Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-50 Tawaran Selena untuk Ryan


__ADS_3

Selena melihat uang yang berserakan didalam apartemannya. Diapun tersenyum sinis menatap Ryan.


“Kau menunjukkan semua itu untuk apa? Tidak ada pengaruhnya buatku. Kabar Jeremy masih menjadi kabar yang paling baik yang ingin aku dengar.” Selena pergi begitu saja pergi ke kamarnya meninggalkan Ryan.


Mendengar perkataannya Selena semakin membuat Ryan marah dan melemparkan kantong berisi uang itu sembarang.


“Apa kabar kematian Jeremy akan membahagiakanmu?” teriak Ryan.


“Aku tidak yakin kau mampu melakukannya!” balas Selena juga berteriak. Gadis cantik itu mengganti pakaiannya memakai pakaian yang lebih santai.


Tidak berapa lama Selena keluar dari kamarnya menghampiri Ryan yang sedang duduk dengan tampang memberengut. Seluruh ruangan itu penuh dengan uang yang dihamburkannya tadi.


Selena berdiri di depan Ryan, sosok cantik itu tersenyum penuh percaya diri pada pria itu, sikap yang selalu Selena tunjukkan dimanapun dia berada, sosok wanita cantik yang kuat dan pantang menyerah untuk mendapatkan apapun yang dia


inginkan meski dengan cara menyakiti orang lain.


“Kau bisa


saja mendapatkan posisinya Jeremy, tapi bukan berarti kau bisa mendapatkanku


dengan mudah. Kau belum menunjukkan apapun padaku,” ucap gadis cantik itu


dengan tatapan tajamnya.


“Aku ingin


istirahat, sebaiknya kau pergi, jangan menggangguku!” lanjutnya, mengusir Ryan.


Ryan


langsung berdiri menatap Selena. Berjuta kali gadis itu menolaknya, berjuta


kali dia akan berusaha, tidak akan sekalipun dia mundur. Mendapatkan apa yang


menjadi milik Jeremy lebih membahagiakan dari hidupnya.


“Menjadi


bayang-bayangnya Jeremy, sangat memuakkan! Aku sudah bosan! Aku harus


mendapatkan semua yang dimiliki Jeremy dan itu pasti.”


“Benar


begitu? Tapi aku tidak melihat itu semua.”


“Apa


maksudmu?”


“Sepertinya


ada yang kau lupakan, kau hanya terobsesi padaku. Yang Jeremy miliki  bukan aku saja tapi Evelyn, istrinya dan


bayinya, mereka milik Jeremy. Apa kau tidak ingin mengambilnya?”


Raut wajah


Ryan semakin memerah, apa yang dikatakan Selena memang benar, anak istri Jeremy


masih ada.


“Benar kan


apa yang aku katakan?”


Ryan menatap


wanita didepannya itu, rasa tertariknya pada Selena seakan tidak bisa hilang,


dia ingin wanita seperti Selena yang tidak peduli apapun demi pria yang


disukainya, dan dia ingin menjadi pria yang disukai Selena.


“Sepertinya


kau membuat persyaratan buatku. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk


memilikimu!” tantang Ryan, hasratnya selalu menggebu setiap kali melihat Selena


tapi dengan kecewa dia harus selalu menahannya.


Bisa saja


dia memaksa Selena, tapi bukan itu yang diinginkannya, dia bukan hanya ingin


tubuhnya Selana, dia ingin wanita itu melayaninya seperti yang biasa dilakukan


Selena pada Jeremy, barulah dia merasa puas memilikinya.


Selena


langsung tertawa. “Kau yakin akan melakukan semua yang aku inginkan?”


Ryan


mendekati Selena, mengenduskan hidungnya kewajah cantiknya Selena. Tercium parfum


yang harum begitu menggairahkannya.


“Semua..semua

__ADS_1


akan kulakukan untuk mendapatkanmu.Aku tidak sabar ingin merasakan cumbuan yang


kau lakukan pada Jeremy.”


Tangan


Selena mendorong dadanya Ryan. “Lenyapkan Evelyn!”


Ryan


terkejut mendengarnya. “Kau serius? Dia sedang hamil! Aku tidak pernah membunuh


wanita hamil!”


“Tapi


sayang, itu yang harus kau lakukan, lenyapkan Evelyn dan bayinya.” Selena


menatap serius Ryan. Pria itu masih mematung tidak percaya dengan apa yang


didengarnya. Dia memang penjahat, tapi dia tidak pernah membunuh wanita yang


sedang hamil apalagi wanita yang menjadi istrinya Jeremy itu adalah wanita


polos yang bak malaikat. Apa dia benar-benar harus melakukannya? Tegakah dia


menyakiti seorang malaikat?


“Kenapa? Kau


tidak sanggup? Lupakan, kau tidak akan menjadi Jeremy. Tinggalkan apartemanku!


Aku tidak mau diganggu!” Selena langsung beranjak pergi.


“Aku akan


melakukannya!” kata Ryan, membuat langkah Selena terhenti tapi tidak


memalingkan mukanya, masih membelakangi Ryan.


“Bagus!


Hanya untuk mendengar kabar baik maka apartemenku akan terbuka buatmu.” Setelah


bicara begitu, Selena langsung masuk ke kamarnya.


