Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 69


__ADS_3

Pertama kali semenjak mereka menikah Ivan mengucapkan kata maaf dengan ekspresinya yang tulus.


Raras tertegun mendengar ucapan maaf darinya.


"Oh ya, ngomong-ngomong.." Raras melirik kearah sajian makanan yang telah dingin diatas meja makan.


Begitu mata Raras tertuju kepada apa yang ada diatas meja, Ivan ikut melirik. Ternyata itu adalah sebuah makanan yang kelihatannya enak tapi sayangnya sudah dingin.


"Kamu sudah lama menunggu?"


Benar-benar sial, sangat memalukan jika aku jujur telah menunggunya sampai selarut ini.


Wajah Raras merah padam, dari tadi Ivan terus menatapnya tanpa henti membuat Raras semakin kesal saja.


"Iya"


Tiba-tiba bunyi perut Raras yang keroncongan mengubah suasananya. Begitu perutnya berbunyi dia langsung memegang perutnya dan menundukkan kepalanya karena malu.


Duh, kenapa harus bunyi diwaktu yang tidak tepat sih. gumamnya


"Kenapa masih belum makan juga? demi menungguku pulang kamu ngerelain buat gak makan. Kamu pikir itu bagus?" Raras langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ivan yang serius.


"Maaf, aku cuman mau ngehibur kamu. Tapi kamunya yang enggak datang-datang. Kenapa marahin aku terus sih, jelas jelas kamu yang salah, aku padahal udah kirim pesan lima jam yang lalu dan lima jam yang akan datang baru kamu kesini. Meskipun aku menerima perminta maaf darimu, bisa nggak gak usah marah-marah lagi?" Hari ini emang hari yang sangat melelahkan bagi Raras, dia harus bekerja ditoko pakaian miliknya sendiri demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan orang orang yang singgah.


Tapi seharian ini entah kenapa dia sangat kesal pada Ivan, selain karena masalah tadi dia juga kesal karena masalah tadi siang.


"Sudahlah, aku tidak mau bertengkar denganmu lagi. Buatkan aku makanan" Siang ini Ivan tidak makan apa-apa, ditambah lagi barusan dia meminum sebotol anggur. Sudah pasti perutnya mati kesakitan.


Raras bergegas membuat makanan cepat saji, menghidupkan kompor dan membuat nasi goreng.


Beberapa menit kemudian, nasi goreng siap dihidangkan. Raras menaruh nasi goreng itu diatas meja dan membagikannya keatas piring Ivan. Akhirnya mereka makan malam bersama depan-depanan.


"Ivan, aku pengen nanya sama kamu. Hubunganmu dengan ibuku apa?"


Mendengar akan hal itu, Ivan yang semulanya ingin menyuapkan sesendok nasi kemulutnya jadi tertunda.


"Tidak ada. Dia hanya tidak terima dengan hubungan kita, meskipun itu hubungan kontrak sekalipun"

__ADS_1


"Benarkah? tapi kenapa ibuku boleh masuk kedalam kantormu. Bukannya tidak sembarang orang yang boleh masuk kedalam"


Banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan Raras, tapi dia bingung mau memulainya dari mana.


Perkataan yang barusan membuat Ivan tersedak, Raras menuangkan segelas air dan menyodorkannya kepada Ivan.


"Kenapa pertanyaanmu banyak sekali?"


"Oh, berarti benar. Kamu pasti punya hubungan sama ibuku kan?" Raras melahap sesendok nasi goreng. Perutnya emang lapar, setelah mendengar jawaban Ivan yang sembrono membuat moodnya jelek.


Wajahnya berubah murung.


"Baiklah akan kujelaskan. Aku memang mempunyai hubungan dengan ibumu, tapi itu sudah lama sekali bahkan aku lupa apa yang membuat aku mempunyai hubungan dengan ibumu"


Raras menyimak sambil makan "Ta..tapi, tadi kamu dengar nggak kalau ibuku minta kamu menceraikanku. "


"Kamu benar-benar mau aku menceraikanmu?"


"Tentu saja tidak!" Tanpa sadar, suara Raras berbunyi nyaring dengan tatapannya yang serius. Ivan tersenyum melihat tingkah Raras berubah menjadi seperti biasanya.


Sentuhan lembut dibibir, sudah lama sekali ingin dirasakan setelah perkelahian berakhir.


Bibirnya yang lembut, tatapan wajah yang gemilang membuat jantung berdegub kencang. Perasaan yang awalnya hanya jatuh cinta tidak disengaja semakin tambah dan menambah besar.


Ludah yang mengalir dari mulut kemulut adalah hal yang ingin dirasakan setelah sekian lama.


Nafas Raras terasa sesak, terpaksa dia memberhentikan ciuman manis itu.


