
Raras dan ibunya sudah bertemu, langkah selanjutnya adalah pergi untuk merayakan ulang tahun ayah yang ke-54 tahun.
"Bu, rumah yang ibu tempati sangat sederhana. Bagaimana kalau aku membeli sebuah rumah yang sederhana namun nyaman untuk ditinggali? " Tawar Raras dengan baik-baik.
"Tidak peru, lagian diusia ibu yang sudah tua tidak perlu lagi mempunyai rumah yang bagus"
Raras tidak tega melihat kehidupan yang mereka alami saat ini. Mereka tinggal terpisah, dengan Raras yang tinggal disebuah rumah yang mewah seperti kastil kerajaan sedangkan ibu yang hanya tinggal dirumah sederhana,jika dibanding dengan tempat tinggal Raras yang sekarang rumah itu dibilang gubuk.
"Tapi bu, tetap saja aku tidak enak hati membiarkan ibu tinggal disana."
"Kamu ini ya, selalu saja terlalu perhatian begitu. Melihatmu yang sudah bahagia sekarang ini saja membuat ibu senang" Ibu mengelus-elus kepala Raras dengan lembut.
Memang benar apa yang dikatakan ibu, karena terlalu perhatian terhadapnya, dia rela melakukan hal apapun itu demi ibunya. Bukan hanya sewaktu diusianya yang sekarang, tapi juga saat diusia dini. Dimana Raras yang seharusnya bersekolah dan mencari sahabat sahabatnya diluar sana, tetap saja dia selalu ngeyel. Setiap pulang sekolah Raras pasti membantu ibunya menjual kue keliling. Dan pada malam harinya, ketika ibu bekerja sebagai cleaning service dia juga ikut ketempat pekerjaan ibu untuk membantu sedikit-sedikit. Tidak peduli dengan hinaan dan cacian yang keluar dari mulut orang. Dia tetap berusaha agar membuat ibunya takjub akan sifat dan kelakuannya. Dia merasa tidak enak hati, selama ini ibu sudah memperjuangkannya untuk tetap bersekolah dia juga harus menyemangati ibu saat dia pergi bekerja.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai kekuburan tempat ayahnya tinggal.
Mereka keluar dari sana menuju pemakaman ayahnya.
"Bu, ayo kita kesana" Sebelum menuju kesana mereka tidak lupa untuk membayar ongkos taksi.
Sudah mempersiapkan diri dari rumah, Raras dan ibu sudah membawa sebuah bunga untuk diberikan keayahnya.
Tiba sampai dipemakaman ayahnya, Raras langsung bertekuk lutut dan mengeluarkan isakan tangisan.
Meskipun dia tidak pernah bertemu dengan ayah, namun Raras tahu bahwa ayahnya pasti sangat mencintainya dialam baka sana.
Dia meletakkan bunga itu."Ayah, lihat anakmu yang sekarang ini. Sudah tumbuh besar dan dewasa. Aku sudah bisa mengatur diriku, dan juga ibu. Ayah, sekarang ini aku sudah menikah, diumurku yang dua puluh tahun ini sudah kulewati bersama dengan suamiku. Awalnya aku sangat takut kepadanya, tapi seiring berjalannya waktu aku sudah sangat mengenalnya. Dia pria yang baik, dia selalu menunjukkn sisi perhatiannya padaku dan terkadang dia juga suka menjahiliku. Kehidupanku yang sekarang sangat baik, jadi ayah nggak perlu khawatir ya"
__ADS_1
Kalimat demi kalimat didengar ibu dan membuatnya terharu sampai meneteskan air mata. Diantara kalimat itu, ada satu yang membuat dada ibu tersesak dengan mengatakan bahwa hidupnya bersama dengan suaminya membaik.
Raras yang masih dikenal ibu polos, sudah bisa mengucapkan dan mengutarakan perasaannya terhadap seorang pria. Meskipun ibi tahu dia dulu pernah mempunyai mantan, sewaktu pacaran Raras tidak pernah menunjukkan sisi yang seperti ini dan ekspresi yang seperti ini.
