
"Hey Raras mau kemana?" Tangan Raras ingin ditarik oleh Anna, sayangnya dia tidak bisa melampaui.
Karena Raras bgitu gesit dan terburu-buru untuk pergi dari tempat mengerikan itu.
Dia pergi ketoilet, ternyata hasilnya nihil. Raras berinisiatif untuk mencari Naya ditempat sepi dan tersembunyi. Sialnya, dia tidak tahu jelas tempat apa ini.
Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Naya. Bukannya waktu itu dia bilang tidak akan berhubungan dengan Adit. Tapi kenapa dia begitu bod*h mempercayai pria kurang ajar.
Raras menepuk jidatnya, bingung mau cari Naya kemana. Dan lagi kepalanya agak sedikit pusing.
"Yang jelas aku harus menemukan Naya dan menghibur gadis merepotkan itu!" Raras mengepal tangan mempunyai tekad yang tinggi untuk mencari keberadaan Naya sampai wanita itu ketemu.
Sementara itu didalam ruangan VIP apartemen.
"Ma.. maaf Reynald sepertinya aku gagal" Tubuh Anna berguncang hebat membuat dirinya sendiri malu. Bahkan mengalahkan seorang gadis kampungan pun dia tidak sangup, sungguh memalukan. Itu yang ada dipikiran Anna.
"Kalau begitu makan malamnya gak jadi"
"Aku sudah berjuang sejauh ini tapi.. kamu sama sekali gak ngehargain aku. Ternyata kamu benar-benar sedingin itu ya, aku lupa bagaimana sikapmu yang acuh tak acuh" Anna tersenyum, usahanya sudah sangat besar untuk membawa Raras ketempat ini, tapi semuanya menjadi sia-sia.
Makan malam yang dijanjikan juga hangus, membuat hati Anna hancur sehancurnya.
Dibelakang gedung apartemen, akhirnya Raras menemukan Naya setelah berkeliling cukup lama.
Dia langsung menghampiri Naya yang keadaannya kurang membaik.
Duduk diaspal yang kelihatannya kotor, menunduk dan menahan agar air matanya tidak keluar.
Dia pernah berjanji untuk tidak mengeluarkan air matanya untuk cowok sialan seperti Adit.
"Naya sudahlah, pria seperti Adit emang kurang ajar. Kamu yang cantik ginu gak cocok sama pria bangs*t" Karena terlarut dengan emosi, ucapannya jadi seperti ini.
"Ras, kamu bukannya mau ngehibur aku malah ngomongin dia"
"Haha, maaf Naya. Aku nyari kamu udah kayak keliling kota tahu"
Tampaknya dibelakang gedung apartemen ini sangat sepi, setelah kalimat tadi dikeluarkan Naya tidak membalasnya. Dia termenung dengan lamunannya sendiri.
"Ras.."
"Ya?" Sontak kaget akan suara yang barusan keluar dari mulut Naya.
__ADS_1
"Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"
Mungkin dengan meminta Raras memberikan pendapat, Naya akan merasa tenang walau hanya sedikit. Keadaan keluarganya dan keadaannya sekarang benar-benar membuat kepala Naya mau pecah, tidak sanggup untuk memikirkan hal itu semua.
"Aku tinggalin" Jawabnya singkat
"Kenapa?"
"Aku benci cowok seperti Adit, dia benar-benar tega melakukan hal yang melukai hatimu. Kalaupun dia nggak suka sama kamu yah seharusnya bicara baik-baik"
Dengan kalimat ini semoga saja Naya merasa tenang. Pikirannya benar-benar amburadul, banyak sekali yang harus dipikirkan.
"Bukannya kamu juga seperti itu?"
Raras tidak mengerti kalimat yang diucapkannya.
"Awalnya kamu dan suami kamu saling tidak suka kan, kenyataannya sampai sekarang tuh kalian jadi jatuh cinta" Kata Naya dengan penuh serius dan menatap Raras.
Begitu membicarakan hal yang mengenai Ivan entah kenapa wajah Raras memerah. Ternyata perasaannya kepada Ivan semakin naik pangkat.
