
Baru saja Ivan datang,langsung disambut oleh temannya.
Ia duduk dikursi yang telah disediakan kemudian Pelayan itu mengantarkan sebotol bir.
"Ivan,sudah lama kita tidak bertemu.
Bagaimana kabarmu!" Tanya Ronald sambil terkekeh kecil
"Seperti biasa,aku hanya ingin menjalankan
kehidupan yang lebih baik" Kata Ivan kemudian menuangkan bir itu kecangkir dan meminumnya.
"Nama istrimu Raras ya?,aku sangat
penasaran kenapa kau mau menikah dengan
nya"
"Urusan bisnis" Ucap Ivan singkat
"Hm,kau mencintai istrimu ya?" Tanya Ronald penasaran.
"Tidak tau,baru juga menikah" Kata Ivan asal berbicara
Ronald pasrah untuk menanyakan lebih lanjut tentang Ivan.
Semua jawabannya tidak enak untuk didengar.
Dia lebih memilih diam dan meminum secangkir bir yang berada diatas meja.
"Bagaimana denganmu,kapan kau kembali?"
Tanya Ivan
"Aku tidak akan kembali,urusanku telah
selesai.Melihat kau menikah rasanya aku
juga ingin menikah deh" Kata Ronald bercanda.
Jujur saja,Ronald tidak seperti Ivan yang suka memainkan hati perempuan.
Sikapnya emang seperti ini jika didepan Ivan, tapi yang orang tau tentangnya adalah sangat dingin dan memilih untuk diam.
Selain itu status nya bergerak dalam dunia mafia,tak lama ini Ronald sudah berhenti membuat kerusuhan.Dikarenakan satu dan dua hal.
Perkataan Ronald tadi membuat Ivan sangat heran.Apa yang menggerakkan hatinya untuk tetap tinggal dikota ini.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan jika kau tinggal disini?"
Tanya Ivan penasaran
"Hehe,kan kau ada.Tentu saja aku ingin
pinjam uang padamu"
Ivan sangat terlejut hingga membulatkan matanya.
"Uang?,apa aku gak salah dengar, sejak
kapan seorang Ronald meminjamkan uang?"
Tanya Ivan bermaksud meremehkan
"Jangan salah sangka,walaupun aku jatuh
miskin tapi gak miskin-miskin amat.
Liat saja,hanya memerlukan waktu satu
bulan aku bisa naik lagi"kata Ronald dengan percaya diri.
Jatuh miskin? Batin Ivan
Kenapa ia bisa jatuh semiskin itu.
Ingin sekali Ivan menanyakannya langsung, tapi itu hanya membuang waktunya.
Tentu saja Ronald tidak akan memberitaukannya. Dia adalah orang yang selalu menjaga profesi keluarganya, walaupun Ivan adalah temannya sekalipun.
"Aku masih ada urusan" Kata Ivan kemudian menaruh cangkir kosong diatas meja.
Tidak lupa juga ia mengambil selembar kertas kecil berupa cek dikantung kemejanya.
Isi nominalnya tidak ada.
"Kau isi sendiri aja" Kata Ivan kemudian hendak melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Hehe,terima kasih Ivan.Kau emang yang
terbaik" Ronald senyum senyum sendiri sambil menatap kertas yang ia genggam.
Pasti dia ingin bersenang-senang dengan istrinya Gumam Ronald
Ivan melangkahkan kaki untuk pulang kerumah.
__ADS_1
- - -
"Uh,Akhirnya beres" Raras menidurkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk dan bersih.
Tulangnya seperti mau patah,harus membersihkan kamar sebesar ini.
Itu semua adalah ulah dari situkang make up Raras. Mereka sangat tidak tau diri, seharusnya membersihkan kembali bekas debu dan noda yang berada dilantai.
"Si Ivan kemana ya?" Tanya Raras dalam hati.
"Ngapain juga aku pedulikan dia" Tiba-tiba dia tersadar akan ucapan yang dikatakan.
Baru saja ia ingin menutup mata perlahan,suara pintu terbuka.Sudah pasti itu adalah Ivan.
"Kau menungguku ?" Goda Ivan.
Melihat wajah Raras berubah drastis ketika kehadirannya membuat Ivan tau pasti dirinya merindukan Ivan.
"Tidak,siapa juga yang rindu sama kamu" Kata Raras berusaha menahan malu
Ivan menutup pintu dan berjalan kearah Raras berada.
"Bagaimana,apa Ibu berbuat sesuatu?"
Tanya Ivan kemudian duduk disamling Raras.
"Tidak,dia tidak apa-apain aku.Ivan aku ingin
menanyakan sesutu,boleh tidak aku pergi
kerja?" Tanya Raras
"Ngapain,apakah uang yang kuberikan kurang?"Tanya Ivan
"Tidak,aku tidak mempunyai pekerjaan lain.
Masa aku harus ngikutin kamu pergi
kekantor?" Tanya Raras penuh harap
"Boleh,tapi jangan keluyuran" Sudah keberapa kalinya Ivan tidak menolak perkataan Raras.
Raras sangat senang,dengan sangat bangga ia memeluk Ivan sambil tersenyum.
"Makasih Ivan"
Perbuatan istrinya mengundang ia untuk tersenyum.Semakin lama Raras sangat berubah.
__ADS_1
Biasanya ia takut berada didekat Ivan, sekarang malah ia bertindak sebelum Ivan.