
Ivan menghempiskan tangannya yang berada didadanya. Melihat sikap Ivan yang berubah drastis membuat Raras meyakinkan bahwa hal itu sepertinya terjadi.
"Ivan, kamu kenapa? Berarti apa yang kukatakan itu benar?"
Awalnya ini hanya instingku saja, melihat dia yang tiba-tiba bersikap kasar begitu membuatku bingung saja, tapi apa yang kukatakan tadi ada benarnya atau tidak?.
Teringat akan hal yang dia lakukan barusan, membuat dirinya merasa bersalah telah mendorong Raras dari sisinya.
"Maaf, aku tidak sengaja" Pergi berjalan untuk menuju kelantai dua. "Besok kita bicarakan hal ini"
Raras semakin merasa bahwa ada hal yang disembunyikan Ivan. Meskipun dia tidak tahu hal apa itu, tetap saja membuatnya semakin penasaran. Yang sekarang harus dilakukan Raras bukanlah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang suaminya. Dia harus memastikan lebih jelas, wangi parfum yang tertera ditubuhnya. Dan juga sikapnya barusan.
Semakin dia memaksa otaknya untuk berpikir dan berpesangka buruk membuatnya semakin lelah. Bagaimanapun juga, istirahatlah yang lebih penting. Dengan beristirahat dan tenang, Raras akan merasa lebih baik.
- - -
Dipagi hari yang cerah, lagi-lagi Raras bangun tidur karena ada cahaya yang masuk kedalam kamarnya melalui jendela yang barusan dibuka lebar.
Pelayan yang biasanya singgah kekamar untuk membangunkan Raras akhirnya datang. Mungkin karena hari sudah siang, dia merasa tidak enak membiarkan Raras terus meniduri tubuhnya diatas ranjang.
Pelayan itu mendekatkan diri kearah Raras dan menggoyangkan tubuhnya.
"Nona, bangun. Hari sudah pagi apa nona tidak pergi kekantor?" Namun Raras enggan untuk bangun dari ranjangnya yang empuk. Memilih untuk tetap tidur meskipun sudah mendengar pelayan mengatakan "Hari sudah pagi".
"Nona, tumben sekali nona tidak bangun. Apa nona sedang sakit?" Pelayan itu karena khawatirkan menempelkan telapak tangannya dikening Raras, mencoba untuk mengukur suhu tubuhnya. Setelah dia menempelkan telapak tangannya, tidak terasa panas. Sama seperti biasanya.
"Uggh, Jam berapa ini? " Membuka mata perlahan dan men-duduki tubuhnya.
"Sudah pukul sembilan pagi nona"
"Apa? kenapa kalian tidak membangunkanku? "
"Maaf nona, saya juga baru tahu kalau nona masih tidur dikamar. Sebenarnya saya datang kekamar untuk membersihkan kamar, tau-taunya nona masih tertidur" Ucapnya dengan jelas.
__ADS_1
Maaf nona, saya kan bukan pelayan bagian dapur. Tidak tahu kalau nona sudah pergi, jadi jangan marahin saya.
"Duh, padahal saya mempunyai janji penting dengan ibu" Tergesa-gesa beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
"Sekali lagi maafkan saya nona" Menundukkan kepalanya merasa bersalah. Padahal nona Raras sudah ada janji penting, kenapa aku tidak terlalu memperhatikan nyonya. Pikirnya.
Pelayan itu membersihkan kamar dimulai dari ranjang, mengambil mesin penyedot debu untuk menghisap seisi kasur. Membersihkan dan melipat selimut. Kemudian disusuli dengan menyapu dan mengepel lantai.
Raras memasangkan handuknya kemudian keluar dari kamar mandi, melihat ruangannya yang begitu sejuk setelah dibersihkan oleh pelayan membuat suasana hatinya membaik.
"Pelayan, bisakah kamu keluar sebentar?. Hehe, saya mau ganti baju"
"Ah iya, saya keluar dulu nona" Menutup pintu rapat-rapat.
