
Sekilas Ivan mengingat kembali kejadian tadi malam begitu juga Lena. Wanita yang dia cintai dan akhirnya kembali setelah sekian lama. Meskipun pertemuan mereka terpotong karena perkataan Lena tentang alasannya pergi selama ini, tetap saja Ivan masih penasaran alasan dibalik ini semua.
''Kalau kamu ngoceh terus ntar terlambat kerja lho''
''Padahal kamu duluan yang nahan aku'' Raras masuk ketoilet sedangkan Ivan turun kebawah untuk sarapan dan pergi dari rumah menuju kantor.
Dilihat dari ekspresi Ivan barusan, kelihatannya dia seperti memikirkan sesuatu. Mungkin aku yang kebanyakan beroikir deh.
Raras mengolesi sabun keseluruh tubuhnya kemudian membilas busa busa itu dengan air yang mengalir. Tidak lupa untuk bersiap-siap untuk pergi ketoko pakaian miliknya.
''Pagi nona Raras'' Pelayan membungkukkan kepalanya, diikuti dengan pelayan lain yang melihat Raras turun dari tangga.
''Pagi semuanya'' Dia menampilkan senyuman cantik sampai-sampai membuat pelayan yang melihat kehadirannya terpesona.
''Wah wah, pagi buta gini udah tampil cantik aja nona'' Sahut pelayan bagian dapur
''Hehe, kalau mau keluar bukannya harus tampil cantik yah''
''Nona benar juga, tapi ingat lho nona Raras kan udah punya tuan Ivan, jangan sampe godain cowo lain ntar tuan marah'' Ledek pelayan sambil terkekeh kecil.
''Haha, kamu bisa aja. Saya tebar pesona gini kan cuma buat Ivan'' Dengan penuh bangga sambil mengibaskan rambutnya.
Pelayan bagian dapur dan lainnya yang menyaksikan tingkah aneh Raras terkejut. Tidak seperti biasanya dia melakukan hal ini. Paling-paling cuman nyapa, sarapan kemudian pergi. Hari ini benar-benar berbeda.
''Nona pasti lagi senang, iya kan?''
''Bibi ngerti aku banget ya''
Padahal ini baru tingkat pemanasan kesaltinganku, tapi kok bibi cepat banget nanggapnya.
__ADS_1
Raras menuju dapur dan menikmati sarapan sambil bercanda gurau dengan pelayan bagian dapur. Dia merasa senang untuk berbincang-bincang dengan bibi. Dia satu-satunya pembantu paling ramah dirumah ini.
''Nona, sepertinya dugaan saya benar deh.'' Bibi menatap kearah leher Raras dipenuhi dengan adanya bintik merah yang menyebar dipermukaan leher. Mendengar perkataan dari bibi, Raras tersipu malu. Bagaimanapun bibi sudah lebih tua. Dia yang terlebih dahulu merasakan menjadi wanita muda dari Raras, suda pasti dia mengetahuinya.
Sialan, padahal aku udah sengaja nutupin biar gak nampak. tapi si Ivan bodoh itu malah gigit sampe ketas-atasnya jadi gak bisa ketutup. geramnya.
Disebuah perusahaan tertinggi dan nomor satu dikota A, Ivan baru saja memasuki kantornya udah disambut hangat oleh mantannya, Lena. Tampak wajah yang berbinar-binar, make up yang tebal, pakaian ketat seperti kekurangan bahan. Tidak seperti Lena yang biasanya.
''Ivan, aku udah lama nungguin kamu lho. Kok lama banget'' Kata pertama yang keluar dari mulut Lena.
''Lena, sudah kukatakan padamu jangan ganggu aku lagi!'' Teriakan Ivan sama sekali tidak membuat Lena takut.
''Oh tempat ini'' Lena meraba-raba meja kantor Ivan beserta barang barang miliknya. ''Udah lama banget gak liat tempat ini, kayaknya aku kangen deh''
Ivan menepuk jidatnya, sikap Lena yang dulu udah berubah seratus persen. Dia yang dulunya lugu dan polos sudah berubah tidak ada bandingannya dengan wanita ****** yang sama seperti Ivan pacarin sejak dulu.
