
Jeremy sudah menyelesaikan makannya, diapun bangun dari duduknya.
“Apa hari ini kau tidak sibuk?” tanya Evelyn, menengadahkan wajahnya menatap Jeremy yang terlihat semakin tinggi karena berdiri.
Jeremy menoleh pada wajah yang sedang manatapnya itu, wajah yang semalaman habis diciumnya sampai dia begitu hafal setiap bagian wajah itu seandainya dia harus melukisnya. Bukan saja wajahnya, semua bentuk dan seluruh bagian tubuhnya juga dia ingat, sepertinya ini wanita pertama yang sangat dia ingat diluar kepala seluruh bagian tubuh dan wajahnya.
“Tidak ada, ada apa?” tanya Jeremy.
“Aku kan diterima bekerja, aku tidak punya pakaian kerja, apa kau mau menemaniku membeli pakaian?” jawab Evelyn.
Jeremy tertawa mendengarnya.
“Kau bukan anak kecil lagi, beli saja sendiri!” ucapnya dengan kesal.
“Bukan begitu..apa salahnya kalau kau tidak sibuk menemaniku berbelanja? Orang lain juga begitu,” kata Evelyn.
“Orang lain maksudmu siapa?” tanya Jeremy.
“Ya orang-orang, suaminya suka mengantar istrinya berbelanja,” jawab Evelyn.
“Sudahlah, tidak perlu banyak menuntut macam-macam. Wanita bagiku hanya cukup di tempat tidur saja, cukup! Selebihnya aku mencari uang sebanyak banyaknya, bersenang-senang, tidak perlu memikirkan hal-hal sepele seperti itu!” gerutu Jeremy, melempar serbet keatas meja dengan kesal.
Evelynpun diam tidak bicara, sedih rasanya jawaban suaminya seperti itu, sama sekali tidak ada perhatiannya. Diapun menunduk, tidak terasa airmata menetes kemeja, sambil kembali melanjutkan makannya. Sakit hatinya, begitu tidak berharganya dirinya dimata suaminya, kenapa pria itu begitu merendahkan perempuan? Apa dia lupa kalau dia juga lahir dari seorang ibu?
Jeremy beranjak dari ruangan itu, dia tidak peduli mau Evelyn menangis meraung-raung juga dia tidak mau menemaninya berbelanja, pekerjaan yang sangat tidak berguna.
Baru juga sampai dipintu, ponselnya berbunyi, diapun mengeluarkan ponsel itu dari sakunya, ternyata ayahnya video call.
“Ada apa lagi Ayah? Kau begitu sering menelpon! Apa tidak pekerjaan yang lain?” gerutu Jeremy, pasti akan bertanya Evelyn lagi, ayahnya itu begitu mengkhawatirkan wanita itu.
“Ayah mau bicara dengan Evelyn, mana dia? Tadi kan dia masih tidur,” kata Pak Kades.
“Ada, dia lagi makan!” jawab Jeremy, terus mengumpat tidak jelas, lalu kembali masuk ke ruang makan menghampiri Evelyn.
“Telpon, dari Ayah!” ucapnya, memeberikan ponsel itu.
Evelyn cepat-cepat menghapus airmatanya, sambil menerima ponselnya itu.
“Hapus airmatamu!” bentak Jeremy.
Tangan Evelyn menerima ponsel itu, terlihat wajah ayah mertuanya itu di layar.
“Kau baik-baik saja?” tanya Pak Kades.
“I iya Pak, aku baik-baik saja,” jawab Evelyn, tapi dia tidak bisa menahan airmatanya yang kembali menetes dipipinya.
“Kau kenapa?” tanya Pak Kades.
“Tidak apa-apa Pak, mataku kena debu,” jawab Evelyn kembali menghapus airmatanya dan tersenyum.
“Jeremy!” teriak Pak Kades tiba-tiba.
