
Baru saja hal membahagiakan seperti ini terjadi, selalu saja ada penghalang. Lena, dia adalah wanita satu-satunya yang dicintai Ivan. Wanita paling mengerti dirinya dan menyayangi Ivan apa adanya.
"Barusan nona Lena menelponku untuk menyuruhmu menunggunya ditempat pertama kalian bertemu."
"Aku tidak akan datang"
"Tuan, jangan seperti itu. Aku tidak tahu jelas apa yang membuatmu sangat membenci nona Lena. Aku harap tuan datang ketempat yang sudah dijanjikan, tuan pasti tahu kan Lena adalah wanita yang keras kepala. Sebelum tuan datang, dia tidak akan pergi"
Ivan menutup teleponnya dengan segera. Wajahnya berubah pucat, tubuhnya gemetaran. Seperti ada sesuatu hal yang menganggu pikirannya.
Raras yang dari tadi memeluk Ivan tanpa berhenti, terkejut melihat ekspresinya yang berubah.
"Ada apa?"
"Ivan, kamu dapat telepon dari siapa? Kok kamu jadi aneh gini?" Dia masih berlalu lalang dalam pemikirannya yang aneh. Jantungnya berdegub kencang, wanita yang dulu pernah berjuang sehidup semati dengannya telah menunggu.
Keringatnya mulai becucuran membuat Raras semakin panik.
"Ivan, bicaralah. Apa aku bisa membantumu?"
Suara Raras yang barusan berhasil mengingatkannya terhadap dirinya sendiri. Ketika tersadar, Ivan meraba kepalanya sedikit nyeri.
"Siapa yang menelponmu barusan? apakah dia mencoba untuk mengganggumu?"
"Aku ada urusan mendadak" Nyaris dadanya kembali merasa sakit.
Padahal aku ingin menikmati malam yang indah bersamanya.
"Tidak apa, urusanmu mungkin sangat penting. Aku lihat wajahmu sampai seserius itu"
"Sudahlah pergi sana, nggak usah peduliin aku" Raras mendorong tubuh Ivan agar dia menyelesaikan urusannya.Dia begitu mengerti bahwa suaminya orang yang super sibuk. Bahkan sudah tengah malam, pekerjaan selalu menghantuinya, pikir Raras.
"Tidak ada yang lebih menyenangkan selain tidur diatas ranjang bersamamu" Raras tersipu malu, pipihnya merah merona, seperti buah persik.
"Bisa tidak sih, nggak usah ngomongin tentang masalah itu. Malu tahu!"
__ADS_1
Ivan tersenyum melihat Raras yang salting. "Sudah sudah, istriku yang cantik kalau marah terlihat jelek lho. Pergi tidur sana, besok kau harus kerja" Ivan memajukan langkhnya hendak pergi dari sana dengan segera.
"Ivan, aku tidak percaya untuk mengatakan hal ini. Ci..ciuman selamat malamnya mana?"
Ivan tersenyum dan memberhentikan langkahnya. Sejak kapan Raras istrinya yang dikenal lugu dan polos mengemis untuk mencium dirinya.
Dia kembali melangkahkan kakinya kearah Raras dan membiarkan wanita itu yang menciumnya.
Raras benar-benar merasakan bahwa ciumannya udah berasa, nafas Ivan membangkitkan hasratnya.
"Baiklah, selamat malam" Dia berlari menaiki tangga dan pergi ketempat tidur. Sedangkan Ivan melihat tingkag konyol Raras.
Dia mengingat kembali urusan yang harus diurus. Ivan mendenguh kesal, apa yang dia tidak terima harus diterima dalam kehidupannya.
Tempat yang akan dikunjunginya adalah taman, dimana tempat perpisahan mereka. Lena dan Ivan. Tempat dimana terakhir kalinya Ivan menangis karena ditinggal oleh sang kekasih. Bukan karena Lena berselingkuh terhadap pria lain, tapi karena larangan kedua orang tuanya membiarkan anaknya Lena bersama dengan Ivan.
Sewaktu Ivan masuk kedalam mobil, perlahan-lahan air mengalir dari atas jatuh kebawah dan terjadilah hujan deras.
Sial, disaat seperti ini kenapa turun hujan. Geramnya.
Sewaktu sesampainya disana, Ivan melihat sosok punggung wanita yang memakai payungnya. Tubuhnya yang ideal, rambutnya yang hitam dibiarkan terurai bebas begitulah ciri-ciri Lena.
