
"Katanya gak mau,tapi matamu itu membuat
ku curiga" Senyum licik Ivan terpancarkan
"Nggak kok! aku hanya terkejut "
"Kenapa ponselku ada ditanganmu?"
"Tadi ada yang kirim pesan sama kamu
karena lagi mandi jadi aku bantu lihat"
Perjelas Raras
Ivan mendekat kearah Raras.
ia tidak tau bahwa tindakannya berhasil
membuat Raras malu dan salah tingkah.
"Kau mau apa?"
"Mau bermain dengamu" Senyum liciknya terlihat lagi.Ivan mendorong tubuh Raras hingga ia terlentang kemudian Ivan menyusul berada diatas tubuh Raras.
"Kyaaa! pakai bajumu.dasar lelaki tidak tau
malu! pergi sana"
"Perkataanmu saja yang menyuruhku pergi
tapi sebenarnya kau mau kan" Ivan menyentuh dagu Raras dengan lembut.
"Tidak tidak! aku kan sedang sakit"
"Oh,jadi itu dibuat alasan? kalo kau mau aku
terpaksa menerimanya" Senyum Ivan mulai mengembang kemudian mencium singkat kening Raras.
Wajah Raras kini tak tertolong lagi, tingkahnya dari tadilah yang mengundang Ivan semakin mempemainkan Raras.
sebenarnya ia tidak bermaksud itu karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.
"Tapi,kau simpan dulu untuk tertarik padaku.
urusanku masih banyak" Ivan berbalik badan dan memakai pakaian didepan Raras tanpa rasa malu.
Simpan kepalamu! batin Raras
"Eh itu,kamu kenal sama yang kirim pesan
__ADS_1
sama kamu darimana?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Nggak,aku hanya pernah dengar namanya di
siaran tv jadi pengen tau aja"
"Dia itu rekanku yang paling bodoh, demi
bekerja sama dengan perusahaanku yang
hampir bangkrut rela memberiku saham
diperusahaannya"
Bangkrut? perusahaan Ivan mau bangkrut yang benar saja Gumam Raras
"Kok bisa bangkrut? maaf aku hanya sedikit
penasaran bukan mau melakukan sesuatu"
Kata Raras meyakinkan
Mendadak Ivan teringat dengan ucapan Daniel bahwa ia harus menikah.
Ivan melirik Raras sekejap,baru saja terlintas diotaknya masa wanita seperti dia?
Raras yang dipandang Ivan merasa bingung.
"Karena aku disuruh nikah" Jawabnya singkat
"Nikah? kamu sudah mencari pasangan yah!
bagus bagus aku sangat penasaran wanita
seperti apa yang mau kamu nikahi"
Karena terlalu senang mendengar kabar itu, isi hatinya keluar tanpa memikirkan perasaan Ivan.
"Nanti kamu jangan terkejut melihat istriku
ya"
"Nanti pas kamu buat acara nikah jangan
lupa undang aku yah"
"Tentu,orang yang paling pertama aku kasih
__ADS_1
surat undangan adalah kamu"
Ivan pergi dari kamar segera sementara Raras masih asyik dalam lamunanya.
ia berpikir bahwa jika Ivan menikah nanti hidupnya akan bebas dan lepas dari masalah.
itulah yang Raras inginkan sejak dahulu, hidup dengan aman dan tentram.
Triing trring
Baru saja Raras terbaring dikasur,ponselnya udah bergetar.
dengan malasnya ia mengambil ponsel itu ditas,lalu memencet tombol jawab.
"Siapa ini?"
"Apakah benar ini nomornya Raras?"
"Benar ada apa ya!"
"Begini,ibu kamu sudah 2 hari dirumah sakit.
terpaksa pengobatannya kami hentikan
karena belum bayar jadi anda tolong hadir ya"
Raras sangat panik,baru saja ia gembira sekarang sudah ada masalah.
dengan berjalan sedikit pincang,Raras pergi mengambil tas berisi dompet dan ponsel kemudian menuruni tangga perlahan.
"Bi,boleh nggak pesanin saya taxi?"
"Nona mau kemana? bukannya masih
sakit"
"Ada urusan yang paling penting,pokoknya
ini urusan keluarga saya.bi tolong cepatan
pesan taxi-nya"
Dengan terburu-buru pelayan itu mengambil ponsel dan menghubungi taxi.
hal ini tidak bisa dibayangkan,biasanya ibu Raras jarang terkena hawa penyakit.
tidak tau mengapa ibunya mendadak sakit. sekarang Raras hanya bisa berdoa pada yang diatas agar ibu Raras terselamatkan.
To be continue...
__ADS_1