Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 77


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Raras bangun dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan dan duduk diranjang.


Naya yang melihat Raras bergerak, langsung berdiri dan pergi kearah wanita itu berada.


"Raras, akhirnya kamu bangun juga. Aku khawatir tau!"


"Maaf Naya. Tapi sebelumnya, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa dirumah sakit?" Raras melihat sekelilingnya, sepertinya ini tempat yang tidak asing baginya.


Naya mendenguh pelan "Tiba-tiba kamu pingsan, dan juga ponselmu sudah berdering beberapa kali. Aku nggak berani angkat jadi aku biarin aja"


Raras langsung mengambil ponselnya yang berada diatas meja untuk melihat siapa yang menelponnya ditengah malam seperti ini.


Begitu dia membuka layar ponsel, ada 99+ panggilan tidak terjawab dan semua panggilam itu berasal dari Ivan.


Tanpa pikir panjang, dia menelpon Ivan kembali agar pria itu tidak khawatir.


"Kamu dari mana aja, sudah kukatakan untuk tidak pulang sebelum tengah malam.."


"Maaf Ivan, aku.. ada sesuatu hal yang terjadi padaku. Sebentar lagi aku pulang kok"


"Dimana kamu sekarang, aku datang untuk menjemput"


"Tidak perlu.."


Tuut tuut


Belum saja dia selesai berbicara, Ivan langsung menutup telponnya. Dengan sifatnya yang seperti itu, Raras sudah paham betul apa yang dilakukan dengan pria itu.


"Hihi.." Raras melihat Naya yang berada disampingnya tertawa sambil menatap dirinya. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"Emang seperti inilah hidup suami istri. Raras kamu curang! padahal aku lebih tua darimu tapi kenapa kamu duluan yang dapat jodoh sih. Huh, buat aku iri saja!"


Dengan kesal dia berkata seperti itu, padahal baru saja tertawa sudah marah seperti itu.


"Haha, jodohkan diatur sama yang diatas. Kalau kamu sabar kayak aku pasti kamu juga dapat jodoh, Naya."


Naya masih merasa sebal, sampai tidak menjawab pertanyaan dari Raras. Dari dulu dari antara mereka berdua, Naya yang lebih populer. Dikelilingi banyak pria, sering diajak jalan sama mereka dan banyak pula yang naksir padanya.


Lama kelamaan jangankan orang yang naksir, yang mau berteman dengannya pun nggak ada. Nasibnya benar-benar buruk ketika dirinya jatuh miskin.


"Oh ya, mengenai hal ini apakah pikiran kamu sama sepertiku? kamu pasti sudah tahu kan siapa yang melalukan hal ini kepadaku?"

__ADS_1


Tiba-tiba Naya mengingat kembali tentang kejadian ini, dia lupa ingin memaki-maki Raras karena begitu bodohnya telah membiarkan Anna seenak jidatnya mengusik dirinya.


"Raras apa kamu bisa jelaskan kepadaku, kenapa bisa dirimu tertipu oleh liciknya Anna. Sudah tahu dia wanita licik kenapa kamu mau meminum alkohol darinya?" Tatapan Naya sangat mengerikan, membuat Raras terkejut dan takut jika digeledah seperti ini.


"Naya kamu tenang dulu. Aku pikir Anna hanya ingin membuatku mabuk dan meninggalkanku ditempat itu. Nggak taunya masalah ini lebih parah"


"Huh, kamu benar-benar bodoh!" Naya melihat kearah jarum jam yang ada didinding. Karena terlalu larut, dia memutuskan untuk pulang kerumah. Jika tidak cepat pulang, pasti orang tuanya khawatir akan hal ini.


Entar juga suami Ivan datang, itu yang membuat Naya berpikir untuk pergi. Dia juga tidak mau jado obat nyamuk.


"Ras, sepertinya sudah terlalu larut. Aku pulang ya"


"Baiklah, hati-hati dijalan" Sewaktu Naya ingin mendorong pintu untuk pergi dari ruangan, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu hal.


