macam-macam.” Jeremy tidak


suka Evelyn bicara asal saja.


“Aku tidak


ada urusan apa-apa dengan bisnisku yang dulu. Ryan sudah mengambil semua


bisnisku, aku tidak peduli. Aku hanya menjalankan keinginanmu untuk bisnis yang


legal dan aku sudah menjalankannya selama 5 tahun ini, apa lagi yang kau


ragukan? Aku tidak main-main ingin kau kembali bersamaku.” Tangan Jeremy merapihkan


helaian rambutnya Evelyn yang tertebak angin.


Wanita itu


hanya menghapus airmatanya tanpa bicara apa-apa.


“Aku tahu


apa yang kau pikirkan, kau rasakan, aku tahu. Apa yang kau takutkan aku tahu.


Aku sudah mencoba menjauh darimu dan Ayres. Tapi saat melihatmu lagi apalagi


ada Ayres, aku menyadari keinginan terbesarku hanya satu, berkumpul dengan anak


istriku, hanya itu saja.”


Evelyn masih


tidak bicara, melihat kearah lain dan airmatanya kembali menganak sungai.


“Jangan


menghukumku terlalu lama, 5 tahun ini aku sangat menderita, menyesali semua


perbuatanku padamu. Setelah Ayres ketemu, kita temui Ayahmu, kita menikah lagi,


itu yang aku inginkan. Aku punya warisan yang akan aku wariskan pada Ayres,


bukan  bisnis illegal bukan, kau tidak perlu


khawatir.” Jeremy terus mencoba membujuk Evelyn untuk kembali bersamanya.


Jeremy


menarik tubuhnya Evelyn ke pelukannya. “Jangan terus-terusan menghukumku,


Sayang. Aku menyayangi kau dan Ayres, aku tidak main-main.” Kedua tangannya


kembali mengusap punggungnya Evelyn.


Berjam-jam


kemudian bahkan sampai gelap, ternyata Ayres tidak ditemukan juga, padahal


Jeremy sudah minta Cheng untuk mengerahkan orang mencari Ayres.


Akhirnya


Jeremy mengajak Evelyn pulang. Wanita itu tidak bicara sepatahpun, hanya diam,


melamun dan menangis, sungguh membuat Jeremy merasa serba salah.


“Sayang, lebih


baik kau mandi biar tubuhmu segar.”


“Baiklah!”


Evelyn langsung pergi ke kamar mandi.


Terdengar


ponselnya berdering, Jeremy melihat ponselnya yang ternyata panggilannya


terputus dan ada pesan masuk. Matanya langsung terbelalak kaget saat melihat


ada fotonya Ayres yang sedang memegang momobilan dengan wajahnya yang cemberut.


“Ryan, si


brengsek Ryan. Ternyata kau pelakunya? Apa tidak cukup bisnisku diambilnya? Si Brengsek!”


”Kau tahu


dimana bisa menemuiku.”


“Persetan!”


maki Jeremy dengan marah. Disimpannya ponselnya diatas meja Diapun segera pergi


ke ruangan yang terkunci sandi itu, lalu mengambil beberapa senjata yang


dimasukkan kedalam pakaiannya.


Evelyn celingukan

__ADS_1


mencari cari handuk yang ternyata tidak ada didalam kamar mandi. Diapun keluar


dari kamar mandi, lalu mengambil handuk. Saat akan kembali ke kamar mandi


dilihatnya ponsel Jeremy berdering, Evelyn pun menghampiri ponsel itu barangkali


sudah ada kabar Ayres.


Ternyata


dering itu hanya untuk memberitahu kalau ada pesan masuk.


Evelyn membuka


pesannya dan dia terkejut saat melihat ada foto Ayres dan putranya itu sedang


bersama seseorang yang dia tidak tahu musuhnya siapa lagi?


Jeremy


keluar dari ruangan itu, dengan beberapa senjata di tubuhnya. Dia terkejut saat


Evelyn sedang membaca pesan di ponselnya.


“Sayang,


katanya kau mau mandi.” Jeremy pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Dimana


Ayres? Dimana dia?” bentak Evelyn, dengan airmata yang kembali menganak sungai.


“Itu


urusanku, kau diam saja dirumah,” Jeremy menghampiri Evelyn akan mengambil ponselnya


tapi Evelyn menjauhkannya.


“Kau berbohong


padaku?”


“Aku tidak


berbohong, itu nomornya Ryan.”


Evelyn


langsung berlari ke dalam walk ini closet. “Aku ikut denganmu!”


“Tidak,


tidak, Sayang. Tidak boleh ikut!”


“Tidak, aku


mau ikut!”


“Tidak, kau


tdak boleh ikut!”


Evelyn


keluar lagi dengan memakai mantelnya.


“Tidak,


Sayang, kau tidak boleh ikut!”


“Aku tidak


mau Cuma duduk diam di rumah!”


“Tapi itu


yang harus kau lakukan!”


“Aku harus


ikut, Jeremy, harus ikut!” Evelyn pergi ke kamarnya Ayres, mengambil jaket anak


kecil itu.


“Ayres pasti


“Tidak, SAyabg,


kau tidak boleh ikut! Berbahaya! Sini jaketnya saja aku bawa.”


“Aku tidak


bisa tinggal diam saat anakku ada ditempat penjahat!”


“Masalahnya


penjahatnya bukan tandinganmu. Sudahlah tinggal dirumah, nanti aku kabari!”


Evelynpun


diam saat Jeremy mengambil jaket putranya itu.


“Aku pasti


membawa Ayres pulang. Kau tunggu di rumah!”


