
"Eh, kak Cici kenapa nona Raras masih tidak muncul juga?" Mencelinguk kekiri dan kekanan, berharap melihat sosok Raras muncul.
Dengan penuh rasa khawatir"Benar juga apa katamu, kenapa Raras dan ibunya tiba-tiba tidak kelihatan?"
"Jangan-jangan... " Mulai berpikir yang tidak-tidak. Perkataan dan rasa kekhawatiran Adel yang berlebihan membuat Cici emosi. Sudah bisa ketebak, bahwa gadis itu kecewa karena gaun yang dia inginkan belum terbeli juga.
Cici menyentil dahi Adel, gadis itu kesakitan dan menjerit.
"Hey, apa yang kamu lakukan? sakit tahu! "
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kita menunggu dulu" Mencari tempat duduk diruangan itu, kaki mereka sudah sangat pegal karena sudah keliling untuk mencari keberadaan Raras.
"Cici.. Adel" Panggilan dari belakang membuat mereka yang diam dalam kesunyian menoleh. Melihat sosok Raras sedang berlari kearah mereka, wajah Adel yang semula murung terlihat gemilang.
"Nona, dari mana saja kamu? apa terjadi sesuatu?" Ucap Cici dengan khawatir, melihat Raras yang masih ngos-ngosan dan sesak nafas membuatnya enggan untuk mengatakan kalimat kedua.
"Tidak apa-apa, pasti kalian kaget ya? " Tersenyum kembali dan mencoba untuk mengatur nafas yang tak beraturan.
"Nona, kalau tidak enak badan kita duduk dulu saja. Aku lihat wajahmu sedikit pucat" Memerhatikan sedetail mungkin, mereka jadi semakin khawatir dengan keadaan Raras saat ini.
"Tidak apa. Apa kalian sudah memilih hadiah yang kalian mau? "
"Sudah"
"Baguslah kalau begitu, ambil pakaian itu dan berikan pada pelayannya"
"Baiklah, sekali lagi terima kasih" Mereka berdua berjalan bersama dengan Raras secara serentak. Menanyakan keadaan Raras yang keberapa kalinya.
Tapi tetap saja kata yang keluar dari mulutnya adalah 'Aku baik-baik saja', 'Kalian jangan khawatir'.
Tiba-tiba, sewaktu mereka sedang berjalan, ibu Raras datang dari belakang dan berhasil mengagetkan mereka bertiga.
"Sepertinya ibu terlalu lama ya" Mereka menoleh secara bersamaan.
__ADS_1
Menanyakan kemana saja ibunya pergi, tidak mungkin ketoilet selama itu. Dan ibu menjawab bahwa sewaktu mau kembali ketoko pakaian, dia bertemu dengan seorang teman. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, sewaktu ibu belum masuk rumah sakit.
Akhirnya setelah melewati masa pembayaran, Cici dan Adel tampak berbinar-binar. Mereka sangat senang bisa mempunyai gaun yang mahal. Menatap kembali apa yang dibeli.
"Nona, kamu baik sekali. Sudah mentraktir kami untuk berbelanja. Maaf tidak bisa memberikan hadiah kepada nona" Menundukkan kepalannya.
"Kebetulan aku sedang mendapatkan rezeki, nikmati saja" Tiba-tiba dia teringat sesuatu, sewaktu kembali ketoko selepas dari toilet Raras melihat toko perhiasan dan melihat sebuah kalung yang sangat cantik. Warnanya yang terang menguat hatinya terpikat.
Jika dipikir-pikir, hadiah itu sangat cocok diberikan kepada ibu.
Dia pergi kesana dan memesan kalung itu, meskipun harganya sangat mahal namun bagi Raras itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan isi atm nya. Lagian selain punya atm Raras juga mempunyai platinum card, kartu yang diberikan Ivan ketika mereka menikah.
Sampai sekarang Raras tidak pernah memberanikan diri untuk memakai kartu itu, dan tidak pernah terpikir olehnya untuk memakainya.
