Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 65


__ADS_3

"Apa kau lihat gerak gerik wanita itu?"


"Ya, baru saja aku menyuruh orang untuk melihat apa yang dilakukan nona Anna. Dia.. meminta maaf dengan cara yang tidak tulus kepada nona Raras" Belum saja Daniel melanjukan kata-katanya dia sudah terlarut dalam emosi dan mencengkram kuat kertas yang sedang dia pegang.


"Tenang dulu tuan. Saya belum selesai berbicara!. Rekan kerja nona lah yang mengatakan untuk meminta maaf pada nona Raras, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk memaafkan"


"Bagus juga" Seseorang yang sekarang menjadi istrinya sudah lebih baik daripada saat pertama kali Ivan melihatnya. Dia yang sekarang jauh lebih baik ketimbang terlihat seperti wanita rendahan hanya memandang luar saja.


"Jadi, apa langkah selanjutnya?"


"Aku dengar wanita itu seorang aktrist yang sedang naik daun akhir-akhir ini"


"Jadi?"


"Aku ingin dia bukan hanya diturunkan pangkat, tapi juga profesinya yang sebagai aktrist terkenal!"


Daniel terlihat ragu-ragu untuk menyetujui permintaan Ivan. Dia merasa hal ini sangat ketelaluan, ini hanya demi wanita itu kenapa dia bisa dengan mudahnya menghukum seseorang yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Tuan muda Ivan yang dikenal dulu berbeda dengan yang sekarang.


"Tapi tuan.. apa ini tidak keterlaluan?"


"Sejak kapan kau meragukan perintah tuanmu ini?"


"Baik, saya laksanakan" Daniel pergi dari ruangan itu untuk menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Ivan.


Masalah selalu berdatangan dengan mudahnya, seorang wanita yang merupakan sekretaris dari Ivan baru saja menampakkan dirinya setelah satu bulan berlalu.


Brak"Tuan Ivan, pria yang berhianat itu sudah kutemukan"


Ivan membulatkan matanya, sekretaris yang bernama Diana itu sudah menghilang sangat lama demi menjalankan sebuah tugas itu menampakkan dirinya."Diana? apa yang kau katakan barusan? apa benar orang itu sudah ditemukan?" Tanya Ivan


"Hehe, tentu saja. Aku tidak pernah meragukan dirimu sampai sekarang!" Diana memberikan perintah kepada seseorang untuk membawa pria penghianat itu kedepan wajah Ivan."Bawa pria itu kesini"


Ivan sudah tidak sabar untuk melumpuhkan pria itu dan membuat hidup pria itu sengsara. Padahal dia adalah pria yang paling dipercaya Ivan, tapi dia malah melakukan tingkah bodoh. Mencuri sebuah berkas penting diperusahaan dan menjual berkas itu keperusahaan lain dengan harga tinggi. Sewaktu Ivan tahu tentang hal itu, pria itu melarikan diri tidak tahu entah kemana.


Tubuhnya dilemparkan keruangan kantor Ivan. Begitu dia telah berada diruangan, Ivan berdiri dan berjalan kearah pria penghianat itu.


"Tuan maafkan aku... itu hanya kesalah pahaman. Aku tidak mungkin mau melakukan hal bodoh seperti itu, tolong maafkan aku!"


Dia menjongkokan kakinya"Apa kau janji akan melakukan segala yang kuperintahkan dan tidak akan melanggar janji itu?"

__ADS_1


"Ya ya, saya bersumpah akan bekerja dengan baik disini." Yang tadinya wajahnya muram berubah kegirangan.


Dia tidak tahu bahwa ini adalah awal dari rencana licik.


"Bagus" Ivan memberikan isyarat kepada seorang pengawal yang berada dibelakang untuk bertindak yang seharusnya dia lakukan."Cuman, aku hanya percaya dengan orang mati"


"Apa? maksud tuan, tuan mau membunuhku? Tuan maafkan saya. saya masih mau hidup"


Dia menangis ketakutan sambil memeluk kaki Ivan dan memohon padanya.


"Jauhkan tangan kotormu dari hadapanku!"


"Lakukan apa yang kuperintahkan"


"Baik tuan Ivan" Mereka membawa pria itu pergi dari ruangan kantor Ivan. Sudah pasti da tidak akan mengotori kantornya dengan darah seorang penipu.


