
Raras masuk kedalam ruangan setelah dari toilet beberapa menit yang lalu.
Begitu dia menarik gagang pintu, suasananya sangat sunyi.
Melihat ibunya dan dokter berhadapan tanpa ekspresi, membuat Raras bingung dengan suasana ini.
"Raras akhirnya kamu kembali juga!" Ibu tersenyum dan berjalan kearah Raras. "Yuk sayang, kita pergi dari sini." Ibunya menarik tangan Raras untuk pergi dari tempat ini.
"Eh bu tunggu, aku belum mengucapkan selamat tinggal kepada dokter.."
"Tidak perlu, ibu sudah mengucapkannya barusan. Ayo kita pulang" Menarik tangan Raras hingga keluar ruangan dan menutup pintunya kembali.
"Ibu kenapa sifatmu jadi aneh seperti ini."
"Kamu nggak lihat ekspresi ibu, ibu sangat senang akhirnya bisa bersama denganmu sayang. Kamu tahu kan, impian ibu adalah mengajakmu keliling kota ini dan bersenang-senang denganmu" Raras tersenyum mendengar ucapan ibunya.
"Tapi ibu jangan sedih lagi ya. Awas saja kalau aku lihat ibu menangis!" Ucap Raras dengan tegas.
"Kamu ini dari kecil bawel banget ya. Kamu pikir ibu masih kecil apa"
Mendengar candaan yang keluar dari mulut ibu membuat hati Raras merasa senang tak gemilang. Sudah sekian bulan hal ini tidak pernah terjadi, membuat Raras semakin semangat dalam melakukan sesuatu.
Mereka pergi keluar gedung rumah sakit dengan canda gurau. "Bu, sepertinya pertemuan kita berakhir disini. Aku mau pergi bekerja dulu"
"Oh iya, bahkan ibu lupa kalau kita tidak tinggal bersama lagi"
Raras merasa tidak enak hati terhadap ibunya "Maaf bu, bukannya aku nggak mau ibu tinggal bersamaku. Tapi, kalau ibu mau.."
"Kamu nggak tahu kan ibu cuman bercanda."
Sebuah raut wajah kesal diwajah Raras.
"Tapi, kamu benar-benar bahagia dengannya ya?" Suara yang sangat pelan hingga Raras tidak mendengar ucapannya.
"Ibu ngomong apa barusan, aku nggak dengar"
__ADS_1
"Ibu nggak ngomong apa-apa kok. Baiklah, kalau begitu ibu pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik" Dia mencium kening Raras dan melambaikan tangan untuk pergi dari tempat itu sesegera mungkin.
Sewaktu ibunya berjalan, dia hanya memandang dengan ekspresi kecurigaan.
Sebenarnya Raras agak sedikit takut untuk bertemu dengan ibunya, bagaimana jika dia membahas tentang masalah pertunangan dirinya dengan suami. Raras takut bila terjadi hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
Tapi, dia cukup senang walaupun masih ada sepuncuk rasa khawatir didalam hati. Bagaimanapun juga, dia harus bisa mempertahankan hubungannya dengan Ivan. Bukan karena kontrak yang telah berjalan, tapi karena perasaannya terhadap Ivan.
Meskipun pria itu masih belum mengungkapkan perasaannya, tapi dia tahu suatu saat nanti pasti akan terjadi.
- - -
Pagi ini, Ivan mendapat panggilan dari Ronald, sahabat terdekatnya untuk singgah ke bar miliknya.
Tidak tahu hal apa yang ingin dibahas pria itu, sebenarnya Ivan merasa hal ini sangatlah merepotkan. Tapi, karena dia adalah sahabatnya itu tidak menjadi masalah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan"
"Ivan, aku tidak percaya kamu bakalan datang lho. Aku pikir kamu adalah CEO yang super sibuk" Ronald menghisap rokok yang berada ditangannya sambil Terkekeh kecil.
"Mengenai istrimu itu. Kemarin aku bertemu dengannya dalam keadaan pingsan"
Ivan langsung menatap wajah Ronald dengan ekspresi yang berbeda.
