Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 64


__ADS_3

Sewaktu pria itu mengoyakkan baju Raras hingga robek dan terlepas, seseorang mendobrak pintu itu sangat kuat sehingga membuatnya emosi.


"Siapa yang berani mengganggu


kesenanganku?" Teriaknya


Matanya penuh dengan air mata, dia tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Tapi, setelah suara pintu terbuka dia menghentikan tangisnya.


"Tangkap pria brengs*k itu!" Tunjuk Ivan


"Baik bos"


Banyaknya pengawal yang Ivan bawa ketempat itu. Dia sangat panik begitu mendapat kabar bahwa Raras dibawa pergi oleh pria asing.


Mereka semua menahan pria itu.


"Siapa kalian? cari mati hah?"


Ivan sangat marah, bahkan emosinya sudah melewati batas.


Para pengawal menundukkan kepala Pria itu bermaksud untuk tunduk terhadap Ivan.


"Pak, kau harus meminta maaf atas perbuatanmu kepada tuan Ivan. Ini adalah perintah" Pertegasnya


"Tu..tuan Ivan?" Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat.


Celaka, aku tidak tahu ternyata wanita ini milik tuan Ivan. Lihat saja kau Anna, aku akan membunuhmu secepatnya!.


"Tidak perlu, aku mau dia menyesali perbuatannya" Pengawal mengarahkan pistol kekepala Dona.


"Maafkan aku tuan, aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi dan berjanji tidak akan mengusik semua wanitamu"


"Penjarakan dia!" Perintah Ivan


Pengawal membawa pria itu pergi dari sana. Jika dia benar-benar hanya dipenjarakan maka hidupnya masih terlalu enak.


Tapi Ivan menginginkannya hidup dalam penderitaan sebelum kematiannya.


"Tuan, aku bersalah! Maafkan aku!" Teriaknya dari kejauhan.


Ivan menatap Raras yang menggigil dan ketakutan. Begitu mendapati baju Raras sudah tidak utuh lagi, dia membukakan baju jas dan memakaikan pada Raras.


"Maaf, aku terlambat" Dia memeluk Raras dengan erat.


"Huhu.. dasar Ivan brengs*k! kenapa kau meninggalkanku tadi.."


"Maaf maaf.. ini semua salahku" Hanya itulah kata penghibur yang bisa dia ucapkan pada Raras.


"A..aku takut. Bawa aku pergi dari sini"


Raras digendong dan dibawa pergi dari tempat mengerikan itu dan pergi kedalam mobil. Disepanjang perjalanan hanya ada kesunyian diantara mereka.


Ivan sengaja tidak mengajak ngobrol Raras, karena wanita itu butuh ketenangan dan kesunyian.


Supaya pikirannya terhadap apa yang terjadi segera musnah.

__ADS_1


-


Begitu sampai didepan rumah, Raras masih diam dalam lamunannya. Terpaksa Ivan menggendongnya untuk masuk kedalam rumah.


"Masih diam juga?" Sudah sampai diranjang, Raras masih terdiam.


"Maaf, aku tidak tahu. Rasanya aku sedang tidak ingin berbicara" Dia menarik selimutnya dan membaringkan tubuh.


"Baiklah, aku mengerti" Ivan mematikan lampu dan menidurkan tubuhnya disamping Raras.


Sewaktu dia melirik sedikit kearahnya, Ivan memiringkan badannya dan memeluk pinggang Raras yang kecil.


"Apa yang kau lakukan?"


"Tidur!" Perintahnya.


Sewaktu Ivan memeluk pinggangnya, perasaan aneh itu langsung hilang dari pikiran Raras. Sepertinya ini adala obat yang sangat manjur untuk menghilangkan setres.


Dia menjadi lebih nyaman sewaktu suaminya memeluk pinggangnya.


Matanya juga mudah untuk ditutup. Sekarang, tidak ada pikiran Raras yang mengganggu sehingga dia bisa tidur dengan pulas.


Dipagi hari yang cerah, Raras terbangun dari tidurnya sewaktu Ivan sedang mengancingkan baju kemejanya. Sewaktu dia bangun sepertinya sudah siang.


Dia melihat jam yang berada di ponselnya sudah jam sepuluh pagi.


Raras sangat panik, padahal hari ini ada rapat kecil-kecilan yang penting dipagi hari.


Dengan terpaksa dia membangunkan tubuhnya, padahal Raras masih lesu dan harus banyak istirahat agar pikirannya yang kotor sepenuhnya musnah.


