
Sepanjang jalan sampai tiba dirumah, Jeremy diam saja. Evelyn juga tidak memancing-mancing bertanya atau pria itu akan marah. Pria itu terus saja menekuk wajahnya, hanya sesekali menerima panggilan di ponselnya. Dari wajahnya kentara sekali kalau suasana Jeremy sedang suntuk.
Apa mungkin karena perkataan Selena tadi yang sebenarnya Selena itu mencintai Jeremy? Seharusnya Jeremy tahu kalau Selena itu perhatiannya lebih, tapi mungkin karena Jeremy memang tidak peduli soal cinta. Terus siapa yang dicintai Jeremy? Sepertinya pria itu tidak punya rasa cinta pada siapapun.
Evelyn menoleh pada Jeremy yang sedang menerima panggilan di ponselnya.
“Apa? Penting? Kau ada dirumah?” tanyanya, bicara dengan si penelpon.
“Tunggu saja, aku juga lagi dijalan pulang,” jawab Jeremy, lalu menutup ponselnya. Evelyn tidak berani bertanya siapa yang menunggu Jeremy di rumah.
Begitu sampai di rumah, sudah ada yang menunggu Jeremy di teras. Tamunya itu seumuran dengan Jeremy hanya dia memiliki kulit yang pucat dan mata yang sipit.
Jeremy langsung menghampirinya.
“Cheng! Sorry kau menunggu lama, kau mendadak sih datangnya,” kata Jeremy.
“Tidak apa-apa,” jawab pria itu, dan matanya langsung tertuju pada Evelyn yang berjalan dibelakang Jeremy.
“Wanita baru lagi? Kau memang pandai memilih wanita cantik,” kata pria itu, sambil tersenyum pada Evelyn, melihatnya dari atas sampai bawah.
“Dia istriku,” ujar Jeremy membuat Cheng terkejut.
“Kau serius? Kau sudah menikah sekarang?” tanya Cheng, tidak percaya, dia menatap Jeremy dengan keheranan.
Evelyn menghentikan langkahnya di dekat Jeremy yang langsung menoleh padanya.
“Ini Cheng, temanku dari Hongkong!” kata Jeremy.
“Hai!” sapa Evelyn sambil tersenyum.
“Hai!” balas Cheng, dengan kaku karena masih tidak percaya kalau Jeremy sudah menikah.
Jeremy menoleh pada Evelyn.
“Kau masuk saja!” kata Jeremy.
Evelyn tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, tapi telinganya masih mendengar percakapan Jeremy dengan Cheng di teras.
“Istrimu sangat cantik, apa mau kau bawa ke Hongkong?” tanya Cheng pada Jeremy yang duduk disalah satu kursi di teras diikuti oleh Cheng.
__ADS_1
Mendengar perkataan Cheng, Evelyn langsung menghentikan langkahnya, dia jadi ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya tidak usah,” jawab Jeremy.
“Tidak usah? Kau yakin? Kau akan tinggal lama di Hongkong bisa sebulan dua bulan bisa saja lebih,” kata Cheng.
Evelyn yang mendengarnya terkejut, apakah Jeremy benar-benar akan pergi ke Hongkong? Ada bisnis apa di Hongkong? Yang dia tahu Jeremy sepertinya menjual barang-barang terlarang. Apa pekerjaan Jeremy benar-benar Ilegal? Pantas saja uangnya begitu banyak.
Evelyn mengeluh dalam hati, dia tidak pernah membayangkan memiliki suami yang bekerja di dunia hitam.
Bagaimana dengan dirinya jika Jeremy pergi ke Hongkong? Apa dia harus ikut? Tetapi dia mulai besok bekerja di perusahaan itu, tidak mungkin ikut Jeremy ke Hongkong, tapi Jeremy juga tidak ada niat mengajaknya.
“Untuk sementara tidak dulu, aku ribet bawa-bawa istri. Kalau butuh wanita kan gampang, banyak, tidak perlu repot repot ngurusin lagi,” kata Jeremy.
Cheng langsung tertawa mendengarnya.
“Kau benar, punya istri itu repot, apalagi kalau punya anak! Aku tidak mau punya anak! Sangat merepotkan, kita tidak bisa bebas lagi,” kata Cheng.
Evelyn akan melangkahkan kakinya tapi kemudian berhenti lagi saat mendengar suara Jeremy.
“Anak?” tanya Jeremy, kepalanya langsung pusing saja mendengarnya.
“Kau benar, sangat merepotkan punya anak istri,” keluh Jeremy.
