
Selena melihat uang yang berserakan didalam apartemannya. Diapun tersenyum sinis menatap Ryan.
“Kau menunjukkan semua itu untuk apa? Tidak ada pengaruhnya buatku. Kabar Jeremy masih menjadi kabar yang paling baik yang ingin aku dengar.” Selena pergi begitu saja pergi ke kamarnya meninggalkan Ryan.
Mendengar perkataannya Selena semakin membuat Ryan marah dan melemparkan kantong berisi uang itu sembarang.
“Apa kabar kematian Jeremy akan membahagiakanmu?” teriak Ryan.
“Aku tidak yakin kau mampu melakukannya!” balas Selena juga berteriak. Gadis cantik itu mengganti pakaiannya memakai pakaian yang lebih santai.
Tidak berapa lama Selena keluar dari kamarnya menghampiri Ryan yang sedang duduk dengan tampang memberengut. Seluruh ruangan itu penuh dengan uang yang dihamburkannya tadi.
Selena berdiri di depan Ryan, sosok cantik itu tersenyum penuh percaya diri pada pria itu, sikap yang selalu Selena tunjukkan dimanapun dia berada, sosok wanita cantik yang kuat dan pantang menyerah untuk mendapatkan apapun yang dia
inginkan meski dengan cara menyakiti orang lain.
“Kau bisa
saja mendapatkan posisinya Jeremy, tapi bukan berarti kau bisa mendapatkanku
dengan mudah. Kau belum menunjukkan apapun padaku,” ucap gadis cantik itu
dengan tatapan tajamnya.
“Aku ingin
istirahat, sebaiknya kau pergi, jangan menggangguku!” lanjutnya, mengusir Ryan.
Ryan
langsung berdiri menatap Selena. Berjuta kali gadis itu menolaknya, berjuta
kali dia akan berusaha, tidak akan sekalipun dia mundur. Mendapatkan apa yang
menjadi milik Jeremy lebih membahagiakan dari hidupnya.
“Menjadi
bayang-bayangnya Jeremy, sangat memuakkan! Aku sudah bosan! Aku harus
mendapatkan semua yang dimiliki Jeremy dan itu pasti.”
“Benar
begitu? Tapi aku tidak melihat itu semua.”
“Apa
maksudmu?”
“Sepertinya
ada yang kau lupakan, kau hanya terobsesi padaku. Yang Jeremy miliki bukan aku saja tapi Evelyn, istrinya dan
bayinya, mereka milik Jeremy. Apa kau tidak ingin mengambilnya?”
Raut wajah
Ryan semakin memerah, apa yang dikatakan Selena memang benar, anak istri Jeremy
masih ada.
“Benar kan
apa yang aku katakan?”
Ryan menatap
wanita didepannya itu, rasa tertariknya pada Selena seakan tidak bisa hilang,
dia ingin wanita seperti Selena yang tidak peduli apapun demi pria yang
disukainya, dan dia ingin menjadi pria yang disukai Selena.
“Sepertinya
kau membuat persyaratan buatku. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk
memilikimu!” tantang Ryan, hasratnya selalu menggebu setiap kali melihat Selena
tapi dengan kecewa dia harus selalu menahannya.
Bisa saja
dia memaksa Selena, tapi bukan itu yang diinginkannya, dia bukan hanya ingin
tubuhnya Selana, dia ingin wanita itu melayaninya seperti yang biasa dilakukan
Selena pada Jeremy, barulah dia merasa puas memilikinya.
Selena
langsung tertawa. “Kau yakin akan melakukan semua yang aku inginkan?”
Ryan
mendekati Selena, mengenduskan hidungnya kewajah cantiknya Selena. Tercium parfum
yang harum begitu menggairahkannya.
“Semua..semua
__ADS_1
akan kulakukan untuk mendapatkanmu.Aku tidak sabar ingin merasakan cumbuan yang
kau lakukan pada Jeremy.”
Tangan
Selena mendorong dadanya Ryan. “Lenyapkan Evelyn!”
Ryan
terkejut mendengarnya. “Kau serius? Dia sedang hamil! Aku tidak pernah membunuh
wanita hamil!”
“Tapi
sayang, itu yang harus kau lakukan, lenyapkan Evelyn dan bayinya.” Selena
menatap serius Ryan. Pria itu masih mematung tidak percaya dengan apa yang
didengarnya. Dia memang penjahat, tapi dia tidak pernah membunuh wanita yang
sedang hamil apalagi wanita yang menjadi istrinya Jeremy itu adalah wanita
polos yang bak malaikat. Apa dia benar-benar harus melakukannya? Tegakah dia
menyakiti seorang malaikat?
“Kenapa? Kau
tidak sanggup? Lupakan, kau tidak akan menjadi Jeremy. Tinggalkan apartemanku!
Aku tidak mau diganggu!” Selena langsung beranjak pergi.
“Aku akan
melakukannya!” kata Ryan, membuat langkah Selena terhenti tapi tidak
memalingkan mukanya, masih membelakangi Ryan.
“Bagus!
Hanya untuk mendengar kabar baik maka apartemenku akan terbuka buatmu.” Setelah
bicara begitu, Selena langsung masuk ke kamarnya.
