
Evelyn terus
memeluk Jeremy, saat pria itu melaporkan kehilangan Ayres pada petugas keamanan
taman bermain itu.
“Nyonya,
yang sabar. Tenangkan diri, kita cari Ayres sampai ketemu. Ini kan belum malam,
jadi kemungkinan masih disekitar tempat bermain.”
Satu tangan
Jeremy memeluk Evelyn dengan kuat, wanita itu terus saja terisak. Sesekali
tangannya mengusap-usap punggung istrinya. Diapun mengeluarkan ponselnya.
“Cheng,
kirim orang cari putraku di taman bermain.”
“Cari putramu?”
“Putraku
hilang di taman bermain.”
“Hilang?”
Cheng tampak berpikir.
“Apa kau sama
dengan pemikiranku?” tanya Cheng.
“Hem, tapi
perlu kau selidiki kebenarannya. Aku sudah tidak pernah mengungkit masalah
bisnisku yang diambilnya. Aku hanya ingin tenang dengan anak istriku! Ada
urusan apa lagi dia denganku?”
“Entahlah. Mungkin memang anakmu melihat
mainan yang menarik dan lupa kembali bersama ibunya.”
“Aku minta
orang untuk mencari putraku.”
“Oke!”
Jeremy
mematikan ponselnya. Lalu menoleh pada Evelyn yang ternyata sedang menatapnya.
“Kau tidak
berpikir Ryan kan yang melakukannya? Ini yang aku takutkan kalau aku kembali
bersamamu. Aku mati aku tidak masalah, tapi jangan Ayres yang menderita.”
“Kau pikir
aku akan membiarkanmu mati begitu saja? Jangan berpikir macam-macam.” Jeremy tidak
suka Evelyn bicara asal saja.
“Aku tidak
ada urusan apa-apa dengan bisnisku yang dulu. Ryan sudah mengambil semua
bisnisku, aku tidak peduli. Aku hanya menjalankan keinginanmu untuk bisnis yang
legal dan aku sudah menjalankannya selama 5 tahun ini, apa lagi yang kau
ragukan? Aku tidak main-main ingin kau kembali bersamaku.” Tangan Jeremy merapihkan
helaian rambutnya Evelyn yang tertebak angin.
Wanita itu
hanya menghapus airmatanya tanpa bicara apa-apa.
“Aku tahu
apa yang kau pikirkan, kau rasakan, aku tahu. Apa yang kau takutkan aku tahu.
Aku sudah mencoba menjauh darimu dan Ayres. Tapi saat melihatmu lagi apalagi
ada Ayres, aku menyadari keinginan terbesarku hanya satu, berkumpul dengan anak
istriku, hanya itu saja.”
Evelyn masih
tidak bicara, melihat kearah lain dan airmatanya kembali menganak sungai.
“Jangan
menghukumku terlalu lama, 5 tahun ini aku sangat menderita, menyesali semua
perbuatanku padamu. Setelah Ayres ketemu, kita temui Ayahmu, kita menikah lagi,
itu yang aku inginkan. Aku punya warisan yang akan aku wariskan pada Ayres,
bukan bisnis illegal bukan, kau tidak perlu
khawatir.” Jeremy terus mencoba membujuk Evelyn untuk kembali bersamanya.
Jeremy
menarik tubuhnya Evelyn ke pelukannya. “Jangan terus-terusan menghukumku,
Sayang. Aku menyayangi kau dan Ayres, aku tidak main-main.” Kedua tangannya
kembali mengusap punggungnya Evelyn.
Berjam-jam
kemudian bahkan sampai gelap, ternyata Ayres tidak ditemukan juga, padahal
Jeremy sudah minta Cheng untuk mengerahkan orang mencari Ayres.
Akhirnya
Jeremy mengajak Evelyn pulang. Wanita itu tidak bicara sepatahpun, hanya diam,
melamun dan menangis, sungguh membuat Jeremy merasa serba salah.
“Sayang, lebih
baik kau mandi biar tubuhmu segar.”
“Baiklah!”
Evelyn langsung pergi ke kamar mandi.
Terdengar
ponselnya berdering, Jeremy melihat ponselnya yang ternyata panggilannya
terputus dan ada pesan masuk. Matanya langsung terbelalak kaget saat melihat
ada fotonya Ayres yang sedang memegang momobilan dengan wajahnya yang cemberut.