Tentu saja Jeremy yang akan meninggalkan ruangan itu terkejut mendengar suara dari ponsel itu yang di loudspekar, diapun menoleh ke arah ponsel yang dipasang Evelyn.
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan pada istrimu hah?” maki Pak Kades.
Jeremypun terkejut dan menoleh pada Evelyn yang malah sedang terisak. Dia cepat-cepat mengambil ponsel itu.
“Aku tidak melakukan apa-apa, dia saja yang cengeng, dikit-dikit menangis! Kaya anak kecil!” gerutu Jeremy.
“Kau pasti menyakitinya kan? Memangnya dia mau apa?” bentak Pak Kades.
“Dia mau aku menemaninya berbelanja! Tidak ada kerjaan!” jawab Jeremy.
“Cuma menemaninya berbelanja kau tidak mau? Dia baru kau ajak ke kota, dia belum tahu jalan! Bagaimana kalau dia nyasar, hilang, diculik? Kau antar dia!” gerutu Pak Kades.
“Dia sudah besar, bagaimana mungkin hilang diculik!” gerutu Jeremy.
“Kau bertanggung jawab atas keselamatannya! Dia tidak punya siapa siapa disana!” maki Pak Kades dengan emosi, membuatnya kembali terbatuk-batuk.
Melihat ayahnya kembali marah dan terbatuk-batuk membuat Jeremy semakin tidak nyaman, meskipun dia kesal pada ayahnya yang terus menyuruhnya mengurus Evelyn, membuatnya menjadi terkekang tapi dia juga tidak mau ayahnya meninggal lebih cepat karena kecewa padanya seperti yang terjadi pada ibunya.
“Iya, iya, aku akan mengantarnya berbelanja!” jawab Jeremy dengan kesal, lalu menutup telponnya.
Diapun membalikkan tubuhnya menatap Evelyn yang masih terisak-isak.
“Ini gara-gara kau, kau sengaja mencari perhatian pada Ayahku dengan menangis sepeti itu?” tanya Jeremy.
Evelyn bangun dari duduknya, tidak menghiraukan perkataan Jeremy dan akan keluar dari ruangan itu.
“Ayo aku antar kau berbelanja, tapi jangan lama, aku punya urusan lain!” teriaknya.
Evelyn menghentikan langkahnya, terkejut karena Jeremy bicara seperti itu.
Evelyn meringis karena sakit tangannya dicekal begitu keras, tangan kanannya sampai memegang tangan kirinya Jeremy saking tekejutnya pria itu menariknya dengan keras.
“Kau mencari masalah denganku?” bentak Jeremy, menatapnya dengan marah.
“Tidak, tadi kan aku sudah bilang aku tidak mau merepotkanmu!” jawab Evelyn, sambil menepiskan tangannya tapi ternyata tidak bisa.
“Bicara sekali lagi! Bicara sekali lagi begitu!” teriak Jeremy, membuat Evelyn ketakutan melihatnya marah.
“Kau sengaja mengadu-ngadu pada ayahku?” bentak Jeremy.
“Tidak, aku tidak bermaksud begitu,” kata Evelyn, dia menjadi ketakutan melihat Jeremy semarah itu.
“Cepat berpakaian! Aku temani kau belanja!” kata Jeremy dengan ketus sambil melepaskan tangannya Evelyn.
Tanpa banyak bicara lagi, Evelyn pergi meninggalkan ruang makan itu. Bergegas menuju kamarnya yang satu lagi berganti pakaian.
Tidak berapa lama, dia sudah siap, segera menuju kamarnya Jeremy, tapi saat pintu kamar itu dibuka ternyata tidak ada. Jeremy tidak ada diruangan itu.
Evelynpun segera pergi ke ruang tengah, dilihatnya di depan rumah itu berdiri pria yang sedang dicarinya itu. Diapun segera menghampirinya.
“Kenapa kau lama sekali?” gerutu Jeremy, yang sudah berganti pakaian juga lebih casual.