Ryan masih
mematung mendengar permintaannya Selena itu. Sanggupkah dia melakukannya? Tapi
dia terlanjur menginginkan Selena, dia harus mendapatkan Selena, barulah dia
benar-benar sudah menyingkirkan Jeremy.
melenyapkan Evelyn dan bayinya? Sekali lagi pertanyaan muncul di benaknya,
sanggupkah dia melakukannya?
***
Keesokan harinya
Ryan sudah memantau rumahnya Jeremy. Dia masih menimbang-nimbang untuk
melenyapkan Evelyn dan bayinya.
Seperti
biasa, Evelyn dengan telaten memandikan Jeremy dengan sabar. Pria itu selalu
mengikuti kemanapun istrinya bergerak. Ingin sekali dia memeluk dan menciumnya,
bukan hasrat laki-laki yang timbul sekarang tapi rasa tidak ingin menyakitinya.
Dia tidak mau menyakiti istri dan bayinya, dia ingin memeluknya untuk
melindunginya dari bahaya apapun, tapi apakah dia sanggup melakukannya? Tidak,
dia tidak sanggup, dia tidak berdaya sekarang. Bahkan saat ada ancaman didepannyapun
mungkin sekarang dia tidak akan bisa berkutik, dan dia sangat merasa menyesal tidak
berguna untuk anak istrinya.
“Aku akan ke
kantormu, aku harus mengurus pekerjaanmu,” ucap Evelyn duduk didepan Jeremy
yang duduk bersandar dengan banyak bantal di punggungnya.
Jeremy hanya
menatap wanita cantik itu, yang sekarang menggunakan blazer membuatnya terlihat
sangat menawan sebagai wanita karir.
Dengan
pakaian seperti itu Evelyn tetap terlihat cantik, bahkan membuatnya tidak mau
berpaling untuk tidak melihatnya. Dia menyesal sudah menyuruh Evelyn
__ADS_1
menggunakan pakaian yang terlalu terbuka sehingga banyak mata pria hidung
belang yang menatapnya. Dulu dia merasa bangga bersama wanita cantik yang
tubuhnya sempurna dan bisa dipertontonkan kepada orang lain. Tapi sekarang, dia
tidak rela ada pria yang melihat tubuh istrinya.
Ternyata
lama semakin lama, hal itu tidaklah menjadi sesuatu yang istimewa. Bukan wanita
yang bisa dipamerkan yang membanggakan, tapi wanita yang sangat mencintainya
yang dia agungkan. Dia ingin wanita yang mencintainya setulus hati, istrinya.
“Aku harus
pergi. Mungkin akan terlambat, aku harus ke Dokter, aku ada sedikit flek,
mungkin aku terlalu capek.”
“Flek? Flek
apa?” Ingin sekali Jeremy bertanya itu.
Evelyn
memegang perutnya sambil menunduk. “Aku ingin bayi kita lahir sehat, aku yakin
dia akan mirip denganmu.”
Wanita
itupun mengangkat wajahnya menatap Jeremy lagi sambil tersenyum tapi matanya
memerah dan berair.
Sakit hati
Jeremy setiap melihat airmata itu, dia tidak ingin melihatnya lagi. Dia berjanji
tidak akan membuat istrinya menangis lagi. Tidak akan.
“Aku harus pergi. Kau disini ditemani Bibi.”
Tangan Evelyn menyentuh pipinya Jeremy.
Ingin sekali
Jeremy berkata, peluk aku, cium aku. Tapi sepatah katapun tidak terucap, dia
menjadi mayat hidup sekarang. Hatinya semakin hancur, dia ingin mengatakan itu,
dia ingin istrinya memeluknya dan menciumnya sebelum pergi.
Keinginannya
ternyata hanya keinginan saja, Evelyn malah bangun dan beranjak pergi. Hatinya
semakin sakit saja, mungkin suatu saat nanti dia akan melihat istrinya pergi
tanpa menoleh lagi padanya. Dia benar-benar akan kehilangan anak istrinya.
Tapi beberapa
detik kemudian, Jeremy terkejut saat Evelyn berbalik, lalu mendekat dan
mencondongkan tubuhnya memeluk wajah tampan itu lalu mencium bibirnya.
Bibir itu
terasa begitu lembut, Jeremy memejamkan matanya, itulah ciuman terindah yang
dia rasakan. Sudah tidak terhitung berapa banyak dia mencium istrinya, tapi ciuman
Evelyn sekarang, bagaikan tetes embun yang menyejukkan hatinya. Hatinya sangat
bahagia hanya dengan sebuah ciuman sebentar saja.
“Aku berangkat.
Aku sudah titip pesan pada Bibi, kalau ada apa-apa supaya cepat mengabariku,”
ucap Evelyn sambil mengusap bibirnya Jeremy yang merah terkena lipstiknya.
Sentuhan
jari Evelyn di bibirnya Jeremy membuat hatinya berbunga-bunga, padahal hanya gerakan
sederhana tapi seakan sebuah oase di padang pasir. Bagaikan hadiah ulang tahun
dari langit. Hatinya sangat bahagia.
Evelyn
tersenyum lagi lalu diapun beranjak keluar dari kamarnya Jeremy.
“Aku mencintaimu,
Istriku. Aku jatuh cinta padamu,” batin Jeremy tapi kata itu tidak bisa diucapkannya,
__ADS_1
dia hanya menatap kepergian istrinya yang menghilang di balik pintu.
***