
Begitu sampai ditempat duduk, Lena menatap mereka dengan bangga. Teman-temannya.
"Hai semua, maaf telah menunggu" Ucapnya dengan ramah terhadap orang yang berada ditempat itu.
"Selamat ya Lena, atas kepulanganmu dikota A. Udah datang jauh-jauh kesini nggak usah balik lagi ya" Salah satu sahabat Lena bernama Irene menyapanya.
Belum sampai ditempat duduk mereka sudah disambut oleh teman masing-masing.
"Ivan, aku nggak percaya kamu bakal datang" Ronald yang selalu tampak ceria dan menunjukkan wajah anehnya didepan Ivan kini berubah menjadi sangat dingin.
Namun Ivan tidak mementingkan hal itu, tetap berjalan dan duduk ditempat yang telah disediakan.
"Terima kasih atas sambutannya Irene, sudah lama sekali kita nggak ketemu aku kangen."
Lena berjalan kearah Irene berada dan memeluknya dengan kencang. Begitu juga Irene memeluknya kembali dan mengeluarkan air mata sanking terharunya.
"Lena yang bod*h, kenapa baru sekarang kamu datangnya. Sudah bertahun-tahun aku menantikan kehadiranmu"
Lena jadi semakin tidak enakan mendengar sambutan dari sahabatnya itu. Dia melepaskan pelukan itu dengan perasaan tidak tega.
"Hehe, maaf maaf. Sebenarnya aku juga nggak mau pergi, ini semua paksaan lho. Irene kamu keterlaluan banget, seharusnya kamu tuh ngehibur aku lho!"
"Aku jadi lupa masalahmu, haha. Oh ya Lena, apa kamj balik kekota ini sudah memberitahukannya ke orang tua mu?"
Tanya Irene dengan sangat penasaran, Lena pergi duduk kekursinya semula.
Seharusnya ini adalah kesenangan bagi mereka yang hadir, tapi kenapa malah membahas masalah masa lalu. Membuat Lena enggan untuk menolak balasannya.
"Se..sebenarnya.."
"Sudah jauh-jauh kesini bukankah seharusnya bersenang-senang?" Kemudian meminum wine yang telah dituangkan oleh pelayan.
Ivan, aku nggak tahu kamu tahu apa yang aku pikirkan. Apa dia benar-benar sudah memaafkanku, apa dia sengaja menunjukkan kedinginannya hanya kepada orang luar saja?.
Semua orang yang mendengar ucapannya langsung menoleh. Ronald yang duduk disamping kanannya yang selalu menunjukkan ekspresi dingin terhadap orang-orang tersebut kini berubah menjadi sedikit lekukan dibibirnya.
Dia memukul pelan bahu Ivan dan membisikkan pelan ditelinga "Wah Ivan, sudah berubah pikiran ya"
__ADS_1
Emosi dengan perkataan Ronald barusan, dia menjaga jarak sedikit terhadap temannya itu. Dan meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja.
"Bagaimana denganmu Ivan, apa akhir-akhir ini kamu baik-baik saja?"
"Baik seperti biasa. Bagaimana denganmu nona Irene, apa bisnismu lancar?" Seperti biasa, dihadapan semua orang dia tetap menjaga agar tetap ramah meskipun wajahnya tidak meyakinkan.
"Haha, lancar lancar saja. Akhirnya Lena pulang juga ya, aku tidak menyangka bahwa tuan Ivan yang super sibuk bisa hadir juga keacara yang kami nanti-nantikan. Bagaimana dengan kamu sendiri, apa kamu senang akan kehadiran Lena?" Menunjukkan senyum manisnya dan melirik kearah Lena.
"Eh, kamu ini apa-apaan Irene. Ngapain.."
"Ya begitulah" Lena menoleh dan merubah ekspresi wajahnya.
"Ivan, kamu benar-benar senang bisa bertemu denganku ya?. Haih, hal yang aku khawatirkan seharusnya tidak perlu kukhawatirkan"
Selang beberapa waktu sebelum acara ini dibuat, Lena merencanakan terlebih dahulu sedetail mungkin. Mengganti desain bar ini sesuai dengan kesukaan Ivan. Mulai dari cat dinding, bangku dan meja serta gelas bir yang tertera didepan mereka.
