
Ivan hanya bisa terdiam dari lamunannya. Meskipun dia tidak tahu hal buruk apa yang Bu Dinda bicarakan, Ivan sudah pasti tahu itu adalah hal yang sangat buruk.
Tidak mungkin Raras akan meninggalkannya begitu saja jika itu adalah hal yang tidak terlalu buruk.
"Dimana Raras sekarang?"
"Nyonya sudah berangkat kerja" Jawab Bu Dinda
Setelah mendengar jawaban dari Bu Dinda, barulah dia angkat kaki untuk pergi dari ruangan menuju tempat Raras berada. Terpaksa hari ini Ivan menyuruh Daniel untuk menjaga perusahaannya.
Ivan pergi kearah parkiran untuk mengambil salah satu mobilnya. Dia dalam keadaan sakit dan juga sangat panik. Kepalanya berkunang-kunang, dan hal ini sudah biasa dilakukan Ivan jika dalam keadaan sakit. Ia tidak pernah terbaring ditempat tidur jika itu hanya penyakit biasa.
Ivan melajukan mobilnya dengan cepat.
-
Raras sampai kedepan toko pakaiannya yang barusan diantar oleh Ari.
"Nyonya, kenapa wajahmu terlihat aneh hari ini?" Tanya Ari heran
"Tidak ada, aku hanya terlalu lelah" Raras keluar dari mobil dan masuk kedalam toko pakaian miliknya.
"Selamat pagi Raras..." Sapa Cici bersemangat.
"Pagi" Jawab Raras lesu. Baru datang, dia langsung pergi keruangannya untuk mengurus hal yang perlu dia urus.
"Menurutmu apa yang terjadi dengan Raras hari ini?" Tanya Cici kepada salah satu pegawai kerja.
"Mungkin terjadi suatu masalah" Setelah pegawai itu mengucapkan kata² terakhirnya, suara hentakan kaki terdengar kuat dibelakang Cici beserta pegawai yang berada disampingnya. Mereka menoleh bersamaan.
Itu..bukannya pria yang sering muncul di televisi? apa aku salah lihat?. Tapi, wajahnya sangat tampan Kata Cici dalam hati.
"Dimana bos kalian?" Tanya Ivan.
"Disana" Cici menunjukkan pintu yang berada didepannya. Itu adalah ruangan dimana Raras bekerja.
"Ngomong², anda mempunyai hubungan apa dengan bos kami?" Tanya Cici.
Tetap saja dia khawatir akan hal itu, takut Raras kenapa-napa.
Ivan terus berjalan dan menatap kearah depan dengan tegas.
"Bu menejer apa yang harus kita lakukan?" Tanya pegawaibitu dengan panik.
"Biarkan saja"
"Kenapa begitu?"
"Dari wajah pria tampan itu sangat terlihat bahwa dia sangat memerlukan Raras"
-
__ADS_1
Ivan berjalan kearah pintu itu berada dan membuka pintunya. Pintu itu terbuka, matanya langsung menatap apa yang ada didalam ruangan itu.
Terlihat wajah Raras yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dari tadi dia merasa tidak tenang dan masih memikirkan masalah tadi.
Raras hanya sedikit kecewa dengan apa yang didengar. Yang membuat Raras begini adalah pikirannya yang masih msnanyakan hal tadi.
Begitu mendengar suara pintu terbuka lebar dan suara hentakan kaki, Raras langsung melihat asal suara itu berada.
Dia melihat wajah Ivan yang sedang berdiri didepan pintu dan menatapnya.
Kenapa Ivana ada disini? apa bibi menceritakan masalahnya kepada Ivan? Huh, perasaan ini membuatku malu.
Raras tetap mencoba untuk fokus dalam pekerjaannya. Dia tetap menuliskan sesuatu yang sangat penting dan menyangkut paut tokonya.
Ivan tersenyum melihat tindakan istrinya, dia mendekat dan ingin menanyakan suatu hal yang tidak dimengerti.
"Kau pergi tanpa berbicara. Bagaimana aku tahu apa yang terjadi padamu"
Raras hanya diam dan mencoba untuk tetap fokus menulis.
Ivan memajukan langkahnya, hingga dia berada didepan Raras. Meja itu yang menjadi halangan bagi Ivan.
