
Mobil mewah
itu berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya sangat luas. Dibukanya
kacanya saat melihat seorang anak kecil laki-laki bermain dengan pria paruh
baya.
Anak itu
berkulit putih dengan rambutnya yang sedikit ikal menggunakan kaos lengan
pendek dan celana pendek. Kaki mungilnya berlari-lari mengejar bola lalu
ditendangnya kearah Kakeknya yang langsung menangkapnya.
“Tendanganmu
semakin hebat!” seru Pak Arman, membuat anak itu tertawa senang.
“Kakiku kaki
baja, benar kan Kek?”
“Seperti
robot!”
Anak itu
tertawa.
Sang Kakek
kembali menendang bola itu yang langsung dikejar anak kecil itu yang kemudian
anak itu berhenti saat bola itu berhenti di depan sepasang sepatu berwarna
hitam yang mengkilat.
“Ayres!”
panggil Pak Arman, langsung berdiri menatap pria berstelan jas hitam yang
berdiri di depan Ayres.
Anak itu
mendongak melihat sosok pria yang bertubuh tinggi itu. Pria itu berjongkok,
mengambil bola didepannya lalau diperlihatkan pada Ayres.
Ada harus
dihatinya, bayi yang Cuma sekali digendongnya saat lahir itu sekarang sudah
tumbuh menjadi anak kecil yang tampan. Anak itu menatapnya dengan tatapan
matanya yang polos. Mata yang ingin dia tahu seperti apa dan ternyata matanya
itu seperti mata ibunya, sangat teduh.
“Ayres, apa
itu namamu?”
“Iya. Om
tahu darimana?”
“Om tahu
dari Ibu.”
“Ibu? Ibuku
sedang bekerja ke kota. Hari ini pulang. Aku senang menunggu Ibu sambil bermain
bola dengan Kakek.”
“Sepertinya
Ibumu tidak pulang sekarang, Sayang. Paman kesini untuk mengajakmu bertemu
Ibu.”
“Aku tidak
mau!”
“Tidak mau?”
“Kenapa?”
“Kata Ibu,
aku tidak boleh ikut dengan orang asing.”
“Anak
pintar!”
“Aku memang
pintar mirip Ayah, kata Ibu.”
“Mirip Ayah?
Memang dimana Ayahmu?”
“Sudah
meninggal. Aku hanya boleh ke makamnya kalau aku sudah besar.”
Jeremy
terdiam, jadi rupanya itu yang diajarkan Evelyn pada putranya.
Pak Arman
menghampiri Jeremy.
“Kakek, kata
Om ini mau menjemputku bertemu Ibu.” Ayres memeluk kaki Kakeknya.
“Tidak, Nak.
Kau tetap sama Kakek, tunggu dirumah saja nanti Ibumu pulang.”
Jeremy
menatap Ayres. “Ini bolamu, ambilah!”
Ayres
mengambil bola itu, lalu berlari bersembunyi di belakang kaki Kakeknya lagi.
Jeremy
segera berdiri menghadap ayah mertuanya.
“Mau apa kau
kesini?”
“Aku mau
menjemput Ayres.”
“Tidak aku ijinkan!”
“Tapi ibunya
__ADS_1
sedang bersamaku.”
“Kau
berbohong! Tidak mungkin Evelyn kembali padamu. Dia sedang bekerja bersama
bosnya.”
“Ya, aku
tahu.”
“Aku tidak
akan mengijinkan Ayres kau bawa.”
“Aku tidak
mau melakukan kekerasan, sebaiknya Ayah jangan menghalangiku. Aku akan menjaga
Ayres dengan baik.”
“Tidak, kau
tidak boleh mengambil Ayres!” Pak Arman membungkuk akan menggendong Ayres dia
terkejut karena Ayres sudah digendong seorang pria bertubuh tinggi besar.
“Hei,
kembalikan cucuku!” teriak Pak Arman tapi tangannya dipegang salah satu pria
bertubuh besar.
“Jeremy! Kau
tidak boleh mengambil Ayres!” teriak Pak Arman.
“Harus. Ayah
harus percaya padaku aku akan menjaganya, tidak perlu khawatir.”
Jeremy
langsung membalikkan badannya.
“Jeremy, kau
tidak boleh membawanya! Kau sudah berjanji pada Evelyn, kau sudah
melepaskannya!”
Jeremy tidak
menjawab, dia memilih pergi menuju mobilnya.
“Kakek!
Kakek!” teriak Ayres.
“Ayres!”
teriak Pak Arman, akan mengejar Ayres yang dibawa pria tinggi besar itu yang
mengikuti Jeremy.
“Kakek! Aku
mau digendong Kakek!” Ayres mulai berontak.
Seorang pria
yang berdiri disamping mobil mewahnya Jeremy membukakan pintu mobil. Jeremy
langsung masuk kedalamnya.
“Kakek! Aku
“Ayres!
Jeremy! Kembalikan Ayres! Jeremy!” teriak Pak Arman.
