
Raras tidak berhenti untuk menggeliat. Tapi Ivan menggendong dan menahannya kuat agar tidak terjatuh kebawah.
Tentu saja Raras sangat malu. Jika dia memakai baju tidak perlu panik seperti itu. Tapi tubuhnya sekarang dalam keadaan telanjang dan Ivan dengan entengnya mengangkat Raras.
Mungkin bagi Ivan ini adalah hal yang biasa, tapi bagi Raras ini adalah perbuatan memalukan.
Tanpa banyak bicara, Ivan mengangkat Raras dan meletakkannya didalam bathtub.
Dia menghidupkan keran air hangat dan mengalir sangat cepat. Perlakuan suaminya hanya dipandang oleh Raras.
Dia masuk kedalam dan melemparkan sabun kearah Raras.
"Gosok punggungku" Perintahnya dan dia berbalik.
Apa? kenapa tidak dirimu saja yang menggosoknya? kau bukan anak kecil lagi!
"Kenapa masih diam?, ayo lakukan" Raras terbangun dari lamunan dan memulai menggosok punggung Ivan dengan sangat detail.
Setelah semuanya telah selesai, Ivan berbalik menghadap Raras. Wanita itu mundur hingga mentok dan menatap wajah Ivan yang penuh kelicikan. Tangannya ditaruh disamping wajah Raras. Tubuh besar milik Ivan berada didepan wajah Raras, dia mendorongnya.
"Sekarang giliranku melakukannya"
--
__ADS_1
Dibawah, mereka menuruni anak tangga secara bersamaan dan pergi kedapur. Pelayan dapur merasakan hal yang berbeda, tampaknya tuan muda dan nyonya hari ini akur sampai-sampai turun tangga pun secara bersamaan.
Setelah mereka duduk dikursi, pelayan dengan sigap menaruh sarapan dimeja. Mereka menikmati makanan itu. Keheningan terjadi sekian lama. Disaat Daniel memasuki ruangan, rasa canggung itu hilang seketika.
"Tuan, pagi ini ada rapat penting"
"Baiklah" Dia melirik mata Raras "Jangan lakukan hal itu lagi" Dia pergi meninggalkan ruangan tanpa menghabiskan makanan.
Daniel datang menghampiri Raras dan menepuk pundaknya.
"Tato yang sangat bagus!" Padahal Raras sudah berusaha menutupi bekas ****** itu, tapi tidak bisa tertutup juga oleh pakaian Raras. Karena bajunya kebanyakan terbuka.
Dia mengepal tangannya."Terima kasih pujiannya" Raras tersenyum.
Daniel meninggalkan ruangan itu, dengan perasaan yang berbeda.
"Tuan, bagaimana dengan Lena, apa kau sudah melupakannya?" Seketika Daniel mengingat wanita bernama Lena itu. Dia adalah seorang kekasih sekaligus tunangan Ivan. Tapi, karena ada urusan keluarga, terpaksa Lena harus mengikuti perkataan orang tuanya yaitu menetap dikampung halaman.
"Ada apa dengan Lena?, kenapa kau menyebut namanya?" Tanya Ivan kemudian menghirup puntum rokok.
"Tidak, aku hanya ingin memastikanmu saja, apa kau masih ingat dengan wanita itu atau tidak" Ivan terdiam, meskipun diotaknya banyak pikiran tapi dia tidak membicarakannya. Karena Ivan adalah tipe orang yang tidak akan memberitahukan masalahnya pada orang lain, termasuk ibunya.
"Dia sudah berhianat,aku malas memikirkan wanita itu"
__ADS_1
--
Raras sampai ketempat yang dijanjikan pak supir. Yaitu toko pakaian.
Dari luar saja sudah terlihat sangat mewah.
"Bagaimana, apakah kau menyukainya?" Tanya Pak supir sambil membanggakan diri.
"Sangat suka, tapi.. kenapa namanya terlihat biasa saja?" Tanya Raras
"Itu adalah nama yang bagus untuk toko ini"
Nama toko pakaian yang dibuat oleh pak supir adalah Rara's clothes.
"Ohya pak, siapa namamu?" Tanya Raras
"Itu tidak penting"
"Tapi bagiku penting, tidak mungkin selamanya aku menyebutmu pak supir?"
"Haha, kau benar juga. Panggil aku Ari"
"Terima kasih pak Ari, aku mau masuk dan melihat lihat didalam. Jika kau merasa bosan kau bisa istirahat"
__ADS_1
"Baiklah"
Raras masuk kedalam dan banyak pelayan yang berada dikasir, melayani pembeli, memilih baju yang cocok untuk seorang pembeli. Dia sangat bangga, meskipun ini bukan hasil keringatnya sendiri.