
Tidak ada angin tidak ada hujan, Raras memasuki ruangan itu sontak membuat Daniel dan Ivan terkejut. Dia yang sudah jarang sekali datang kekantor kedatangannya sungguh membuat Daniel heran. Apa yang akan dia lakukan.
"Ivan, aku perlu bicara denganmu! berdua" Melihat ekspresi Raras dan suasana ini sepertinya dia mengerti. Daniel menundukkan sedikit kepalanya untuk memberi hormat agar dia pergi dari ruangan itu dengan segera.
Dia berjalan keluar dan menutup rapat pintu.
Hanya tersisa mereka berdua didalam ruangan. Raras menarik nafas perlahan dan menghembuskannya perlahan. Kini apa yang sering dia pikirkan sudah ada didepan mata. Tinggal berbicara untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi, Raras tidak tahu mau memulainya dari mana. Apa yang harus dia tanyakan terlebih dahulu, menanyakan kabarnya atau langsung keintinya saja.
Dia menundukkan wajahnya dan mengepal kuat kedua tangan, berharap agar mulutnya bisa terbuka lebar untuk membicarakan hal ini.
"Dia itu mantanku" Raras kaget, mendongakkan kepala dan menatap punggung Ivan. Suara berat Ivan mengatakan bahwa wanita yang bersamanya adalah mantannya.
Bagaimana dia bisa tahu apa yang ingin kubicarakan?
Apa dia tahu kalau aku benar-benar cemburu karena wanita itu berada disisinya?
Mengingat kembali bagaimana wajah hangat Ivan ketika berada disamping wanita itu. Dia tidak pernah merasakan, bagaimana kencan bersama dengan pria yang dia cintai, atau lebih tepatnya adalah suaminya.
"Ivan, kenapa kemarin kamu tidak pulang kerumah? aku sudah menunggumu semalaman lho, dan juga sudah mengirim pesan padamu" Mengubah topik, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Dan juga, ntah kenapa dia bisa mengatakan hal itu dengan berteriak. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri, seharusnya Raras meminta agar Ivan memberikan penjelasan. Padahal dia tadi sudah memberikan topik yang sesuai dengan hal yang ingin dibicarakan.
Ivan terkejut mendengar teriakan Raras, hingga membuatnya membalikkan badan dan menatap matanya. "Dasar bod*h! ngapain teriak-teriak, kau pikir aku budek?"
Raras berlari kearah Ivan dan memeluk pria itu. Entah kenapa, meskipun pria itu bersama dengan wanita lain seharusnya dia emosi dan marah. Dia seharusnya melampiaskan amarahnya, tapi tiba-tiba hatinya berkata lain. Lebih baik menjalani dulu, mencari tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Ivan. Tidak mungkin Raras menanyakan langsung kepada Ivan siapa wanita yang bersamanya kan? dia masih punya orang terdekat Ivan, seperti bibi dan lain-lain.
Jika menyatakan langsung kepada Ivan, tidak tahu hal apa yang terjadi. Mungkin dia meledeknya kembali dengan kalimat "Kamu cemburu ya".
Ivan tambah terkejut melihat wanita itu yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1
Tidak paham dengan wanita yang berada didepannya, bukankah barusan dia menangis?.
"Hei, apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan aku! "
Raras menatap Ivan dan tersenyum"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Menjulurkan lidahnya untuk meledek Ivan.
Dia pikir hanya dia yang bisa meledekku? aku juga bisa kali!.
Tingkahnya yang konyol membuat Ivan mengerutkan kening.
"Kau ini kenapa?" Mencoba untuk melepas pelukannya dari Raras, itu membuat dadanya sesak.
"Kamu harus bilang aku cinta kamu padaku, aku akan mempertimbangkannya untuk melepaskanmu"
"Aku tidak tahu kau mempunyai sisi aneh seperti ini" Ivan dengan mudahnya melepaskan pelukannya terhadap Raras. Dia menghindar begitu cepat darinya.