-


Ivan sudah pergi kekantor, terlihat dari gerak-geriknya tadi mungkin dia sedang terburu-buru.


"Nyonya, silahkan dimakan"


"Wah, kelihatannya lezat!" Ucap Raras dan dia duduk dikursi yang telah disediakan.


"Nyonya maafkan aku atas kejadian waktu itu. Aku menyesal telah mengatakannya kepada tuan muda"


"Ah, tidak perlu. Keadaanku yang sekarang lebih baik karena bibi memberitahukannya kepada Ivan" Dia tersenyum lebar.


"Berarti nyonya sudah mencintai tuan Ivan? apa itu benar"


Kalau aku belum mencintainya ngapain aku marah soal perempuan yang Ivan punya? pikirnya


"Haha tidak, bibi mengada-ada saja!"


Bibi menyenggol lengan Raras.


"Nyonya gak usah malu mengatakannya. Tuan itu sebenarnya baik cuman dia tidak pernah menunjukkan kebaikannya didepan orang-orang loh"


"Mungkin itu menurut bibi saja"


"Haha, nyonya gak perlu malu-malu begitu. Kisah cinta dimasa muda itu sangat menyenangkan, saya dulu pernah merasakannya lho"

__ADS_1


"Sudah deh bi, aku ada rapat penting. Aku pergi dulu ya"


-


Sewaktu Raras masuk kedalam tokonya, para rekan kerja sibuk melayani pengunjung. Padahal rencananya hari ini dia ingin tutup setengah hari untuk menjalani rapat tentang perkembangan toko ini yang sudah berjalan selama seminggu.


"Kenapa tokonya nggak ditutup?" Tanya Raras kepada salah satu rekan kerja.


"Maaf nona Raras, saya pikir rapatnya tidak jadi. Makanya saya memutuskan untuk membuka tokonya banyak sekali para pembeli yang menunggu diluar."


"Oh begitu. Tapi bagaimana rapatnya? padahal saya datang kesini mau ikut rapat lho"


Jika tidak lebih baik aku dirumah tidur dan bersantai pikirnya


"Maaf sekali lagi nona."


"Tidak apa deh. Saya lihat banyak juga yang datang hari ini. Mungkin lebih baik lagi jika tokonya dibuka"


"Raras maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku harap kau bisa memaafkanmu secepatnya" Tiba-tiba dibelakang seorang wanita meminta maaf pada Raras.


Dia refleks menoleh kebelakang.


"Anna? kau masih punya nyali datang kesini?"


"Maaf Raras, sebenarnya dari dulu karena aku iri padamu. Aku harap kau memaafkanku. Kejadian ini tidak akan terjadi lagi selanjutnya"


Raras terkejut, orang seperti Anna kenapa bisa meminta maaf kepadanya. Dia adalah wanita paling keras kepala yang pernah dijumpai. Tidak pernah Raras berpikir bahwa wanita itu mempunyai sisi baiknya.


"Aku tidak akan memaafkanmu! jika tidak ada orang yang menolongku apa yang akan terjadi padaku!"


"Maka dari itu aku minta maaf" Terlihat dari wajah Anna seperti tidak iklas untuk meminta maaf


"Tinggal memaafkan apa susahnya sih!" Raras beserta orang yang mendengarnya sontak kaget.


"Anna aku mempunyai dendam pribadi padamu dan tentu saja aku tidak akan memaafkanmu! Kau adalah salah satu orang yang paling aku benci didunia ini."


"Nona lebih baik kau maafkan wanita itu. Nanti urusannya makin panjang" Bisik rekan kerja disamping Raras.


"Aku memaafkanmu" Dia tahu konsekuensinya jika berhubungan dengan Anna. Wanita itu emang kejam dari dulu tidak pernah dipungkiri bahwa dia bisa berkata seperti itu.


Dia pergi tanpa berkata sepatah katapun.


"Aku tidak mengerti kenapa Anna meminta maaf dengan cara yang seperti itu!" Keluh Raras.


"Menurut saya wanita seperti itu tidak mungkin meminta maaf."


"Maksudmu?"


"Mungkin, dia dipaksa oleh seseorang untuk meminta maaf kepada nona. Emang apa kesalahan yang diperbuat?" Seketika Raras teringat masalah kemarin.


-


"Daniel, aku sudah meminta maaf pada Raras. Dia memaafkanku"


"Bagus" Dia mematika telponnya

__ADS_1


"Tuan Ivan, Anna telah melakukan apa yang Tuan perintahkan"


__ADS_2