"Kenapa berhenti, bukannya kau mau lagi?"


Hentikan tatapan mata menggodamu. Tau nggak sih, kamu udah buat jantungku hampir copot! benar-benar gila!.


"Hentika Ivan! kan kamu duluan yang menciumku dan jangan lagi menatapku dengan pandangan seperti itu!"


"Berarti benar kataku, kau pasti mencintaiku kan? Udah berapa lama kamu memendamnya, sejak pertama kali kita bertemu? atau sejak pertama kali kita menikah?" Tambahnya membuat Raras geram, dia hendak pergi dari sana tapi tangannya ditahan oleh Ivan.


"Ada apa lagi sih? kalau nggak ada keperluan lagi mendingan aku tidur"

__ADS_1


"Aku harus mendengar pengakuan dirimu. Katakan apakah kamu mencintaiku atau tidak?" Ivan menatapnya bermaksud menggoda, berharap Raras jujur dengan peraasannya sendiri. Selama ini dia telah memandang wajah Raras ketika dia merasa bahagia, sedih, marah dengan penuh cinta. Meminta seseorang yang mencintainya untuk jujur akan perasaannya sendiri membuat Ivan semakin penasaran apakah instingnya benar mengatakan bahwa Raras telah jatuh cinta.


Dia harus mendengar ungkapan rasa cinta itu dari Raras, meskipun dirinya sendiri tidak tahu dengan benar apakah dia benar-benar jatuh cinta dengan perempuan yang hanya seorang istri simpanan. Atau hanya seorang gadis desa miskin dengan hidupnya penuh penderitaan.


Kenapa tiba-tiba dia serius begitu? Meskipun perasaan ini sudah lama sekali aku pendam tapi hatiku tetap menolak untuk membicarakan yang sebenarnya. Aku takut, ketika aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya sikap perhatiannya kepadaku akan berubah. Dan juga, ini tidak mungkin terjadi! Seorang bos ceo paling tampan, kaya dan terkenal didunia menyukaiku? Cih, seharusnya ada seorang yang membangunkan mimpiku.


"Oh, berarti kamu udah jatuh cinta padaku kan. Iya kan? boleh kasih tau aku nggak kapan kamu mulai jatuh cinta?"


Apa dia benar-benar bodoh, biasanya kalau aku diam gini dia langsung pergi meninggalkanku.


"Aku tahu kamu manusia paling tampan yang pernah berhubungan denganku. Dan juga kamu mempunyai pikiran dan otak yang cerdas, haha tidak mungkinkan orang sepertimu masih tidak paham apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadamu?" Ivan tertegun, selama ini dia pikir Raras tidak mengenalnya dengan baik. Dia pikir, selama ini Raras hanya memandangnya dari sisi buruk saja, seperti kekejamannya yang disaksikan oleh kedua mata.


Entah kenapa Ivan terharu mendengarnya.


"Benar, aku mencintaimu" Raras menghempiskan tangannya yang daritadi digenggam oleh Ivan"Mau bertanya dari kapan aku mencintaimu? Haha, kamu tidak akan pernah mendapatkan jawaban itu karena aku sendiri tidak tahu" Raras membalikkan badannya "Disaat kamu menunjukkan sisi perhatianmu kepadaku, disaat kamu membuatku sakit hati dan disaat kamu mengajakku untuk memandang dunia ini. Itulah puncak dimana aku tertarik kepadamu"


"Jangan menganggap hal ini hanyalah kekonyolan, aku serius lho!" Kembali dia membalikkan badannya.


"Kemari dan lihat aku" Ivan menjulurkan tangannya.


Walaupun aku udah jujur dengan perasaanku sendiri, entah kenapa diriku masih tidak berani untuk menatapnya.


Dada ini terasa sesak, air mata yang ditahanpun mengalir juga. Apakah cintaku yang bertepuk sebelah tangan akan menjalur menjadi cinta yang satu?


Raras menegakkan badannya, mengelap air mata yang menyekap dan berjalan perlahan memeluk Ivan.


"Maaf, tapi aku mau meminta kamu untuk tidak melepas pelukanku" Ivan tersenyum, dia mengelus kepala Raras dan berkata"Bodoh, padahal aku duluan yang mau memelukmu. Berani-beraninya kau!" Dia memeluk balik Raras.


Perkataan itu,


dapat mengobati rasa sakit dihatinya. Perasaan Raras yang tadinya sakit sudah sembuh hanya karena ucapan halus dari Ivan.


Drrrt...


Telepon Ivan tiba-tiba berdering, dia segera mengambil ponselnya yang berada di saku dan mengangkat teleponnya.


"Tuan muda, nona sudah kembali!"

__ADS_1


__ADS_2