Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-67 Jeremy Bertemu Ayres


__ADS_3

Mobil mewah


itu berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya sangat luas. Dibukanya


kacanya saat melihat seorang anak kecil laki-laki bermain dengan pria paruh


baya.


Anak itu


berkulit putih dengan rambutnya yang sedikit ikal menggunakan kaos lengan


pendek dan celana pendek. Kaki mungilnya berlari-lari mengejar bola lalu


ditendangnya kearah Kakeknya yang langsung menangkapnya.


“Tendanganmu


semakin hebat!” seru Pak Arman, membuat anak itu tertawa senang.


“Kakiku kaki


baja, benar kan Kek?”


“Seperti


robot!”


Anak itu


tertawa.


Sang Kakek


kembali menendang bola itu yang langsung dikejar anak kecil itu yang kemudian


anak itu berhenti saat bola itu berhenti di depan sepasang sepatu berwarna


hitam yang mengkilat.


“Ayres!”


panggil Pak Arman, langsung berdiri menatap pria berstelan jas hitam yang


berdiri di depan Ayres.


Anak itu


mendongak melihat sosok pria yang bertubuh tinggi itu. Pria itu berjongkok,


mengambil bola didepannya lalau diperlihatkan pada Ayres.


Ada harus


dihatinya, bayi yang Cuma sekali digendongnya saat lahir itu sekarang sudah


tumbuh menjadi anak kecil yang tampan. Anak itu menatapnya dengan tatapan


matanya yang polos. Mata yang ingin dia tahu seperti apa dan ternyata matanya


itu seperti mata ibunya, sangat teduh.


“Ayres, apa


itu namamu?”


“Iya. Om


tahu darimana?”


“Om tahu


dari Ibu.”


“Ibu? Ibuku


sedang bekerja ke kota. Hari ini pulang. Aku senang menunggu Ibu sambil bermain


bola dengan Kakek.”


“Sepertinya


Ibumu tidak pulang sekarang, Sayang. Paman kesini untuk mengajakmu bertemu


Ibu.”


“Aku tidak


mau!”


“Tidak mau?”


“Kenapa?”


“Kata Ibu,


aku tidak boleh ikut dengan orang asing.”


“Anak


pintar!”


“Aku memang


pintar mirip Ayah, kata Ibu.”


“Mirip Ayah?


Memang dimana Ayahmu?”


“Sudah


meninggal. Aku hanya boleh ke makamnya kalau aku sudah besar.”


Jeremy


terdiam, jadi rupanya itu yang diajarkan Evelyn pada putranya.


Pak Arman


menghampiri Jeremy.


“Kakek, kata


Om ini mau menjemputku bertemu Ibu.” Ayres memeluk kaki Kakeknya.


“Tidak, Nak.


Kau tetap sama Kakek, tunggu dirumah saja nanti Ibumu pulang.”


Jeremy


menatap Ayres. “Ini bolamu, ambilah!”


Ayres


mengambil bola itu, lalu berlari bersembunyi di belakang kaki Kakeknya lagi.


Jeremy


segera berdiri menghadap ayah mertuanya.


“Mau apa kau


kesini?”


“Aku mau


menjemput Ayres.”


“Tidak aku ijinkan!”


“Tapi ibunya

__ADS_1


sedang bersamaku.”


“Kau


berbohong! Tidak mungkin Evelyn kembali padamu. Dia sedang bekerja bersama


bosnya.”


“Ya, aku


tahu.”


“Aku tidak


akan mengijinkan Ayres kau bawa.”


“Aku tidak


mau melakukan kekerasan, sebaiknya Ayah jangan menghalangiku. Aku akan menjaga


Ayres dengan baik.”


“Tidak, kau


tidak boleh mengambil Ayres!” Pak Arman membungkuk akan menggendong Ayres dia


terkejut karena Ayres sudah digendong seorang pria bertubuh tinggi besar.


“Hei,


kembalikan cucuku!” teriak Pak Arman tapi tangannya dipegang salah satu pria


bertubuh besar.


“Jeremy! Kau


tidak boleh mengambil Ayres!” teriak Pak Arman.


“Harus. Ayah


harus percaya padaku aku akan menjaganya, tidak perlu khawatir.”


Jeremy


langsung membalikkan badannya.


“Jeremy, kau


tidak boleh membawanya! Kau sudah berjanji pada Evelyn, kau sudah


melepaskannya!”


Jeremy tidak


menjawab, dia memilih pergi menuju mobilnya.


“Kakek!


Kakek!” teriak Ayres.


“Ayres!”


teriak Pak Arman, akan mengejar Ayres yang dibawa pria tinggi besar itu yang


mengikuti Jeremy.


“Kakek! Aku


mau digendong Kakek!” Ayres mulai berontak.


Seorang pria


yang berdiri disamping mobil mewahnya Jeremy membukakan pintu mobil. Jeremy


langsung masuk kedalamnya.


“Kakek! Aku


“Ayres!


Jeremy! Kembalikan Ayres! Jeremy!” teriak Pak Arman.