Raras sudah membuat janji dengan ibunya untuk pergi bersenang-senang satu hari ini. Berhubung hari ini adalah hari ulang tahun ayahnya, Raras memutuskan untuk menutup tokonya itu.
Dia membuka lemari baju dan menatap baju apa yang ingin dipakai untuk bersenang-senang.
"Wah, baju ini cantik juga" Mengambil sebuah gaun indah bermerek Louis Vuitton dengan ujung-ujung gaun terdapat kristal merah yang tersebar diujung-ujungnya.
Meskipun gaun itu terkesan elegan, bagian lengannya tidak terpotong dan panjangnya juga selutut. Cocok untuk wanita sepertinya.
Meskipun dia sangat suka gaun itu, Raras tidak bisa meyakinkan bahwa dia pantas untuk memakai gaun tersebut. Tujuan pertamanya adalah pergi kepemakaman ayahnya, dia merasa tidak sopan untuk memakai gaun tersebut. Padahal dia ingin sekali memakainya.
Raras memutuskan untuk meminta pendapat dengan pelayan tadi. Dia membuka pintu dan melihat pelayan itu berdiri menunggu.
"Maaf, bisakah kamu kesini sebentar?" Pelayan itu masuk kedalam kamar.
"Ya nona?"
"Menurutmu gaun ini pantas aku pakai kepemakaman nggak? "
"Se.. sepertinya tidak nona" Wajah Raras merengut. "Eh, kalau nona menyukai gaun ini juga nggak apa-apa kok. Lagian gaunnya tidak terlalu terbuka"
__ADS_1
Benar juga, aku mau menunjukkan keayah bahwa diriku sekarang sudah bahagia. Tidak hidup miskin lagi, dan sudah bisa membahagiakan ibu.
"Baiklah, terima kasih. Kamu sangat membantu. Oh ya, kita sering bertemu tapi aku tidak tahu namamu. Hehe"
"Wah, nona ingat aku ya? Perkenalkan, namaku Iris senang berkenalan denganmu nona"
Sudah jelas-jelas aku tahu, kan kamu yang sering bersihin kamar ini.
"Senang berkenalan denganmu juga Iris"
Wah apa aku tidak salah dengar? barusan nona menyebutkan namaku!.
Setelah Raras menyuruh Iris untuk pergi dari kamarnya agar dia bisa mengganti baju, akhirnya Iris pergi.
Setelah selesai berdandan, Raras keluar kamar untuk menuju kedapur. Tanpa sarapan, dia tidak mungkin bisa menjalani hari-harinya dengan baik.
Perutnya pun juga dari tadi tidak berhenti untuk berbunyi.
Dia melangkah maju untuk menuruni satu persatu anak tangga, agak sedikit berhati-hati dengan sepatu higheelsnya yang terbuat dari kaca.
Sarapan sudah disiapkan setelah dia masuk kedapur, dapat sambutan hangat dari para pelayan. Pagi ini dia berusaha untuk melupakan hal yang terjadi kemarin agar rencana jalan seharian dengan ibunya berjalan lancar.
"Aku ingin bertanya, kemarin malam Ivan pulang kerumah. Sewaktu aku memeluknya, aku mencium ada bau parfum perempuan. Apa menurut kalian Ivan mempunyai wanita lain selain aku? "
"Benarkah nona? maaf kami tidak tahu mengenai hal Itu. Tuan tidak pernah membawa seorang wanita kerumah ini setelah kalian menikah jadi saya tidak mengetahui hal itu"
Benar juga, setelah kami menikah tidak pernah dikabarkan bahwa Ivan dekat dengan wanita. Diberita pun juga aku tidak pernah melihatnya.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat"
Dia pergi keluar rumah untuk menunggu supir pribadinya datang menjemput. Selain itu baru saja Raras mengirim pesan ke Cici dan Adel agar mereka juga ikut bersenang - senang bersama. Refresing otak setelah lelah bekerja.
Selain itu dia juga ingin mengenalkan mereka kepada ibunya
__ADS_1