“Ryan, si
brengsek Ryan. Ternyata kau pelakunya? Apa tidak cukup bisnisku diambilnya? Si Brengsek!”
”Kau tahu
dimana bisa menemuiku.”
“Persetan!”
maki Jeremy dengan marah. Disimpannya ponselnya diatas meja Diapun segera pergi
ke ruangan yang terkunci sandi itu, lalu mengambil beberapa senjata yang
dimasukkan kedalam pakaiannya.
Evelyn celingukan
__ADS_1
mencari cari handuk yang ternyata tidak ada didalam kamar mandi. Diapun keluar
dari kamar mandi, lalu mengambil handuk. Saat akan kembali ke kamar mandi
dilihatnya ponsel Jeremy berdering, Evelyn pun menghampiri ponsel itu barangkali
sudah ada kabar Ayres.
Ternyata
dering itu hanya untuk memberitahu kalau ada pesan masuk.
Evelyn membuka
pesannya dan dia terkejut saat melihat ada foto Ayres dan putranya itu sedang
bersama seseorang yang dia tidak tahu musuhnya siapa lagi?
Jeremy
keluar dari ruangan itu, dengan beberapa senjata di tubuhnya. Dia terkejut saat
Evelyn sedang membaca pesan di ponselnya.
“Sayang,
katanya kau mau mandi.” Jeremy pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Dimana
Ayres? Dimana dia?” bentak Evelyn, dengan airmata yang kembali menganak sungai.
“Itu
urusanku, kau diam saja dirumah,” Jeremy menghampiri Evelyn akan mengambil ponselnya
tapi Evelyn menjauhkannya.
“Kau berbohong
padaku?”
“Aku tidak
berbohong, itu nomornya Ryan.”
Evelyn
langsung berlari ke dalam walk ini closet. “Aku ikut denganmu!”
“Tidak,
tidak, Sayang. Tidak boleh ikut!”
“Tidak, aku
mau ikut!”
“Tidak, kau
tdak boleh ikut!”
Evelyn
keluar lagi dengan memakai mantelnya.
“Tidak,
Sayang, kau tidak boleh ikut!”
“Aku tidak
mau Cuma duduk diam di rumah!”
“Tapi itu
yang harus kau lakukan!”
“Aku harus
ikut, Jeremy, harus ikut!” Evelyn pergi ke kamarnya Ayres, mengambil jaket anak
kecil itu.
“Ayres pasti
“Tidak, SAyabg,
kau tidak boleh ikut! Berbahaya! Sini jaketnya saja aku bawa.”
“Aku tidak
bisa tinggal diam saat anakku ada ditempat penjahat!”
“Masalahnya
penjahatnya bukan tandinganmu. Sudahlah tinggal dirumah, nanti aku kabari!”
Evelynpun
diam saat Jeremy mengambil jaket putranya itu.
“Aku pasti
membawa Ayres pulang. Kau tunggu di rumah!”
Jeremy langsung
mencium bibirnya Evelyn dengan cepat. “Aku berangkat, Sayang!”
Evelyn hanya
bisa terdiam melihat Jeremy yang bergegas keluar dari kamar itu. Dia hanya bisa
melihat kepergiannya di lantai atas. Pria itu bergegas keluar rumah.
Dipejamkannya
matanya, ini yang tidak dia inginkan, ini!
“Sayang,
Ayahmu menjemputmu, Sayang,” gumamnya sambil menghapus airmatanya.
Dia sungguh
merasa bingung dengan keputusan yang akan dia ambil nanti. Jeremy ingin kembali
bersamanya tapi tanpa Ayres, semua itu serasa percuma. Dia hanya ingin bertemu
dengan anak itu.
“Sayang, kau
baik-baik, Nak. Ayahmu menjemputmu,” gumamnya lagi sambil melangkahkan kakinya
menuju kamarnya Jeremy.
Tiba-tiba
terdengar suara telpon rumah berbunyi.
“Halo, pak
Satpam!” terdengar suara Bibi menelpon.
“Apa?
Polisi? Hah? Den Ayres ada di kantor polisi?”
Mendengar
percakapan Bibi dengan Pak Satpam, membuat Evelyn kembali ke ruangan tengan
dengan tergesa-gesa.