Jeremy yang sudah
masuk ke dalam mobil tidak menggubrisnya. Pria yang menggendong Ayres
memasukkan anak itu ke dalam mobil.
Jeremy
langsung memeluk Ayres.
“Om! Aku mau
pulang! Aku mau Kakek!” teriak Ayres, matanya merah akan menangis.
“Kau akan
bertemu ibumu, apa kau tidak mau?”
“Kata Ibu
tunggu Ibu dirumah.”
“Kau tidak
percaya padaku?”
“Kata Ibu
tidak boleh percaya pada orang asing!”
Jeremy
tersenyum mendengarnya. Anak itu duduk menatap Jeremy.
“Kau tenang
saja, aku bukan orang asing.”
“Aku baru
melihatmu, kau orang asing!”
Jeremy
tertawa mendengarnya, senang sekali melihat anak kecil tampan itu.
“Kau sangat
keras kepala!”
“Kata Ibu
seperti Ayahku!”
Jeremy
terkejut mendengarnya lalu tersenyum jengah. “Kau benar Ayahmu sangat keras
kepala.”
“Aku ingin
pulang, aku tidak mau ikut denganmu!” Ayres memberengut, matanya memerah ingin
menangis tapi ditahannya.
“Menangislah,
tidak apa.”
“Laki-laki
__ADS_1
tidak boleh menangis!” Ayres menyusut airmata yang menetes di pipinya.
Lagi-lagi
Jeremy salut dengan jawaban anak itu. “Ibumu mendidikmu menjadi anak hebat.”
Tangannya
memegang pipinya Ayres. “Apa kau tidak senang berada disini? Mobil ini sangat
bagus, kan?”
Jeremy
mencoba untuk membujuk Ayres supaya tidak lagi ingin pulang.
Ayres
melihat sekeliling mobil itu yang ternyata sudah berjalan jauh meninggalkan
rumahnya tapi sama sekali tidak terasa kalau bergerak.
“Bagus, tapi
aku tidak suka.”
“Tidak suka?
Kenapa?”
“Karena
mobilnya bukan milikku!”
Jeremy
tertawa terbahak, sepertinya perjalanan jauh berjam-jam tidak akan menjenuhkan
karena ada temannya mengobrol dijalan.
“Kalau kau
mau kau boleh memilikinya.”
Ayres malah
menggeleng.
“Kenapa?
Bukannya kau suka dengan mobilnya? Apa kau tahu tidak semua orang mempunyai mobil
seperti ini.”
“Tapi kata Ibu,
aku harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”
Jeremy
terbelalak kaget. “Kau sekecil ini diajari Ibumu seperti itu?”
“Ya, kata
Ibu aku harus mandiri dan mau bekerja keras untuk menggapai cita-citaku.”
“Hem,
memangnya cita-citamu apa?”
“Aku ingin
menjadi Polisi. Aku ingin menumpas kejahatan. Memberikan perlindungan pada orang
yang lemah dan membutuhkan pertolongan.”
“Bagaimana
kalau orang jahat itu Ayahmu?” tanya Jeremy, dia semakin tertarik dengan cara
berpikir anak kecil itu. Dia tidak menyangka putranya begitu cerdas.
“Aku akan
menangkapnya dan memasukkannya ke penjara, supaya jera dan tidak berbuat
kejahatan lagi.”
Jeremy
mengerjapkan matanya lalu tersenyum. Anak itu tidak tahu bagaimana jahatnya
dirinya.
“Apa kau yakin
akan memasukkan Ayahmu sendiri ke penjara?”
“Tentu saja,
aku tidak peduli dia Ayahku. Tapi kan Ayahku sudah meninggal, kenapa Om bicara Ayah?
Kata Ibu, Ayahku orang baik, bukan orang jahat seperti yang kau katakan itu.
Ayah sangat menyayangi Ibu dan selalu melindunginya.”
Jeremy tidak
bisa berkata-kata mendengar ucapan putranya itu. Ternyata Evelyn tidak mengatakan
hal buruk tentangnya.
“Karena Ayah
sudah meninggal, jadi aku yang menggantikan Ayah untuk menjaga Ibu!” lanjut
Ayres, dengan serius.
Jeremy
tersenyum mendengarnya, dia merasa sangat terharu, sebenarnya berpisah dengan
anak istrinya sangat membuatnya menderita. “Apa aku boleh memelukmu?”
“Tidak
boleh!”
Wajah Jeremy
langsung tegang.
“Aku tidak
boleh dipeluk orang asing!” tolak Ayres, membuat Jeremy terdiam.
***
Evelyn
merasakan kepalanya yang pusing. Dipegangnya kepalanya lalu dipijatnya
perlahan. Matanya perlahan terbuka melihat langit-langit kamar yang putih. Lalu
diapun melihat sekeliling, diapun terkejut dan langsung bangun. Ternyata dia
duduk diatas tempat tidur.
Kenapa dia
seperti mengenali ruangan ini? Pandangannya mengedar ke sekeliling, dan semakin
terbelalak kaget saat sadar dia sudah berada di dalam sebuah kamar yang luas.
__ADS_1