Ryan masih


mematung mendengar permintaannya Selena itu. Sanggupkah dia melakukannya? Tapi


dia terlanjur menginginkan Selena, dia harus mendapatkan Selena, barulah dia


benar-benar sudah menyingkirkan Jeremy.


melenyapkan Evelyn dan bayinya? Sekali lagi pertanyaan muncul di benaknya,


sanggupkah dia melakukannya?


***


Keesokan harinya


Ryan sudah memantau rumahnya Jeremy. Dia masih menimbang-nimbang untuk


melenyapkan Evelyn dan bayinya.


Seperti


biasa, Evelyn dengan telaten memandikan Jeremy dengan sabar. Pria itu selalu


mengikuti kemanapun istrinya bergerak. Ingin sekali dia memeluk dan menciumnya,


bukan hasrat laki-laki yang timbul sekarang tapi rasa tidak ingin menyakitinya.


Dia tidak mau menyakiti istri dan bayinya, dia ingin memeluknya untuk


melindunginya dari bahaya apapun, tapi apakah dia sanggup melakukannya? Tidak,


dia tidak sanggup, dia tidak berdaya sekarang. Bahkan saat ada ancaman didepannyapun


mungkin sekarang dia tidak akan bisa berkutik, dan dia sangat merasa menyesal tidak


berguna untuk anak istrinya.


“Aku akan ke


kantormu, aku harus mengurus pekerjaanmu,” ucap Evelyn duduk didepan Jeremy


yang duduk bersandar dengan banyak bantal di punggungnya.


Jeremy hanya


menatap wanita cantik itu, yang sekarang menggunakan blazer membuatnya terlihat


sangat menawan sebagai wanita karir.


Dengan


pakaian seperti itu Evelyn tetap terlihat cantik, bahkan membuatnya tidak mau


berpaling untuk tidak melihatnya. Dia menyesal sudah menyuruh Evelyn

__ADS_1


menggunakan pakaian yang terlalu terbuka sehingga banyak mata pria hidung


belang yang menatapnya. Dulu dia merasa bangga bersama wanita cantik yang


tubuhnya sempurna dan bisa dipertontonkan kepada orang lain. Tapi sekarang, dia


tidak rela ada pria yang melihat tubuh istrinya.


Ternyata


lama semakin lama, hal itu tidaklah menjadi sesuatu yang istimewa. Bukan wanita


yang bisa dipamerkan yang membanggakan, tapi wanita yang sangat mencintainya


yang dia agungkan. Dia ingin wanita yang mencintainya setulus hati, istrinya.


“Aku harus


pergi. Mungkin akan terlambat, aku harus ke Dokter, aku ada sedikit flek,


mungkin aku terlalu capek.”


“Flek? Flek


apa?” Ingin sekali Jeremy bertanya itu.


Evelyn


memegang perutnya sambil menunduk. “Aku ingin bayi kita lahir sehat, aku yakin


dia akan mirip denganmu.”


Wanita


itupun mengangkat wajahnya menatap Jeremy lagi sambil tersenyum tapi matanya


memerah dan berair.


Sakit hati


Jeremy setiap melihat airmata itu, dia tidak ingin melihatnya lagi. Dia berjanji


tidak akan membuat istrinya menangis lagi. Tidak akan.


 “Aku harus pergi. Kau disini ditemani Bibi.”


Tangan Evelyn menyentuh pipinya Jeremy.


Ingin sekali


Jeremy berkata, peluk aku, cium aku. Tapi sepatah katapun tidak terucap, dia


menjadi mayat hidup sekarang. Hatinya semakin hancur, dia ingin mengatakan itu,


dia ingin istrinya memeluknya dan menciumnya sebelum pergi.


Keinginannya


ternyata hanya keinginan saja, Evelyn malah bangun dan beranjak pergi. Hatinya


semakin sakit saja, mungkin suatu saat nanti dia akan melihat istrinya pergi


tanpa menoleh lagi padanya. Dia benar-benar akan kehilangan anak istrinya.


Tapi beberapa


detik kemudian, Jeremy terkejut saat Evelyn berbalik, lalu mendekat dan


mencondongkan tubuhnya memeluk wajah tampan itu lalu mencium bibirnya.


Bibir itu


terasa begitu lembut, Jeremy memejamkan matanya, itulah ciuman terindah yang


dia rasakan. Sudah tidak terhitung berapa banyak dia mencium istrinya, tapi ciuman


Evelyn sekarang, bagaikan tetes embun yang menyejukkan hatinya. Hatinya sangat


bahagia hanya dengan sebuah ciuman sebentar saja.


“Aku berangkat.


Aku sudah titip pesan pada Bibi, kalau ada apa-apa supaya cepat mengabariku,”


ucap Evelyn sambil mengusap bibirnya Jeremy yang merah terkena lipstiknya.


Sentuhan


jari Evelyn di bibirnya Jeremy membuat hatinya berbunga-bunga, padahal hanya gerakan


sederhana tapi seakan sebuah oase di padang pasir. Bagaikan hadiah ulang tahun


dari langit. Hatinya sangat bahagia.


Evelyn


tersenyum lagi lalu diapun beranjak keluar dari kamarnya Jeremy.


“Aku mencintaimu,


Istriku. Aku jatuh cinta padamu,” batin Jeremy tapi kata itu tidak bisa diucapkannya,

__ADS_1


dia hanya menatap kepergian istrinya yang menghilang di balik pintu.


***


__ADS_2