Bukankah dia datang kesini untuk membicarakan wanita yang bersamaku kemarin? kupikir, dia akan sedih. Tau-taunya malah aneh seperti ini. Sial! sia-sia aku mengkhawatirkannya.
"Emangnya kenapa? apa yang harus aku lakukan agar menyenangkanmu? " Ucapnya dengan tatapan menggoda.
Wajah Raras memerah padam, melihat wajah Ivan dengan jarak yang sangat dekat. Benar-benar tampan sekali!.
"I.. Ivan kamu ngapain? " Mencoba untuk melangkah mundur namun Ivan melingkari tangannya kepermukaan pinggang Raras yang ramping.
"Kalau begini impaskan? " Tidak tahu apa yang dipikirkan, ntah kenapa tangannya bisa mendarat untuk memeluk wanita itu. Mungkin, dia bisa menghangatkan hatinya yang sedang membara. Perasaan campur aduk dan kekesalannya sudah menghilang, masalahnya yang barusan terjadi juga sudah bersih diotaknya.
Raras bingung mau melakukan apa, dia tidak memeluk balik. Malu untuk melakukan hal itu dan menjadi minder, Ivan sudah mempunyai wanita yang dia cintai diluar sana namun aku tidak tahu jelas apakah dia Benar-benar mencintainya dengan tulus atau karena ada sesuatu hal.
__ADS_1
"Ayo pulang"Setelah melepaskan pelukannya, dia berjalan untuk meninggalkan ruangan. Lagipula sudah mau gelap, tidak mungkin mereka disini terus.
Raras begitu tersadar dari lamunannya langsung berlari mengejar langkah Ivan yang sudah tertinggal jauh didepan.
Mereka keluar dari gedung dan masuk kedalam mobil untuk pulang kerumah. Daniel yang menyetir mobil itu, dan itu memang sudah tugasnya sebagai seorang asisten khusus.
"Ivan, kemarin malam. kenapa kamu nggak pulang? " Ragu-ragu untuk menanyakan hal itu, dia mengepal kedua tangannya karena gugup.
"Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan" Menatap isi dari luar kaca jendela.
Raras termenung, menundukkan kepalanya. Sudah jelas dia berbohong, sudah pasti dia bersama dengan wanita itu!. Ivan jangan bohongin aku terus, aku juga manusia yang mempunyai perasaan.
Apa kamu tahu, bagaimana perasaanku begitu mendengarmu berbohong padaku?.
"Oh, ternyata beneran ada urusan ya" Begitu kalimat itu dilontarkan, keadaannya menjadi sangat sunyi. Daniel yang sedang menyetir tidak mengerti akan hal yang terjadi didalam mobil ini, suasana ini serasa ingin membunuhnya!. Apa yang harus dia lakukan untuk memecahkan kesunyian juga dia tidak tahu harus apa.
Sudahlah, fokus menyetir. Lagian urusan tuan dan nona tidak ada hubungannya denganku. Aku hanyalah asisten pribadi tuan Ivan,tidak boleh diberi izin untuk ikut campur dengan hubungan mereka.
"Kamu pikir aku melakukan hal apa?"
"Eh tidak tidak. Aku hanya bingung saja kenapa kamu tidak pulang kerumah, tidak ada hal lain kok" Walaupun dia berkata begitu, Ivan sudah tahu jelas maksud dan artinya. Dia pasti mengiran bahwa Ivan pergi berdua bersama dengan wanita yang ditemuinya kemarin saat dimall.
"baiklah, sudah sampai" Begitu kata tersebut keluar, Ivan langsung keluar dari mobil. Tanpa mengajak Raras untuk turun dari mobil.
"Eh nona Raras nggak mau turun"
"Aku mau turun sekarang juga" Sewaktu Raras ingin membuka pintu mobil agar dirinya keluar, Daniel berkata terhadapnya:"Nona, apa yang dikatakan tuan benar. Kemarin dia ada urusan penting. Tidak bersama dengan wanita lain"
__ADS_1
Raras membulatkan matanya, sikap anehnya dengan Ivan biaa ditebak dengan mudah.
BERSAMBUNG