
“Sayang,
jangan lakukan ini. Aku akan cari jalan keluarnya.”
“Jalan
keluar apa?” Evelyn menatap Jeremy dengan mata yang berlinang.
“Sayang, aku
tidak mungkin membiarkanmu disentuh pria itu!”
“Kau pikir aku
mau?” Bibir itu terasa bergetar.
Jeremy mencoba
berontak tapi senjata semakin banyak menempel di kepalanya. Ryan tertawa puas
melihat Jeremy tidak bisa berkutik.
“Bawa Ayres
pulang!”
“Sayang..”
Jeremy menahan amarahnya yang menggung tapi dia tidak mau mencelakai anak
istrinya.
“Ryan!
Lepaskan anak istriku! Kau boleh menembakku, atau mencincangku, tapi lepaskan
anak istriku! Mereka tidak bersalah.”
Ryan malah
tertawa terbahak. “Senang rasanya melihat kau kalang kabut! Jadi semakin terlihat
kalau kau Cuma manusia biasa.” Pria itu kembali menoleh pada Evelyn.
“Hem, kau
sudah siap, Sayang?”
Evelyn tidak
menjawab, bibirnya mengatup rapat. Airmata jatuh ke pipinya.
Ryan menoleh
pada orang-orangnya untuk membuka pintu kerangkeng itu. Perlahan Evelyn keluar
dari pintu itu. Kakinya terasa gemetaran, hatinya merasa sakit.
Jeremy
menatap istrinya tidak tega, lalu pada putranya yang sedang dipegang oleh
orangnya Ryan sambil ditutup matanya. Sungguh dia tidak bisa memaafkan dirinya
yang sudah menghancurkan keluarganya.
Evelyn
berjalan mendekati Ryan yang berdiri bersandar ke meja kerjanya yang luas itu. Mata mesumnya melihat Evelyn dari atas
sampai bawah, dan berdecak kagum.
Mungkin dia
bisa mendapatkan banyak wanita yang lebih cantik dari Evelyn, tapi nilai dari
wanita ini bukan hanya sekedar cantik. Nilai wanita ini karena wanita ini
adalah wanita kebanggaannya Jeremy, istrinya Jeremy dan hanya Jeremy yang
menyentuhnya dan tidak akan pernah diberikan padanya. Mendapatkan wanita
istimewanya Jeremy membuatnya merasa bangga sudah mencabik-cabik hatinya
Jeremy.
Dia tahu
bagaimana hancurnya hati Jeremy, melihat dia bisa menyentuh istrinya sepuasnya
diatas meja ini.
Ternyata
daya Tarik Evelyn lebih kuat daripada rasa penasarannya pada Selena, karena dia
tahu Evelyn bukanlah wanita seperti Selena yang bisa melayani berganti ganti laki-laki.
“Mendekatlah,
Sayang!” ucap Ryan mengulurkan tangannya.
Evelyn menghampiri
Ryan dengan kaki yang gemetaran. Hatinya sangat sedih, perih teriris-iris,
hidupnya benar-benar hancur. Dulu dia mengalami hal seperti ini dan Jeremy
menyelamatkannya, tapi sekarang, siapa yang akan menyelamatkannya? Karena Ryan
dan Ken sangat berbeda. Ken hanya terobsesi bisnisnya, sedangkan Ryan memang
menginginkan tubuhnya.
__ADS_1
Tangan Ryan
mengulur memegang tangannya Evelyn. Hati Jeremy terbakar api cemburu.
“Ryan, jangan
sentuh istriku, Ryan!” teriak Jeremy.
Tangannya
semakin erat dipegang oleh orang orangnya Ryan.
“Sayang, cepat
pergi, Sayang! Jangan mau di sentuh Ryan!”
Tangan Ryan
mengusap lengannya Evelyn.
“Tangan yang
halus.. Aku tahu hanya Jeremy yang pernah menyentuhmu. Kau juga sudah lama
tidak bersama Jeremy kan? Jadi..seharusnya kau lebih bergairah daripada Selena.
Permainan Selena dan Jeremy yang sangat fenomenal. Seharusnya kau bisa membalas
Jeremy sekarang. Biar dia juga bisa merasakan bagaimana sakitnya jika istrinya
disentuh pria lain, apalagi pria itu adalah aku.”
Evelyn tidak
menjawab, hanya menatap Ryan dengan hampa.
Tangan Ryan
mengulur memegang dagunya Evelyn.
“Ryan,
jangan sentuh istriku, Ryan!” teriak Jeremy.
Dia yang
seumur hidupnya dengan bebas main dengan banyak wanita, ternyata tidak sanggup
melihat istrinya disentuh pria lain.
Ryan
mengusap wajahnya Evelyn. “Kau sangat cantik. Pantas saja Jeremy tidak mau
berbagi denganku. Dia serakah!”