Raras menunjukkan kalung itu didepan ibu, dan memasangkan dileher ibunya. Cici dan Adel yang menyaksikannya ikut bangga, melihat Raras yang sangat perhatian terhadap semua orang. Dari kecil tidak sia-sia dia didik dengan sangat keras.
Hari sudah mau gelap, terlihat cahaya matahari yang terlihat hanya setengah mereka akhirnya memutuskan untuk pulang setelah sekian lama bersenang-senang.
Meskipun dia masih merasa tidak tenang sama sekali, masih ada perasaan yang mengganggunya.
"Sayang sekali, waktunya tidak terasa sudah mau petang"
Mereka mengucapkan banyak terima kasih terhadap Raras, telah mengajaknya ikut bersenang-senang.
"Kalau begitu kami pulang dulu"Melambaikan tangan untuk pergi dari sana. Mereka berjalan melangkah dan mulai menjauh, untuk pergi kerumah masing-masing.
"Bu, sepertinya kita harus berpisah disini"
"Ya, hati-hati dijalan"
Raras menelpon pak Ari untuk singgah kedepan mall. Begitu dia selesai menelpon dan pak Ari akan sampai sesegera mungkin, Raras mencari tempat duduk. Mungkin akan kelelahan jika terus berdiri dan menunggu. Sementara itu hari sudah gelap, takut jika ada orang jahat yang menculiknya seperti kejadian yang lalu.
Beberapa menit berlalu, sebuah mobil perak men-klakson. Raras melihat dan masuk kedalam mobil itu.
__ADS_1
Diperjalanan ia tampak murung, sesekali pak Ari mengintip dikaca spion. Apa yang terjadi? bukankah seharusnya nona bersenang-senang? pikirnya.
"Eh, nona Raras. Ada hal yang tidak menyenangkan ya? "
Menoleh kembali"Aku hanya kelelahan, ugh. Lama sekali kita sampai, kepalaku pusing nih"
"Baiklah, saya akan menyetir lebih cepat"
Raras tidak mau pak Ari menanyakan lebih lanjut tentang keadaannya. Dia tahu bahwa wajahnya sudah ketebak, dia sedang merasa tidak baik. Menyembunyikan ekspresi aslinya sangat sulit dilakukan, berbeda dengan biasanya.
Sesampainya dirumah, Raras keluar dari mobil tanpa mengucapkan salam perpisahan. Bahkan sewaktu mobil belum berhenti, dengan cepat dia membuka gagang pintunya.
Berjalan kearah pintu dan menekan satu persatu tombol pin. Membuka pintu dan menutupnya kembali.
Hari yang melelahkan
Dia pergi kelantai dua untuk mandi, sebelum itu tidak lupa untuk menyiapkan air sebelum pergi mandi.
Sementara menunggu airnya terisi penuh, dia membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan mendesah.
Padahal hari ini sudah dinantikan sejak lama, dimana pergi bersenang-senang dengan orang yang baru saja dekat dengannya.
Terdengar suara air yang sudah tumpah-tumpah, dia masuk kekamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya.
Mencelupkan kakinya kedalam bathtub dan duduk disana.
Dengan pikiran yang kosong Raras menggosok punggungnya dan membasahi rambutnya.
Pikirannya campur aduk, masih tidak percaya akan hal yang dia lihat.
Wanita yang disampingnya sangat cantik. Baju yang dikenakan terlihat sangat anggun sangat cocok dengan tubuhnya yang ideal. Satu set perhiasan yang dia gunakan untuk menghiasi tubuhnya juga sangat cantik, sepatu dan tasnya juga.
Memikirkan hal itu membuatnya sakit hati. Kembali rasa sakit itu muncul, dadanya kembali sesak.
__ADS_1
Menangis sendiri dikamar mandi emang yang terbaik, mungkin besok aku akan merasa sangat baik.