"Tadi yang menolongku untuk mengantarmu kerumah sakit adalah seorang paman. Katanya dia kenal kamu"


"Benarkah? Sepertinya aku harus berterima kasih padanya tapi aku nggak tau jelas siapa paman yang kamu maksud"


"Aku juga nggak kenal dia, aku pergi dulu" Naya pergi dari ruangan itu dan berpapasan dengan Ivan yang berjalan untuk pergi keruangan yang ditempati Raras.


Dia membuka pintu dan melihat wajah Raras yang sedang mencabut infus dan berdiri dari tempat tidur. Begitu melihat kehadiran Ivan, terlihat sebuah senyuman manis diwajahnya. Dia mendatangi Ivan dengan terburu-buru dan memeluknya dengan erat.


"Kamu tahu nggak betapa senangnya diriku setelah melihat dirimu!" Raras menghentikan pelukan itu dan menatap wajah Ivan dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa nggak ngomong sih, kamu nggak senang jenguk aku ya?"


Ivan menekan kening Raras sekuat tenaga.


"Ah, sakit tahu"


"Kamu berisik banget"


"Berarti kamu emang gak senanf jenguk aku yah? ya udah sana pergi, lagian siapa juga yang mau bertemu denganmu!"


Raras membalikkan badan untuk menghindari Ivan. Sifatnya benar-benar menyebalkan, membuat Raras tidak habis pikir. Pria yang menyebalkan sepertinya kenapa bisa membuat Raras jatuh cinta.


Begitu Raras ingin berjalan selangkah lebih maju, Ivan menarik tangannya dan membalikkan badan Raras.


Wajah mereka berdekatan, tanpa pikir panjang Ivan lebih mendekatkan wajahnya kedepan Ivan dan bibirnya menyentuh bibir Raras.


Pria ini sinting apa! bukannya tadi wajahnya nggak senang bertemu denganku? apa dia lebih senang mencium bibirku daripada bersamaku?

__ADS_1


Sekilas Raras mengingat kembali kata-kata yang keluar dari mulut Ivan ketika dia tersenyum.


"Aku suka kamu yang agresif"


"Aku lebih suka kamu yang buas diranjang"


Perkataan-perkataan itu selalu terdengar dalam pikiran Raras. Membuatnya malu saja.


Dia mendorong Ivan dan ciuman manis itu telah berhenti.


"Kamu benar-benar lebih menyukai tubuhku daripada aku ya?"


Raras sungguh sangat menyesal telah mengatakan hal itu. Jika dipikir-pikir kembali, wanita yang selalu dekat dengannya bertubuh lebih bagus daripadanya. Dan juga, mereka pasti lebih buas jika berada seranjang dengannya.


"Kalau benar emangnya kenapa, selain tubuhmu tidak ada yang lebih menarik dari dirimu" Ledeknya.


Membuat wajah Raras memerah adalah kesenangan bagi seorang Ivan.


"Dasar pria mesum, bisa-bisanya sampai sekarang kamu masih memikirkan hal yang memalukan seperti itu."


"Tapi, apapun itu yang kamu suka dariku tidak masalah. Selagi kamu nggak pernah ninggalin aku!"


Oh Tuhan, apa aku ini gila. Bisa-bisanya kalimat menyedihkan itu kukatakan..Emang pria seperti Ivan itu sulit jatuh cinta, aku hanya ingin menunjukkan cinta dan perhatianku padanya sama seperti hal yang dia lakukan kepadaku.


Ivan tersenyum, mendengar kalimat yang kedua keluar dari mulut Raras. Dia menyuruh Raras untuk mendekat kepadanya sambil menunjukkan senyumnya yang licik.


"Kemarilah"


Bahkan melihat wajahnya saja sangat sulit bagiku. Sialan, ekspresinya yang seperti itu benar-benar menyebalkan.


Meskipun dia membuang wajah dan malu, kakinya tidak berhenti untuk bergerak menuju kearah Ivan. Suara pria itu benar-benar mirip seperti hipnotis, hanya dengan mendengar, dia seperti akan melakukan hal yang diperintahkan.


"Bod*h kamu, apakah kamu nggak tahu kalau aku sedang bercanda?"


Barulah dia berani untuk menatap wajah Ivan, dengan berbinar-binar.


"Benarkah?"


BERSAMBUNG


Like dan komen ya 😉

__ADS_1


__ADS_2