Tangan Ryan
terus turun lagi ke dadanya begitu perlahan, merasakan lekuk tubuh wanita
cantik itu.
“Kau tahu,
tubumu semakin berisi kau terlihat sangat ****, kau sungguh menggairahkan!”
Ryan berdiri
tegak berhadapan dengan Evelyn.
“Lepaskan
pakaianmu!”
“Ryaaaan! Brengsek
kau Ryan!” Jeremy terus berteriak riak dengan marah yang tidak bisa terbendung.
Lagi-lagi, dia takut tembakan akan mengenai putranya juga istrinya, hatinya
kembali terasa begitu sakit tidak bsia berbuat apa-apa.
Dengan
tangan gemetaran, Evelyn membuka gaunnya, Ryan menatapnya tidak berkedip, dia
merasa ingin cepat saja melahapnya menyantapnya sepuasnya.
Dan akhirnya
gaun itu jatuh ke lantai, membuat wanita cantik itu hanya menggunakan pakaian
dalam saja.
Ryan
memeletkan lidahnya, air liurnya tidak terbendung, hasratnya langsung saja
meninggi.
“Ternyata
kau sangat cantik,” gumamnya.
Jeremy
merutuki dirinya, menyalahkan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia
menoleh pada Ayres yang ditutup matanya. Dia takut ada peluru nyasar mengenai putranya,
dan itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Tapi dengan membiarkan istrinya
disentuh Ryan, hatinya tidak rela.
__ADS_1
“Sayang, mendekatlah,
kau sangat menggairahkan!” ucapnya, sambil mengulurkan tangannya memeluk
pinggangnya Evelyn.
Sebenarnya
hati Evelyn ingin menyingkirkan tangan itu tapi ditahannya. Dia harus berkorban
demi Ayres. Hidupnya hancur tidak mengapa asal Ayres bisa selamat dan kembali
ke kehidupan yang normal bersama Kakeknya.
Hatinya
menjerit-jerit tidak rela tubuhnya disentuh Ryan. Pria yang pernah menjadi kaki
tangan suaminya, begitu menjijikkan sekarang akan menyentuh tubuhnya.
“Sayang..”
Jeremy memalingkan mukanya tidak mau melihat kedepan, tapi orangnya Ryan mendorong
pipinya dengan senjatanya untuk melihat kearah meja.
Jeremy
semakin marah saat melihat kedua tangan Ryan menyentuh leher istrinya,
mengusapnya perlahan, terus berjalan kearah dadanya yang tertutup. Hati Jermey
sangat hancur sehancur hancurnya dan dia mengutuki dirinya yang hanya bisa
diam.
“Kau sangat
menggairahkanku!” ucap Ryan.
Evelyn diam
saja.
“Tapi aku tidak
suka kau diam saja. Apa kau tidak tahu Selena sangat agresif pada Jeremy, dia
sangat hot, seharusnya kau bisa menunjukkan pada Jeremy kau juga bisa lebih
dari Selena. Ayolah, cium aku, Sayang!”
Ryan
memonyongkan bibirnya, membuat hatinya Evelyn ingin muntah saja, dia merasa sangat
jijik.
“Ayo cium
aku, Sayang, peluk aku, kemarilah!” ucap Ryan, kedua tangannya memeluk pinggang
Evelyn supaya mendekat padanya sampai tubuhnya menempel.
Jeremy
menahan amarah yang luar biasa, adegan didepan itu mengingatkannya padanya dan
Selena yang tanpa tahu malu, berhubungan ditengah acara rapatnya dengan
rekan-rekannya. Selena mungkin sudah terbiasa karena dia wanita penghibur, tapi
Evelyn? Evelyn adalah istrinya yang dinikahinya dengan disaksikan oleh Ayahnya.
Evelyn
adalah gadis yang baik, bahkan dia tidak pernah disentuh siapapun selain dirinya
dan sekarang harus mengorbankan dirinya demi keselamatannya putra mereka.
“Sayang, aku
minta maaf. Sayang aku minta maaf sudah menghancurkan hidupmu! Kalau tahu
begini lebih baik aku mati saja waktu itu supaya tidak ada yang akan
mengganggumu. Aku benar-benar pecundang!” Jeremy menunduk tapi senjata mendorong
dagunya keatas supaya melihat kejadian didepannya.
Ryan
merasakan libidonya semakin meninggi, tubuhnya merasa sangat gerah. Memiliki
Evelyn sangat menantang baginya, karena dia tahu tidak semua pria memilikinya.
Tangan Ryan
memeluk tubuhnya Evelyn, mendekapnya dengan erat, dan dia mencoba untuk mencium
bibirnya.
“Agresif dong
sayang, ayolah! Nikmati saja!” ucapnya, membuat Jeremy semakin terbakar amarah
dan cemburu.
“Ryan, awas
kau, Ryan!” maki Jeremy, darahnya semakin mendidih.
***
__ADS_1