Jeremy yang sudah


masuk ke dalam mobil tidak menggubrisnya. Pria yang menggendong Ayres


memasukkan anak itu ke dalam mobil.


Jeremy


langsung memeluk Ayres.


“Om! Aku mau


pulang! Aku mau Kakek!” teriak Ayres, matanya merah akan menangis.


“Kau akan


bertemu ibumu, apa kau tidak mau?”


“Kata Ibu


tunggu Ibu dirumah.”


“Kau tidak


percaya padaku?”


“Kata Ibu


tidak boleh percaya pada orang asing!”


Jeremy


tersenyum mendengarnya. Anak itu duduk menatap Jeremy.


“Kau tenang


saja, aku bukan orang asing.”


“Aku baru


melihatmu, kau orang asing!”


Jeremy


tertawa mendengarnya, senang sekali melihat anak kecil tampan itu.


“Kau sangat


keras kepala!”


“Kata Ibu


seperti Ayahku!”


Jeremy


terkejut mendengarnya lalu tersenyum jengah. “Kau benar Ayahmu sangat keras


kepala.”


“Aku ingin


pulang, aku tidak mau ikut denganmu!” Ayres memberengut, matanya memerah ingin


menangis tapi ditahannya.


“Menangislah,


tidak apa.”


“Laki-laki

__ADS_1


tidak boleh menangis!” Ayres menyusut airmata yang menetes di pipinya.


Lagi-lagi


Jeremy salut dengan jawaban anak itu. “Ibumu mendidikmu menjadi anak hebat.”


Tangannya


memegang pipinya Ayres. “Apa kau tidak senang berada disini? Mobil ini sangat


bagus, kan?”


Jeremy


mencoba untuk membujuk Ayres supaya tidak lagi ingin pulang.


Ayres


melihat sekeliling mobil itu yang ternyata sudah berjalan jauh meninggalkan


rumahnya tapi sama sekali tidak terasa kalau bergerak.


“Bagus, tapi


aku tidak suka.”


“Tidak suka?


Kenapa?”


“Karena


mobilnya bukan milikku!”


Jeremy


tertawa terbahak, sepertinya perjalanan jauh berjam-jam tidak akan menjenuhkan


karena ada temannya mengobrol dijalan.


“Kalau kau


mau kau boleh memilikinya.”


Ayres malah


menggeleng.


“Kenapa?


Bukannya kau suka dengan mobilnya? Apa kau tahu tidak semua orang mempunyai mobil


seperti ini.”


“Tapi kata Ibu,


aku harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”


Jeremy


terbelalak kaget. “Kau sekecil ini diajari Ibumu seperti itu?”


“Ya, kata


Ibu aku harus mandiri dan mau bekerja keras untuk menggapai cita-citaku.”


“Hem,


memangnya cita-citamu apa?”


“Aku ingin


menjadi Polisi. Aku ingin menumpas kejahatan. Memberikan perlindungan pada orang


yang lemah dan membutuhkan pertolongan.”


“Bagaimana


kalau orang jahat itu Ayahmu?” tanya Jeremy, dia semakin tertarik dengan cara


berpikir anak kecil itu. Dia tidak menyangka putranya begitu cerdas.


“Aku akan


menangkapnya dan memasukkannya ke penjara, supaya jera dan tidak berbuat


kejahatan lagi.”


Jeremy


mengerjapkan matanya lalu tersenyum. Anak itu tidak tahu bagaimana jahatnya


dirinya.


“Apa kau yakin


akan memasukkan Ayahmu sendiri ke penjara?”


“Tentu saja,


aku tidak peduli dia Ayahku. Tapi kan Ayahku sudah meninggal, kenapa Om bicara Ayah?


Kata Ibu, Ayahku orang baik, bukan orang jahat seperti yang kau katakan itu.


Ayah sangat menyayangi Ibu dan selalu melindunginya.”


Jeremy tidak


bisa berkata-kata mendengar ucapan putranya itu. Ternyata Evelyn tidak mengatakan


hal buruk tentangnya.


“Karena Ayah


sudah meninggal, jadi aku yang menggantikan Ayah untuk menjaga Ibu!” lanjut


Ayres, dengan serius.


Jeremy


tersenyum mendengarnya, dia merasa sangat terharu, sebenarnya berpisah dengan


anak istrinya sangat membuatnya menderita. “Apa aku boleh memelukmu?”


“Tidak


boleh!”


Wajah Jeremy


langsung tegang.


“Aku tidak


boleh dipeluk orang asing!” tolak Ayres, membuat Jeremy terdiam.


***


Evelyn


merasakan kepalanya yang pusing. Dipegangnya kepalanya lalu dipijatnya


perlahan. Matanya perlahan terbuka melihat langit-langit kamar yang putih. Lalu


diapun melihat sekeliling, diapun terkejut dan langsung bangun. Ternyata dia


duduk diatas tempat tidur.


Kenapa dia


seperti mengenali ruangan ini? Pandangannya mengedar ke sekeliling, dan semakin


terbelalak kaget saat sadar dia sudah berada di dalam sebuah kamar yang luas.

__ADS_1


__ADS_2