Sewaktu melihat sosok Lena yang berdiri ditengah-tengah hujan sambil menunggu kehadirannya membuat dia tidak berani untuk turun.
Dia adalah wanita yang selalu menyemangati Ivan atas kejadian yang tidak bisa diterima, yaitu kematian kedua orang tuanya.
Sewaktu seminggu setelah orang tuanya meninggal, Lena datang kehadapan Ivan untuk mengajaknya berbicara.
Awalnya Ivan sangat membenci Lena, kehadirannya membuat Ivan merasa terganggu. Tapi, akhirnya dialah yang menyelamatkan Ivan dari kesedihan. Gadis itu sangat ceria, sangat berbanding terbalik dengan sifat Ivan yang dingin.
"Lena, pulanglah" Kata pertama yang diucapkan ketika dirinya berada dibelakang Lena.
Gadis itu membalikkan badannya, wajahnya sangat terkejut akan kedatangan Ivan. Dia sangat kegirangan sampai menjatuhkan payungnya dan berlari kearah Ivan berada.
Memeluk pria itu dan mengeluarkan air mata kebahagiaan, mimpinya akhirnya terkabulkan juga.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Cinta sejatiku... akhirnya Tuhan mempertemukan kita. Segala doaku sudah dijawab oleh Tuhan"
"Lepaskan aku" Ivan berusaha melepaskan tangan Lena yang melingkar ditubuhnya, tapi Lena memeluknya terlalu erat sampai membuat dada Ivan terasa sesak.
"Akhirnya aku bertemu denganmu. Apakah kamu tahu, betapa bahagianya diriku ketika melihat wajahmu."
"Aku bilang lepaskan!" Ivan menghempiskan tangan Lena dan akhirnya wanita itu melepaskan pelukannya. Air mata kebahagiaan yang mengalir kepipih Lena tidak terlihat akibat hujan yang sangat deras.
"Aku sudah menikah"
"Betapa bahagianya aku bertemu denganmu. Pria yang paling aku cintai seumur hidup. Selama aku pergi aku tidak pernah berpikir untuk menghianatimu" Tangisan itu semakin deras dan membuat dadanya terasa nyeri.
"Lena, apakah kau mendengarkanku?"
"Ivan, kamu benar-benar kejam! Selama ini demi kamu aku nggak pernah menyentuh laki-laki lain selain papaku. Aku udah memberikan hatiku sepenuhnya untukmu dan kamu membalasnya seperti ini? Aku tidak percaya bahwa kau bisa melakukan hal ini kepadaku!"
Ivan melirik kearah pakaian yang dipakai oleh Lena. Pakaiannya sangat terbuka, tidak pernah dia melihat Lena berpakaian seperti itu selama dia mengenal Lena.
"Tolonglah kembali padaku, aku mohon" Lena meneteskan air matanya dan menangis sekencang-kencangnya. Wajah yang awalnya berbinar-binar ketika bertemu dengan Ivan berganti menjadi kesedihan.
Dia berjalan mendekati Ivan dan memukul sekencang-kencangnya dada Ivan. "Dasar penghianat, padahal aku nggak pernah putusin kamu tapi kamu malah nikah sama wanita lain. Dasar cowok playboy!"
Ivan hanya menundukkan kepalanya dan diam mendengarkan segala ocehan yang keluar dari mulut Lena.
"Lalu kamu apa?"
"Kamu udah ninggalin aku dan membuatku menderita, sebutan apa yang pantas buat orang sepertimu?"
Lena kembali menatap mata Ivan, matanya yang bengkak akibat terlalu lama menangis "Kamu nggak akan mengerti. Kepergianku selama ini demi kebahagiaan kita"
Selama ini, Ivan tidak tahu apa yang membuat Lena begitu nekat untuk meninggalkan dirinya. Yang dia tahu, Lena tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dia pergi keluar kota untuk belajar agar menjadi wanita sukses sesuai dengan harapan orang tuanya. Karena mereka sangat mencintai Lena lebih dari apapun karena Lena adalah anak satu-satunya.
"Kebahagiaan kita? Heh, Lena aku pikir selama ini kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Ternyata kamu masih ada waktu untuk memikirkan diriku ya" Ivan terkekeh tanpa menatap Lena.
"Kalau aku ngasih tau kekamu alasanku pergi selama ini, apakah kau akan kembali padaku?"
__ADS_1