"Kamu ngomong apa sih! Kok jadi ngebahas masalah aku dan Ivan"
"Tapi yang kamu bilang tadi, Ivan masih belum mengatakan perasaannya kepadaku"
"Pria seperti tuan Ivan mengaku kalau dirinya mencintai seorang gadis? haha kedengarannya lucu sekali. Mungkin membutuhkan proses untuk mengatakan perasaan yang dia pendam" Naya menepuk bahu Raras dengan kencang. "Ayolah, semuanya membutuhkan proses. Nggak langsung asal jadi aja" Hibur Naya
Semakin lama hubungan mereka semakin dekat. Membuat Raras mengetahui betapa indahnya memiliki sahabat yang tulus seperti ini. Dulunya Naya yang selalu sungkan untuk meminta bantuan pada Raras akhirnya menjadi sahabat sejati, yang mengerti perasaan satu sama lain.
"Kepalaku sakit sekali" Raras menekan area kepalanya yang pusing. Penglihatannya kabur dengan seketika.
"Ras, kamu kenapa?" Naya panik
"Nggak tahu, tiba-tiba kepalaku berputar-putar. Duh, sakit banget" Raras berusaha menahan rasa sakit itu agar hilang.
"Kok bisa, tadi kamu makan apa?" Semakin panik
"Tidak ada, aku cuman minum wine yang dikasih sama Anna. Ssbetulnya aku nggak bisa minum, tapi dia ngancam aku"
"Raras apa kamu bod*h? Jelas-jelas itu adalah jebakan!" Sewaktu Raras ingin menahan sedikit lagi rasa sakit yang penuh penderitaan ini, akhirnya tubuhnya tidak bisa menanggung rasa sakit itu.
Raras akhirnya pingsan, dengan sigap Naya menahan Raras agar tidak terjatuh diaspal.
__ADS_1
Sialan kau Anna, lihat saja apa yang terjadi denganmu besok!.
Naya sangat panik, tidak tahu hal apa yang harus dia lakukan. Jelas-jelas ini adalah obat perangsang, Anna benar-benar gila sudah memberikan obat itu. Dirinya pantas mati.
Sewaktu Naya ingin menarik Raras, tidak bisa juga. Tempat ini juga sangat sepi, orang-orang pasti sudah tidur. Tidak mungkin kan, ada orang berkeliaran ditengah malam.
Terlintas dimata Naya terlihat sosok punggung pria. Gagah dan tinggi.
"Eh, kamu yang ada disitu!" Teriakan itu membuat pria itu berbalik "Tolong bantu temanku, aku mohon"
Dia mendatangi Naya dengan cepat dan melihat kondisi yang terjadi.
Pria itu melirik kearah Raras dan terkejut setengah mati.
"Eh, bukannya ini Raras?"
"Paman kenal sama temanku? baguslah kalau begitu bantu aku bawa Raras kerumah sakit!"
Untung ada kenalannya Raras ditempat aneh seperti ini, jadi tertolong deh.
Mereka membawa Raras kerumah sakit terdekat. Bagaimanapun dia harus ssgera dibawa rumah sakit dan diperiksa dengan cepat, agar efek obat tersebut masih terlihat jelas.
Supaya bukti bahwa Anna memasukkan sesuatu kedalam obat itu tidak hilang, akan lebih mudah membuat Anna masuk kepenjara.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Raras dengan panik.
"Tidak apa, karena efek obat yang ada ditubuh nona ini membuat dirinya tidak sadar beberapa menit. Sebentar lagi dia akan pulih kok, hanya butuh istirahat"
"Baiklah, terima kasih dokter" Akhirnya Naya bisa bernafas lega setelah mendengar keadaan Raras yang sebentar lagi akan pulih.
Untunglah, cuman obat bius biasa.
"Paman, terima kasih telah membantuku."
"Ya, aku pergi dulu"
"Baiklah, apa perlu aku sampaikan sesutu ke Raras?"
"Nggak perlu" Dia pergi dengan cepat dari rumah sakit ini.
Paman ini dingin sekali. Kenapa bisa orang setampan dia bisa kenal dengan Raras ya?
__ADS_1