“Bagaimana kalau istrimu hamil? Aku kaget mendengar kau sudah menikah, itu tandanya kau siap punya anak,” kata Cheng.
“Tidak, aku tidak mau punya anak,” sanggah Jeremy.
Evelyn yang mendengar percakapan mereka langsung saja tersadar dan memegang perutnya. Benar kata Cheng, bagaimana kalau dia hamil anaknya Jeremy?
“Bagaimana kalau istrimu hamil?” tanya Cheng pada Jeremy.
“Aku akan menyuruhnya aborsi saja, aku tidak mau punya anak,” jawab Jeremy.
Tentu saja perkataan Jeremy itu membuat Evelyn kecewa dan sedih. Pria itu tidak mau punya anak dan akan mengaborsinya? Bagaimana kalau ternayta dia hamil anaknya Jeremy nanti? Tidak, dia tidak mau aborsi.
“Tapi ada bagusnya juga punya anak,” ucap Cheng.
“Maksudmu apa?” tanya Jeremy.
__ADS_1
“Bisnismu sangat bagus, kau butuh penerus bisnismu dan yang mengurus gengmu,” kata Cheng.
Jeremypun diam.
“Kau butuh anak laki-laki yang akan menjadi penerusmu! Mengurus gengmu dan bisnismu. Kalau kau tidak punya anak, akan banyak orang yang menggulingkan posisimu!” kata Cheng.
Mendengarnya tentu saja membuat Jeremy terkejut dan menatap Cheng.
“Apa maksudmu? Aku harus punya anak?” tanya Jeremy.
“Iya, kau harus punya anak laki-laki,” kata Cheng.
“Tapi aku tidak ingin punya anak,” ucap Jeremy.
“Kau fikirkan saja perkataanku ini. Sekarang bolehlah kau tidak memikirkan punya anak, tapi disaat kau tua nanti kau butuh seseorang yang menlanjutkan bisnismu, siapa lagi yang berhak, anakmu! Kalau kau tidak punya anak, maka akan banyak yang bersiap-siap menikamku dari belakang untuk berlomba-lomba mengambil posisimu, kau mengerti kan?” urai Cheng panjang lebar.
Perkataan Cheng itu sungguh membuat Jeremy kefikiran. Beberapa hari ini dia memikirkana untuk aborisi saja jika Evelyn hamil tapi perkataan Cheng ada benarnya juga, dia butuh penerus bisnisnya di dunia hitam, dia harus punya anak laki-laki.
“Bagaimana kalau anakku permpuan?” tanya Jeremy.
“Terserah kau kalau itu, kau bisa berikan saja pada ibunya, tapi kau harus punya anak laki-laki, mau tidak mau, kau butuh anak laki-laki untuk jadi penerusmu!” kata Cheng.
Evelyn yang mendengar percakapan mereka merasa terkejut dan tubuhnya mendadak gemetaran. Apa jadinya kalau dia memilki anak laki-laki dan oleh Jeremy dijadikan pewaris perkerjaan yang ilegal itu? Anaknya akan seperti Jeremy? Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi.
Evelyn langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya, bukan ke kamar Jeremy. Dia merasa sangat gelisah, mendengar obrolan kedua pria itu.
Dia terus mondar-mandir di kamarnya sambil sesekali memegang perutnya. Evelyn merasa was-was kalau sampai dia hamil anak laki-laki. Apa yang harus dilakukannya sedangkan dia tidak mau anaknya dijadikan seperti Jeremy?
Evelyn merasakan keringat dingin keluar ditubuhnya, dia sangat gelisah dan panik. Dia tidak membayangkan hal ini akan terjadi.
Diapun berlari menuju meja yang diatasnya terdapat kalender meja. Diambilnya kalender itu dan dilihatnya, dihitungnya kapan hari dia menikah dengan Jeremy dan kira-kira kapan dia bisa mengecek apakah dia hamil atau tidak.
Sunguh dia tidak ingin anaknya seperti Jeremy, dia tidak mau hidup anaknya hancur seperti Jeremy, terjun dalam dunia hitam yang sangat keras dan terlalu banyak resiko.
Evelynpun duduk di atas tempat tidur dengan kalender meja masih ditangannya. Dia sangat bingung, sungguh bingung jika dia benar-benar hamil anaknya Jeremy.
Evelyn merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu, terlentang melihat langit-langit, percakapan Jeremy dan Cheng terngiang terus di telinganya. Dipejamkannya matanya, sungguh dia tidak pernah berfikir kearah sana.
********
__ADS_1