Evelyn menatapnya tidak berkedip, pria itu terlihat sangat tampan dan lebih muda dengan pakaian casualnya. Padahal kalau diberi sedikit sikap manis pria itu akan terlihat sangat manis, jangan selalu membentak-bentaknya dan marah-marah.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Jeremy dengan ketus.
“Tidak apa-apa, aku sudah siap,” jawab Evelyn.
“Ya sudah ayo!” ajak Jeremy.
Evelyn mengulurkan tangannya akan memegang tangan Jeremy, tapi ternyata pria itu hanya pergi saja mengabaikannya. Evelyn menatap tangannya yang di abaikan pria itu. Apa suami istri berpergian bersama harus seperti ini? Pegangan tangan juga tidak boleh?
Tapi Evelyn tidak bisa protes atau dia akan memulai pertengkaran dengan Jeremy dan itu akan membuat suasana kembali runyam.
Didalam mobil tidak ada yang bicara sedikitpun. Terdengar ponsel Jeremy berbunyi, Evelyn melirik pria yang duduk disampingnya itu menerima ponselnya.
“Ada apa Selena?” tanya Jeremy dengan ketus, hatinya sedang tidak baik, dia marah harus menemani istrinya berbelanja.
“Kenapa kau ketus begitu? Nanti malam kau tidur di apartemenku kan?” tanya Selena.
“Tidak, aku sedang sibuk,” jawab Jeremy.
“Sibuk? Kau ada mainan baru?” tanya Selena dengan kesal.
“Tidak, aku memang sibuk!” kata Jeremy.
“Pak, kita akan ke mall yang mana?” tanya supir, pertanyaannya terdengar oleh Selena.
“Mall? Kau mau ke mall?” tanya Selena, keheranan.
“Iya,” jawab Jeremy, lalu menoleh pada supir.
“Cari mall yang terbaik saja! Aku tidak mau istriku pakai baju murahan!” kata Jeremy pada supir.
Mendengar perkataan itu membuat Selena semakin terkejut.
“Hei, kau mau ke mall dengan istrimu?” tanya Selena.
“Iya, dia masuk kerja besok, aku menemaninya membeli pakaian kerja,” jawab Jeremy, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Tentu saja mendengar jawaban Jeremy membuat Selena merasa cemburu, sejak kapan pria itu ada waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak penting seperti itu? Selama mengenal Jeremy tidak pernah pria itu memperhatikan hal-hal seperti itu selain memberinya uang yang banyak, yang difikirkan pria itu hanya urusan di tempat tidur tidak lebih.
“Nanti kalau ada waktu aku menemuimu,” jawab Jeremy lalu menutup ponselnya.
Selena menatap ponsel di tangannya, dia tidak percaya pria itu bersikap ketus padanya, apakah Jeremy sedang marah, marah pada siapa? Kenapa pria itu tidak bersikap manis lagi padanya. Hatinya semakin cemburu saja mengingat Jeremy mengantar Evelyn membeli pakaian.
Selena duduk di sofa itu dengan kesal. Apa ini artinya dia akan kehilangan Jeremy? Mungkin saja nanti Jeremy tidak akan menghubunginya lagi, pria itu sumber kekayaan buatnya, pria itu paling royal dibandingkan pria-pria kaya lainnya. Ditambah Jeremy itu masih muda dan tampan juga single, tapi sekarang pria itu sudah menikah.
Evelyn melirik pada suaminya yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya, menatap wajah tampan itu lalu pada tangannya yang terus mengetik dengan serius. Dia merasa senang pria itu mau menemaninya belanja meskipun sambil marah-marah.
*****
Readers aku mohon maaf ya nulisnya ga teratur. Anak-anakku awal masuk sekolah lagi jadi repot, sedikit waktu nulisnya. Mudahan mudahan kedepannya bisa rutin ya..
Jangan lupa like dan giftnya.
Terimakasih.
__ADS_1
*****