Ibu ikut membungkuk, merangkul bahu Raras dan menampilkan senyuman. Berharap menenangkan hatinya yang sedang terluka. "Raras, tenanglah jangan menangis."
Kembali teringat akan diri sendiri, dia menghapus air mata yang menyekap dipelupuk dan juga pipihnya. Kembali tersenyum.
"Ayah, selamat tahun kelahiran. Meskpun kamu tidak ada didunia dan tidak hidup lagi aku dan ibu akan selalu merayakannya"
Ibu menatap anaknya dan tersenyum lebar, dia mencium kening Raras bermaksud menenangkannya dan menunjukkan kasih sayang kepada suaminya.
"Ayo kita pulang sayang, ibu yakin teman-temanmu sudah menunggu"
"Benar juga, Haha, karena terlalu terbawa suasana aku lupa dengan keadaan mereka. Yuk kita pergi bu"
Lalu ibu menganggukan kepalanya.Mereka berdiri, meskipun lutut agak sedikit keram akibat terlalu banyak berlutut.
Setelah mereka bertemu menyapa dan saling menanyakan kabar. Mereka ber-empat masuk kedalam mobil menuju mall. Ya, mall salah satu tempat untuk bersenang-senang.
Diperjalanan menuju kemall terbesar dikota A, memerlukan waktu satu setengah jam. Meskipun Raras sangat bosan, dia tidak bisa bilang bahwa dia tidak pergi.
Selama diperjalanan mereka masing-masing sibuk dengan perkerjaan dan dunia mereka.
Sesampainya disana, mereka turun dari mobil menuju pintu utama.
"Wah, baru pertama kalinya aku masuk kedalam mall ini. Nona, terima kasih banyak ya sudah mengajak kami liburan kesini" Ucap Adel dengan gembira.
__ADS_1
"Haha, tidak perlu sungkan"
Sebenarnya aku juga belum pernah kesini. Hehe, kalau aku mengatakan hal ini kepada mereka pastinya tidak mungkin. Jika mereka mengetahui satu persatu identitasku bisa gawat nantinya.
"Yuk masuk kedalam" Ajak Raras penuh gemilang. Mereka mengikuti Raras dari belakang sambil menatap kekiri dan kekanan, betapa indahnya mall ini.
Bukan hanya mereka,Raras pun juga begitu. Sangat kagum dengan mall ini.
Ketika masuk kepintu utama, banyak sekali toko dan juga testaurant bintang lima didalamnya. Banyak juga para karyawan yang menawarkan mereka untuk pergi ketoko mereka berada, sayangnya Raras menolaknya mentah-mentah. Hari ini dia ingin pergi ketempat yang mereka suka, sebagai tanda terima kasih telah menjaga toko sebaik mungkin.
"Kalian mau apa, nanti aku belikan"
"Beneran nih nona? kalau begitu aku mau melihat gaun boleh tidak?" Tawar Adel dengan penuh harap.
"Ish Adel, jangan banyak minta. Sudah tahu ini mall terbesar dikota kita, sudah pasti harganya menjangkau selangit!" Menepuk pundak Adel.
"Oh ya benar juga.Hehe maaf ya nona aku banyak minta"
"Gak perlu sungkan, mari kita kesana" Raras mengajak mereka untuk pergi ketoko bermerek terkenal Louis vuitton, sama seperti merek yang dikenakan oleh Raras saat ini. Namun dia tidak mengetahui hal itu.
"Nona Raras baik sekali, sudah lama aku menginginkan untuk membeli gaun itu. Terima kasih nona"
"Huh, kamu itu banyak minta juga."
"Maaf kak Cici, mataku selalu memandang kearah situ dan tidak pernah lepas" Menyatukan kedua jari telunjuknya.
Disaat mereka hendak masuk kedalam, ibu mengatakan bahwa dia ingin pergi ketoilet. Tidak tahan dengan ac ruangan dimall ini, suhunya terlalu tinggi.
__ADS_1
Cici dan Adel mendekat kearah gaun yang diinginkan, sedangkan Raras jauh tertinggal dibelakang karena langkah mereka sangatlah cepat.
Sewaktu dia ingin pergi, pandangan matanya berubah ketika melihat sosok punggung seorang lelaki yang dia kenal.