
Bangun tidur langsung melirik kearah kanan, masih tidak ada juga.
Semalam sebelum tidur, Raras berharap agar Ivan pulang kerumah untuk membahas masalah ini. Tidak disangka, pria itu tidak kembali bahkan sampai pagi ini juga dia belum balik-balik.
Dia beranjak dari kasur untuk bersiap-siap pergi kekantor. Jika ada kesempatan, Raras berjanji pada dirinya sendiri untuk menemui Ivan diperusahaan. Menanyakan tentang hubungannya dengan wanita itu. Namun, tetap saja dia masih takut. Bagaimana kalau Ivan mengabaikannya?.
Beberapa menit berlalu, dia sudah memakai baju dan hendak pergi kekantor. Hari ini dia harus bersemangat, agar tidak membuat mereka khawatir, karyawan beserta manejer.
- - -
Diperusahaan terbesar yang terletak Dikota A. Baru saja memasuki ruangan sudah mendapat kabar bahwa ada seorang yang ingin bertemu dengannya.
"Tuan, barusan tuan Ben ingin bertemu denganmu. Dia sudah menunggu setengah jam yang lalu" Daniel mendatangi Ivan dan memberikan informasi itu. Namun Ivan menghiraukannya, dia masuk kedalam ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun terhadap asisten khususnya.
Namun Daniel tidak lengah, dia masuk kedalam memgikuti langkah Ivan. Ketika Ivan duduk dikursinya, dia berdiri disampingnya.
"Kenapa dia bisa ada disini?" Mengucapkan kalimat pertama.
"Itu tuan... dia baru saja pulang dari luar negeri kemarin, terburu-buru untuk mencarimu" Kedatangan Ben, dia sudah tahu jelas apa yang mau dia bicarakan dengannya. Sudah pasti mengenai Rose, putri satu-satunya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Sewaktu mendengar putrinya telah meninggal, Ben sudah tau jelas siapa yang membunuhnya. Yaitu musuhnya sendiri.
Ben adalah seorang bos mafia, pria yang memiliki daerah kekuasaan dikota X. Dia dan Ivan sudah memiliki dendam pribadi sehingga melibatkan orang lain dalam pertengkaran mereka.
Sudah pasti yang membuat masalah terlebih dahulu Adalah Ben, tidak mungkin Ivan yang mencari masalah kepadanya. Dia tidak pernah niat untuk mencari masalah dengan orang luar, terlebih lagi manusia seperti Ben. Pria paruh baya yang berkuasa, apa yang dia inginkan harus tercapai.
Tapi, hanya sosok Ivan yang bisa mengalahkannya. Dan membuat dirinya lengah, namun tidak menyerah.
Suatu hari, dimalam hari Ben kebetulan lewat digang sempit bersama dengan mobil berwarna merah yang ia kendarai. Karena mabuk-mabukan disebuah bar, kepalanya sedikit pusing hingga membuat dirinya menyetir ketempat yang tidak diketahui sama sekali.
Sewaktu dia mengendarai mobil, Ben mendengar suara bantingan yang sangat keras membuatnya terkejut. Entah mengapa dia penasaran akan hal itu, siapa tahu ada yang sedang mencari keributan. Hal yang mengenai keributan adalah seleranya Ben, dia sangat menyukai adanya keributan.
Dia mengarahkan mobilnya hingga semakin dekat kearah ketibutan itu. Terlihat sosok pria yang gagah dan perkasa dia adalah ivan. Menghabisi satu persatu preman jalanan. Hal yang membuatnya ingin menghabisi para preman itu adalah, mereka berniat untuk mencuri barang berharga yang dimiliki pria itu. Karena melihat pakaian serta penampilan Ivan yang terlihat sangat mahal.
__ADS_1
Preman itu tidak Segan-segan mendekati Ivan, mereka berpikir bahwa dia lemah. Karena juga dirinya sendirian membuat mereka berani untuk menyerang. Jumlah mereka juga bisa dibilang banyak.
Namun sewaktu mereka maju, Ivan menghabisi mereka. Seperti kilatan petir, dia menghabisinya hanya menyisahkan sedikit waktu. Ben yang menyaksikan takjub dan berharap agar Ivan masuk kedalam organisasinya. Dia percaya jika adanya Ivan mereka tidak mudah dikalahkan.
Namun dia menolaknya mentah-mentah membuat Ben geram, dia tidak pernah berhenti untuk mengganggu Ivan hingga membuat pria itu muak.