Jeremy langsung


mencium bibirnya Evelyn dengan cepat. “Aku berangkat, Sayang!”


Evelyn hanya


bisa terdiam melihat Jeremy yang bergegas keluar dari kamar itu. Dia hanya bisa


melihat kepergiannya di lantai atas. Pria itu bergegas keluar rumah.


Dipejamkannya


matanya, ini yang tidak dia inginkan, ini!


“Sayang,


Ayahmu menjemputmu, Sayang,” gumamnya sambil menghapus airmatanya.


Dia sungguh


merasa bingung dengan keputusan yang akan dia ambil nanti. Jeremy ingin kembali


bersamanya tapi tanpa Ayres, semua itu serasa percuma. Dia hanya ingin bertemu


dengan anak itu.


“Sayang, kau


baik-baik, Nak. Ayahmu menjemputmu,” gumamnya lagi sambil melangkahkan kakinya


menuju kamarnya Jeremy.


Tiba-tiba


terdengar suara telpon rumah berbunyi.


“Halo, pak


Satpam!” terdengar suara Bibi menelpon.


“Apa?


Polisi? Hah? Den Ayres ada di kantor polisi?”


Mendengar


percakapan Bibi dengan Pak Satpam, membuat Evelyn kembali ke ruangan tengan


dengan tergesa-gesa.


“Apa Bi?”


“Itu Non,


ada polisi di depan, katanya Den Ayres ada di kantor polisi.”


“Cepat suruh


masuk! Putraku ada di kantor polisi?” Evelyn langsung merasa senang.

__ADS_1


“Kata Bu


Evelyn, masuk!”


“Oke!”


Evelyn


tersenyum senang dan matanya berbinar,  ternyata Ayres sudah ditemukan dan ada di kantor


polisi.


“Pak


Polisinya menuju ke sini, Bu!”


“Ya, ya, aku


menunggunya.” Evelyn mengangguk lalu pergi ke ruang tamu.


Hatinya


sangat senang karena Ayres sudah ditemukan. Dibukanya pintu utama rumah itu.


Dia melihat mobil polisi yang berhenti di depan teras.


Dua orang


polisi berseragam menghampiri Evelyn.


“Bu Jeremy?”


“Ya, itu


nama..suamiku. Mantan suamiku. Dimana Ayres?” Evelyn sudah tidak sabar ingin


tahu kabar putranya.


“Ayres ada di


kantor polisi. Apa Bu Jeremy bisa ikut bersama kami?”


“Tentu,


tentu saja. Sebentar aku ambil tas dulu!” Evelyn langsung pergi ke dalam rumah


dengan berlari, hatinya merasa lega akhirnya Ayres di temukan.


Setelah


mengambil tasnya, diapun segera keluar , menghampiri kedua polisi itu.


“Mari Bu


Jeremy,” ajak satu polisi itu.


“Ya!”


Evelyn pun


masuk ke mobil polisi itu dengan kedua polisi itu. Tidak berapa lama mobil itu


melaju keluar gerbang.


“Pak Satpam,


kalau Jeremy pulang, katakan aku ke kantor polisi, Ayres ditemukan dan sudah


ada di kantor polisi!” serunya sambil membuka kaca jendela mobil polisi itu.


“Baik, Bu!”


Evelyn


kembali menutup kaca jendela itu lalu  duduk dengan hati yang senang, dia akan segera bertemu dengan Ayres.


“Pak Polisi


menemukan putraku dimana?” tanya Evelyn.


“Dia ikut


tukang es krim, dan tukan es krim itu membawanya ke kantor polisi.”


“Kenapa


semalam ini?”


“Karena


muter-muter ikut jualan, Bu!”


“Ya ampun,


Ayres!” Evelyn bersandar dengan hati yang lega, dia sangat merasa cemas dengan


keselamatan putranya.


Tiba-tiba


dia teringat Jeremy yang mendepat pesan kalau Ayres ada di tempatnya Ryan.


Diapun


mengeluarkan ponselnya menelpon nomornya Jeremy.


“Halo!”


“Ya, Sayang!”


“Jeremy,


Ayres sudah ditemukan! Dia ada di kantor polisi!”


“Apa? Dikantor


polisi? Bukannya dia ada bersama Ryan?’


“Tidak,


pasti Ryan mengerjaimu. Ayres ikut tukang es krim itu berjualan, oleh tukang


eskrim itu dibawa ke kantor polisi. Aku sedang ada di mobil polisi sekarang!”


Jeremy mengerutkan


dahinya dengan heran.


“Sebaiknya


kau susul aku saja ke kantor polisi.”


“Kantor


polisi mana?”


Evelyn


menoleh pada polisi yang ada disampingnya. “Pak, kita akan ke kantor polisi sector


mana?”


“Dekat taman


bermain.”


“Jeremy, kantor


polisi dekat taman bermain. Segera ya. Aku menunggumu!”


Evelyn


kembali menutup ponselnya, dia merasa senang akan bertemu dengan Ayres.


Jeremy


menatap ponselnya dengan bingung. Tersu bagaimana dengan pesan Ryan itu?


Laki-laki itu pasti sudah mengerjainya. Diapun kembali menyalakan mobilnya,


karena tadi terpaksa berhenti demi menerima panggilan telpon dari Evelyn. Mobilpun


melaju menuju kantor polisi dekat taman bermain tadi.


**

__ADS_1


Notes : Ingat ya, bukan tidak up, tapi tulisan up akan hilang jam 12 malam.


            aku up kisaran jam 10 11 malam


__ADS_2