
Disebuah perusahaan terbesar, tampak CEO mereka yang sedang emosi.
"Dasar karyawan sampah, hanya membersihkan ruangan saja tidak becus. Apa perlu aku memecatmu?" Teriak Ivan membuat karyawan itu merinding ketakutan.
Karyawan itu hanya terdiam dan mengepel ruangan yang masih kotor. Daniel yang berada dipojok ruangan tidak ikut campur urusan tuannya dengan karyawan itu.
"Tuan, silahkan kopi anda" Seorang wanita yaitu karyawan lainnya meletakkan kopi diatas meja, Ivan mengambil kopi itu dan meminumnya.
Emosinya melunjak.
"Pahit, ini kopi?"
Karyawan wanita itu membulatkan matanya, dia lupa jika Ivan tidak bisa meminum kopi.
"Maaf Tuan"
Ivan menjatuhkan secangkir kopi itu kelantai hingga cangkirnya pecah berantakan, sedangkan kopinya berhamburan.
"Mulai sekarang aku tidak ingin melihat wajahmu! keluar" Ivan menunjukkan pintu keluar ruangan.
Dengan rasa takut akhirnya dia keluar ruangan. Setelah beberapa lama akhirnya Ivan kembali seperti dulu, tiada hari tanpa marah.
--
"Raras, kau kesini bersama siapa? suamimu?"
Tanya Naya
"Tidak, yang ingin kulakukan adalah menyelesaikan pekerjaan."
__ADS_1
"Apa akhir-akhir ini kau sibuk?"
"Begitulah, apa aku pernah memberitahukanmu jika ibu sekarang berada dirumah sakit?"
"Apa yang terjadi? apakah karena kesehatannya?" Kata Naya dengan nada setengah panik.
"Dia akan baik-baik saja, aku sangat lega setelah mendengar ibu barusan sadar. Jika tidak, aku tidak tahu lagi mau berbuat apa"
Keluh Raras
"Tenang saja, ibu pasti akan baik-baik saja. Oh ya, aku ada pekerjaan yang penting aku harus pergi"
"Baiklah, selamat tinggal" Raras melambaikan tangannya ketika Naya sudah berdiri dan pergi dari tempat duduknya.
Sekarang dia sendirian. Hanya bisa menikmati cola sendirian. Sampai Raras lupa bahwa supir pribadi menunggunya diluar.
Tapi, tangannya ditarik kembali oleh Reynald, hingga Raras duduk dikursi itu kembali.
"Kenapa kau bisa disini, apa kau menguntitku?" Tanya Raras dengan nada suara yang tinggi.
"Kebetulan aku lihat kau" Reynald mengangkat cangkir bersi bir yang baru saja dia tuangkan."Bersulang"
Raras tetap menutup mulut."Ada banyak hal yang perlu aku urus"
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Tidak"
"Tapi aku merindukanmu" Reynald meletakkan cangkir itu dimeja.
__ADS_1
"Dan,aku sudah milik orang lain."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Ivan" Perkataan itu dianggap serius oleh Reynald
"Bisa-bisa saja dia menceraikanmu ditengah jalan. Apa kau yakin mau hidup bersama pria playboy sepertinya?.Heh, Raras sudah bertahun tahun aku mengenalmu baru kali ini aku melihatmu seperti ini"
Emosi Raras melunjak, walaupun dia tidak menerima mantannya menjadi suami orang tidak perlu juga untuk menjelek-jelekkan orang itu.
"Meskipun aku sudah diceraikan oleh Ivan, aku juga tidak akan bersamamu. Itu akan membawa bencana besar bagiku" Reynald terdiam, inilah kesempatan Raras untuk pergi dari tempat itu.
Walaupun dia mengucapkan kata yang menyakiti hati, kenapa bisa Raras termakan oleh kata-kata yang dikeluarkan oleh Reynald.
Dia masuk kedalam mobil dengan perasaan marah.
"Nona,apa yang terjadi padamu?" Tanya pengemudi.
"Aku mau pulang"
"Bagaimana jika kau menemui suamimu saja. Mungkin perasaanmu akan jauh lebih baik dari ini" Ajuan supir itu
"Tidak, aku mau pulang dan beristirahat"
"Baiklah nyonya" Supir mengendarai mobil dengan cepat hingga sampai ketempat tujuan.
"Tentang urusan tadi, aku mau kau melakukan secepatnya"
"Baik nyonya" Raras turun dari mobil. Setelah supir itu pastikan dia masuk kedalam, dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Tuan, ada hal menarik.Aku melihat istrimu bersama dengan pria asing"
__ADS_1