"Oh ya Ivan, bagaimana kabar ibumu. Apa dia baik-baik saja?" Sudah sekian lama dia tidak mendengar kabar dari ibu Ivan membuatnya semakin penasaran.
"Baik seperti biasanya"
Melihat situasi yang sangat teramat canggung dari antara mereka berdua membuat Irene tidak enak hati. Melihat keadaannya yang telah berubah sangat jauh.
Kenapa Irene bod*h sih, apa dia sedang bercanda?.
"Kalau begitu kami pamit dulu" Ivan berdiri dan pergi dari tempat itu. Langkahnya diikuti oleh Daniel dari belakang. Begitu juga Lena, melihat Ivan berdiri dan pergi membuatnya juga ikut pergi meskipun dia masih tidak percaya akan hal ini.
Irene tersenyum, rencananya yang menginginkan agar mereka bersatu kembali bisa dibilang akan berhasil jika begini terus.
"Tidak sia-sia aku mengatakan hal itu, gugup sekali" Menghela nafas cukup lega.
Begitu Irene tersadar dengan pikirannya sendiri, dia melirik kearah Ronald yang duduk didepannya.
"Ronald, aku nggak nyangka lho kamu bakalan datang" Alasan yang paling tepat dia datang kesini adalah untuk menyaksikan hal apa yang dilakukan Ivan terhadap Lena.
Dan perasaannya.
Tetap cuek dan mementingkan urusannya sendiri dengan bermain ponsel.
__ADS_1
"Kamu sudah sombong ya sekarang, mumpung Lena dan Ivan sedang berduaan yuk kita lakukan hal yang sama seperti mereka lakukan"
"Aku tidak tertarik padamu, berhentilah"
Pria ini semakin lama semakin sombong saja. Huh, aku menantikan untuk melihat dirimu memohon padaku karena telah menyakiti hatiku.
- - -
"Ivan, kamu beneran mau pergi berduaan sama aku ya?"
"Ivan, jalanmu terlalu cepat, aku masih terlalu jauh lho!" Mendengar ucapannya membuat pria itu berhenti sejenak, begitu juga Daniel yang berada dibelakangnya pun ikut berhenti dan menoleh kebelakang.
Ternyata benar, nona Lena sangat jauh berada dibelakang.
"Nona Lena, pelan-pelan saja"
"Terima kasih asisten Daniel" Berjalan cepat agar dirinya berada disamping Ivan.
Akhirnya mereka berjalan seperti biasa.
"Nona, bagaimana kabarmu selama dua tahun ini?" Mencoba memecahkan keheningan.
"Yah, baik-baik saja. Aku selalu memikirkan agar bisa bertemu dengan Ivan, dan akhirny aku sangat senang bisa bertemu lagi dengannya. Meskipun sekarang dia masih marah padaku, aku akan berusaha agar dirinya tidak membenciku"
"Oh ya, Ivan. Kamu bilang kamu udah punya istri kan? apa dia tahu kalau kamu udah punya aku dan sekarang sedang bersamaku?"
Ivan masih memandang kearah depan. "Apa kamu tidak cemburu kalau aku udah punya istri?" Tanyanya meyakinkan.
Dia menggelengkan kepalanya"Tidak sama sekali, selama kita berpisah aku selalu mencari kabar dan informasi tentang dirimu. Dia hanyalah berstatus sebagai istri kontrak, benar tidak Ivan? "
"Ya, tapi kamu tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapnya"
"Sudah jelas aku tidak tahu akan hal itu, hal seperti itu tidak bisa dicari dengan orang-orangku. Tapi, aku percaya bahwa kamu yang paling mencintaiku didunia ini. Dan juga sebaliknya." Lena menggenggam tangan Ivan yang awalnya dia masukkan kedalam kantung celana. Kemudian melingkari tangannya dipermukaan leher Ivan.
Mendekatkan wajahnya terhadap Ivan tanpa meminta izin darinya terlebih dahulu.
"Ivan, aku mau kamu yang jadi milikku selamanya. Aku mau kita berhubungan sama seperti yang kita lakukan dulu" Lena meneteskan air matanya tanpa sadar, sesaat mengingat masa lalu yang mereka alami. Merasa istrinya yang sekarang tidak pantas berada ditengah-tengah mereka. Sudah berjuang susah payah untuk menguatkan cinta tapi ada saja yang selalu menghancurkannya.
__ADS_1
"Ya, aku juga"
BERSAMBUNG