Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 83


__ADS_3

Dimalam hari yang tenang dan sunyi, yang dulunya mereka adalah sepasang kekasih karena ada masalah pribadi membuat hubungan mereka hancur.


Disaat salah satu pihak kembali, dia ingin membuat orang yang dicintai tetap mencintainya dan selalu berada disisinya apapun yang terjadi.


Kembang api yang menyala, terjun kelangit dan meledakkan dirinya kemudian muncullah warna-warna yang indah.


Membuat Lena berpikir bahwa, hubungan mereka akan segera berlanjut. Yakin dengan perasaan yang dipunya oleh Ivan terhadapnya.


Tidak mudah hancur berantakan begitu saja, yang hancur tidak mungkin terus hancur. Tetapi akan bangkit dengan sendirinya ketika dia niat untuk terus bangkit. Lena yakin, perasaan Ivan akan sama dengan itu.


Daniel yang menyaksikan aksi ciuman romantis antara tuannya dan pasangannya ingin sekali untuk melangkah mundur. Karena perintah dari Ivan saat diperjalanan menuju kesini tidak memperbolehkan asisten khususnya untuk pergi tanpa perintah darinya. Sudah jelas dia pasti sedikit gugup untuk berduaan dengan Lena.


Dalam seumur hidup baru kali ini dia merasa gugup begini, yang dulunya dia tidak segan-segan untuk melakukan sesuatu terhadap Lena kini menjadi sangat berbeda.


"Tuan, sepertinya ini saat yang tidak tepat. Apa aku boleh pergi sekarang, aku sudah mengganggu momen berharga kalian" Daniel menggaruk kepalanya dan terlihat seperti orang bod*h.


Lena menoleh setelah kalimat terakhir diucapkan Daniel. "Kalau tuan-mu tidak membiarkanmu pergi jangan berniat untuk pergi"


"Ma.. maaf nona, hehe aku pikir aku bakalan mengganggu hubungan kalian" Akhirnya tetap menunggu sambil menyaksikan kedua pasangan.


Ponsel Ivan berdering, sebenarnya ia tidak peduli akan hal ini. Entah kenapa tangannya meminta agar dia melihat panggilan dari pesan itu.


Mengambil ponsel yang berada disaku celana dan melihat nomor bertulis "Raras" yang tertera diponselnya.


Ivan, ini sudah tengah malam lho. Kamu pergi kemana cepatlah pulang!.


Tiba-tiba kepalaku pusing, kalau kamu nggak pulang juga aku bakalan mencarimu sampai keujung dunia. Aku nggak mau tahu. Raras.


Melihat Ivan mengubah ekspresi, membuat Lena penasaran siapa yang mengirim pesan sampai membuatnya seperti ini.


Dia merebut ponsel itu dari tangan Ivan dan melihat isi dari pesan tersebut tanpa meminta persetujuan dari Ivan.


"Dari istri kamu ya? "


"Iya"

__ADS_1


Memberikan ponsel itu ketangan Ivan dan menatap langit yang dipenuhi bintang. "Ternyata benar, kalian sudah akrab ya"


"Melihat pesan yang ditulis oleh istrimu, sudah terlihat bahwa kalian sudah seakrab itu"


"Lena, jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia hanya istri kontrakku tidak ada hubungannya dengan semua itu"


"Haha tidak apa. Kamu nggak perlu segan samaku, aku hanya bercanda kok!"


Lena membalikkan badan untuk pergi dari sana, kemudian berjalan melangkah untuk menjauh. Kemudian dia membalikkan badannya kembali setelah melangkah sebanyak lima meter.


"Istrimu menyuruhmu untuk pulang dia lagi sakit lho. Pergi sana" Wajah dinginnya keluar.


Daniel yang semula jauh mendekat kearah Ivan. "Tuan, apa nona Lena mengetahui tentang hubunganmu dengan nona Raras?" Tanyanya panik.


Ivan berjalan untuk pergi dari tempat itu. "Dia sudah tahu sewaktu pertama kali aku memutuskan untuk menikah dengannya. Ayo pergi"


Merasa jantungnya tidak berfungsi lagi, Daniel merasa dirinya semakin tidak berguna.


Setiap saat, jika ada suatu masalah Ivan selalu menyuruhnya untuk melakukan sesuatu apalagi jika hal itu berhubungan dengan Lena.