“Apa Bi?”
“Itu Non,
ada polisi di depan, katanya Den Ayres ada di kantor polisi.”
“Cepat suruh
masuk! Putraku ada di kantor polisi?” Evelyn langsung merasa senang.
__ADS_1
“Kata Bu
Evelyn, masuk!”
“Oke!”
Evelyn
tersenyum senang dan matanya berbinar, ternyata Ayres sudah ditemukan dan ada di kantor
polisi.
“Pak
Polisinya menuju ke sini, Bu!”
“Ya, ya, aku
menunggunya.” Evelyn mengangguk lalu pergi ke ruang tamu.
Hatinya
sangat senang karena Ayres sudah ditemukan. Dibukanya pintu utama rumah itu.
Dia melihat mobil polisi yang berhenti di depan teras.
Dua orang
polisi berseragam menghampiri Evelyn.
“Bu Jeremy?”
“Ya, itu
nama..suamiku. Mantan suamiku. Dimana Ayres?” Evelyn sudah tidak sabar ingin
tahu kabar putranya.
“Ayres ada di
kantor polisi. Apa Bu Jeremy bisa ikut bersama kami?”
“Tentu,
tentu saja. Sebentar aku ambil tas dulu!” Evelyn langsung pergi ke dalam rumah
dengan berlari, hatinya merasa lega akhirnya Ayres di temukan.
Setelah
mengambil tasnya, diapun segera keluar , menghampiri kedua polisi itu.
“Mari Bu
Jeremy,” ajak satu polisi itu.
“Ya!”
Evelyn pun
masuk ke mobil polisi itu dengan kedua polisi itu. Tidak berapa lama mobil itu
melaju keluar gerbang.
“Pak Satpam,
kalau Jeremy pulang, katakan aku ke kantor polisi, Ayres ditemukan dan sudah
ada di kantor polisi!” serunya sambil membuka kaca jendela mobil polisi itu.
“Baik, Bu!”
Evelyn
kembali menutup kaca jendela itu lalu duduk dengan hati yang senang, dia akan segera bertemu dengan Ayres.
“Pak Polisi
menemukan putraku dimana?” tanya Evelyn.
“Dia ikut
tukang es krim, dan tukan es krim itu membawanya ke kantor polisi.”
“Kenapa
semalam ini?”
“Karena
muter-muter ikut jualan, Bu!”
“Ya ampun,
Ayres!” Evelyn bersandar dengan hati yang lega, dia sangat merasa cemas dengan
keselamatan putranya.
Tiba-tiba
dia teringat Jeremy yang mendepat pesan kalau Ayres ada di tempatnya Ryan.
Diapun
mengeluarkan ponselnya menelpon nomornya Jeremy.
“Halo!”
“Ya, Sayang!”
“Jeremy,
Ayres sudah ditemukan! Dia ada di kantor polisi!”
“Apa? Dikantor
polisi? Bukannya dia ada bersama Ryan?’
“Tidak,
pasti Ryan mengerjaimu. Ayres ikut tukang es krim itu berjualan, oleh tukang
eskrim itu dibawa ke kantor polisi. Aku sedang ada di mobil polisi sekarang!”
Jeremy mengerutkan
dahinya dengan heran.
“Sebaiknya
kau susul aku saja ke kantor polisi.”
“Kantor
polisi mana?”
Evelyn
menoleh pada polisi yang ada disampingnya. “Pak, kita akan ke kantor polisi sector
mana?”
“Dekat taman
bermain.”
“Jeremy, kantor
polisi dekat taman bermain. Segera ya. Aku menunggumu!”
Evelyn
kembali menutup ponselnya, dia merasa senang akan bertemu dengan Ayres.
Jeremy
menatap ponselnya dengan bingung. Tersu bagaimana dengan pesan Ryan itu?
Laki-laki itu pasti sudah mengerjainya. Diapun kembali menyalakan mobilnya,
karena tadi terpaksa berhenti demi menerima panggilan telpon dari Evelyn. Mobilpun
melaju menuju kantor polisi dekat taman bermain tadi.
**
__ADS_1
Notes : Ingat ya, bukan tidak up, tapi tulisan up akan hilang jam 12 malam.
aku up kisaran jam 10 11 malam