
RUMAH IVAN KE-2
"Tuan,apa yang terjadi denganmu,katakan
padaku pecundang mana yang berani
mengusikmu?" Kata Daniel begitu melihat Ivan santai dikursi dengan pandangan seperti tidak biasanya.
"Raras"
Karena Ivan menyebut nama Raras, Daniel teringat akan suatu hal.yaitu mencari informasi tentangnya.
"Oh ya Tuan muda,aku sudah mendapatkan
informasi tentang wanita itu. identitasnya
benar-benar tak terduga."
"Apa itu?"
"Raras Wijaya wanita berumur 20 tahun satu
tahun lalu lulus kuliah di universitas terbaik
mengandalkan beasiswa.ayahnya bernama
Andreas Wijaya meninggal 15 tahun yang
lalu akibat kebakaran diapartemen x."
"APA?"
"Dan lagi sesuai dengan informasi yang
kudapat ia meninggal akibat menolong
Raras dalam kejadian kebakaran itu
kemudian Raras hilang ingatan pada saat
umur 5 tahun akibat kebakaran" perjelas
Daniel
"Jadi,wanita itu dia?"
"Tuan,jangan asal nuduh dulu. perjalanan
masih panjang,aku akan melakukan yang
terbaik supaya kasus ini terlaksana"
Ivan hanya diam saja dalam lamunannya, tidak tau apa yang pria itu pikirkan.
"Tuan,jika Raras adalah wanita yang kau cari
apa kau akan membunuhnya?" Ivan emang ada dendam pribadi terhadap masalah yang
__ADS_1
membuat dirinya tidak memandang dunia
dengan baik.
Semua usaha dan sikapnya emang banyak
sekali alasan namun tidak bisa diungkapkan
sanking banyaknya.
"Tentu saja,alasanku bertahan hidup sampai
sekarang adalah membunuh orang yang
bermarga Wijaya"
"Tapikan bukan orang yang bermarga Wijaya
yang bunuh orang tua tuan?"
"Dia menyelamatkan nyawa Raras itulah
alasannya"
15 tahun yang lalu,terjadi kebakaran disebuah
apartemen terbaik dikota x.
Orang yang membakar apartemen itu
menteri.
tidak tau,kenapa bisa Ivan selamat dalam
kecelakaan itu.
Tujuan ia hidup dan berkuasa adalah karena
ingin balaskan dendam pada orang yang
membakar apartemen itu.
tapi,sampai
sekarang Ivan belum mendapat informasi
tentang identitas orang itu karena identitas
nya telah dihapus oleh negara.
---
Raras bangun dari tidurnya yang lelap, membuka matanya sangatlah berat. sekujur
tubuhnya lemas.
ketika ia memandang kesebelah ia tidur,tidak ada sosok Ivan.
__ADS_1
"Nona Raras,tadi aku lihat badanmu lemas
apa perlu aku panggilkan dokter"Kata Pelayan yang baru memasuki kamar.
"Gak perlu,aku hanya perlu istirahat untuk
mengurangi demam"
"Tapi nanti tuan Ivan marah pada kami jika
tidak mengurusmu dengan baik"
"Haha,itu gak mungkin terjadi. mendingan
bibi buatin aku sup perutku sudah lapar."
Suara Raras sangat lemas membuat pelayan semakin khawatir
Marah kau bilang? itu tidak mungkin dan takkan terjadi! Batin Raras
"Oke Nona jangan kemana-mana tetap disini
ya istirahat nanti tambah sakit" pertegas pelayan kemudian keluar meninggalkan Raras seorang diri.
Raras menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian menarik selimutnya dan kembali tidur.
---
Dikantor
"Gawat tuan Ivan! kata pelayan Raras demam.
apakah anda mau pergi lihat keadaannya?"
Dengan wajah panik Daniel menghampiri
Ivan
"Siapa juga yang peduli dengannya!" pungkas Ivan kemudian melanjutkan pekerjaannya
Daniel hanya senyum memperhatikan tuannya walaupun omongan Ivan berbeda dengan hati.
"Yasudahlah tuan,aku hanya memberikan
sedikit informasi.kalau gitu aku pergi dulu
ya!"
Tetap saja dalam hati Ivan ada rasa khawatir. setelah pertengkaran yang sangat hebat tadi malam, tidak tau apa yang akan Raras lakukan.
tapi mendengar Daniel mengatakan ia mendapat informasi dari pelayan tentang Raras berarti tandanya Raras berada dirumah sekarang,perkataan itu sungguh membuat Ivan senyum-senyum gila.
.
.
.
__ADS_1