"Untunglah aku ada disana. Jika tidak aku tidak tahu lagi bagaimana nasib istrimu selanjutnya"
"Kamu menyuruhku datang kesini hanya untuk meminta imbalan?"
Ronald ingin melihat ekspresi sahabatnya bagaimana ia merasa khawatir bila mengatakan hal yang mengenai Raras. Tapi, semuanya sia-sia. Tidak ada ekspresi khawatir apapun dari wajah Ivan. Dan juga, balasannya juga tidak mengatakan bahwa dia sedang khawatir.
"Haih, kamu benar-benar sahabat yang payah ya. Tidak mengerti sama sekali" Menekan-nekan keningnya menggunakan jari telunjuk.
"Ivan, apa kamu benar-benar mencintai Raras?" Ivan terdiam dan terlihat berpikir.
"Ivan, kamu tahu nggak, Lena udah kembali. Kemarin dia menelponku untuk menanyakan kabar kalau kalian sudah baikan." Tetap melihat wajah Ivan, apakah ada perubahan atau tidak.
__ADS_1
"Sepertinya hubunganmu dengan Raras akan berakhir sebentar lagi. Ivan, kelihatannya Lena semakin tergila-gila denganmu. Dan juga Raras, istrimu yang sekarang. Sewaktu aku membawanya kerumah sakit, dia ngigau namamu terus lho"
"Ronald, apakah kamu sangat tertarik untuk msncari tahu urusanku? Kalau kamu sangat tertarik mendingan kamu yang jadi aku"
Dia merasa perkataannya seperti candaan, Ronald terkekeh sampai terbahak.
"Kamu pede sekali. Aku hanya tertarik dengan hubungan percintaanmu, selain itu tidak ada menariknya sama sekali.
Tuan muda yang super dingin setelah ditinggal pacar dan setelah bertemu pacar kembali menjadi dingin"
Tidak mengerti dan perduli dengan ucapan Ronald. Sudah sekian lama Ivan menunggu agar pria itu menyelesaikan perkataannya.
Padahal mereka sama saja, Ivan yang dingin terhadap semua orang dan Ronald yang hanya menunjukkan ekspresi mematikan bila bersama dengan orang lain.
Hanya dengan Ivan dia bercanda, bahkan dengan keluarga pun tidak pernah.
"Ada banyak hal yang perlu aku urus. Aku pergi dulu" Dia berdiri dari tsmpat duduk dan hendak pergi.
"Ingatlah Ivan, jangan membenci Lena. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai anak, tidak lebih. Aku sebagai sahabatmu mendukung apa yang menjadi keputusanmu jadi jangan terlalu dipikirkan ya"
Rasanya Ivan ingin merobek mulut sahabatnya itu. Benar-benar cari mati, suaranya terlalu kuat membuat orang yang berada disana mendengarnya.
Meskipun dia menunjukkan wajah ketidak peduliannya terhadap masalah itu, didalam pikiran penuh dengan tanda tanya. Apa yang harus dilakukan untuk memastikan siapa yang lebih mencintainya.
Akhir-akhir ini sifat Raras yang mulai menunjukkan perhatian dan seberapa dalam dia mencintai Ivan membuat dia nyaman ketika berada disisinya.
Tapi hanya sekedar nyaman, tidak tahu selanjutnya apa. Dia yang telah dibutakan oleh cinta ketika ditinggal oleh Lena, berpikir bahwa cinta itu buruk Hanya menimbulkan rasa sakit hati begitu hubungan berakhir.
Ketika melihat senyuman yang terpancarkan dari wajah Raras selalu membuat jantung Ivan berdetak kencang. Meskipun ia tidak menunjukkannya didepan Raras.
Begitu pula sifat perhatian dan selalu ceria. Lena adalah cinta pertamanya, wanita yang dia janjikan untuk hidup semati bersama.
Dia yang telah mewarnai hari-hari Ivan yang semula gelap tak berwarna.
Dia yang selalu menghibur Ivan ketika sedih. Dia yang membuat Ivan menjadi pria yang ceria dan selalu tersenyum dan dia juga yang membuat Ivan menjadi dingin dan tidak mempercayai adanya cinta.
__ADS_1