"Baik tuan"


---


Dirumah, Raras terus menunggu akan kehadiran sang pangeran, suami tercintanya untuk kembali dan hadir.


Sebenarnya sewaktu pulang bekerja, dia ingin sekali untuk tidur mengurangi rasa kelelahan yang dia punya. Tapi, entah mengapa dia tidak bisa tidur, serasa matanya tetap ingin terbuka seperti ada sesuatu hal yang menghalanginya untuk tetap tidur.


Kemudian dia berpikir, bagaimana kalau menunggu kehadiran Ivan dan tidur bersamanya?. Dia pikir suaminya itu akan mengurangi rasa lelah yang dia punya saat ini.


Raras menunggu diruang tengah sambil meminum kopi. Berharap agar rasa kantuknya segera hilang, sudah beberapa menit berlalu suaminya masih tidak muncul juga.


Sudah tidak sabar untuk menunggu, Raras mengambil ponselnya yang berada diatas meja bermaksud untuk menelpon Ivan. Jika pria itu tidak mengangkatnya, dia akan oergi tidur. Mungkin pekerjaannya masih belum selesai juga, dia yang sebagai istri tidak mungkin menyuruh suaminya untuk tetap berada disisinya kan?.


Suara pintu mobil tertutup tidak terlalu kencang, namun pendengaran Raras saat ini sangat tajam. Bisa mendengar meskipun agak sedikit jauh. Begitu mendengarnya, Raras berinisiatif untuk mengintipnya dijendela, penasaran melihat siapa yang datang. Dalam pikirannya sudah pasti berharap bahwa yang hadir adalah Ivan.

__ADS_1


Membuka gorden, dan mengintip kaca jendela yang transparan. Ternyata benar! itu Ivan. Raras lompat kegirangan melihat Ivan yang hadir disana.


kelelahan dan rasa pusingnya sudah menghilang. Ivan membuka pintu utama, melihat kehadiran Raras disamping kanannya yang sedang menatapnya.


"Nagapain kamu disini?" Tanyanya dengan heran. Raras tidak mau kalau Ivan tahu jika dia sangat senang akan kehadiran dirinya. Memilih untuk menyembukan ekspresi.


"Nungguin kamu, berarti kamu nggak ngeliat isi pesan dariku kan? atau asistenmu itu tidak memberitahukannya padamu? " Tanya Raras dengan emosi, menyilangkan tangannya dan memasang wajah sebal.


"Ngapain nungguin aku?Sayang, kamu bodoh ya? Kamu seperti anak kecil yang menunggu ibunya kembali untuk menemaninya tidur kan? "


"Ka...kalau aku benar-benar berpikir seperti itu emangnya kenapa? " Ivan mendekat kearahnya dan mengangkat wajahnya.


"Lihat wajahmu yang sekarang, kamu lebih manis ketika kamu malu seperti ini" Terkekeh kecil.


"Ivan hentikan! aku tidak mau dipermalukan olehmu"


"Ok, kalau begitu peluk aku"


Raras menatapnya tidak percaya. "Kamu malah mencari kesempatan dalam situasi seperti ini ya? "


"Bukannya aku mencari kesempatan, tapi kamu yang mau kan? "


Sudahlah, melanjutkannya membuatku emosi. Bagaimanapun aku tidak mungkin menang jika beradu mulut dengannya.


"Kamu membuatku emosi, menuruti perkataanmu adalah yang harus aku kerjakan" Melangkah maju dan memeluk Ivan dengan erat.


Dia menempelkan wajahnya kedada Ivan. Wangi parfum yang melekat ditubuhnya tercium asing, tidak pernah mencium bau parfum yang seperti ini ditubuh Ivan. Dan lagi, ini adalah bau parfum seorang wanita. Ya, seorang wanita. Raras mulai memikirkan hal aneh.


"Lama sekali kamu peluknya. Kalau kamu mau berposisi seperti ini bukankah seharusnya diranjang saja? " Ledeknya, namun Raras tidak mencerna kata-kata itu.


"I..Ivan, aku mau menanyakan sesuatu kepadamu"


"Apa yang kamu lakukan sebelum pergi dari sini? A.. apa kamu bersenang-senang dengan perempuan lain?" Rau wajahnya berubah drastis.


Deg.Jantungnya berdetak kencang, memikirkan hal yang tidak-tidak terhadapnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2