Setelah keberadaan Ivan didepan, Raras melirik matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya
"Aku mendengar suatu hal terjadi padamu dari seorang pelayan"
"Maksudmu, Bu Dinda?. Apa yang dia katakan?"
"Apa? aku masih mau kerja"
"Ini tidak akan lama" Tenaga Ivan lebih besar dari Raras meskipun pria itu sedang sakit. Itulah yang membuat Raras heran, kenapa dia bisa berdiri dalam keadaan sakit?.
Sewaktu Ivan dan Raras keluar ruangan, didepan langsung ada Cici. Dia menahan Ivan agar tidak membawa Raras dari sana.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan tangan Raras sekarang! atau tidak..."
Belum saja Cici ingin melanjutkan perkataan terakhirnya Ivan langsung memajukan langkah kakinya. Disaat Cici ingin menahan kembali, Raras berkata:"Jangan khawatir, dia bukan orang jahat" Penjelasan itu membuat Cici menghindar dari hadapan Ivan.
Ketika mereka berdua sampai keluar ruangan,Raras memulaikan percakapan.
"Bisa tidak kau hilangi sifat jelekmu itu?"
"Apa?"
"Kau harus menghargai ucapan orang lain. Meskipun orang itu ada dibawahmu!"
Mereka sampai kedalam mobil, disaat Raras telah sampai kedalam mobil dia memakai sabuk pengaman. Sedangkan Ivan juga sama, tapi dia berada dikursi yang berbeda.
"Mau kemana?" Tanya Raras
__ADS_1
"Suatu tempat"
Ivan mulai menjalankan mobilnya dengan laju. Tempat yang ingin dikunjungi oleh Ivan adalah taman yang merupakan kebahagiaan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupannya.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka telah sampai ketaman itu.
Ivan dan Raras turun dari mobil. Pertama yang ingin dia ucapkan begitu melihat taman itu adalah sangat indah.
Terlihat adem dan banyak pepohonan.
"Tempat apa ini?" Tanya Raras yang berada disebelah Ivan.
"Disinilah tempat kesenangan dan kesedihan yang aku alami"
"Kenapa kau mengajakku kesini? aku mau pulang!" Ketika Raras hendak membalikkan badannya, Ivan memegang erat tangannya.
"Aku hanya ingin menunjukkanmu sebuah tempat yang sangat bagus supaya kau tidak marah lagi." Kata Ivan
"Maaf, bukannya aku mau menolak. Yang kau bilang tadi... kesenangan?" Raras tidak mengetahui bagian mana yang membuat suaminya bisa merasa senang.
"Bersama dengan kedua orang tuaku. Ketika aku sedang emosi, aku selalu pergi ketempat ini untuk meredakannya"
"Benarkah? aku tidak tahu tentang keberadaan orang tuamu"
"Sudah meninggal sewaktu aku masih kecil" Wajah Ivan berubah masam.
Melihat wajah suaminya yang seperti itu, Raras jadi ikut kebawa sedih.
"Lalu, kesedihannya apa?" Tanya Raras
"Kesedihannya.."
Ketika dia mengingat kembali dirinya ditinggalkan oleh Lena yang merupakan kekasihnya ditaman ini.
"Kenapa terpotong?" Tanya Raras yang sudah sangat lama menunggu kelanjutannya.
"Tidak perlu tahu. Itu sudah sangat lama, aku juga sudah lupa apa kesedihannya" Wajah Ivan berubah lagi, menjadi bahagia kembali.
Tiba-tiba ponsel Ivan berdering. Begitu mendengar ponselnya berdering dia langsunh mengambil ponsel itu disaku celananya.
Disaat Ivan berbicara dengan seseorang ditelepon, Raras sama sekali tidak bisa mendengar karena Ivan menjauh dan suaranya sangat kecil. Raras hanya bisa berdiri dan menunggu. Beberapa menit kemudian, Ivan menghampiri Raras.
"Siapa yang menelponmu?" Tanya Raras
"Nanti malam kau harus ikut denganku"
"Hah, kemana?"
"Ibu temanku berulang tahun. Dia mengajakku dan kau untuk pergi"
"Kenapa harus aku? aku gak bisa menari"
__ADS_1
"Tidak perlu, kau hanya perlu menemaniku untuk datang"
Raras tidak mengerti kenapa dirinya diajak untuk pergi keacara itu, tidak pernah Raras diajak untuk pergi kepesta dikalangan orang kaya dalam seumur hidupnya.