''Tapi tuan.. dia kan''
''Masih belum bergerak juga, apa perlu aku memecat kalian sampah!'' Emosinya melunjak selangit, bukan karena Lena berada disini. Tapi karena kekecewaan Ivan terhadap Lena yang telah berubah menjadi wanita murahan.
''Ivan, kamu jahat banget. Masa tunangan sendiri mau diusir'' Lena kembali bersikap normal.
''Aku datang kesini mau ngomongin masalah kemarin. cuman.. aku nggak mau maksain kamu untuk mendengarkan penjelasan dariku. Itu saja'' Pengawal yang siap siaga untuk membawa Lena keluar dari ruang kantor itu ingin membawanya keluar, tanpa diusir pun Lena bergerak sendiri untuk pergi dari tempat itu, dadanya sakit. Dia pikir Ivan udah ganti selera, yang dulunya menyukai wanita ceria pindah kewanita murahan.
Ternyata aku yang bodoh berpikir bahwa Ivan masih mencintaiku. Jelas-jelas diwajahnya masih terlihat bahwa dia perduli padaku. Ivan, gak apa apa kalau kamu nggak cinta lagi padaku. Aku cuman butuh perhatianmu, sama seperti yang kamu lakukan kepadaku sewaktu kita masih kecil. Aku hanya ingin menjadi temanmu, sebegitu bencinya kah perasaanmu padaku.
''Berhenti'' Lena memberhentikan langkahnya ketika kata itu keluar dari mulut Ivan. Sampai-sampai dia berpikir tidak mungkin Ivan memintanya untuk berhenti, Lena pikir Ivan berbicara dengan orang lain. Nyatanya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan.
''Kamu ngomong samaku?''
__ADS_1
''Kalau ada alasan lain beitahu aku'' Bagaikan tubuhnya melayang kesurga. Lena senang gemilang mendengar perkataan singkat dari Ivan.
Tuh kan benar, Ivan gak mungkin sebegitu mudahnya melupakan hubungan kita. Ivan udah pasti mencintaiku lebih dari apapun. Bahkan aku dengar-dengar wanita yang dinikahi Ivan cuma kontrak doang. Paling paling bentar lagi dicampakkan, hehe.
''Baiklah, ehmm mulai dari mana dulu ya'' Lena sangat gugup, sampai dia lupa perkataan apa yang ingin diucapkan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Padahal dia udah latihan berkali-kali hingga menjadikan boneka sebagai Ivan.
''Maaf sebelumnya udah buat kamu sakit hati selama kepergianku. Ivan, kamu tahu kan selama aku hidup didunia ini kamulah yang paling aku cintai. Kamulah yang paling mengerti aku, karena cuman kamu satu-satunya orang yang bisa ngewarnain hatiku, bahkan orang tuaku pun kalah jika dibanding denganmu. Dihatiku, cuman nama kamu seorang yang membuatku bahagia. Tapi itu semua hancur karena aku lebih mementingkan diri sendiri. Kedua orang tuaku tidak mengizinkanku untuk menikah denganmu. Begitu mereka mendengar kalau aku ingin bertunangan denganmu, orangtuaku langsung memaksa untuk pergi jauh-jauh darimu. Oleh sebab itu...''
Lena memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Mengatakan hal yang selama ini terkekang dihatinya, akhirnya bisa juga diucapkan. Meskipun dia tidak tahu apa perkataan yang kelar dari mulut Ivan atau mungkin dia tidak akan berbicara.
''Kalau kamu masih nggak percaya atau udah nggak cinta lagi padaku nggak apa apa. Tapi, izinkan aku menjadi temanmu bagaimana?''
DHUARR. Hati Lena terasa sesak, meskipun dia menahan untuk tidak menangis akhirnya air mata itu mengalir.
Ivan membalikkan badannya 'Bodoh kamu, yakin cuman mau temanan?'' Baru kali ini Ivan menunjukkan wajah senyumnya didepan Lena. Wanita itu tidak peraya bahwa Ivan telah percaya dengan penjelasan darinya. Dia pikir mungkin Ivan marah, karena penjelasannya yang panjang lebar membuatnya sakit kepala untuk didengar.
Sunnguh ajaib,perasaan ini terlahir kembali!, perasaan cinta yang semula hilang dan tidak kokoh akhirnya bertahan juga.
__ADS_1