Sampai-sampai Ben menyuruh putrinya untuk mendekati Ivan tanpa memikir konsekuensinya.
"Suruh dia masuk" Daniel pergi untuk menjemput tuan Ben dan memasuki ruangan.
Beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka,Ben memasuki ruangan dengan tergesa gesa dan membesarkan langkah kakinya. Emosinya tidak tertahan, seperti mau meledak.
Dia mendekat kearah meja Ivan dan mendatanginya.
Menghentakkan meja dengan sangat kuat namun Ivan tidak merespon sedikit pun. "Keparat, kau yang membunuh Rose iya kan? "
Pengawal yang semula berada diluar terkejut, ingin melakukan sesuatu hal yang bisa membantu. Namun Daniel menyuruhnya untuk pergi dari tempat itu.
"Tenang saja, tuan akan baik-baik saja. Kalian nggak perlu khawatir"
"Ini tuan sendiri yang meminta"
Masih tidak merespon Ben, dengan santainya dia mengangkat kaki.
"Kalau iya emang kenapa?"
Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya, emosi semakin menaik. Apalagi melihat Ivan yang hanya diam dan tidak melakukan pergerakan sedikitpun.
"Sialan kau, bagaimana mungkin kau melakukan hal itu. Ivan, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Aku akan membuat hidupmu menderita" Wajahnya terlihat sangat serius, putri kesayangannya telah musnah dipermukaan bumi. Ayah mana yang tidak sedih mendengar kabar anaknya meninggal ditangan musuh?.
Ivan berdiri dengan tatapan dingin "Lakukan semaumu"
__ADS_1
Sungguh, Ben ingin mencekik Ivan hingga dia tidak bernafas. Tangannya sudah gatal, ingin menaklukan pria itu.
"Keparat sialan" Ben memajukan tangannya untuk menumbuk wajah tampan Ivan, namun dia mengelak dengan sigap.
"Sepertinya kau sangat mementingkan urusan pribadi, putrimu yang mati ditanganku saja sudah lama sekali. Datangnya baru sekarang"
"heh. Sungguh ayah yang baik" Tersenyum licik, dia tidak ingin ikut campur dengan urusan Ben dengan putrinya. Dan juga alasan pria itu baru muncul sekarang, namun hanya mengingatkan bahwa sekarang ini dia hanya sedih karena misinya gagal. Tidak ada hubungannya dengan Rosie, dari tatapan wajahnya tidak terlihat sama sekali bahwa pria itu sedih karena kehilangan.
Ivan memberikan arahan terhadap Daniel untuk menyuruh dirinya mengusir Ben dari hadapannya.
Sangat muak dengan apa yang telah terjadi.
"Tuan Ben, waktu anda sudah habis. Silahkan keluar dari ruangan ini sekarang juga"
Namun Ben masih keras kepala, begitu dia mengarahkan tangannya kewajah Ivan, dengan sigap Daniel menangkisnya dan psngawal tadi menahan kedua tangannya. Tidak disangka bahwa orang-orangnya Ivan bisa segesit ini.
"Kau sudah kalah sejak awal. Jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi atau tidak.."
"Akan kubuat kau menemani Rose" Tatapan yang sangat menakutkan membuat Ben sedikit takut. Baru kali ini dia takut didepan musuh.
Serasanya dia tambah membenci Ivan, melihat tingkahnya yang seperti seorang bos, melihat orang yang berada disisinya semua membuatnya muak.
Ingin melawan, tapi ini adalah perusaan milik Ivan. Terpaksa dia harus pergi dari gedung itu meskipun masih emosi.
"Kau pikir aku takut! kau lihat saja nanti, aku ingin melihat sampai kapan kau masih bisa berlagak sombong seperti itu! "
Dia menghempiskan tangan pengawal yang menahannya dan keluar, namun langkahnya masih diikuti oleh pengawal.
Raras yang menyempatkan diri untuk singgah keperusahaan milik Ivan akhirnya tersampai juga. Begitu dia berjalan dikoridor, dia sangat ngeri melihat sosok pria paruh baya beserta dua penjaga dibelakangnya.
Namun dia menghiraukannya dan memberanikan diri untuk menjumpai Ivan. Setelah dipikir-pikir jika dia salah paham ada ruginya juga.
__ADS_1
Mengetuk pintu dan asal masuk kedalam. Melihat suasana yang canggung membuat jantung Raras berdegub kencang.
Ivan dan Daniel menoleh dan terkejut akan kehadiran Raras.