"Kerja bagus Diana" Ucap Ivan sambil tersenyum kearah wanita yang merupakan sekretarisnya.


"Tidak perlu sungkang tuan, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai sekretaris anda. Jadi, saya sudah boleh mengurus kantor bersama denganmu?"


Tanya Diana dengan wajahnya yang berbinar-binar.


Wanita itu tersenyum puas, akhirnya posisinya yang sebagai sekretaris Ivan hidup kembali. Sudah lama sekali ia menantikannya, bersama-sama senang dan mengalami keterpurukan saat mengurus sebuah perusahaan ini adalah hal yang diimpi-impikan setelah sekian lama.


-


Raras tiba disebuah cafe tempat janjinya dengan Naya. Dia baru saja menelpon Naya dan menyuruhnya untuk datang. Baru saja dia duduk disebuah kursi kosong, Naya sudah menghampirinya dari belakang.


"Naya, kenapa cepat sekali?"


"Hehe aku sedang tidak ada kerjaan dirumah"


"Kelihatannya kamu tidak sedih lagi Nay." Raras merasa bersalah karena telah meninggalkan Naya disaat keaadaan susah kemarin"Eh, itu maaf ya aku telah mengecewakanmu. Setelah aku pikir-pikir kenapa bisa aku menolakmu saat itu"


"Tidak perlu dipikirkan, ayo kita nikmati malam ini dengan bersenang-senang!"


Wajahnya berbinar-binar.


"Naya hari ini kamu terlihat gembira. Apa ada sesuatu yang menarik?"

__ADS_1


"Keadaanku sekarang malah tambah buruk. Aku harus membuat diriku senang malam ini"


Kenapa Naya menjadi wanita seperti ini? apa karena sebuah kejayaan dia bisa bangkit dan semangat seperti dulu lagi? Aku sangat kasihan pada Naya, tapi dia sangat keras kepala. Tidak membiarkanku membantu keluarganya yang melanda hutang. Pikirnya sampai keubun-ubun.


"Berhenti Naya, aku tidak suka kamu yang sekarang. Tolong jangan berpura-pura bahagia seperti itu, hargai aku yang ada didepanmu"


"Maaf hanya bir ini yang bisa menyelamatkan nyawaku" Dia meminum dan meminum bir yang baru saja diantarkan kemeja tanpa menuangkan kedalam gelas.


Raras tahu bahwa wanita itu sedang mengalami kesengsaraan. Dia juga bisa merasakan sakitnya seseorang yang jatuh dalam kemiskinan maka dari itu Raras membiarkan sahabatnya untuk melakukan hal yang diluar batas. Jika tidak keadaannya malah tambah parah.


"Raras, ini enak lho! kamu gak mau minum?" Dia menyodorkan botol bir itu kepada Raras. Tidak ada reaksi.


"Yasudah kalo nggak mau"


Sewaktu botol berisi anggur telah habis, Naya melihat sekelilingnya. Dia melihat seorang pria yang cukup tampan tapi terlihat dewasa sedang duduk sendirian.


"Raras selamat tinggal!"


"Kamu mau kemana?" Tanya Raras dengan panik.


"Bersenang-senang" Dia berjalan kearah pria itu berada.


"Hai pria ganteng, boleh duduk gak?"Pria itu diam menatapnya dengan dingin. Dia duduk dikursi depan pria itu berada.


"Kenapa masih diam? apa aku tidak menarik?" Pria itu hendak berdiri, namun Naya menariknya untuk duduk kembali.


"Tunggu dulu, apa kamu terburu-buru untuk pergi?" Pria itu menghempiskan tangan Naya.


"Maaf, aku tidak tertarik dengan wanita pemabuk"


"Naya! hentikan, ayo kita pulang!"


Sewaktu Raras melihat kearah pria itu, sepertinya wajahnya terkesan familiar.


"Eh, apa kita saling mengenal? Bukannya kamu Ronald, temannya Ivan yang menculikku waktu itu?"


"Nona apa kita saling mengenal?" Dia pergi dengan perasaan marah. Seharusnya disini yang marah itu Raras, tapi kenapa malah terbalik?.


Kembali dia mengingat akan sesuatu hal yang terjadi, Naya menidurkan wajahnya kemeja yang berada didepannya.

__ADS_1


__ADS_2