Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 7


__ADS_3

"Apa sebenarnya yang terjadi? apa ibu sedang pergi kepasar?"


Pencarian terakhir, dia pergi kesebuah gudang.


Sebenarnya Raras merasa hal itu tidak mungkin terjadi, tidak pernah ibunya pergi kesana.


Tapi, setelah dia masuk kedalamnya terlihat ibu Raras sedang duduk dilantai dan sebuah kemoceng didalamnya.


Dia bersama dengan kakak sepupu bernama Vina..


Terlihat wanita itu sedang membentak ibu.


"Vina kau keterlaluan!" Kata Raras dengan perasaan marah.


"Raras kau akhirnya muncul juga!" Dia berjalan kearah Raras"Ibumu meminjam uang dibank semua atas namaku. Sekarang pihak bank sedang mencari keberadaanku. Aku tidak mau tahu, serahkan uangnya sekarang juga!"


Kata Vina dengan perasaan marah.


Tanpa basa basi, Raras langsung mengambil sebuah kertas yang berada ditasnya dan diberikan kepada Vina.


Setelah melihat kertas cek beserta nominal didalamnya, wajah Vina berubah drastis.


"Lain kali aku tidak akan meminjamkan uang padamu!" Vina pergi dari ruangan itu


Dia mendatangi ibunya yang sedang tersungkur.


Mungkin sewaktu ibunya ingin membersihkan gudang ini kakak sepupunya datang untuk menagih hutang.


Raras merasa bersalah karena telah meninggalkan ibunya beberapa hari ini.


Dia menopang ibunya untuk pergi kekamar dan beristirahat.


"Ibu, kau tenang saja. Kak Vina tidak akan muncul lagi!"

__ADS_1


"Dimana kau dapatkan uang itu?"


Raras sangat khawatir, dia takut untuk mengatakan yang sebenarnya.


Yang hanya bisa dilakukan Raras adalah terpaksa untuk berbohong.


Ini demi kebaikan diri sendiri.


"Aku meminjamkan uangnya dari bos ku. Ibu tenang saja aku pasti akan melunasi hutang itu. Aku sudah mendapat pekerjaan jadi kemungkinan besar uangnya bisa kukembaliin"


"Raras,jangan terlalu memaksakan diri. ibu tidak mau segala hal terjadi denganmu"


Ibunya memegang kedua tangan Raras dengan erat.


Sudah jelas terlihat wajah Raras yang sekarang ini penuh dengan penderitaan. Dan penuh dengan kesedihan.


Ibunya hanya bisa berpesan agar dia menghentikan segala hal yang mengganggu pikirannya, karena itu bisa membuat Raras tertekan.


"Baik bu"


Kerinduan Raras terhadap ibunya membuat dirinya merasa tidak layak menjadi anaknya. Dia memeluk erat tubuh ibunya.


Pelukannya dibalas ibu, meskipun dia bahagia karena mampu menghilangkan segala hutang tapi tetap saja hidupnya berakhir tidak bahagia.


Dia harus bekerja menjadi pelayan seorang pria, itu adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang wanita hina.


Mata Raras berkaca-kaca, dia tidak sanggup untuk mengeluarkan seluruh air matanya yang masih tergenang dikelopak mata.


Itu akan membuatnya merada dirinya sangat menyedihkan.


Dia melepaskan pelukan itu karena ingat waktu yang berjalan.


"Bu, aku pergi dulu. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang denganmu. Aku pergi kerja dulu" Raras menyalam ibunya dan mencium telapak tangannya "Selamat tinggal"

__ADS_1


Ibunya mengelus pelan kepala Raras sambil menunjukkan senyuman diwajah.


Tidak sadar, anaknya sudah tumbuh dewasa dan mulai mengerti tentang kehidupan.


Dia pergi meninggalkan ibunya seorang diri.


Didepan rumah Raras menaiki taksi yang dari tadi nganggur.


Begitu dia mengatakan alamatnya, Pak supir membawa Raras ketempat tujuan.


Didalam mobil dia merasakan sesuatu yang aneh.


Dia takut jika Ivan sudah datang kerumah lebih dulu dari dirinya sendiri.


Tidak tahu, perlakuan apa yang yang pria itu akan lalukan terhadap Raras.


Beberapa menit berlalu,Raras telah sampai kedepan rumah.


Dia membayar ongkos itu dan berlari keluar dari taksi untuk masuk kedalam rumah.


Melihat seorang pelayan yang berada didepan mata, dia ingim menanyakan keberadaan tuan muda.


"Maaf pak,apakah tuan Ivan telah kembali?"


"Sudah lama sekali tuan muda menunggu. Lebih baik nona sekarang pergi menemuinya, takut sesuatu hal terjadi padamu"


Dia berlari kearah tuan muda berada.


Tuan muda berada didalam ruangan yang isinya adalah sebuah ruangan kerja pribadi. Dia akan melakukan segala pekerjannya didalam sana.


Raras menggedor pintu itu.


Terlihat sosok punggung pria yang sedang memegang segelas anggur ditangan kirinya.

__ADS_1


__ADS_2